MasukMalam semakin larut. Kemudian Agni diantar Yosua pulang, "Aku pamit pulang."
"Baiklah, hati-hati di jalan," sahut Agni tersenyum sambil melambaikan tangannya entah ke arah mana Agni melambaikannya, tapi Yosua sangat memaklumi. Pria itu berjalan pergi meninggalkan rumah Agni, tapi dari kejauhan Yosua kembali menoleh dan menatap Agni yang masih berdiri di depan pintu rumah dengan tatapan kosongnya. Yosua mengamati Agni dengan seksama sebelum akhirnya wanita itu memperlihatkan kesedihannya dengan air mata yang jatuh di pipinya. Hal itu membuat Yosua terkejut dan tidak bisa mengalihkan pandangannya. Bertepatan dengan itu, ada seorang pemuda yang lewat di sekitar sana dan terlihat terkejut saat melihat kehadiran Yosua di rumah susun tersebut. "Yo-Yosua Ak-sara ...." Suara itu terdengar gugup dan takut. Merasa terganggu dengan pemuda tadi, Yosua segera menarik leher pemuda tersebut dan mematahkan lehernya. Yosua melakukan hal itu tanpa basa-basi. KREEEKK! "Aaargh!" "Siapa itu? Ada apa?" Agni terlihat panik dan mencoba mencari keberadaan suara pria di sekitarnya. Yosua dengan santainya membuang tubuh pemuda itu dari lantai dua dengan bebas. Membunuh orang dengan sadisnya dan sangat santai. Hal itu sudah biasa dia lakukan kapanpun jika dia mau. Tindakan yang paling kejam untuk seorang Yosua. Keesokan harinya, polisi telah berdatangan di TKP untuk mengevakuasi korban pembunuhan di rusun tempat tinggal Agni dan nyatanya wanita itu sama sekali tidak mendengar kejadian yang terjadi di sana. Agni tidak tahu jika ada pembunuhan di rusun tersebut. Pagi itu, dia bangun tidur, lalu mandi dan menyisir rambutnya dengan pelan. Awalnya dia agak terganggu dengan suara berisik dari bawah, tapi dia tidak menghiraukannya. *** Hari-hari dilewati Yosua sama halnya seperti hari biasanya, tapi ada yang sedikit lain yang dirasakan oleh pria tampan itu. Dia selalu teringat dengan Agni. Entah kenapa bayangan wanita buta itu selalu terngiang-ngiang di dalam pikirannya. "Apakah aku sudah sembuh?" pikirnya. Memang ada yang beda, tapi Yosua baru sadar akhir-akhir itu setelah beberapa kali bertemu dengan wanita itu, "Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya," lanjutnya dengan tersenyum smirk. Malam harinya Yosua mampir ke salah satu bar ternama di kota. Ya, dia tampaknya sedang ingin bersenang-senang. Dia menatap gelas anggur merah yang berada di depannya. Gemerlap lampu diskotik menambah gairah suasana malam itu. Di dalam diskotik, Yosua tetap dalam pengamanan para pengawalnya yang menyebar di mana-mana. Sudah gelas yang kesekian kali Yosua tenggak dan dia sudah kembali bersiap untuk memanggil pelayan. "Tuan, sudah cukup. Anda bisa mabuk berat jika terlalu banyak minum." Yosua menoleh menatapnya, kedua pipi pria itu mulai memerah. "Apa katamu, mabuk berat? Hahaha ... tidak ada dalam kamus Yosua Aksara mabuk berat. Pelayan!" teriak Yosua. Seorang pelayan laki-laki berlari menghampirinya. Yosua dengan mata terpejam dengan sedikit senyum membuka matanya dan menatap pelayan itu. Pria itu menarik kerah bajunya dan berbisik. "Beri aku sebotol anggur merah!" "Baik, tuan." Pelayan itu bergegas pergi dari sana. Namun, langkahnya dicegah oleh pengawal Yosua. Pelayan laki-laki yang masih sangat muda. Mendapatkan dirinya dicegat oleh dua orang pengawal dengan tubuh kekar, tubuhnya gemetaran. Justru dia berpikir apakah kesalahan yang baru dia lakukan. "Berikan dia Sparkling Rose saja. Dia sudah terlalu mabuk. Ini uang untukmu," kata pria dengan setelan jas hitam. Rasa lega membuatnya tenang, dia hanya menganggukkan kepalanya. Namun ternyata stok Sparkling Rose habis. Pelayan itu kembali berlari menghampiri pengawal Yosua. Hal itu membuat Yosua terus menerus berteriak meminta minumannya. "Tuan, maaf. Sparkling Rose habis," ujarnya melaporkan. Pengawal itu menatap Yosua dan sedikit berpikir. "Wild Idol?" sambungnya. Pelayan itu mengangguk dan kembali berlari ke tavern. Selang dua menit dia kembali membawa sebotol Wild Idol. Dia menuangkan Wild Idol ke dalam gelas Yosua. Pria itu kembali menarik kerah baju pelayan laki-laki tersebut. "Kenapa kau begitu sangat lama? Tenggorokan ku sudah sangat kering. Ini untukmu----" Yosua memberikan tips pada pelayan itu dan menyuruhnya pergi untuk kembali bekerja. Dalam keadaan setengah mabuk, Yosua tetap dalam pantauan para pengawalnya. Tempat itu termasuk aman karena bar tersebut sering menjadi tongkrongan para mafia untuk sekedar minum-minum atau bermain dengan j*l*ng bayaran. "Kenapa minuman ini rasanya tidak sama dengan minuman yang sebelumnya?" cicit Yosua. Namun, Yosua sama sekali tidak menghiraukannya. Dia menenggak langsung habis minuman yang ada di tangannya dan dia menyandarkan kepalanya pada dinding. Beberapa pengawal mendekatinya dan menawarkan pada bosnya itu untuk pulang ke markas, akan tetapi Yosua masih ingin bersenang-senang di bar itu. Dia merasa lelah karena seharian dia harus main petak umpet dengan polisi sehingga dia merasa jika malam hari adalah waktu untuk bersantai dan bersenang-senang. "Tuan, apa perlu aku membooking wanita yang paling cantik di bar ini?" tawarnya. Yosua menegakkan kepalanya, membuka matanya, dan menatap pengawalnya. "Apa kau punya ide yang lebih brilian? Adakah wanita itu di sini?" Pengawal itu diam sejenak seperti sedang berpikir. Memang semua wanita di bar itu tidak ada yang menarik. Semua sudah pernah dirasakan. Lantas pengawal itu menjauh dari Yosua dan Yosua kembali menyandarkan kepalanya karena merasa kepalanya berdenyut begitu cepat. Selang beberapa menit seorang wanita melangkah mendekati meja Yosua. Namun, para pengawalnya menghadang. "Aku hanya ingin mengajak bos kalian bersenang-senang. Apakah tidak boleh?" Tangannya meraba dada salah satu pengawal Yosua. Namun, tangan itu langsung ditepis oleh pria kekar tersebut. "Aku belum pernah melihatmu di sini," katanya. Seorang wanita mendekati mereka dengan tersenyum genit untuk mencairkan suasana. Dia berjalan memutar sembari tangannya meraba tubuh sang pengawal. "Clara ini adalah anak baru di bar ini. Dia masih ting-ting." Kedua pengawal itu saling pandang dan kembali menatap gadis yang berdiri di depannya. Tiba-tiba badan kedua pengawal itu bergeser ke arah samping kanan dan kiri karena dorongan kedua tangan Yosua. Yosua tersenyum smirk menatap Clara, lalu beralih menatap sang mami. "Kau yakin dia anak baru?" Melangkah gontai mendekati Clara. Mendekatkan wajahnya pada leher gadis tersebut dan menghirup bau tubuh gadis itu. Tiba-tiba Yosua segera menarik kepalanya menjauh dari gadis itu. Ada yang salah dengan tubuhnya dan para pengawalnya segera menarik tubuh tuannya. Merasa tubuhnya sangat berat, Yosua meminta para pengawalnya untuk melepaskan tangan mereka. "Hahaha ... Tuan Yosua, anda tidak perlu meragukan dia. Aku jamin Clara bisa memuaskan anda malam ini," ucapnya yakin. Sepertinya kesadaran Yosua sudah mulai pulih, dia membalikkan badannya dan menatap sang mami, "Apa jaminannya jika dia masih perawan?" "Aku bisa membuktikannya jika aku masih perawan. Apa perlu aku tidur bersamamu malam ini, Tuan Yosua?" sela Clara menantang bos mafia itu. Yosua mengalihkan atensinya dan tertuju pada Clara. Dia melangkah mendekati Clara sehingga gadis itu melangkah mundur beberapa langkah ke belakang. "Kenapa? Kau takut padaku?" tanya Yosua. Clara menggelengkan kepalanya. "Kau yakin?" lanjutnya melangkah selangkah mendekat. Yosua menatap kedua mata Clara dengan intens. "Akan ku bayar mahal jika kau masih perawan." "Sepertinya tuan-lah yang takut padaku." Clara menatap Yosua dengan tersenyum dan wanita muda itu terlihat seperti tertarik dengan pada tantangan Yosua.Reynar tampak termenung menunggu di ruangan Dokter Budi. Setelah drama pertengkaran dengan sang ibu dia akhiri dengan sepihak karena Reynar tidak ingin bertengjar lebh lama lagi dengan sang ibu. Reynar memilih untuk pergi karena tujuan utama sudah tersampaikan pada ibunya.Sampai Dokter Budi masuk pun Reynar tidak menyadarinya. Sang dokter melangkah menuju mejanya dan meletakkan dokumen di atas meja."Melamun?" tanya sambil duduk.Fokus Reynar buyar dan tersenyum pada Dokter Budi. "Tidak, dok.""Bagaimana?""Jawabanku tetap sama, dok," sahut Reynar."Baiklah." Dokter Budi menarik napas berat, lalu membuka dokumen yang ada di depannya. Memutarkan dokumen itu agar Reynar bisa membacanya terlebih dahulu. "Bacalah."Reynar membaca dokumen itu lalu menandatanganinya. Pria itu menyerahkan dokumen itu kembali."Dok, aku ingin dokter merahasiakan jika aku sudah mulai tidur di rumah sakit ini untuk persiapan operasi." Reynar memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Dokter Budi pun menyanggupiny
Cakra menarik napas kasar mendengar penuturan dari Razka. Pria itu tidak habis pikir bagaimana dia bisa menuduhnya seperti itu. Dia seperti sengaja memancing emosiku pagi ini.Cakra menundukkan kepalanya sambil menarik napas. "Dengar Razka, aku tidak ingin adu mulut denganmu. Apa yang aku ucapkan tidak bisa aku tarik kembali. Seperti apapun kau melindungi Yosua, tetap saja Yosua tidak bisa melarikan diri dari hukum yang berlaku." Cakra menggerakkan kepalanya mengisyaratkan pada Razka untuk segera menyingkir dari hadapannya.Razka yang paham dengan isyarat itu segera bergeser memberi ruang pada Cakra agar bisa masuk ke kamar Agni. Saat berjalan masuk pun Razka sempat menyeletuk. "Percuma masuk, yang kau temui pun sedang tertidur lelap." Setelah itu Razka pun berjalan pergi.Benar saja apa yang dikatakan oleh Razka, Agni masih tertidur lelap. Cakra menatap wajah Agni yang begitu terlihat pucat. Ada sedikit memar pada bagian sudut bibir dan tulang pipinya. Beberapa kali Cakra menghela n
Reynar duduk di depan Dokter Budi. Dokter Budi pun bercakap-cakap dulu dengan Reynar. Terlebih lagi sang dokter kembali menanyakan soal keinginan Reynar itu."Kau sudah yakin akan hal itu, Rey? Apa kau tidak ingin berpikir dua kali lagi?" Dokter Budi menatap Reynar. "Kau masih sangat muda, Rey. Masa depanmu masih panjang," lanjut sang dokter.Reynar diam sesaat. Pria itu menundukkan kepalanya. Dokter Budi paham jika Reynar masih galau dengan keputusannya itu. Dokter Budi pun tidak ingin memaksa Reynar."Rey, dari pada kau bingung seperti itu. Lebih baik kau pulang dan merenunglah. Pikirkan lagi keputusanmu itu. Tentunya kau harus meminta izin pada ibumu juga. Pikirkanlah hatinya. Jika kelak nanti kau melakukan hal itu, apa ibumu sudah siap?" Reynar mengangkat kepalanya dan menatap Dokter Budi. "Dok, tolong beri aku waktu sehari saja."Dokter Budi tersenyum. "Jangankan satu hari, Rey. Sebulan atau setahun pun boleh," canda sang dokter."Baiklah, dok. Besok aku akan datang lagi," pamit
Salah satu kaki Yosua terlilit selimut dan mengakibatkan pria itu terjatuh ke lantai. Hal itu membuat luka yang ada di perutnya mengeluarkan darah.Seketika Razka terbangun karena mendengarkan suara jatuh dan teriakan Yosua. Razka segera menghampiri Yosua dan berteriak memanggil dokter. Tak lama setelah itu dokter dan para perawat datang masuk ke dalam kamar Yosua."Dok ... tolong dia, dok ...." Razka terlihat sangat khawatir karena darah semakin merembas mewarnai pakaian Yosua."Tuan, tenang saja. Tuan bisa keluar sebentar, kami akan menangani pasien." Dokter menyuruh Razka untuk keluar.Razka keluar dan menunggu dengan tidak tenang. Razka duduk di kursi selacar, setelah itu dia berdiri dengan menggigit kukunya. Pria itu berjalan mondar-mandir dengan harap-harap cemas.Pintu terbuka dan seorang perawat keluar dengan berlari terburu-buru. Razka jadi semakin khawatir. Beberapa menit kemudian perawat itu kembali dengan mendorong sebuah troli."Suster, bagaimana keadaan sahabat saya?" t
Yosua berteriak keras saat tangan Bhani merobek pakaian Agni. Yosua tak sadar dan berlari sehingga sebuah peluru terlepas, melesat menusuk paha Yosua.Yosua tersungkur jatuh dan Agni berteriak histeris karena mendengar Yosua merintih kesakitan.Beruntung kain yang melilit bibir Agni lepas, jadi Agni bisa berteriak. Wanita itu pun berusaha untuk meronta, berusaha untuk melepaskan ikatan yang melilit tubuhnya."Diiaaamm!!" teriak Bhani dengan pistol terarah ke kepala Agni walaupun Agni tidak mengetahuinya."Jangan bunuh Agni. Agni tidak bersalah. Dia tidak ada urusannya dengan dunia mafia, jadi jika kau ingin membunuh orang. Bunuh saja aku!" teriak Yosua."Ti-tidak, Yos. Kenapa kau datang kemari? Aku tidak memintamu untuk menolongku," tuturnya."Tenanglah, Agni. Aku pasti akan menolongmu," balas Yosua."Diam! Hentikan sandiwara kalian!" Sebuah letupan senjata terdengar. Bersamaan dengan itu terdengar teriakan. Entah bagaimana ceritanya peluru itu memantul dan menembus kepala Jafran. A
Ternyata Yosua lebih peka. Pria itu tidak bisa dibodohi. Yosua dengan mudahnya mampu membaca isi pikiran Bhani."Kau ingin menghancurkan ku? Kau pikir aku bodoh. Aku tidak sebodoh seperti saudara kembarmu itu."Setelah pertemuan itu dan Pras meminta Yosua untuk bekerjasama dengan Bhani, akan tetapi Yosua menolaknya. Yosua tidak ingin ikut campur dengan urusan dunia Bhani dan itu justru membuat Pras bingung.Sebenarnya apa yang telah terjadi sebelumnya? Pertanyaan itu membayangi Prastyo."Kau ada masalah dengan Bhani, Yos?""Tidak!""Lalu?""Masalahku hanyalah dengan saudara kembarnya yang sudah mati!" Hal itu membuat Pras terkejut karena Pras sendiri tidak tahu jika Bhani punya saudara kembar."Mungkin dia juga ingin balas dendam padaku."***Seminggu berlalu.Akhirnya Jafran dengan mulus bisa menculik Agni. Semuanya telah dia perhitungan selama satu minggu itu. Ternyata Jafran terus memantau aktivitas Agni dan mencari waktu yang tepat untuk menculiknya.Jafran membawa Agni ke sebua







