LOGINShella menjatuhkan tubuhnya ke depan dengan gerakan lemas, menindih dadaku sepenuhnya. Napasnya memburu parah, terdengar putus-putus di telingaku. Tubuhnya yang basah oleh keringat menempel lengket pada kulitku, sementara otot-otot di sekitar paha dan perutnya masih berkedut-kedut sisa pelepasan yang baru saja dia rasakan.Aku bisa merasakan detak jantungnya yang menghantam rusukku dengan kencang, seirama dengan denyutan di selangkanganku yang masih terjepit kuat di dalam dirinya.Aku membiarkan dia istirahat sejenak di atas tubuhku, mengusap punggungnya yang basah kuyup dari atas ke bawah.Setelah napasnya mulai sedikit teratur, Shella mengangkat tubuh bagian atasnya perlahan dengan tangan yang terlihat gemetar.Dia menatapku dengan wajah merah padam dan rambut berantakan, lalu memberikan kode lewat matanya agar aku yang mengambil kendali.Aku menyambut panggilan itu.Seketika aku menahan tubuhku, memegang pinggangnya, lalu mengangkat pinggulnya sedikit ke atas untuk mempermudah perge
Shella menarik napas panjang lewat hidung, mencoba membiasakan diri dengan ukuran yang meregangkan liangnya secara maksimal.Dia tidak langsung bergerak naik-turun.Dia menahan posisinya yang duduk tegak di atasku, membiarkan kami berdua merasakan penyatuan itu dalam keadaan diam sejenak.Perlahan, Shella mulai menggerakkan pinggulnya.Dia memutar pinggulnya perlahan, membuat gerakan menggiling di atas pangkal pahaku. Bagian dalam tubuhnya berputar mengelilingi batangku, memeras dan memijat setiap inci kulit sensitifku yang terkubur di dalam."Sabar, aku lagi adaptasi, biar aku yang atur tempo, kamu nggak usah nyodok-nyodok lagi kayak gitu!" desis Shella pelan, matanya terpejam menikmati gesekan di titik G-spot-nya yang tersentuh setiap kali dia memutar pinggul.Setelah merasa cukup nyaman, Shella mulai mengubah gerakannya. Dia mengangkat pinggulnya sedikit demi sedikit.Shella menarik dirinya naik sampai batangku hampir terlepas sepenuhnya dari dalam tubuhnya, hanya menyisakan bagian
Shella menurunkan pinggulnya sedikit demi sedikit, bukan untuk memasukkannya. Malah, dia hanya menempelkan celah kewanitaannya ke ujung kepala Si Gatot.Dia mulai menggesekkan bibir kemaluannya yang basah dan licin itu ke permukaan helm Si Gatot.Dia melakukan gerakan maju mundur dan memutar, meratakan pelumas alaminya ke seluruh bagian kepala penisku.Gesekan antara dua membran mukosa yang sama-sama basah dan panas itu menciptakan bunyi kecipak pelan."Shhh, licin banget, Raf," gumam Shella sambil terus menggesekkan miliknya. "Sabar ya... biar masuknya gampang.""Masukin sekarang aja napa sih, Shell! Udah basah gitu juga!" erangku frustrasi. Rasanya batangku sudah mau meledak cuma karena digesek-gesek di luar.Pinggulku menyentak refleks ke atas, mencoba menusuk masuk ke dalam lubangnya tanpa permisi karena sudah tidak tahan.Bugh!Shella langsung menjatuhkan lututnya menekan paha atasku dengan keras. Dia menjepit pinggang dan pahaku menggunakan kekuatan paha dalamnya, memaksa pinggu
"Shell... jangan main-main..." erangku tertahan dan kakiku mulai gemetaran karena tidak tahan dengan godaan yang mengulur-ulur waktu ini.Melihat aku sudah di batas kesabaran, tangan Shella akhirnya bergerak ke tengah. Jari-jarinya merambat dari paha dalam, lalu akhirnya menyentuh batang Si Gatot. Dia tidak langsung menggenggam. Dia hanya mengelusnya menggunakan ujung jari telunjuk dan jari tengah.Dia menelusuri panjang batangku dari pangkal sampai ke ujung kepala, sangat lembut, persis seperti orang yang sedang menyentuh barang antik yang mudah pecah.Tangannya masih berada di dalam celana pendekku, kini telapak tangannya menggenggam batangku dengan lembut. Dia merasakan betapa keras dan panasnya benda itu di tangannya.Shella mengangkat dagunya pelan-pelan.Dia tidak melihat ke bawah, tapi menatap lurus ke mataku yang sedang terbaring pasrah. Tatapannya intens, mengunci pandanganku, sementara tangannya di bawah sana sedang memegang aset masa depanku.Perlahan, Shella menarik tangan
Shella meraih kedua pergelangan tanganku yang sedang diam di sisi tubuh. Dia menarik tanganku ke atas, lalu menempelkan kedua telapak tanganku yang kasar tepat di atas payudaranya yang sudah terbuka sepenuhnya.Kulit telapak tanganku langsung bersentuhan dengan kulit dadanya yang sangat halus, hangat, dan kenyal.Aku bisa merasakan detak jantungnya yang memburu di balik daging lunak itu, berdetak kencang menghantam telapak tanganku."Pegang, Raflikuu, sayangku, cintaku, kenapa kamu masih ragu gini?" bisiknya memberi komando.Mendapat izin itu, jari-jariku mulai bergerak.Aku meremas payudaranya dengan gerakan pelan namun bertenaga. Teksturnya padat berisi, memenuhi seluruh cekungan telapak tanganku sampai meluber lewat sela-sela jari. Putingnya yang berwarna merah muda kecokelatan mengeras, menusuk bagian tengah telapak tanganku setiap kali aku memberikan tekanan.Shella memejamkan matanya, kepalanya mendongak sedikit ke belakang, bibirnya terbuka mengeluarkan desahan napas pendek sa
Betul, jawabku dalam hati.Aku benar-benar merasakan perbedaan dari permainan mereka bertiga.Saat bermain bersama Claudia, aku benar-benar dianggap sebagai pelampiasan nafsu karena tubuhku yang kekar dan tanganku yang kasar. Dia menganggapku bagian dari fantasinya yang belum terpuaskan, apalagi Claudia tahu Si Gatot milikku ukurannya benar-benar perkasa untuk wanita yang gila seks sepertinya.Sementara Sora, dia ingin menjajal tubuhku karena dia tidak ingin aku lepas dari hidupnya. Aku diperlakukan layaknya samsak untuk kehidupannya dan dia menjamahku dengan tujuan untuk mengunci diriku, agar aku tidak bisa bebas lagi.Shella… berbeda.Wanita ini benar-benar dewasa.Aku merasa beruntung telah mengaguminya dari dulu.Aku pun beruntung mendapatkan hati dan cintanya, setidaknya dia sudah mengungkapkannya di ranjang ini.Shella memperlakukanku layaknya aku kekasih. Dia tidak mengekangku, tidak pula menjadikan fisikku yang kekar sebagai pemuas hasrat atau fantasi liarnya. Dia benar-benar







