LOGINWARNING 21+ Harap Bijak Memilih Bacaan Katerina Soesanto menerima untuk dijodohkan agar ia bisa keluar dari rumah sang ayah. Sedangkan Bayu Danuardja hanya ingin agar separuh kekayaan keluarganya jatuh ke tangannya dan berusaha melupakan masa lalunya. Mereka tidak saling mencintai. Namun hal-hal yang terjadi dan malam panas yang mereka lalui saat bulan madu di Paris begitu membekas bagi mereka. Perlahan sikap Bayu mulai berubah menjadi lebih perhatian dan seolah menginginkan Katerina. Katerina yang awalnya memberikan batas, perlahan jatuh cinta pada Bayu tanpa laki-laki itu ketahui. Namun belum sempat bunga cinta itu bermekaran, Katerina mengetahui jika Bayu masih menjalin kasih dengan masa lalunya. Dan bukannya meminta maaf, Bayu justru memberikan pilihan kepada Katerina untuk bertahan atau bercerai. Lalu apa yang akan Katerina pilih? Bertahan demi anak dalam kandungannya yang belum Bayu ketahui atau justru pergi agar suaminya itu tidak tahu tentang anak mereka. Disclaimer: cerita ini hanya fiktif. Kesamaan nama tokoh dan tempat itu tidak ada unsur kesengajaan.
View MoreMusibah tak terduga terjadi menimpa Audrey. Dia terpeleset saat membawa nampan, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan menabrak meja 2.
"Tolong, perutku." Wanita itu berteriak sangat keras, merintih kesakitan. "Basah apa ini? Air? Jangan bilang... I-ini bukan keguguran, kan? Bayiku. Darah. Tidak mungkin!"
Suasana restoran sontak kacau. Air ketuban wanita itu pecah di tempat, cairan bening menggenangi lantai disertai pendarahan hebat.
“Cepat panggil ambulans!” Pengunjung mulai berkerumun, sementara suaminya sibuk menenangkannya. “Sayang, bertahanlah. Ambulans akan segera datang!”
Audrey yang syok terduduk lemas. Menerima hujatan atas tindakannya yang ceroboh. “Apa yang kamu lakukan? Tidak bisakah kamu berhati-hati?”
Manajer restoran yang mengetahui hal itu bahkan meminta seseorang untuk mengemas barang Audrey. “Mulai hari ini kamu dipecat!” begitu katanya saat melemparkan barangnya.
Tak lama kemudian, ambulans datang. Audrey naik ke mobil itu sebagai bentuk tanggung jawabnya.
Audrey hanya bisa terdiam pucat, kedua tangannya bergetar tak henti selama perjalanan.
Di ruang operasi, dokter berusaha menyelamatkan dua nyawa sekaligus. Namun takdir berkata lain. Bayi mungil yang selama ini dinanti akhirnya lahir lebih cepat dari waktunya, tubuhnya kecil, pucat, dan tak bernapas.
Audrey menunggu dengan harap-harap cemas bersama seorang lelaki yang menangis sesenggukan di sampingnya. Dia adalah Earl, suami Ayesha. Dia masih menunggu kabar apakah bayi dan istrinya bisa diselamatkan atau tidak.
Earl ingin melampiaskan emosinya pada Audrey, tapi dia menahannya. Dia hanya berpesan kepada Audrey, “Dua pengawalku akan mengasimu. Jangan sampai kau beranjak dari rumah sakit sebelum ada kabar dari dokter!”
Audrey diam mematung.
Earl serius dengan ancaman itu. Matanya yang merah menatap Audrey tadi seakan berbicara kalau dia meninggalkan rumah sakit, maka hukumannya adalah dia harus mati.
Hampir dua harian Audrey menunggu di rumah sakit.
Dua hari itu juga dia dalam kondisi harap-harap cemas.
“Masuk!” ucap seorang pria. Wajahnya merah padam dan matanya sembab. Audrey tahu, pria itu adalah Earl, ayah sang bayi.
Meski tidak berbincang lama, mereka sempat bertukar kartu nama, terutama Audrey yang menyerahkan kartu identitasnya kepada Earl.
Penasaran dengan kondisi istrinya, Audrey pun bertanya, "Apa i-istrimu b-baik-baik saja?"
Seketika, Earl berhenti. Pria itu menunda membuka pintu.
Sudut bibirnya terangkat ke atas, kemudian menoleh hingga separuh wajahnya terlihat oleh Audrey. "Menurutmu?"
Deg!
Pria itu berbalik arah dan berjalan masuk ke ruang tempat bayinya berada. Audrey mengikuti langkah pria itu. Pandangannya menyapu dinding putih, lalu matanya berhenti pada satu benda di tengah ruangan.
Sebuah keranjang bayi di atas meja, tertutup kain putih bersih.
Pelan-pelan Earl membuka kain putih yang menutup seluruh tubuh anaknya. Tangannya gemetar. Dia masih belum percaya, bayi tanpa dosa ini harus menemui ajal sebelum sempat berbincang dengannya, walau hanya dengan tangisan.
Tubuh mungil itu terbaring.
Selain ada lebam, wajahnya juga pucat.
Tidak ada senyum.
Bayi itu tenang seperti sedang tidur, tetapi terlalu tenang untuk disebut hidup.
Bibir Audrey gemetar. “Tuhan…”
Ia mundur satu langkah.
Lututnya melemas.
“Tidak,” bisik Audrey. Dadanya sesak. “Tolong jangan.”
Earl membalikkan badan. Dengan tatapan kosong, dia memajukan tangan, seolah mempersilakan Audrey menggendongnya langsung.
Audrey menunduk. “Maafkan aku.” Hanya itu yang bisa dia ucap.
Earl tidak menjawab. Ia kembali menawari Audrey seraya memandangi wajah mungil yang tenang.
“Gendong putriku!” Earl berujar pelan. Dari nada bicaranya yang rendah, Audrey tahu, dia menahan emosi yang sudah meluap-luap setelah dua hari ini menunggu kabar seputar bayinya.
Audrey mundur satu langkah. “Aku tidak berani.”
“Pegang dia.” Suara Earl rendah dan sangat tenang. “Rasakan dinginnya. Rasakan apa yang hilang dariku dan istriku!”
Audrey hanya diam, sampai Earl mengingatkan lagi, “Rasa sakit ini tidak akan pernah kau rasakan ketika kau belum menjadi seorang ayah atau ibu. Gendonglah, setidaknya sebelum dia dikremasi!”
Dengan gemetar Audrey mengangkat tangannya. Bayi itu berpindah ke pelukannya.
“Aku mohon. Aku tidak sengaja,” ucapnya terbata. “Aku tidak bermaksud menyakiti siapa pun.”
Dia kemudian menoleh ke arah si bayi. Wajah lebam, bibir biru, dan mata indah yang belum sempat melihat dunia.
Andai diberi kesempatan, pasti dia sangat cantik!
Tapi takdir berkata lain.
Sembari bergetar hebat, Audrey memberanikan diri, “A-aku tidak bermaksud membunuhmu. Aku minta maaf. Aku tidak sengaja…”
“Lalu apa yang akan kau lakukan dengan maafmu,” tanya Earl pelan, “apa dengan maafmu, nyawa putriku bisa kembali lagi?”
Audrey terdiam. Ruangan terasa mengecil. Yang terdengar hanya napasnya sendiri.
“Jawab, Audrey!” bentak Earl, meski nadanya sangat rendah, Audrey bisa merasakan kemarahan meluap-luap dalam hati pria itu. “Apa yang akan kau lakukan untuk menebus nyawa ini? Bagaimana bila kau ibunya? Apa yang kau rasakan, hah?”
Audrey kembali menatap bayi mungil itu. Ia Hidungnya yang kecil. Kelopak yang tertutup rapi. Kulit yang sudah mulai memucat.
Yang lebih menyakitkan, bayi itu mewarisi mata ayahnya, mata cokelat!
Air mata Audrey jatuh tanpa suara. “Maafkan aku,” ucapnya lagi. “Aku mohon. Aku siap menerima hukuman. Aku siap melakukan apa pun. Tapi aku mohon, jangan cerca aku, aku tidak tahu harus dihukum seperti apa!”
Earl memerhatikan tanpa berkedip. “Hukuman seperti apa yang kau kira pantas untuk orang yang mengambil nyawa anak orang lain?”
“Aku akan mengganti kerugian nyawa dan perawatan istrimu. Aku akan bekerja keras. Aku bisa menjadi budakmu. Aku akan…”
“Uang?” Ia tersenyum tipis, kemudian mengambil kembali bayi mungil yang ada di pelukan Audrey. “Kau pikir aku butuh uang? Kau pikir uang bisa membeli nyawa putriku? Kau pikir uang bisa menyelamatkan istriku dari kesedihan?”
Audrey menggigit bibir. “Kalau bukan uang, aku bisa…”
“Kau bisa apa?” Ia mendekat selangkah lagi. Jarak di antara mereka nyaris tidak ada. “Kau bisa mengembalikannya ke rahim ibunya. Kau bisa menarik waktu dan menukar langkahmu yang ceroboh dengan langkah yang lebih hati-hati. Kau bisa berdiri di depan istriku dan berkata semuanya hanya mimpi.”
“Apa kau bisa melakukan itu semua?” Emosi Earl tak tertahankan lagi. “Jawab! Kalau kau bisa, cepat putar waktu biar kecerobohanmu tidak memakan kobran!”
“Aku tidak bisa.” Audrey menggeleng cepat. “A-a-aku tidak punya kekuatan sebesar itu.”
“Benar,” kata Earl. “Kau tidak punya apa pun.”
Audrey menarik nafas pendek. Kalimat itu telak.
Ia menunduk. Kedua lengannya mengencang, memastikan bayi kecil itu tetap aman di pelukannya. “Kalau aku tidak punya apa pun, izinkan aku menebus nyawanya...”
“Menebus,” ulang Earl. Ia seperti mencicipi kata itu di lidahnya. “Bagaimana cara seorang pelayan menebus satu nyawa?”
“Berapa lama kau akan bertahan dengan rasa bersalah?” tanyanya tiba-tiba.
“Seumur hidup,” jawab Audrey, suaranya patah. “Kalau perlu, seumur hidup. Aku akan selalu mengingat kejadian ini”
“Kau tidak tahu apa pun tentang seumur hidup,” balasnya. “Seumur hidup adalah kamu mendengar seorang ibu yang menunggu tangisan bayinya yang tidak pernah terdengar! Seumur hidup itu ayah yang tidak pernah bisa dikenal oleh gadis cantiknya!”
Audrey terisak. “Kumohon. Jangan buat ini lebih berat untuk istrimu.”
Earl menatap lurus. “Lakukan sesuatu. Baik. Mulai sekarang, kau akan melakukan sesuatu menurut caraku.”
“Aku akan menurut.”
“Kau akan menurut bahkan sebelum aku selesai berbicara.”
Audrey mengangguk cepat. “Iya.”
“Pertama.” Earl meletakkan bayinya kembali di keranjang, menutupnya dengan kain kafan putih. “Taati semua perintahku!”
“Kedua.” Ia menatap Audrey. “Dengarkan baik baik. Aku tidak akan mengulang.”
Audrey menegakkan badan. “Aku dengar.”
“Sekarang ikut aku!” Earl melangkah pergi, meninggalkan Audrey mematung di sana.
"Kita harus bicara, Katerina!" Ucap Bayu setelah mengunci pintu mobil dan melakukannya keluar dari parkiran pengadilan.Katerina menoleh ke arah Bayu, perempuan itu akhirnya tahu siapa yang telah membekapnya dari belakang. Laki-laki itu adalah Bayu."Kamu!!!"Bentak Katerina tak terima dengan apa yang telah dilakukan Bayu. Bisa-bisanya laki-laki itu tidak datang ke persidangan mereka dan justru malah muncul seperti seorang penculik."Saya benar-benar nggak mau kehilangan kamu, Katerina. Harus berapa kali saya mengatakan itu dan meyakinkan kamu agar tetap di sisi saya?!" Ucapnya dengan frustasi."Udah terlambat. Kalau kamu nggak mau kehilangan aku, seharusnya kamu nggak selingkuh. Sekarang biarin aku pergi.""Saya khilaf, saya salah, dan saya minta maaf. Tapi tolong tetap sama saya, ya. Cabut gugatan cerai itu!" Pinta Bayu lagi.Katerina tertawa, tawa yang sarat akan luka di dalamnya. "Khilaf kamu bilang? Kamu itu masih cinta sama mantan kamu dan kamu mau aku bertahan supaya harta yang
"Ini yang tadi siang bilang menyesal dan minta dikasih kesempatan tapi malamnya justru gandengan tangan sama selingkuhannya di tempat umum lagi." Batin Katerina saat melihat ke arah Bayu dan Amanda yang sedang bergandengan tangan di eskalator, sesekali berbincang layaknya sepasang kekasih. Sementara Andrea yang berdiri di sampingnya belum menyadari ada Bayu dan Amanda di eskalator yang sedang naik. Laki-laki itu sedang sibuk dengan ponselnya entah melakukan apa. Sampai akhirnya tatapan Katerina dan Bayu bertemu, laki-laki itu langsung melepaskan gandengan tangannya dengan Amanda bahkan sampai naik satu tangga eskalator. Tapi percuma saja, Katerina sudah melihat semuanya sedari tadi. "Kamu kenapa sih, Bayu?" Kesal Amanda karena tiba-tiba ditinggal oleh Bayu. Bayu tak menjawab, tatapan laki-laki itu masih terpaku pada Katerina dan hal itu akhirnya membuat Amanda mengikuti arah tatapan Bayu. "Ohh ada calon mantan istri." Ucapnya dalam hati. Lalu tiba-tiba senyum licik tersungging ti
"Saya tetap tidak bisa berdamai, Bu. Apa yang sudah tergugat lakukan kepada saya, itu sudah menodai pernikahan kami. Saya tidak bisa mempertahankan rumah tangga, karena itu hanya akan menyiksa saya. Setiap hari saya akan terus mengingat perselingkuhan dia." Hari ini adalah mediasi kedua antara Katerina dan Bayu. Setelah lima belas hari yang lalu mereka melakukan mediasi pertama, Katerina tetap ingin bercerai. Tidak ada alasan ia untuk bertahan, meskipun sebenarnya mereka memiliki anak yang masih Katerina sembunyikan dari Bayu. Bagi Katerina jika ia tetap bertahan dengan Bayu justru nantinya akan lebih banyak hati yang terluka, yaitu anak mereka dan anak Bayu dengan Amanda. Saat mereka kecil mungkin mereka hanya akan bingung, tapi saat mereka besar dan mengerti? Katerina tidak bisa membayangkan itu. Jadi lebih baik ia mengakhirinya sekarang. "Katerina, tolong. Saya benar-benar menyesal, sekali saja berikan saya kesempatan." Ucap Bayu entah yang keberapa kali. Semua cara sudah ia cob
"Katerina, aku ada syuting di luar kota. Mungkin sampai satu minggu atau lebih. Kamu nggak apa-apa kan kalau di sini sendirian?"Kaluna bertanya pada Katerina yang sedang membuat susu ibu hamil. Bukannya apa, kekasih Andrea itu takut jika Katerina akan terus kepikiran dengan masalah rumah tangganya. Sudah beberapa kali ia mendapati Katerina menangis diam-diam sejak tinggal di apartemennya."Nggak apa-apa Mbak. Aku kan sudah besar hahaha. Nanti juga Mas Andrea juga sering ke sini." Jawab Katerina sambil bergurau."Ya udah, aku berangkat dulu ya. Manajerku udah nunggu di bawah." "Iya, Mbak. Hati-hati di jalan ya!"Setelah itu Kaluna keluar dari apartemen dan Katerina mulai meminum susu hamilnya. Semenjak ia pindah ke apartemen Kaluna, ia lebih bebas untuk meminum susu hamil karena di sini tidak ada Bayu dan Bi Lastri. Dan untungnya anak di dalam perutnya ini tidak rewel, tak membuatnya mual saat masih di rumah Bayu jadi ia bisa menyembunyikan kehamilannya dengan baik."Makasih ya bayi,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore