LOGINVivian Kusuma cuma pengin balas dendam sama mantannya. Setelah dipermalukan dan ditinggal di pelaminan, yang dia mau cuma masuk ke ruangan resepsi itu sebagai wanita yang menawan, dengan pasangan sempurna di sampingnya. Tapi, kenapa sih pria yang disewanya ternyata adalah seorang miliuner? Di depannya berdiri Adriel Mahendra, Direktur Utama Grup Mahendra yang sombongnya teramat sangat, tapi gantengnya bikin hati berdebar, salah satu pria terkaya di negeri ini. Saat menyadari hal itu, Vivian merasa seolah tanah di bawah kakinya amblas. Masalahnya, sekarang seluruh media sosial sudah percaya kalau mereka berdua pacaran. Dan masalah paling besar? Kakeknya Adriel juga percaya. Sekarang Adriel harus melanjutkan sandiwara itu kalau dia mau mewarisi bisnis keluarga. Vivian cuma ingin keluar dari kekacauan ini tanpa digugat. Tapi ketika batas antara kebohongan dan kenyataan mulai kabur, Vivian sadar dia mungkin sedang melangkah ke perangkap paling berbahaya yaitu jatuh cinta lagi. "Aku pernah ditinggal sebelumnya, Adriel. Aku nggak bakal bikin kesalahan itu lagi." "Siapa bilang kali ini cuma kamu yang akan kalah?" Inilah komedi romantis penuh kejutan, rahasia yang terkubur, dan gairah yang terlalu menggoda untuk diabaikan. Akankah Vivian menemukan keberanian untuk membuka hatinya lagi?
View MoreJumat pagi aku datang ke kantor lima belas menit lebih awal, dan berharap bisa menikmati sedikit ketenangan sebelum hari menjadi kacau. Tapi begitu aku melangkah masuk ke ruangan kami, aku langsung membeku.Di mejaku ada buket mawar merah besar setidaknya dua lusin yang tersusun sempurna dalam vas kristal yang elegan. Aroma lembutnya sudah tercium bahkan sebelum aku mendekat."Dan ...." kata Aurelia sambil mengintip dari balik layar komputernya dengan ekspresi serius. "Ada apa ini?"Aku bergegas ke arah bunga itu seperti anak kecil di pagi Natal, dan mencari kartu. Sebuah amplop putih kecil terselip di antara kelopak mawar. Tanganku sedikit gemetar saat membukanya."Hadiah pertama dari banyak yang akan datang."Jantungku langsung berdebar. Tidak ada tanda tangan, tapi aku tahu persis siapa yang mengirimnya.Semuanya bermula saat aku dan Wanderer melanjutkan permainan tanya jawab kami. Waktu itu giliranku, dan aku memilih sesuatu yang sudah lama membuatku penasaran.[Pertanyaan ketiga,
Sudut pandang Nathaniel.Lift sudah bergerak naik saat Anna buru-buru masuk, jelas terlambat untuk sebuah rapat. Napasnya sedikit terengah ketika pintu menutup, dan menyisakan kami berdua di dalam."Selamat pagi," kataku yang menjaga nada suaraku tetap senatural mungkin."Selamat pagi," balasnya sambil merapikan tasnya dan menatap lurus ke angka yang terus naik di atas pintu. "Setidaknya kali ini aku tidak sedang memegang secangkir kopi."Referensi ke momen saat kami hampir berciuman itu langsung membuatku lengah. Aku tertawa pelan."Kemejaku berterima kasih untuk itu," kataku. Saat mata kami bertemu, udara di dalam lift terasa menebal.Anna segera mengalihkan pandangan, dan pipinya berubah menjadi merah muda lembut yang sudah sangat kukenal. Aku yakin dia teringat apa yang hampir terjadi di lift yang sama ini. Aku sendiri jelas mengingatnya.Lift berhenti di lantai sepuluh dengan bunyi ding pelan, dan memotong momen itu."Ngomong-ngomong," kataku saat pintu terbuka. "Kita perlu kerja
Sekitar pukul tiga sore, akhirnya aku berhasil berhenti terobsesi dengan pesan Wanderer cukup lama untuk menyusun balasan yang lumayan. Seharian penuh kata-katanya terus terngiang di kepalaku. [Percakapan yang bagus … itu jauh lebih langka.] Setiap kali kubaca ulang, aku selalu terpaku pada keindahan kalimat itu.Aku mengetik dan menghapus setengah lusin balasan sebelum akhirnya menemukan sesuatu yang terasa natural tapi tetap cerdas.[Aku suka referensi film thriller itu. Dan aku setuju, percakapan yang bagus memang lebih langka daripada kencan santai. Bagaimana kalau begini, kita masing-masing boleh tanya sepuluh pertanyaan, dan kalau di akhir kita masih saling suka, kita jadwalkan kencan. Terima tantangannya?]Aku menekan kirim sebelum keberanianku hilang. Lalu sisa sore itu kuhabiskan dengan mencoba fokus pada pekerjaan, sambil mengecek ponsel setiap lima belas menit seperti orang bodoh.Balasannya datang sekitar pukul lima. [Ide bagus. Sepuluh pertanyaan cukup untuk memahami hal-h
Sudut Pandang Anna.Senin pagi sebenarnya cukup tenang sampai ponselku bergetar dengan pesan dari Vivian. Aku sedang meninjau laporan penjualan lini organik ketika namanya muncul di layar.[Coba tebak siapa yang bakal ke Londoria sebentar lagi?]Aku langsung tersenyum. Vivian punya bakat membuat hariku membaik hanya dengan satu pesan.[Hmm … coba aku tebak … Paus? Lady Gaga? Selebriti yang harusnya aku tahu tapi nggak tahu? Atau mungkin … entahlah … kakak favoritku yang punya bayi sempurna yang aku kangen banget?]Balasannya datang hampir seketika.[LOL! Lucu sekali! Rapat internasional besar Grup Mahendra. Adriel berharap mendapat kesepakatan jutaan dolar, aku berharap minum banyak anggur dan keliling kota sama adik kesayanganku. Siap-siap ya!]Dadaku langsung terasa hangat. Vivian datang ke Londoria bukan cuma mengusir rasa rindu rumah. Itu berarti aku bisa bertemu Elio secara langsung, melihat bagaimana Vivian menjalani peran sebagai ibu, dan punya sedikit rasa rumah di dekatku.[Ma
Sudut Pandang Adriel.Vivian menatap tangannya beberapa detik, seolah mengumpulkan keberanian. Akhirnya dia menatapku."Aku rasa iya," bisiknya sembari melangkah menuju kamar mandi. "Kamu benar. Kita harus tahu."Aku mengambil tes dari meja, sekilas membaca petunjuk di kotaknya. Tampak mudah dilakuk
Ruang utama tampak semakin ramai ketika Anna dan aku turun. Musik biola kuartet telah diganti dengan daftar lagu yang lebih riang, dan beberapa tamu bergerak di lantai dansa. Damar dikelilingi sekelompok pria tua, gesturnya hidup saat menceritakan sebuah kisah yang pasti lucu, dapat terlihat dari ta
Anthony berdiri hanya beberapa langkah dariku, sosoknya yang elegan langsung mencolok di antara para tamu. Dengan senyum palsunya, dia mengulurkan salah satu dari dua gelas sampanye yang dipegangnya ke arahku."Seorang wanita sepertimu seharusnya tidak sendirian di pesta seperti ini," komentarnya de
Jet pribadi Keluarga Mahendra melayang di atas perbukitan Gravona, dan aku masih belum bisa membiasakan diri dengan gagasan bahwa, setidaknya secara teknis, pesawat ini juga milikku. Anna, di sisi lain, sudah tampak benar-benar nyaman dengan kenyataan baru ini."Jelaskan lagi ke aku, kenapa kamu mas












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.