Nadine percaya rumah adalah tempat untuk pulang. Tapi ketika suaminya, Raka, semakin sering membawa pulang lelah—bukan cinta—dan nama perempuan lain mulai muncul di sela-sela telepon, Nadine mulai mempertanyakan segalanya. Tania, rekan kerja Raka, hadir tanpa banyak suara. Ia tahu celah itu sudah ada. Ia hanya tinggal masuk. Di tengah keretakan itu, Adrian—teman lama sekaligus sahabat Raka—muncul sebagai sosok yang mengerti. Tapi Nadine tahu: perasaan yang datang di tengah luka, bisa jadi jebakan yang lebih halus. "Rumah Tanpa Pulang" adalah kisah tentang cinta yang tak lagi kembali, kebisuan yang menyakitkan, dan langkah paling berat: memilih diri sendiri saat cinta tak lagi tinggal.
View MorePagi itu, Nadine menata kotak makan siang di atas meja dapur dengan hati-hati, seakan apa yang ia susun di dalamnya bisa menyusun ulang sesuatu yang lama rapuh di antara mereka. Ayam panggang kesukaan Raka sudah terbungkus rapi, nasi masih mengepul. Jemarinya sempat gemetar saat merapikan potongan kecil selada di sisi kotak. Hari ini, ia hanya ingin memberi kejutan kecil. Sesuatu yang sederhana, yang mungkin bisa membuat Raka tersenyum ketika menerima perhatiannya.
Lio berdiri di sisi meja, masih mengenakan jaket sekolah berwarna biru laut. Mata bulat anak itu memandang kotak makan, lalu menatap ibunya seakan bisa menebak apa yang sedang Nadine rasakan. “Mau kasih kejutan buat Ayah, Bunda?” tanyanya polos. Nadine tersenyum kecil, mengusap pipi Lio. “Iya. Biar Ayah senang. Mungkin dia lelah.” “Ayah pasti senang banget!” Lio berseru riang, membuat Nadine berusaha menyimpan keraguan yang sedari tadi berkecamuk di dadanya. Mereka berangkat tidak lama kemudian. Mobil keluarga berjalan pelan menembus lalu lintas yang padat. Nadine berkali-kali menoleh ke kursi belakang, memastikan kotak makan siang tidak tergeser. Rasanya aneh, seperti ia sedang membawa seluruh harapannya di dalam benda kecil itu. Sesekali, ia melirik kaca spion untuk melihat wajah Lio yang menatap keluar jendela dengan kaki bergoyang-goyang. Ketika akhirnya mereka tiba di lobi kantor Raka, Nadine menarik napas panjang sebelum masuk. Udara dingin pendingin ruangan menyambut langkahnya yang ragu-ragu. Gedung tinggi berlapis kaca ini selalu tampak terlalu mewah baginya, selalu membuatnya merasa asing. Kotak makan siang ia dekap erat di dada, kain batik pembungkusnya seakan menjadi pelindung terakhir dari rasa malu yang belum sepenuhnya ia pahami. Resepsionis perempuan menatapnya sopan, dengan senyum yang datar. “Permisi,” suara Nadine terdengar lebih kecil daripada yang ia maksudkan. “Saya istri Pak Raka. Saya ingin menyerahkan makan siang.” Perempuan itu mengetik sesuatu sebentar di komputernya sebelum menoleh lagi. “Maaf, Bu. Pak Raka sedang meeting di luar.” “Di mana?” Nadine mencoba terdengar wajar, meski ada desakan ganjil di dadanya. “Hotel Emerald. Sudah sejak pukul sepuluh tadi,” jawab resepsionis dengan nada datar. Nadine hanya mengangguk pelan. Ia merasakan Lio meraih ujung blusnya, seolah ikut menyadari sesuatu yang tak ia mengerti. Di dalam mobil lagi, Nadine menatap jalanan macet dengan pikiran yang makin kabur. Hotel? Kenapa dia tak bilang akan meeting di hotel? Bukankah Raka selalu memberitahunya kalau harus bekerja di luar kantor? “Bunda, Ayah senang kan kalau kita datang?” suara Lio memecah diam, membuat Nadine hampir tersedak oleh perasaan yang tak punya nama. “Tentu,” ia menjawab, berusaha menegakkan punggung. “Ayah pasti... senang.” Namun suaranya bergetar, dan ia tak sanggup menatap anaknya di kaca spion. Hotel Emerald berdiri tinggi di tepi jalan utama, dengan lampu gantung kristal yang tergantung megah di lobi. Nadine berdiri dekat sofa panjang, matanya menyapu setiap orang yang melintas. Kotak makan siang di tangannya terasa lebih berat daripada tadi pagi. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Ia tak tahu pasti apakah itu hanya gugup, atau firasat yang lebih gelap. Detik itu juga, pintu kaca otomatis terbuka. Nadine menoleh refleks—dan waktu seolah berhenti. Raka keluar dari pintu bersama seorang perempuan tinggi berambut hitam bergelombang. Mereka tertawa. Tawa yang lembut, tawa yang Nadine kenal dan rindukan. Tawa yang bukan untuknya. Tangan Raka menggenggam jemari perempuan itu dengan cara yang tak bisa dijelaskan oleh kata “rekan kerja.” Tania. Nadine mengingat namanya dari perkenalan singkat beberapa bulan lalu. Asisten baru. Mereka berjalan begitu dekat, seakan dunia hanya milik mereka. Nadine tak bisa menarik napas. Ia hanya berdiri, membiarkan kakinya memaku dirinya di lantai marmer. Lio merapat padanya, tangan kecilnya menempel di blus. Tania tersenyum pada Raka. “Jangan lupa nanti kirim aku draft presentasinya.” “Tenang saja. Hari ini aku puny—” suara Raka terputus begitu matanya bertemu mata Nadine. Ia langsung melepaskan genggaman tangan Tania, tapi itu tak menghapus apa yang sudah Nadine lihat. “Na...Nadine?” Raka memanggil dengan suara tercekat. “Kau... kau di sini dengan dia?” suara Nadine serak, hampir tak terdengar oleh dirinya sendiri. “Ini tidak... tidak seperti yang kau pikirkan.” Nadine menahan napas, menatapnya tanpa berkedip. “Lalu seperti apa? Katakan padaku... seperti apa?” Tania menarik tangannya pelan, menunduk sedikit. “Mungkin... kita bisa bicara lain waktu.” Nadine tidak memedulikan Tania. Matanya hanya tertuju pada Raka yang tampak lebih pucat daripada siapa pun yang pernah ia lihat. “Tidak perlu,” ia berbisik. “Semua sudah jelas.” Kotak makan siang tergelincir dari tangannya, jatuh menghantam lantai dengan bunyi tumpul yang entah bagaimana terdengar lebih nyaring daripada suara apa pun di lobi hotel itu. Nasi dan ayam panggang tumpah di lantai marmer, berantakan seperti yang sekarang ia rasakan di dalam dadanya. Raka melangkah setengah mendekat. Nadine mundur satu langkah. Ada sesuatu di dalam dirinya yang patah, sesuatu yang ia tahu tak akan bisa utuh lagi meski Raka bersumpah seribu kali bahwa semua ini hanya salah paham. Saat Raka menoleh dan menatapku, aku tahu: rumah kami baru saja runtuh.Gemuruh hujan yang sejak sore belum berhenti masih terdengar samar dari luar jendela apartemen. Di dalam, suasana justru lebih sunyi daripada yang bisa ditanggung oleh seorang pria yang sedang dihantui oleh bayangan keputusannya sendiri. Televisi menyala dengan volume pelan menampilkan tayangan lama, tapi mata Raka tak benar-benar menatap layar. Ia duduk di sofa, membungkuk sedikit, menatap dua gelas kopi di meja yang salah satunya sudah dingin tak tersentuh. Gelas itu ia buat dengan kebiasaan lama—dua sendok gula untuk Nadine, tak lebih.Ia mengambil ponsel, menyalakan layar, dan membuka galeri. Jempolnya mengusap layar hingga berhenti pada satu foto: Nadine dan Lio sedang tertawa di taman. Lio berlari ke arah kamera, wajahnya cerah diterangi cahaya matahari, sementara Nadine berdiri sedikit di belakang dengan tangan terulur, seperti ingin menangkap tawa anak mereka. Raka menatap gambar itu lama. Hening."Apa yang sudah kulakukan…?" gumamnya nyaris tak terdengar. Suaranya tercekik ol
Hujan belum juga reda sejak siang tadi, membasahi trotoar kota dengan irama monoton yang membius, seperti sebuah lagu kesedihan yang diputar berulang. Genangan air tipis di sepanjang jalan memantulkan cahaya lampu kota yang berpendar kelabu, menciptakan bayangan-bayangan ganjil yang bergerak tiap kali mobil melintas. Malam menggulung langit dengan warna abu, dan udara lembap membuat napas terasa berat.Di sudut sebuah kafe mewah yang temaram, Tania duduk tenang. Cangkir cappuccino di hadapannya sudah kehilangan jejak uap, namun tangannya masih menggenggamnya seolah kehangatan itu belum sepenuhnya hilang. Ia mengenakan mantel krem dengan kerah tinggi dan sepatu hak pendek, riasannya ringan tapi presisi, senyumnya mengundang tapi matanya tajam—tajam seperti pisau yang diselipkan di balik bunga.Di seberangnya, seorang pria paruh baya berjas rapi menyelonjorkan duduknya. Tangan kirinya memutar sendok perlahan dalam cangkir kopi, sementara tangan kanannya mengetukkan jari di permukaan mej
Hujan masih turun rintik-rintik ketika Nadine turun dari bus di halte dekat rumah. Matanya lelah, napasnya panjang, dan langkahnya terasa berat. Bayangan malam sebelumnya—saat ia duduk di mobil Adrian, memeluk keheningan yang tak sanggup ia pecahkan—masih mengendap di benaknya. Kata-katanya sendiri sebelum turun dari mobil mengulang seperti gema: "Terima kasih karena nggak pergi." Kata yang sederhana, tapi bermakna dalam. Karena dunia seperti sedang berbalik melawannya, dan hanya sedikit yang memilih tetap tinggal.Pagi itu, udara kantor terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena pendingin ruangan, tapi karena tatapan yang mengikutinya sejak ia melewati pintu depan. Nadine berjalan seperti biasa, menyapa pelan pada siapa pun yang berpapasan. Tapi tak ada yang benar-benar membalas. Hanya anggukan cepat, senyum kaku, atau bahkan diam yang terlalu kentara.Bisik-bisik berhenti seketika saat ia lewat di lorong. Nadine bisa merasakan kulit tengkuknya mengencang, punggungnya seolah men
Langkah kaki Raka yang menjauh dari kontrakan Nadine masih terngiang samar saat Adrian menurunkan kecepatan mobilnya, menepi di sisi jalan yang sepi. Udara malam terasa dingin menelusup celah-celah jendela yang sedikit terbuka. Di sebelahnya, Nadine duduk diam dengan pandangan kosong menatap ke luar, ke jalanan gelap yang hanya diterangi cahaya redup dari lampu-lampu trotoar. Tak ada kata-kata yang diucapkan selama perjalanan dari kantor Nadine, tapi diam itu tak terasa canggung. Justru mengendap sebagai semacam pengakuan bahwa mereka berdua telah melewati batas yang dulu dijaga rapat. Sesaat sebelum turun dari mobil, Nadine sempat menoleh ke arahnya. Mata yang masih sedikit sembap menatap dalam, menyisakan lelah dan sesuatu yang lain—sejenis keikhlasan, atau mungkin rasa syukur. "Terima kasih karena nggak pergi," katanya lirih, sebelum membanting pintu pelan dan melangkah masuk ke kontrakannya. Kata-kata itu sederhana, namun menghantam dada Adrian lebih keras dari yang ia perkiraka
Langit sore itu murung, bergelayut mendung tanpa hujan. Di kontrakan kecilnya, Nadine baru saja selesai menyapu serpihan hatinya sendiri, yang semalaman berserakan di kamar tidur. Setelah menerima email anonim berisi bukti perselingkuhan Raka dan Tania, malam itu menjadi sunyi yang paling menggigit. Tangisnya telah kering, tapi sisa-sisanya masih melekat di wajah dan napasnya. Hari ini ia hanya ingin tenang. Namun ketenangan rupanya terlalu mahal untuk dimiliki.Suara ketukan keras membuyarkan pikirannya. Pintu digedor bertubi-tubi, nyaris seperti akan jebol.Degup jantung Nadine langsung melonjak. Ia tahu siapa itu bahkan sebelum membuka pintu.Raka.Wajah laki-laki itu tampak seperti badai yang sedang menahan diri untuk tidak meledak. Tapi begitu pintu terbuka, amarahnya pun tumpah tanpa aba-aba."Kau pikir aku nggak dengar orang-orang ngomong soal kau dan Adrian?!"Nadine tak bergeming. Ia berdiri tegak, memandangi Raka yang kini tampak jauh berbeda dari sosok yang dulu dicintainya
Langit malam menurunkan udara dingin yang perlahan menempel di kulit. Parkiran gedung kantor tempat Nadine bekerja sudah hampir kosong, hanya menyisakan beberapa kendaraan yang berjajar diam dalam gelap. Lampu-lampu jalan menerangi sebagian area dengan cahaya kekuningan yang temaram.Adrian memarkir mobilnya tak jauh dari pintu masuk. Ia turun, menyandarkan tubuh sejenak pada pintu mobil, menarik napas panjang sebelum melangkah. Seperti biasa, ia datang menjemput Nadine, walaupun tahu benar bahwa kehadirannya hanya akan memicu lebih banyak gosip di antara rekan-rekan kantor Nadine. Tapi malam ini berbeda—ada sesuatu dalam dirinya yang tak sanggup membiarkan Nadine pulang sendirian.Ia melihatnya dari kejauhan, duduk di pinggir trotoar tepat di depan lobi. Bahunya berguncang pelan, wajah tertunduk, tangan memeluk lutut. Tanpa perlu mendengar suara, Adrian tahu: Nadine sedang menangis.Ia berjalan mendekat perlahan. Suara langkah sepatunya menggema di parkiran yang sepi. Saat sudah cuku
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments