로그인Memergoki kekasihnya di dalam kamar hotel tempatnya bekerja bersama pria lain yang ternyata sahabatnya sendiri, membuat Rayhan sakit hati. Apalagi kekasihnya tidak menyesal dan menyalahkan Rayhan yang miskin dan tak berguna. Sahabatnya sendiri juga menghinanya, membuat Rayhan merasa putus asa. Melamun saat menyeberang jalan, membuat tubuh Rayhan ditabrak truk pengangkut barang hingga terpental beberapa meter dari tempat kejadian. Saat darahnya menetes ke cincin safir biru warisan keluarganya, mendadak tubuh Rayhan yang sudah patah tulang dan tak terselamatkan menjadi pulih seketika. Bahkan tubuhnya menjadi berotot seperti pria yang rajin ke gym. Rayhan Halim, juga memiliki kemampuan khusus mata tembus pandang untuk melihat barang antik yang berharga, menebak nomor undian dan semacamnya, serta menganalisa saham. Namun kemampuan unik lainnya, Rayhan bisa merasakan wanita-wanita yang kesepian dan memerlukan kasih sayang. Rayhan yang kembali dari kematian dengan tubuh sempurna ini tidak sulit untuk mendekati wanita-wanita kesepian tersebut. Namun, bara dendam membuatnya merancang strategi untuk memiskinkan sahabatnya dan juga membuat kekasihnya sengsara. Bagaimana cara Rayhan melakukannya? Ikuti ceritanya ya...
더 보기“KEYRA!”
Nama itu meledak dari tenggorokan Rayhan... bukan sekadar panggilan, melainkan jeritan naluriah seseorang yang baru saja melihat dunianya hancur di depan mata.
Pintu kamar hotel terbuka penuh.
Cahaya lampu putih menyergap matanya dengan kejam, menusuk tajam yang tanpa ampun membelah kenyataan. Udara kamar itu berbau campuran parfum mahal dan sisa keringat... bau intim yang tidak seharusnya ia hirup.
Dan di sanalah semuanya berakhir.
Di atas ranjang besar dengan seprai putih yang kusut tak beraturan, Keyra Geraldine terbaring setengah duduk. Rambut panjangnya tergerai acak, kulit lehernya masih hangat dan memerah, dadanya naik turun di balik selimut hotel yang hanya menutupinya setengah hati.
Bukan itu yang paling menghancurkan.
Di sampingnya, sahabat dekatnya... Daniel Wongso duduk santai, telanjang tanpa rasa malu, tubuhnya hanya diselimuti kain tipis yang bahkan tidak ia rapikan. Wajahnya tenang. Terlalu tenang dengan situasi seperti ini. Tidak ada rasa kaget. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada penyesalan sedikit pun.
Rayhan merasa seperti baru saja didorong dari tebing yang tinggi tanpa peringatan.
“A-apa…” Suaranya keluar patah-patah. Tenggorokannya kering. “Apa yang kalian lakukan?”
Pertanyaan itu menggantung di udara, rapuh dan bodoh... karena jawabannya sudah terhampar dengan jelas di depan matanya.
Keyra mendengus pelan. Tatapannya beralih ke Rayhan, dingin dan menusuk, dipenuhi kesombongan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tatapan yang membuat perut Rayhan bergejolak.
“Bukan urusanmu, Ray,” ucapnya datar. “Kau nggak punya hak mengatur hidupku.”
Kalimat itu seperti pisau yang ditarik perlahan di dada Rayhan.
“Aku?” Rayhan melangkah satu langkah, dadanya sesak. “Aku mengatur hidupmu? Aku cuma nanya... kenapa kamu ada di sini. Sama dia!”
Keyra menggulung rambutnya dengan malas, seolah Rayhan hanyalah gangguan kecil yang merusak suasana pagi.
“Sudah jelas, kan?” katanya dengan senyum tipis yang menyakitkan. “Apa matamu buta sampai nggak bisa lihat apa yang kami lakukan?”
Setiap kata menusuk. Setiap suku kata memaku harga diri Rayhan ke lantai kamar hotel itu.
“Kau selingkuh, Keyra!” Rayhan berteriak. Amarah dan luka bercampur menjadi satu racun yang membakar dadanya. “Kau hancurin hubungan kita!”
Keyra justru tertawa kecil.
Tawa itu... tajam, ringan, dan kejam—terdengar seperti kaca yang dipecahkan tepat di telinga Rayhan.
“Selingkuh?” Keyra mengulang sambil memutar mata. “Coba sadar deh, Ray. Tiap kita jalan, aku yang bayar. Kamu itu apa? Cowok kere yang numpang hidup! Masih berani teriak-teriak segala.”
Rayhan membeku.
Kata-kata itu lebih sakit daripada pukulan mana pun. Lebih menyakitkan daripada ditampar di depan umum.
Daniel akhirnya angkat bicara.
“Bro,” katanya santai, terlalu santai, “mending kamu keluar dari kamar ini.”
Nada suaranya membuat Rayhan ingin muntah. Seolah-olah Daniel adalah pemilik ruangan, dan Rayhan hanyalah noda kotor yang tak sengaja masuk.
Rayhan menatap wajah itu lama.
Wajah sahabatnya.
Orang yang dulu makan mi instan bersamanya di kamar sempit. Orang yang begadang mengerjakan tugas kuliah. Orang yang memeluknya saat ia hancur karena kegagalan pertama dalam hidup.
Semua itu… ternyata palsu.
“Kenapa kamu tega, Dan?” Suara Rayhan parau. “Aku sudah anggap kamu kayak saudara.”
Daniel menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang, senyum tipis terukir di wajahnya... senyum orang yang merasa berada di puncak.
“Keyra nggak pernah cinta sama kamu,” katanya dingin. “Sadarlah. Kamu bisa kasih apa ke dia? Aku deket sama kamu cuma buat satu hal... biar dia ngelirik aku. Kamu itu… beda level.”
Kata-kata itu menghantam seperti paku panas yang ditancapkan ke tulang.
Rayhan mengepalkan tangan. Tangannya gemetar. Dadanya terasa ingin meledak.
Dan sebelum ia sempat bernapas...
“Biar kamu cepet nyadar, Ray,” Keyra menambahkan dengan suara manis yang beracun. “Kamu itu miskin. Kamu bukan levelku.”
Ia tersenyum sinis.
“Daniel jelas lebih bisa memuaskanku dibandingkan kamu.”
Dunia Rayhan langsung hancur saat itu juga.
“Bagaimana aku bisa memuaskanmu sedangkan menyentuhmu saja aku belum pernah!” seru Rayhan dengan wajah kesal.
“Cih! Tak tahu malu! Pergi saja kau dari sini... dasar sampah!” kata Keyra dengan ketus dan penuh penghinaan.
“Aku… aku nggak terima, Key.” Suaranya pecah, nyaris menangis, nyaris runtuh sepenuhnya.
Daniel bangkit berdiri. Wajahnya penuh rasa tidak senang dengan kehadiran Rayhan.
“Bro... aku saranin kamu keluar sekarang,” katanya mengancam. “Atau aku laporin kamu ke atasanmu karena telah membuat tamu hotel tidak nyaman.”
Nama itu langsung terngiang di kepala Rayhan seperti sirene kematian.
Hadi Atmaja.
Bos kejam yang bisa memecat karyawan tanpa berkedip.
Pikiran Rayhan langsung berlari liar—hutang PayLater, biaya kuliah, kosan yang nunggak tiga bulan, gaji yang habis demi hadiah-hadiah Keyra.
Jika ia dipecat… selesai sudah.
“Brengsek kamu, Dan!” Rayhan akhirnya meledak.
Ia melayangkan pukulan...
BUK!
Tinju Daniel lebih cepat.
Hantaman keras mendarat tepat di bibir Rayhan. Rasa panas menjalar, disusul rasa asin darah yang mengalir ke dagunya.
“KELUAR!” teriak Daniel.
Rayhan belum sempat bangkit ketika Daniel sudah mengambil ponselnya.
“Pak Hadi, tolong datang sekarang. Usir anak buah Bapak dari kamar saya.”
Rayhan terkejut dan terdiam..
Napasnya tercekat. Dadanya sesak seperti diikat tali yang makin lama makin kencang.
“Dan… tolong…” Rayhan berlutut hampir jatuh. “Jangan panggil Pak Hadi… aku mohon…”
“Terlambat,” Daniel mendengus. “Tadi sudah aku sudah suruh kau pergi, tapi kau malahan mau memukulku.”
Keyra menyilangkan tangan di dada, wajahnya penuh kemenangan.
“Biar mampus kau, Ray,” katanya mengejek. “Dasar miskin banyak gaya. Pantas cuma bisa beliin aku hadiah dari gaji pas-pasan.”
Rayhan tak lagi merasa hatinya retak.
Hatinya hancur berkeping-keping.
Di kamar putih itu... di bawah cahaya lampu yang kejam, Rayhan menyadari satu hal...
Tidak ada yang peduli dengan orang miskin yang tak penting seperti dirinya.
Tidak ada satu pun.
Rayhan tertawa kecil.Bukan tawa keras. Bukan tawa marah. Hanya lengkungan tipis di sudut bibirnya—tawa yang terdengar menggelikan di tengah kerumunan orang yang masih gempar.“Aku yang ditabrak,” katanya ringan. “Kamu malah minta ganti rugi?”Wajah Anastasia Wibowo menegang. Hidungnya sedikit terangkat, dagunya terangkat lebih tinggi lagi.“Jangan pura-pura miskin nggak tahu diri!” bentaknya tajam. “Kalau nggak mau ganti, kamu bakal nyesel!”Ancaman itu meluncur begitu saja dari bibirnya—ringan dan sudah terbiasa, seperti kalimat yang sudah terlalu sering ia gunakan dan selalu berhasil.Orang-orang menahan napas.Rayhan menatapnya beberapa detik. Tatapannya yang tadi datar perlahan berubah dingin. Bukan marah. Lebih seperti… penilaian.“Lain kali belajar nyetir.”Kalimat itu tidak kasar, tapi terasa seperti tamparan.Ia berbalik.Langkahnya tenang, meninggalkan suara protes dan bisik-bisik di belakangnya.Untuk pertama kalinya, Anastasia terpaku. Sepersekian detik saja—cukup untuk me
Rayhan masih berdiri di depan jendela ketika Cindy bangkit perlahan dari ranjang. Selimut tipis meluncur dari bahunya sebelum ia cepat-cepat membungkus tubuhnya kembali, seolah udara pagi mendadak lebih dingin dari biasanya.Di bawah sana, Bellavistam City tak pernah benar-benar tidur. Lampu kendaraan bergerak tanpa henti, merah dan putih, seperti aliran darah yang memompa kehidupan ke tubuh raksasa beton dan kaca. Bunyi klakson terdengar samar dari ketinggian suite mereka—jauh, tapi konstan. Kota itu berdenyut, tak peduli pada apa pun yang terjadi di lantai puluhan.Pagi datang terlalu cepat.Cahaya matahari menyusup melalui celah tirai, mengiris ruangan dengan garis emas pucat. Partikel debu melayang di udara, terlihat jelas dalam sorot tipis itu. Cindy sudah mengenakan kembali gaunnya—rapi, elegan, tanpa satu lipatan pun yang mengkhianati malam sebelumnya. Rambutnya disisir halus, jatuh lembut di punggungnya.Namun sorot matanya berbeda.Lebih lembut dan dalam. Seolah ada sesuatu y
Lift berhenti nyaris tanpa suara. Denting halus terdengar ketika pintu terbuka, memperlihatkan koridor sunyi berlapis karpet tebal yang meredam langkah. Rayhan berjalan lebih dulu, Cindy di sampingnya, hingga mereka tiba di pintu suite paling ujung. Saat kartu akses disentuhkan, lampu indikator menyala hijau—dan sesaat kemudian, pintu terbuka ke ruangan luas yang terasa hangat sekaligus asing.Cahaya lampu kristal menggantung redup di langit-langit tinggi. Jendela kaca lebar menampilkan kota malam yang berkilauan—deretan lampu seperti lautan bintang yang jatuh ke bumi. Aroma kayu mahal dan parfum lembut bercampur di udara.Cindy masuk lebih dulu. Tangannya masih menggenggam kotak iPhone baru, lalu meletakkannya perlahan di atas meja marmer. Napasnya belum stabil, dadanya naik turun cepat, seakan ia masih berusaha memahami semua yang terjadi dalam beberapa jam terakhir.Ia berbalik.Mata hijaunya bertemu dengan tatapan Rayhan yang tenang namun hangat. Jarak di antara mereka terasa tipi
Penjaga toko masih gemetar saat menatap lima kartu lotere di atas meja, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Tangannya bergetar ketika menghitung uang di laci kasir, lalu ia menggeleng pelan.“Rayhan…” suaranya serak. “Uang tunai saya nggak cukup.”Rayhan mengangguk. Ia sudah menduganya.Toko kecil ini bukan bank. Laci kasirnya bukan brankas.Penjaga toko menarik napas dalam, lalu membuka laci besi kecil di bawah meja. Uang kertas disusun tergesa, dihitung cepat, lalu didorong ke depan.“Aku cuma bisa bayar tiga yang ini secara tunai,” katanya lirih namun jujur.“Sepuluh juta. Lima puluh juta. Seratus juta.”Tiga bundel uang tebal mendarat di atas meja dengan suara duk pelan—namun bagi Rayhan, suara itu terdengar lebih keras dari benturan truk siang tadi.Seratus enam puluh juta rupiah. Tunai.Tangannya sedikit kaku saat menyentuh uang itu.“Untuk yang ini…” penjaga toko menunjuk dua kartu terakhir—lima ratus juta dan satu miliar—harus lewat penyelenggara. Saya harus telepon mereka
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰더 하기