INICIAR SESIÓN“Tulisan Papa secara rinci nyebutin kalau ancaman tindak pembunuhan itu dirancang langsung sama sekumpulan rekan bisnis Nyonya Alika,” jawab Shella membacakan fakta kejadian mengerikan tersebut dari dalam jurnal kulit hitamnya.“Berarti rekan bisnis komplotan Nyonya Alika beneran sudah punya niat niat jahat buat mencelakakan laju napas Bapak Hermawan sejak awal mula,” komentar Ko Ahiong yang sedari tadi ikut mendengarkan obrolan dari arah belakang posisi tubuhku.“Iya, Ko Ahiong. Susunan rencana jahat ini sepertinya sudah mereka atur sangat rapi jauh sebelum jadwal penerbangan lepas landas pesawat Papa ke wilayah luar kota.”“Tulisan kalimat di kertas itu nyebutin skenario wujud jalan keluar buat nyelamatin tubuh Papa kamu secara spesifik nggak, Shella?” tanyaku menunjuk barisan tinta bawah di halaman kertas tersebut memakai jari tanganku.“Iya, Rafli. Tulisan Papa di baris kalimat pojok bawah ini secara eksplisit menyebutkan sebuah skenario untuk memalsukan peristiwa kematian fisikny
“Kamu tolong kumpulin semua tumpukan uang kertas asing ini ke dalam tas milik Ko Ahiong sekarang juga ya, Shella,” suruhku sambil menyodorkan beberapa ikat uang Euro ke telapak tangannya.“Iya, Rafli. Aku masukin uang kertasnya pelan-pelan biar lembarannya nggak robek pas dibawa jalan pulang nanti,” jawab Shella sambil menerima wujud benda finansial tersebut.Shella mulai menata ikatan uang Dolar Amerika dan Euro itu ke dalam tas jinjing Ko Ahiong dengan sangat rapi. Pandangan matanya tiba-tiba teralihkan menuju area rak paling atas di dalam brankas baja ini. Dia langsung menemukan sebuah benda berwujud persegi panjang yang posisinya agak tersembunyi di sudut gelap sana.“Eh, ada sebuah buku tebal tertinggal sendirian di bagian rak paling atas brankas logam ini, Rafli,” lapor Shella sambil menunjuk lurus ke arah lokasi barang tersebut.“Biar aku saja yang mengambil benda itu dari atas sana, Shella. Posisi letak rak atas itu lumayan tinggi buat ukuran jangkauan tangan kamu,” tawarku un
Ko Ahiong lalu memindahkan arah wajahnya menghadap ke atap ruangan kontainer dan tiba-tiba mengepalkan erat kedua telapak tangannya ke arah udara kosong. Pria paruh baya itu langsung mengeluarkan suara teriakan kencang dan bersorak kegirangan melihat wujud asli tumpukan emas padat di dalam alat brankas raksasa ini.“Hore! Kita berempat akhirnya dapet jalan keluar dari masalah tekanan penagihan utang tunai hari ini!” teriak Ko Ahiong meluapkan jumlah rasa senangnya secara spontan dengan penggunaan volume suara yang amat sangat keras dan bising.“Ko Ahiong kok tiba-tiba malah teriak kegirangan kenceng banget begitu sih siang-siang di ruang tertutup begini?” tanya Shella yang masih merasa sedikit kaget mendengar letupan suara pria dari arah sebelah samping kirinya tersebut.“Gimana saya nggak bersorak kegirangan coba, Shella. Masalah ancaman krisis likuiditas tunai yang lagi dialami perusahaan kita sekarang bisa langsung teratasi seketika pada jam siang hari ini juga,” jelas Ko Ahiong de
“Itu ukuran kotak besinya nyaris sama besar kayak wujud lemari pakaian kecil di dalam ruang kamar tidur, Rafli,” komentar Shella dengan raut wajah yang terlihat amat sangat penasaran melihat benda tersebut.Aku segera melangkahkan alas kakiku mendekati perabotan meja kerja kayu milik mendiang Bapak Hermawan. Tanganku langsung menarik papan laci meja bagian paling atas untuk mencari keberadaan sebuah alat akses masuk. Mataku mendapati sebuah benda logam berukuran lumayan panjang di antara tumpukan alat tulis tua.“Waduh, aku baru aja nemu wujud satu anak kunci besi manual dari dalam ruang laci meja ini,” laporku sambil memegang lalu mengangkat benda kunci berukiran tebal tersebut tinggi-tinggi ke arah udara.“Kamu bawa kunci panjang itu ke sudut sana dan langsung coba masukin aja ujungnya ke lubang pintu brankasnya, Rafli,” suruh Pak Sanjaya dari area belakang posisi postur tubuhku.“Iya, Pak. Kunci manual ini bakal aku tes colok masuk ke lubang pengaman brankas abu-abu di pojok sana s
Perasaan haru yang memiliki ukuran amat sangat besar seketika menyelimuti fungsi kerja hati saudara perempuan tiriku itu pada jadwal waktu siang hari ini. Kedua bola matanya perlahan mulai terlihat memproduksi genangan cairan bening menahan luapan tetesan air mata yang sudah siap jatuh membasahi pipi cantiknya.Shella benar-benar menyadari besaran jumlah rasa cinta mendiang ayahnya kepada susunan anggota kami semua di tengah terpaan rutinitas stres akibat ulah Nyonya Alika.“Papa ternyata beneran punya rasa sayang yang amat sangat besar jumlahnya buat kita semua, Rafli,” ucap Shella dengan saluran suara parau yang tertahan berat di area kerongkongannya.“Iya, Shella. Beliau pasti selalu butuh sarana buat ngelihat wujud senyuman wajah kita bertiga saat beliau sedang merasa stres bekerja sendirian di dalam bangunan kontainer sempit ini.”“Papa pasti merancang secara mandiri ruangan kerja aman di pelabuhan sini buat menjauhi tekanan mental dari rentetan omongan kasar Mama Alika setiap ha
Kami berempat mulai melangkah masuk ke dalam kotak kontainer itu secara amat sangat hati-hati siang ini.Aku berjalan pada urutan letak paling depan untuk memimpin arah rute rombongan kecil kami. Kondisi permukaan lantai logam di dalam ruangan tertutup ini terasa lumayan licin akibat paparan hawa kelembapan udara pelabuhan.“Kalian semua tolong jalan pelan-pelan aja di belakang area badanku ya,” pesanku kepada mereka bertiga yang masih berdiri di area ambang batas pintu masuk.“Iya, Rafli. Kamu hati-hati juga langkah kakinya ke arah dalem sana. Lantainya pasti kerasa licin banget kena sisa uap air laut bertahun-tahun,” balas Shella dari arah belakang letak punggungku.Tanganku meraba permukaan struktur dinding besi di dekat area pintu masuk secara amat sangat teliti. Aku berusaha keras mencari letak tombol sakelar lampu untuk memberikan sumber penerangan di ruangan gelap ini. Ujung telunjuk jariku akhirnya menyentuh bentuk sebuah kotak plastik berukuran kecil yang menempel amat kuat d







