Masuk"Saya belum pernah menyentuh kamu. Dan kamu ... hamil?" Kesucian Tanisha direnggut pria asing sehari sebelum pernikahannya. Calon suaminya meninggal karena kecelakaan saat perjalanan menuju lokasi pernikahan mereka. Namun, pernikahan ini harus tetap berlangsung dan akhirnya kembaran calon suaminya yang menikahinya. Padahal dia sudah memiliki kekasih. Tanisha hamil, padahal sang suami tak pernah menyentuhnya. Suami dan mertuanya curiga hingga melakukan tes DNA. Dan hasilnya menunjukkan jika janin itu milik suaminya.
Lihat lebih banyak★★★★★
<<ITALY>>
MORETTI'S RESIDENCE*
A man in his 50's could be seen sitting on the couch dejectedly, he has been pondering with different thought.
He had actually just lost everything he had worked for.
How will he tell his daughter!
They are not rich but they are comfortable themselves.
Instantly, his phone rang and he checked the caller id to see who he doesn't want to talk to.
He placed the phone in his ears.
"Hello!"
"Antonio, you're taking my time!" A voice barked from the other end.
"I'm sorry I'll get it soon!" He replied.
"Soon!!! For over a month now Antonio! I'm not Joking Antonio, I need my 2 million dollars" The man added.
"I'm sorry, everything went down the drain......the business I wanted to use it for collapse. Please give me more time!" He pleaded.
"No excuses Antonio, I'll give you just 2 days to provide that money, I don't care where you'll get it from......I need my money!" The loan shark snapped and ended the call.
Antonio dropped the phone and he sighed.
Where is going to get such huge amount of money from!?
Suddenly, a girl in her 20's came in, her face beaming with smiles on her beautiful features.
She saw he father in the position she had left him earlier and she furrowed her brows.
"Papa!" She called and went to Antonio.
"Ana!"
"The loan shark again!?" She asked, worries filled in her voice and he nodded.
"Where are we supposed to get the money!"
He wanted to say something when he suddenly felt a pang of pain on his chest and he held it tightly, coughing.
"OMG, The heart ache!" She mumbled as he started coughing out blood.
"Oh no, I need to get the pills!" She hastened her words as her eyes roamed around. She quickly ran upstairs and went to his drawer.
She brought out a tablet only to find it completely empty.
"Shit!" She cursed and rushed downstairs.
"Papa, you didn't tell me that you've used up your pills!" She complained but he continued coughing stretching his hands towards her.
She took the cup of water from the table and gave him to drink but still the cough didn't subside.
"What am I going to do!" She mumbled pacing while patting her father.
"I need to get another!" She said determinedly and faced Antonio.
"Wait a bit papa, I'll be right back. Okay!!" She held his shoulders giving him her assuring words before leaving in a haste.
Antonio cough harder as the blood stained his clothes, Soon he started losing his breath as he became weaker than he was earlier.
"I'm.....sorry.....Ana!" He mouthed before limping on the ground unconsciously.
★★★★★
REMOTE AREA*
Three men was sighted with a suitcase with them leaning on a car obviously waiting for someone.
They were restless as they keep checking their wristwatch.
"Does he loves keeping people waiting!" One of them asked.
Instantly, a car drove roughly to the path parking immediately.
Three men dressed in suit came out with a briefcase and walked to them.
"You should apologize for keeping us waiting!" The one obviously to be the leader asked.
"Why should we apologize Matteo!"
"You nitwit, you kept us waiting for an hour!" The right hand man barked.
"I'll rather keep my apology in my butt than say it!" Blaze fired back, his voice stern.
"Let get to business instead!" Matteo smirked facing his right hand man.
"Garry!" He called and he came forward.
He gave them their suitcase and Blaze collected it checking the content.
Matteo other men came to him.. "Lucifer isn't with them!" He whispered and Matteo smirked.
"My chance!" He mouthed.
Blaze nodded on checking through the drugs as he gave the briefcase filled with cash to Garry.
Garry collected it and checked it before nodding in approval...
"Nice doing business with you!" Blaze muttered giving the suitcase to the Scar beside him.
"Are you sure it authentic!" Scar asked and he nodded.
"Sure!" Matteo smiled leaning into his car making Matteo suspicious.
"Blaze, I think there is something suspicious here, Matteo has an ulterior motive!" Onyx whispered to Blaze who furrowed his brows.
Instantly, over 20+ men surrounded them and Matteo chuckled hard on the spot.
"F*ck, I expected this!" Blaze grinned bringing out his pistol, Scar and onyx did too.
"You can't escape this Blaze, Lucifer isn't in sight, Give back the drugs and I'll spare your life!" Matteo smirked.
"Oh! Really!" Blaze grinned, instantly, he pulled the trigger as he shot one of Matteo men dead.
"Fire!" Matteo yelled and his men pulled their trigger on Blaze and his two other men.
"Matteo!" Onyx called.
"Focus onyx!!" Blaze snapped dodging the some of the bullet.
The three kept on dodging not until Matteo was being shot in his arm.
"Argh!" Blaze groaned using his other hand to aim the pistol at Matteo men.
Onyx and Scar were also shot but they refused to give up.
"You should have just obeyed Blaze, you started this yourself!" Matteo smirked.
Garry moved forward wanting to take the briefcase filled with drugs from them when a sudden sharp knife from nowhere cut his hand into two immediately and he screamed.
"Ahhhhhhhh!" Blood started rushing out of the spot as he fell on the ground.
Matteo faced the direction of where the knife came from and his eyes went wide on seeing a dark figure from afar.
He covered his eyes with a hat as usual, only his lips were visible.
"Lu......cifer!" He stammered as he stepped back slowly trying to enter his car.
Lucifer came forward immediately.
"You'll regret this Matteo!" His bass cold voice came and Matteo shriked in fear.
No one dares Lucifer!
"Shoot!" Matteo yelled and his men started releasing bullet on Lucifer but he was too fast as he shot them all dead instantly.
"F*ck!" He cursed when he saw Matteo driving off on his car leaving Garry in his own pool of blood.
“Besok kita ke Bali.”Langit menyampaikan rencananya dengan cara yang sangat khas dirinya. Tenang. Singkat. Tanpa drama.Kalimat itu meluncur begitu saja, di antara suara kain yang dilipat Tanisha dan gumaman kecil Aksara yang sedang duduk di lantai dengan mainannya. Tidak ada intonasi khusus, tidak ada pengantar. Seolah Langit baru saja memberi tahu menu makan malam, bukan sebuah perjalanan yang—tanpa ia sadari—akan menjadi penutup dari seluruh luka yang pernah mereka bawa.Tanisha berhenti bergerak.Tangannya yang semula melipat kaus kecil Aksara terdiam di udara. Ia menoleh perlahan, menatap suaminya dengan ekspresi yang sulit didefinisikan—antara tidak percaya, terkejut, dan sedikit curiga.“Ke… Bali?” ulangnya, pelan.Langit mengangguk santai. Ia sedang duduk di tepi ranjang, membuka kancing manset kemejanya, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia baru saja menjatuhkan sebuah bom kecil dalam rutinitas Tanisha.“Saya sudah ambil cuti,” katanya. “Seminggu.”Tanisha menutup
“Sebenarnya… awalnya saya ingin menerima perjodohan kita.”Kalimat itu meluncur begitu saja, tenang, nyaris tanpa penekanan—seolah Langit sedang membicarakan sesuatu yang ringan. Padahal, bagi Tanisha, kalimat itu seperti batu yang dijatuhkan tepat ke tengah danau tenang.Tanisha yang baru saja menutup pintu box bayi, langsung menoleh. “Apa?” sahutnya, refleks, dengan nada tak percaya.Aksara sudah terlelap. Napas kecilnya teratur, wajahnya damai, seolah dunia di sekitarnya tidak sedang bergerak mundur ke masa lalu yang selama ini mereka kubur rapat-rapat.Langit masih berdiri. Ia bersandar pada meja rias Tanisha, kedua tangannya bertumpu santai, namun sorot matanya serius—jenis keseriusan yang jarang ia perlihatkan, kecuali saat ia benar-benar ingin jujur.“Iya,” ulangnya pelan. “Awalnya begitu.”Tanisha melangkah menjauh dari box bayi, mendekat ke arah ranjang. Ia duduk perlahan, seolah lututnya tiba-tiba kehilangan kekuatan.“Tapi…,” Langit melanjutkan, “kamu selalu terlihat ketaku
Beberapa hari setelah malam pengenalan Aksara secara resmi, Tanisha bangun dengan perasaan yang belum pernah ia kenali sebelumnya—bukan lega sepenuhnya, bukan juga cemas sepenuhnya. Lebih tepatnya, ia seperti berdiri di ambang pintu yang selama ini ia takuti untuk dibuka.Ia menunggu badai. Ia menunggu hujatan, penghakiman, dan suara-suara sumbang yang selama ini selalu datang lebih dulu sebelum kebenaran sempat bernapas. Namun badai itu tidak datang. Setidaknya, tidak seperti yang ia bayangkan.Sejak pagi hari, Tanisha duduk di ruang keluarga dengan Aksara di pangkuannya. Televisi menyala pelan, menampilkan tayangan berita politik yang biasanya ia hindari. Tapi kali ini, tangannya tidak refleks meraih remote.Nama Langit disebut. Berkali-kali. Bukan dengan nada menyerang. Bukan dengan ekspresi sinis.“…langkah Langit Akasa Mahadewa malam itu dinilai sebagai keputusan berani,” ucap seorang analis politik di layar kaca.“Di tengah budaya politik yang sering menutupi aib, ia justru memi
Tanisha baru saja menidurkan Aksara setelah sesi menyusu yang cukup panjang. Anak itu sempat rewel, mungkin karena suasana rumah yang terasa lebih ramai sejak pagi. Tanisha sendiri belum sempat benar-benar beristirahat, sebab pikirannya masih dipenuhi berbagai hal kecil yang ingin ia lakukan untuk Langit.Ia bahkan belum mengganti pakaian rumahnya ketika suara pintu depan terbuka.Tanisha mendongak refleks. Langit sudah pulang. Terlalu cepat.Pria itu melangkah masuk dengan jas masih melekat rapi di tubuhnya, rambutnya sedikit berantakan karena angin sore. Tatapannya langsung mencari Tanisha, dan ketika mata mereka bertemu, ada senyum kecil yang muncul di wajahnya.“Kamu belum siap-siap?” tanya Langit sambil mendekat.Tanisha mengernyit. “Siap-siap apa?”Langit mengangkat satu alis. “Makan malam.”Tanisha refleks berdiri dari sofa. “Oh—aku belum masak apa-apa. Aku nggak tahu Mas pulang secepat ini. Mas mau makan apa? Aku
Tidak ada dering ponsel mendadak. Tidak ada langkah tergesa di lorong. Tidak ada firasat buruk yang membuat dadanya mendadak sesak bahkan sebelum membuka mata.Cahaya matahari menembus celah tirai dengan lembut—bukan cahaya tajam yang memaksa, melainkan sinar hangat yang jatuh perlahan di lantai, s
Laporan yang diajukan Langit tidak jatuh di ruang hampa.Ia menghantam banyak pintu sekaligus—politik, bisnis, hukum, bahkan keluarga. Seperti batu besar yang dilempar ke danau tenang, riaknya menjalar ke mana-mana, memunculkan sesuatu yang selama ini sengaja ditekan agar tetap berada di dasar.Tan
Tanisha berdiri di dapur sejak matahari belum sepenuhnya naik. Rambutnya diikat asal, wajahnya masih polos tanpa riasan, tapi matanya berbinar—bukan karena kurang tidur, melainkan karena satu rencana kecil yang diam-diam ia simpan rapat di dalam dada.Hari ini, ia ingin membuat kejutan. Bukan sesua
Tanisha tersenyum, senyum yang pelan, hangat, dan sedikit gugup. “Selamat ulang tahun, Mas,” ucapnya lirih.Langit mengerjap lagi sembari mengumpulkan nyawanya. Pandangannya bergeser ke kue, ke lilin-lilin kecil yang menyala, lalu kembali ke wajah istrinya.“Kamu…” Ia mengangkat






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak