LOGINYosua menatap tajam pada Clara. Pria itu paham apa yang dimaksud dengan gadis yang sedang berdiri di depannya. Namun, hal itu sepertinya membuat Yosua tidak berkutik. Kenapa?
Sang mafia itu memang tidak begitu suka dekat dengan wanita. Dia selalu menjaga jarak dengan wanita, tapi hal itu tidak berlaku pada Agni. "Ah, sial!" umpat Yosua pelan. Justru Yosua terjebak dengan kata-katanya sendiri. "Kenapa juga harus mabuk sih!" Menyalahkan diri sendiri. "Bagaimana?" tanya Clara penasaran karena dari tadi tidak ada jawaban dari Yosua. "Apa ucapan anda yang tadi masih berlaku?" lanjutnya memancing Yosua. "Aahh!" Yosua memegang kepalanya dan memberi isyarat. Bukan karena akting atau apa, tapi memang dia sering merasakan sakit kepala setelah banyak minum alkohol. Beberapa pengawal mendekati sang tuan untuk menenangkannya. Setelah beberapa menit barulah beberapa anak buahnya menyuruh Clara untuk berdiri agak menjauh dari tempat Yosua. Sejujurnya Clara juga tidak ingin dipermainkan dan malam itu dia sangat berharap bisa tidur dengan bos mafia itu. Clara pun memaksa pada anak buahnya agar dia bisa lebih dekat lagi dengan Yosua. Clara memang tidak bisa menampik jika dirinya terpesona dengan sosok Yosua. Pria yang dijuluki mafia nomor satu itu memang mendekati sempurna. Tak hanya sempurna, Yosua juga termasuk orang paling kaya. Belum lagi bisnisnya juga mendunia. Dia banyak punya relasi, tapi tidak sedikit orang yang tahu jika Yosua adalah orang paling ditakuti di dunia mafia. "Kau mau apa, nona?" tanya sang pengawal. "Aku ingin menemani Tuan Yosua," tandasnya berusaha masuk ke dalam pengaman sang pengawal. Namun, tidak berhasil, karena terlalu ketat. "Tuan tidak butuh seorang wanita untuk menemaninya jadi silakan anda cari tamu lain yang ingin ditemani oleh kupu-kupu malam seperti anda." Yosua berdeham, "Maaf, Nona Clara. Suasana hatiku sedang tidak baik, jadi aku tidak berselera sama sekali. Mungkin jika kita diberi waktu untuk bertemu lagi di lain waktu. Kita akan melakukannya," ujar Yosua. "Kenapa tiba-tiba?" tanya Clara yang masih memancing Yosua. Entah kenapa Clara begitu sangat terobsesi oleh Yosua malam itu. *** Satu bulan kemudian. "Tuan, polisi ada di mana-mana!" Dengan suara agak berbisik. "Benarkah?" Dia tersenyum santai menanggapi pengawalnya. "Baiklah. Kita akan bermain petak umpet," lanjutnya. "Tapi, tuan. Ini bukan ide yang bagus." Pengawal dengan badan besar kekar itu justru terlihat khawatir dan tidak tenang. Yosua menatapnya dengan tajam sambil menggerakkan tusuk gigi yang sedang dia gigit. "Takut? Badan besar, tapi nyali ciut. Pulang saja jika kau takut bermain dengan polisi. Buat apa aku membayar mu jika bukan untuk mengawal dan melindungi ku!" Yosua membentak pengawalnya di tengah keramaian kedai. Bentakan itu sukses membuat sang pengawal kicep dan menundukkan kepalanya merasa telah membuat kesalahan besar. Pria berusia sekitar 28 tahun dengan tinggi 178 cm ini begitu sangat santai. Pria itu masih menikmati hidangannya, padahal para pengawalnya sudah meminta pria itu untuk segera bersiap mengambil langkah seribu jika keadaan sudah kepepet. Kedai yang mulai ramai itu tidak menyurutkan para polisi untuk menggeledah dan memeriksa. Yosua menyapu segala penjuru kedai itu sampai pada akhirnya senyum miring mengembang di bibirnya. Polisi sudah berada di depan kedai tempat Yosua makan. "Beberapa dari kalian menyebar lah dan kalian berdua ikut aku masuk ke dalam kedai ini," teriak Reynar. Polisi muda berpangkat Iptu berusia sekitar 27 tahun itu masuk ke dalam kedai dan memeriksa setiap orang yang ada di sana. "Sial! Selalu telat dan terkecoh." Reynar menyepak sebuah kursi hingga kursi itu terjungkal. Dia keluar dari kedai itu dan semua polisi sudah berkumpul. Bagaimana di sana?' teriaknya. "Nihil, pak!" Mereka berlari bergabung dengan polisi yang lain. Bahkan polisi yang menggeledah di tempat lain juga kehilangan jejak Yosua. "Mafia yang satu ini memang tidak boleh dianggap remeh. Dia begitu lincah, pintar, dan banyak akal," ujar salah seorang polisi. "Sial, berani sekali dia mempermainkan polisi." Reynar memerintahkan semua polisi untuk kembali ke markas. Yosua memperhatikan Reynar dari atas roof top dengan tersenyum smirk seperti mengejek Reynar yang selalu gagal menangkapnya. Merasa seperti ada yang memperhatikannya, polisi muda itu menoleh ke atas menyapukan pandangannya ke seluruh roof top. Ternyata Yosua sudah berlalu dari sana. Reynar berdiri tegap dan mendongak ke atas menatap deretan roof top. Insting Reynar tidak pernah salah jika Yosua tadi berada di atas sana sedang memantau pergerakan polisi. Ada keinginan untuk mengejarnya, tapi yang pastinya sudah terlambat. Yosua pasti sudah jauh meninggalkan tempat itu. "Untuk sekarang mungkin keberuntungan masih berpihak padamu, tapi aku yakin suatu saat aku bisa menangkap mu dan memasukkan mu ke dalam jeruji besi." *** Reynar melangkah menuju rumah Agni. Terlihat dari wajah pria itu begitu sangat bahagia. Sepertinya Reynar membawa kabar baik untuk Agni. Pagi itu mungkin Reynar terlalu pagi datang ke rusun tersebut, karena masih sangat sepi. Pria tampan dengan rambut hitam cepak sudah berdiri di depan pintu rumah Agni. Tiga kali dia mengetuk pintu tidak ada respons apalagi dibukakan pintu dan akhirnya satu——dua ketukan si pemilik rumah membukakan pintunya. "Pagi Reynar. Tumben pagi-pagi sekali sudah bertamu," sapa Agni. Reynar sudah tidak heran dengan wanita tuna netra tersebut karena dia bisa menebaknya dengan tepat tanpa dia harus mengucapkan sepatah kata agar Agni tahu siapa dirinya. "Pagi juga nona manis," sapa balik Reynar melangkah masuk ke dalam rumah rumah dan duduk di sebuah sofa. Reynar memperhatikan wanita cantik itu yang tengah sibuk membuatkan minuman untuknya. "Agni, kau tidak perlu repot. Kau tidak perlu menyuguhkan sesuatu untukku," lanjutnya. "Ah, ini tidak merepotkan ku. Hanya secangkir teh hangat untukmu agar badanmu terasa hangat di pagi ini." Melihat Agni kesulitan membawa nampan. Akhirnya Reynar turun tangan. Pria tampan itu segera melangkah menghampiri Agni. "Biar aku yang bawa nampannya," tawar Reynar. "Terima kasih, Rey," balas Agni tersenyum dengan tatapan kosong. Wanita itu melangkah sambil meraba dinding menuju sofa. Reynar menaruh nampan tersebut di atas nakas. "Agni, minuman ini sama semua?" tanyanya. Agni tersenyum dan duduk tidak jauh dari Reynar. "Tentu saja. Teh hangat yang manis rasanya, tapi tidak terlalu manis. Gulanya hanya satu sendok makan saja." "Baiklah." Reynar memindahkan dua cangkir teh hangat itu ke atas nakas. "Rey, kau hendak pergi ke mana?" tanya Agni saat merasakan pergerakan kaki. "Aku ingin mengembalikan nampan ini ke dapur," jawabnya. "Ah, aku sungguh banyak merepotkanmu." Terlihat senyum getir di ujung bibirnya. "Jangan bicara seperti itu," hibur Reynar. Pria tampan itu kembali duduk dan mencicipi teh hangat buatan Agni. "Hmm ... ini sungguh enak. Wanginya langsung kerasa di hidung," puji Reynar. Agni menggerakkan kepalanya mengikuti arah suara Reynar. "Ada perlu apa kau sepagi ini sudah datang kemari? Apa ada kabar baik tentang kasus itu?""Su-sudah sampai? Bagaimana kau tahu?" tanya Agni.Razka melepaskan seat bell nya. "Kau lupa——jika aku juga pernah tinggal di tanah air." Razka keluar dari mobil dan melangkah memutar untuk membuka pintu agar Agni segera turun."Terima masih, Razka." Agni keluar dari dalam mobil. Sedangkan Razka memperhatikan sekitar. Pria itu menatap apartemen yang ada di depannya dari bawah ke atas."Kau tinggal di lantai berapa?" tanya Razka sambil menyandar pada mobilnya."Lantai dua," jawab Agni."Aku antar!" balas Razka."Tidak perlu. Aku tidak ingin merepotkanmu," elak Agni."Tidak apa-apa. Lagipula jika terjadi apa-apa denganmu, aku juga yang akan kena," sahut Razka.Agni menoleh dengan tatapan kosong. "Razka, apa kau memberitahu Yosua jika kau mengantarku?" "Mm ... tidak. Kenapa?" Melirik Agni yang terlihat lega saat mendengarnya. "Tapi bukan berarti Yosua tidak tahu menahu soal ini," sambungnya dan berhasil mematahkan kelegaan dalam diri Agni.Agni terlihat pasrah jika memang Yosua mengetah
Cakra menyandarkan tubuhnya bersamaan dengan deruan napas kasar. Rasa kesal dan marah menjadi satu di dalam dada. Cakra berpikir jika Yosua sedang mempermainkannya.Cakra menautkan jemarinya dan menggunakan sikunya untuk bertumpu."Yosua, aku pastikan aku akan membuatmu menepati janjimu itu!"Rasa kesal dan amarah menyelimuti hati Cakra dan itu bertolak belakang dengan Reynar. Justru Reynar sangat bahagia saat mendengar bahwa Agni telah kembali ke tanah air, tapi Reynar berusaha untuk tetap tenang di depan Cakra.Reynar tidak ingin Cakra curiga padanya jika sebenarnya Reynar masih menyimpan rasa pada Agni. Jika Cakra mengetahuinya tentu dia pun pasti akan marah pada Reynar."Aku harus bisa menghubungi Agni, tapi bagaimana caranya? Apa mungkin Agni masih mau menemuiku? Tentunya Yosua juga tidak akan membiarkan Agni bertemu denganku!" Reynar menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Pikirannya sedang sedikit kalut.Reynar masih memikirkan bagaimana cara untuk menemui Agni dan mencari alasan
Agni duduk sendirian di kamar. Wanita itu tidak menyangka jika akan kembali ke tanah air. Tentunya dia pun harus siap bertemu lagi dengan Reynar dan Cakra. Terlebih lagi Agni punya janji dengan Reynar.Yosua masuk ke dalam kamar dan menemukan Agni sedang bengong serta Agni pun tidak menyadari jika Yosua masuk ke dalam kamarnya. Pria itu berdiri lama memperhatikan Agni. Ada rasa bersalah dalam diri Yosua telah melibatkan Agni dalam dunianya, tapi untuk meninggalkannya pun itu tidak mungkin. Yosua menarik napas dan mengembuskannya. Tentunya hal itu menarik perhatian Agni."Yos, kau kah itu?" ucapnya pelan sambil memalingkan wajahnya.Yosua mengangkat kepalanya dan tersenyum saat keberadaannya sudah diketahui oleh Agni. Yosua tersenyum dan melangkahkan kaki masuk ke dalam."Hm ... aku kira kau sudah tidur." Yosua duduk di samping Agni.Agni bergerak menghadap ke arah gerakan yang dia rasakan. "Ada apa? Apa ada masalah?" tanyanya. "Aku mendengar deruan napas gusarmu tadi," lanjutnya.Yos
Pesawat tinggal landas meninggalkan negara taiko. Kurang lebih tiga jam penerbangan ditempuh. Kepulangan yang diam-diam justru membuat sebuah masalah baru.Yang dikira akan lancar dan aman sampai tujuan, tapi ternyata kedatangan mereka tercium oleh Cakra.Cakra segera menghubungi Reynar dan ternyata Reynar pun sudah mengetahuinya. "Apa rencana kita sekarang?" tanya Reynar."Kapan kau ada waktu? Aku ingin membahas ini!" tandas Cakra."Kebetulan hari ini aku off-day. Bagaimana jika nanti siang ketemu di tempat biasa," papar Reynar."Ok. Deal!"Siang hari Reynar dan Cakra bertemu di sebuah kafe tempat mereka berdua menghabiskan waktu. Di kafe itu memang ada satu tempat yang tertutup dan biasa dipakai untuk acara rapat atau lainnya. Mereka bertemu hendak membahas masalah Yosua.Apakah Reynar dan Cakra sudah mengetahui tentang mansion-nya Yosua?Jawabannya TIDAK.Keduanya belum mengetahui masalah tersebut. Bagaimana bisa?Sepertinya ada permainan yang sedang dimainkan di dunia mafia sehin
Yosua menemani Agni masuk ke dalam kamar. Pria itu berusaha akan membicarakannya pada Agni. Tidak ingin berlama-lama, Yosua langsung mengutarakan apa yang ingin dia katakan."Apa yang ingin kau katakan padaku, Yos?" tanya Agni dengan pandangan kosong.Saat Yosua hendak menjawab tiba-tiba ponsel milik Yosua bergetar dan bersamaan dengan Razka yang memanggil namanya. Apa yang dilakukan Razka? Pria itu tampak berjalan dengan tergesa-gesa sambil menatap ponselnya."Sebentar aku terima panggilan ini dulu," ujarnya pada Agni dan beranjak dari sana untuk mendekati Razka."Yos ..." Razka menunjukkan sesuatu dengan mengarahkan ponsel miliknya. Kedua mata Yosua membulat sempurna."Halo ...." Yosua mendengarkan secara detail sambil tangannya mengepal erat. Panjang kali lebar kali tinggi Yosua mendengarkan anak buahnya bicara dengan seksama. Terlihat kadang wajahnya melemas, lalu berubah menjadi tegang bahkan dahinya berkerut tiga.Yosua syok mendengar jika satu dari dua markas yang tersisa dib
Langkah Irene langsung terhenti manakala mendengar kata transfer. Irene memang wanita matre, yang akan sekali kalah jika diiming-imingi dengan uang. Wajar memang karena semua orang juga membutuhkan benda yang satu itu."Berapa? Apa nominal yang biasa aku transfer itu kurang? Jika kurang akan ku tambah lagi nominalnya," ujar Nattawut."Tidak———tidak. Maaf, jika sikapku tidak membuatmu nyaman, sayang," rayu Irene. Irene tahu bagaimana marahnya seorang Nattawut jika dia sudah merasa tidak dihargai.Nattawut mencium gelagat yang aneh pada Irene. "Kau tahu kan bagaimana jika aku marah?"Irene gelagapan. Lantas dia mulai bermain drama. Irene berusaha agar membuat Nattawut tidak marah.Namun, pria itu justru memikirkan hal lainnya. Seolah dia menatap curiga pada Irene. Nattawut mendekati Irene dan dengan cepat pria itu menarik tangan Irene dengan kasar. Irene yang terkejut lantas memberontak dan berteriak. Nattawut membekap mulut Irene lantas menampar wanita itu beberapa kali hingga Irene



![My Fated Pair [BxB]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)



