LOGINVivian Kusuma cuma pengin balas dendam sama mantannya. Setelah dipermalukan dan ditinggal di pelaminan, yang dia mau cuma masuk ke ruangan resepsi itu sebagai wanita yang menawan, dengan pasangan sempurna di sampingnya. Tapi, kenapa sih pria yang disewanya ternyata adalah seorang miliuner? Di depannya berdiri Adriel Mahendra, Direktur Utama Grup Mahendra yang sombongnya teramat sangat, tapi gantengnya bikin hati berdebar, salah satu pria terkaya di negeri ini. Saat menyadari hal itu, Vivian merasa seolah tanah di bawah kakinya amblas. Masalahnya, sekarang seluruh media sosial sudah percaya kalau mereka berdua pacaran. Dan masalah paling besar? Kakeknya Adriel juga percaya. Sekarang Adriel harus melanjutkan sandiwara itu kalau dia mau mewarisi bisnis keluarga. Vivian cuma ingin keluar dari kekacauan ini tanpa digugat. Tapi ketika batas antara kebohongan dan kenyataan mulai kabur, Vivian sadar dia mungkin sedang melangkah ke perangkap paling berbahaya yaitu jatuh cinta lagi. "Aku pernah ditinggal sebelumnya, Adriel. Aku nggak bakal bikin kesalahan itu lagi." "Siapa bilang kali ini cuma kamu yang akan kalah?" Inilah komedi romantis penuh kejutan, rahasia yang terkubur, dan gairah yang terlalu menggoda untuk diabaikan. Akankah Vivian menemukan keberanian untuk membuka hatinya lagi?
View More"Kita butuh pakaian yang nyaman," kata Adriel sambil melangkah masuk ke kamar tepat saat aku selesai bersiap untuk makan malam. Matanya langsung berbinar ketika melihat kalung batu kecubung di leherku. "Kamu menyukainya."Itu bukan pertanyaan, tetapi aku menangkap sedikit keraguan dalam suaranya. Sebuah celah kecil pada sosok penuh percaya diri yang selama ini digambarkan Lydia."Indah sekali," jawabku jujur sambil menyentuh tandan anggur kecil itu. "Aku belum pernah punya perhiasan seperti ini.""Cocok untukmu." Dia mendekat, jemarinya menyentuh dengan lembut pangkal leherku tempat liontin itu terletak. "Warna batu kecubung hampir sama dengan anggur di Kebun Anggur Vivian saat sudah matang sempurna.""Itu alasan kamu memilihnya?" tanyaku yang berusaha menjaga nada tetap ringan meski keraguan masih bergema di kepalaku. "Karena cocok warnanya?"Adriel tertawa kecil."Di antara alasan lainnya." Dia menyentuh salah satu batu kecil itu. "Katanya, batu kecubung bisa menangkal pikiran negati
Setelah Lydia pergi, aku tetap duduk lama di teras, kata-katanya berputar-putar di kepalaku seperti daun yang diterbangkan badai. Aku perlu tahu lebih banyak, dan memahami apa yang sebenarnya terjadi bertahun-tahun lalu.Tepat saat ini Lusi muncul dengan kopiku, dan saat dia menata meja, aku memutuskan ini adalah kesempatanku."Bu Lusi?" Aku mulai ragu, mencoba menyusun kosakata dengan Valentia yang terbatas. "Bolehkah aku … menanyakan … sesuatu?"Dia tersenyum ramah dan mengangguk."Lydia dan Adriel …" Aku ragu, mencari kata-kata. "Sudah lama … bersama?"Lusi pun mengerutkan dahi, berusaha memahami pertanyaanku yang berantakan."Lydia dan Tuan Adriel?" Dia membuat gerakan samar dengan tangan. "Ya, ya. Sejak kecil. Tumbuh bersama."Tumbuh bersama. Itu aku sudah tahu. Aku pun mencoba menanyakan sesuatu yang lebih spesifik."Lydia … bayi?" Aku meniru menggendong bayi. "Dengan Adriel?"Wajah Lusi seketika jadi muram. Dia menggeleng hebat, menyilangkan diri seolah menolak segalanya."Janga
Pagi itu segar dan cerah ketika aku memutuskan menikmati kopi di teras vila sambil menatap kebun anggur yang berkilau di bawah sinar matahari terbit. Aku mulai terbiasa dengan ritme hidup Eldoria yang lebih lambat, dengan jam makan yang panjang dan malam penuh bintang.Adriel sudah pergi pagi-pagi untuk bertemu para produsen lokal mengenai sertifikasi organik untuk proyek barunya. Aku pun berpikir akan memanfaatkan pagi sendirian untuk menenangkan pikiran sebelum pelajaran Aurelia berikutnya yang dijadwalkan sore nanti.Ketika kubuka pintu teras, aroma kopi yang kuat menyergapku terlebih dahulu, diikuti pemandangan Lydia yang duduk santai di salah satu kursi, memegang cangkir ekspreso. Dia mengenakan gaun putih sederhana tapi elegan yang kontras dengan rambut gelapnya. Orang yang paling tidak aku sangka akan ada di sana pagi ini dan sendirian pula."Selamat pagi, Vivian," sapaannya terdengar ramah, tapi jelas palsu. "Mau kopi?"Aku ragu sejenak, dan tergoda untuk mundur ke dalam, tapi
"Dan inilah cerita di balik Kebun Anggur Emas." Aurelia menjelaskan sambil menuntunku melalui bagian khusus ruang bawah tanah tempat botol-botol tertua disimpan di ceruk batu. "Ini dimulai ketika buyutku, Perusahaan Victor, kalah taruhan dengan seorang produsen Eldranic. Karena harga diri yang terluka, dia memutuskan membuat anggur yang bisa melampaui Valloria terbaik."Hari itu adalah hari keempat pelajaranku bersama Aurelia, dan berbeda dari yang kubayangkan, kami tidak menghabiskan waktu hanya untuk mencicipi anggur. Sebaliknya, dia memperkenalkanku pada sejarah kaya Keluarga Mahendra, mengungkapkan rincian yang tak pernah disebut Adriel."Apa dia berhasil?" tanyaku sambil menyentuh ringan label kuning pada sebuah botol dari tahun 1950-an."Enam tahun kemudian, pada uji rasa buta di Paraise, Kebun Anggur Emas meraih juara pertama. Produsen Eldranic itu pun harus mengakui kekalahannya di depan publik." Aurelia tersenyum penuh kebanggaan leluhur. "Sejak itu, kami menyisihkan lereng te






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore