LOGINWARNING 21+ Harap Bijak Memilih Bacaan Katerina Soesanto menerima untuk dijodohkan agar ia bisa keluar dari rumah sang ayah. Sedangkan Bayu Danuardja hanya ingin agar separuh kekayaan keluarganya jatuh ke tangannya dan berusaha melupakan masa lalunya. Mereka tidak saling mencintai. Namun hal-hal yang terjadi dan malam panas yang mereka lalui saat bulan madu di Paris begitu membekas bagi mereka. Perlahan sikap Bayu mulai berubah menjadi lebih perhatian dan seolah menginginkan Katerina. Katerina yang awalnya memberikan batas, perlahan jatuh cinta pada Bayu tanpa laki-laki itu ketahui. Namun belum sempat bunga cinta itu bermekaran, Katerina mengetahui jika Bayu masih menjalin kasih dengan masa lalunya. Dan bukannya meminta maaf, Bayu justru memberikan pilihan kepada Katerina untuk bertahan atau bercerai. Lalu apa yang akan Katerina pilih? Bertahan demi anak dalam kandungannya yang belum Bayu ketahui atau justru pergi agar suaminya itu tidak tahu tentang anak mereka. Disclaimer: cerita ini hanya fiktif. Kesamaan nama tokoh dan tempat itu tidak ada unsur kesengajaan.
View More“Katerina”
Katerina menghentikan langkahnya yang akan memasuki kamar. Dia hanya ingin istirahat, kenapa pria itu harus memanggilnya.
“Perempuan itu kekasih saya.” Lanjut si pria yang sialnya adalah suami Katerina.
Tidak usah kamu beritahu pun aku sudah bisa melihatnya, Mas. Lalu apa? Kamu mau aku merespon bagaimana? – suara itu hanya sampai di tenggorokannya, bibirnya terkunci rapat, lidahnya kelu, mengucapkan satu kata pun rasanya ia tidak bisa.
“Dia sedang hamil... anak saya.”
Setelah mendengar itu, rasanya seperti ada ribuan pisau yang menusuk jantungnya. Ia memegang tasnya erat-erat, tas yang berisi surat dari rumah sakit yang menyatakan ia pun sedang hamil.
Sebelas bulan sebelumnya...
“Saya sarankan kamu tidak berharap banyak pada pernikahan ini.” Bayu berkata dengan suara pelan, namun penuh ketegasan. Ia yang tengah duduk di tepi ranjang pernikahan mereka memandang punggung istrinya dengan sorot mata yang tidak bisa ditebak.
Katerina yang sedang menghapus make up di wajah seketika berhenti mendengar ucapan suaminya. Lalu menoleh ke arah Bayu,
“Dari awal adanya perjodohan ini, aku juga tidak berharap lebih. Mas Bayu tahu sendiri alasanku menerima pernikahan ini.”
Nadanya penuh ketenangan, tegas, dan tak tersirat adanya kecewa atas ucapan suaminya.
Bayu bangkit dari duduknya, melangkahkan kaki mendekati sang istri. Saat langkahnya semakin dekat, tatapan mata Bayu bertemu dengan tatapan Katerina melalui cermin di meja rias. Ia lalu menyunggingkan senyum tipis, sangat tipis, jika saja Katerina tidak memperhatikan itu, ia akan melewatkan senyum pertama laki-laki itu sebagai suaminya.
Bayu menundukkan wajah dengan tatapan yang masih bertaut dengan sang istri, “Tapi saya ingin kamu tetap menjalankan kewajiban kamu sebagai seorang istri, karena saya juga akan melakukan hal yang sama.”
Menyunggingkan senyum, Katerina pun membalas ucapan suaminya. “Aku tahu, aku tidak akan melupakan siapa aku sekarang dan apa yang harus aku lakukan sebagai istrimu, terutama di depan keluarga kamu, Mas.”
“Good, kamu memang wanita pintar. Pantas saja Eyang saya ingin kamu jadi cucu menantunya.” Bayu berkata sambil berlalu dari sana menuju ke arah kamar mandi.
“Terima kasih atas pujiannya, tapi akan lebih baik kamu tidak usah memujiku jika itu tidak berasal dari hatimu sendiri.” Katerina berkata lirih, tapi masih bisa di dengar oleh Bayu yang memilih mengabaikannya.
***
Malam itu selepas keduanya mandi, Katerina dan Bayu langsung tidur. Tidak ada malam pertama, mereka cukup kelelahan dengan semua rentetan acara pernikahan yang di gelar dari pagi sampai malam hari. Namun, seperti ada yang mengusik tidurnya Katerina terbangun tepat pada pukul dua dini hari, hatinya gelisah entah karena apa.
Merapikan piyama satin yang ia pakai, Katerina turun dari ranjang, melangkahkan kakinya pelan agar tak mengusik tidur orang yang beberapa jam lalu telah menjadi suaminya. Setelah meminum segelas air di dapur ia duduk sebentar, Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi setidaknya aku sudah keluar dari rumah Papah – gumamnya dalam hati.
Memasuki kamar, ia melihat suaminya masih tertidur dengan posisi yang sama. Langkahnya menuju ranjang terhenti ketika suara Bayu terdengar, “Dari mana?”
“Dari dapur.”
Katerina kembali melangkangkahkan kakinya, begitu pun dengan suara Bayu yang kembali terdengar.
“Saya kira kamu berubah pikiran dan memilih kabur.” Ucap Bayu tanpa menoleh, masih dengan posisi memunggungi sisi ranjang tempat istrinya berada.
Katerina memilih untuk tidak menjawab, ia mendudukkan diri dan bersandar ke kepala ranjang. Memandangi punggung Bayu, dalam hatinya Katerina mulai memperingati dirinya sendiri “Apa pun yang terjadi, jangan sampai kamu punya perasaan padanya, Katerina. Cukup jalani saja kewajibanmu sebagai istri, tapi jangan libatkan perasaanmu jika kamu tidak ingin menjadi seperti Ibumu.”
Setelahnya Katerina merebahkan dirinya meski kantuk belum lagi menyerang. Memejamkan mata, mencoba mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang begitu lelah.
Di sisi lain, Bayu yang tak mendengar jawaban apa pun dari istrinya akhirnya menoleh. Dilihatnya punggung sang istri, tatapannya terpaku sejenak sebelum akhirnya ia berbicara, “Kamu sudah tidur?”
Hening, tak ada jawaban dari istrinya. Mungkin dia sudah tidur – pikirnya. Tapi tidak, Katerina sebenarnya belum tidur hanya saja dia malas menanggapi Bayu, yang dia inginkan adalah secepatnya tidur lagi. Memang larut malam begini mau apa? Mau melakukan yang pillow talk? Rasanya tidak mungkin, mereka bukan pasangan yang menikah karena cinta. Jika memang suaminya itu ingin berbicara, bisa dilanjutkan esok hari.
***
Matahari bersinar dengan cerah, sinarnya menerobos melalui celah kaca dan jendela, memberi kehangatan pada rumah yang dingin itu. Di saat yang sama, Katerina sedang beristirahat setelah tadi sehabis subuh ia berlari keliling komplek perumahan yang ia dan Bayu tinggali. Membuka kulkas, ia melihat ada beberapa sayuran dan ayam potong yang terlihat masih segar. Mungkin orang suruhan keluarga suaminya yang mengisi kulkas ini. Pasalnya ia dan Bayu baru menempati rumah ini semalam, tapi Katerina lihat keadaannya sudah lengkap, rapi, bersih, dan kulkas pun sudah terisi.
Mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan, Katerina mulai memasak untuk sarapan dirinya dan Bayu, tapi kalau laki-laki itu mau memakan masakannya, kalau tidak ya tidak apa-apa.
Makanan sudah tersaji di meja, kini Katerina berisap untuk memulai sarapannya. Saat akan menyendokkan makanan ke mulutnya, tiba-tiba suara Bayu terdengar.
“Kamu masak sendiri?”
“Ya. Silahkan dicoba kalau Mas Bayu berkenan.
Sesaat kemudian, Bayu terlihat menarik kursi dan duduk memandangi makanan di meja. Namun alih-alih mengambil makanan, laki-laki itu malah membuka mulut dan mengajak Katerina berbicara.
“Hari ini kita diundang makan malam sama Eyang Sukma di rumahnya. Saya akan jemput kamu jam 7 malam.”
“Kita berangkat sendiri-sendiri saja, Mas.” Katerina menolak untuk datang bersama Bayu ke rumah Eyang. Malas sekali rasanya.
“Kamu mau Eyang curiga tentang hubungan kita?!”
Mengehela napas, Katerina akhirnya mengangguk menyetujui saran suaminya untuk pergi bersama. Mereka memang harus berpura-pura menjadi pasangan sungguhan di depan keluarga Bayu.
Saat mereka benar-benar akan memulai sarapan, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Katerina yang penasaran pun akhirnya melangkahkan kaki untuk membuka pintu.
Saat pintu terbuka, ia langsung bertatap muka dengan seorang wanita muda yang berdiri di depannya. Siapa perempuan ini?
Katerina terdiam cukup lama. Dirinya masih mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar. Bisa ia rasakan jantung berdebar cepat, tapi bukan karena sedang berbunga-bunga. Melainkan ia begitu terkejut.Meski sudah pernah mendengar Salsa yang berkata bahwa Matthias menyukainya dan beberapa kali kakaknya juga menggodanya, ia tetap merasa terkejut dengan pernyataan cinta yang dilakukan laki-laki itu.Pertemuan mereka ini bisa dihitung jari, pendekatanpun tidak pernah. Rasanya sulit dipercaya Matthias menyukainya. Apa selama ini ia saja yang tak peka?"Tidak apa-apa kalau kamu belum bisa menjawabnya, Kate. Saya tidak akan memaksa kamu untuk segera melakukannya.""Maaf, Matt.""It's okay."Matthias lantas tersenyum. Senyum yang membuat Katerina merasa bersalah karena menggantung laki-laki itu. Namun ia juga tak mungkin langsung menerima atau menolak Matthias. Banyak hal yang harus ia pertimbangkan.Tak berselang lama, mereka pun keluar dari restoran itu. Matthias mengantarkan Katerina kemba
Bayu melangkahkan kakinya mendekati Amanda yang sepertinya tak sadar dengan kehadirannya. Selama ini ia sudah cukup diam dan tak menghukum perempuan itu yang telah menipu dan mempermainkan hidupnya, tapi kali ini rencana Amanda sungguh membuatnya muak."Saya akan kirim uang mukanya setelah ini asal kamu benar-benar menjalankan tugas dari saya dan_"Bayu merebut ponsel itu dan membantingnya ke lantai, membuat Amanda terkejut. Perempuan itu lupa bahwa ada Bayu di rumah ini, karena laki-laki itu datang saat ia sedang keluar dengan teman-temannya dan baru pulang beberapa saat lalu."Mau kamu apakan anakku, Amanda? Hah?!!!"Bayu menatap tajam ke arah Amanda, rahangnya mengeras dan wajahnya merah padam karena amarah. Amanda seketika merinding. Bertahun-tahun ia mengenal Bayu, tak pernah sekalipun melihat laki-laki itu menunjukkan amarahnya sebesar ini. Bahkan saat tahu Farel bukanlah anaknya, laki-laki itu marah tapi tak seperti sekarang.Refleks Amanda memundurkan langkahnya, namun Bayu ju
"Bi, tolong jaga Daniel sebentar, ya. Saya ada urusan keluar. Nggak akan lama kok."Katerina berpamitan pada ART di rumah kakaknya sebelum keluar untuk menghampiri mobil Matthias yang sudah terparkir di depan gerbang. Malam ini adalah malam ia dan laki-laki itu akan makan malam bersama. Semoga saja Daniel tidak terbangun dan mencarinya agar ia tak mengacaukan makan malam itu dan membuat Matthias kecewa."Maaf ya, kamu harus menunggu sedikit lama. Tadi Daniel sempat tidak mau turun dari gendongan."Katerina berbicara seraya masuk ke dalam mobil Matthias. Tadi Daniel memang sedikit rewel dan tidak mau diturunkan ke ranjang meski mata balita itu sudah terpejam."Tidak apa-apa. Saya justru berharap kalau Daniel bisa ikut makan malam dengan kita.""Mungkin lain kali, Matt." Balasnya sambil tersenyum.Setelah itu mobil melaju membelah jalanan ibu kota yang tak pernah sepi. Matthias yang gugup karena hanya berdua dengan Katerina menjadi tak banyak berbicara dan memilih untuk memutar radio ya
Dua laki-laki itu saling berhadapan dan sama-sama terdiam seolah sedang berpikir tentang satu sama lain. Dalam pikiran Bayu laki-laki itu pasti bukan hanya sekedar kenalan Katerina. Sedangkan bagi Matthias, laki-laki di hadapannya tak perlu diragukan lagi merupakan ayah kandung Daniel, wajahnya begitu mirip dengan balita itu. Ia juga ingat saat mereka bertemu di Mall beberapa waktu lalu. Mereka masih sama-sama diam hingga akhirnya suara Katerina terdengar dari belakang Bayu. “Hey, Matt. Sini masuk. Aku nggak nyangka kamu datang ke sini.” Sapa perempuan itu dengan bahasa yang santai.Matthias pun tersenyum lalu sedikit membungkukkan badan ke arah Bayu sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah melewati pria itu. Ia masih tak menyangka akan bertemu dengan mantan suami Katerina di sini. Sepertinya ia yang salah memilih waktu untuk berkunjung. “Kakakmu belum pulang dari honeymoon?” Tanya Matthias saat sudah duduk di sofa ruang tamu. “Belum, masih lima hari lagi katanya.” Di saat yang sama






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore