LOGINRumah kontrakan yang Rex sewa di Bandung itu terasa lebih sepi dari biasanya.Padahal pagi tadi Anita masih bisa mendengar suara Rex tertawa kecil ketika Nathan menyuruh pria itu menciumnya.Masih melihat jas kerja Rex tergantung rapi di belakang pintu, seperti biasa.Masih bisa mencium aroma parfum maskulin Rex di seantero rumah.Tapi setelah pintu tertutup…dan suara mobil perlahan menjauh…rumah itu seakan kehilangan denyut.Anita sudah terbiasa hidup sendiri jauh sebelum ini.Sudah terbiasa sendiri.Sudah terbiasa mandiri.Tapi setelah dua minggu ini, ia lupa bagaimana rasanya kesepian.Anita menatap Nathan yang sedang duduk di karpet ruang keluarga, main puzzle dinosaurus. Sesekali ia bersenandung kecil, sambil memanggil Rex entah untuk apa.“Mami .…”Anita menoleh. “Iya, Sayang?”“Papi kok lama…?” Nathan meletakkan satu potongan puzzle, wajahnya mengerucut sedikit. “Papi enggak ketemu Dino lagi, kan?” Bocah laki- laki itu meracauAnita menelan ludah.Ada seberkas
Ruang sidang pindah ke ruang televisi usai makan malam.Rex duduk di single sofa menghadap ketiga anggota keluarganya.Andaikan Ezra-si abang pertama ada, pasti Rex habis di bully-nya.“Jadi gini, Rex enggak bisa memberitahu kalian karena pertama … kalian enggak akan terima kalau Rex hanya menikah kontrak dengan Anita untuk mendapatkan hak asuh Nathan dan yang kedua … Anita enggak suka sama pria dari keluarga kaya.” Mama dan papa mengangkat kedua alis.“Jadi itu kenapa kamu menukar Range Rover dengan HRV?” tebak sang papa.Rex mengangguk dengan ekspresi setengah malu.“Kok gitu? Kenapa Anita enggak suka pria dari keluarga kaya?” Mama Ayara sesungguhnya tidak percaya.“Jadi Anwar itu bisa dibilang lahir dari keluarga menengah sedikit ke atas sedangkan Anita dan Ayu lahir dari keluarga dengan ekonomi lemah … dulu ‘kan Anita itu kekasih Anwar dan selama menjalin kasih, kedua orang tuanya Anwar enggak setuju dan sering terang-terangan menghina Anita tapi Anita tetap bertahan kare
Suasana rumah besar keluarga Lazuardy sore itu tampak tenang dari luar—lampu-lampu temaram mulai menyala, aroma masakan Chef personal mama Ayara tercium menggugah selera dari arah dapur dan tanaman di taman depan yang luas, bergoyang halus diterpa angin.Tapi semuanya hanyalah kedamaian palsu.Karena di dalam rumah, ada sebuah sidang yang sedang dipersiapkan.“Mana sih Rex, kok lama banget.” Mama Ayara bergumam dengan kedua tangan terlipat di dada, tatapannya tertuju ke luar dinding kaca yang menghadap sebagian halaman.Langkah Papa Nicholas memasuki ruang televisi yang luas itu, langsung mendekati istrinya yang sedari tadi berdiri di depan dinding kaca menunggu sang putra kedua.“Ma … Rex udah sampai Jakarta tapi katanya anter Stevie pulang dulu.” Papa Nicholas memberitahu. Kedua tangannya di letakan di bahu mama Ayara.Seketika mama Ayara menoleh dan memutar tubuhnya.“Apa? Nganter Stevie? Memangnya Stevie ada di Bandung? Atau mereka janjian ketemu dulu di Jakarta? Stevie itu
Matcha latte hangat diletakkan Rex di cup holder tanpa suara.Stevie menatap gelas itu lama—padahal itu minuman favoritnya sejak SMA, minuman yang dulu selalu membuatnya tersenyum.Tapi hari ini…Ia malah ingin menangis.Rex masuk kembali ke mobil tanpa banyak bicara, menyalakan mesin, dan dengan tenang menarik tuas transmisi.Semuanya terasa dingin.Teratur.Sopan.Dan jauh.Bukan Rex yang dulu pernah bersedia menempuh hujan deras hanya untuk mengantar charger laptop Stevie.Bukan Rex yang dulu selalu memberi perhatian tanpa diminta.Bukan Rex yang dulu akan bertanya berkali-kali apakah Stevie baik-baik saja.Yang duduk di sebelahnya sekarang adalah pria dewasa yang tatapan hangatnya bukan untuknya lagi.Stevie menunduk, membuka penutup matcha latte, mengaduk tanpa tujuan.“Rex .…”Suara Stevie pelan, rapuh.Rex menoleh sedikit. “Hm?”“Kenapa sekarang kamu … beda banget sama aku?”Rex tidak la
Ingatan Stevie ditarik mundur ke masa sekolah dulu ke momen di mana setiap kali Stevie meminta, Rex pasti akan memberi.Stevie ingat kalau Rex selalu membawa bekal buah-buahan ke sekolah meski sudah disediakan catering di sekolah karena mama Ayara tidak ingin putranya kekurangan vitamin dari buah-buahan. Mungkin dari sekian banyak siswa, hanya Rex yang membawa bekal.Rex tidak pernah malu meski sering di bully teman-temannya mengingat di sekolah mereka yang Internasional khusus kaum Jetset, sudah disediakan foodcourt sekelas mall mewah.Rex selalu membagi bekalnya dengan Stevie bahkan kadang Stevie membawa kotak bekal itu yang kemudian dia makan berdua bersama kekasihnya di rooftop padahal tahu dengan dibawakan bekal, Rex tidak diberi uang jajan oleh orang tuanya.Rex tahu kalau Stevie memakan bekalnya bersama kekasihnya di rooftop tapi dia hanya tersenyum.Padahal dia juga lapar, jatah makan siang diberikan saat makan siang sedangkan terkadang Rex tidak sarapan—dia ingin makan
Pintu ruangan Presdir tertutup perlahan di belakang mama Ayara. Nicholas yang sedang membaca laporan langsung mendongak, alisnya terangkat.“Sayang? Kamu cepat banget sampai sini.”Nada suaranya ceria. Nafasnya padahal langsung pendek melihat ekspresi istrinya.Mama Ayara berdiri di depan meja kerja Nicholas.Tidak duduk.Tidak tersenyum.Tidak membuka percakapan dengan lembut seperti biasanya.“Sayang,” katanya pelan.Nicholas langsung tahu, bahaya sedang berada di level maksimum.“Ya…?”Senyumnya mulai canggung.“Aku mau tanya sesuatu.”Nada bicara mama Ayara tetap tenang tapi berbahaya.Nicholas menelan ludah. “Tanya apa dulu, nih?” Kekehan kering sengaja tercetus agar istrinya percaya kalau dia tidak berbuat salah.“Rex.”Satu kata yang membuat Nicholas refleks menegakan punggungnya. “Eerr … Rex kenapa, Sayang?” Papa Nicholas mencoba pura-pura tidak tahu.Mama Ayara menyilangkan tangan, kepalanya meneleng, matanya menyipit skeptis.Deg.Jantung papa Nicholas mu







