Share

109. Razia Love Story

Author: CacaCici
last update Last Updated: 2025-12-22 17:02:29
--Musim Baru--

"Iya, Papa Sayang. Tenang saja, kalau soal makan, Rara nggak akan pernah lupa," ucap seorang gadis berusia 22 tahun pada papanya, lewat sambungan telepon.

'Humm.' Di seberang sana papanya menjawab dengan hanya berdehem. Setelah itu, tak lama sambungan telepon dimatikan.

Razia menghela napas, memutar bola jengah sambil berjalan santai–memasuki sebuah rumah mewah milik kakak sahabatnya.

Razia sangat heran dengan papanya, suka sekali menghubunginya tetapi selalu sok dingin padanya. Ingin sakali Razia meledek papanya dengan mengatakan 'kalau rindu tuh terus terang, Buto Ijo. Jangan sok cool begini.' Akan tetapi mengingat papanya adalah sumber penghasilannya, Razia memilih membungkam dewi batinnya yang sedikit bangke tersebut.

Hal yang membuat Razia kesal sering ditelpon tak jelas oleh papanya adalah karena hal itu mamanya jadi jarang menelponnya. Yah, ini ada sangkut pautnya dengan akal-akalan Buto Ijo–kalau kata mamanya si diva gagal. Sebab, setiap kali Razia berte
CacaCici

Selamat membaca dan semoga suka, MyRe. Dukung terus novel kita dengan cara vote gems, hadiah, dan ulasan manis. Sehat slalu buat kalian semua. IG:@deasta18

| 36
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dinikahi CEO Dingin Yang Membesarkanku   149. (Z 10) Lari Membawa Uang?

    Kiara menatap sosok sang pemimpin keluarga Malik dan istrinya, dengan penuh binar. Kiara langsung berlari ke arah mereka lalu bersembunyi di belakang tubuh Shazia. "Ibu, tolong selamatkan aku," pinta Kiara panik, langsung menyembunyikan wajah di belakang pundak saat Zaiden datang dengan raut muka marah. "Zaiden!" peringat Shazia pada putranya. "Kiara Angsa istriku, Maa. Ada yang salah?" ucap Zaiden sambil mendekat ke arah Kiara. Kiara menjauh saat Zaiden menghampirinya. "Ibu, to-tolong," pinta Kiara cepat saya Zaiden kembali mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat. Tak sampai di sana, pria itu itu melotot seram padanya–memperingarinya untuk tidak melawan. "Zaiden!" pekik Shazia setengah marah, memukul tangan putranya cukup kuat lalu memaksa Zaidan agar melepas cengkeramannya dari pergelangan tangan Kiara. "Zaiden, kau ingin Papa hajar, Humm?" ancam Rayden, melayangkan tatapan membunuh ke arah putranya. "Ck." Zaiden berdecak pelan sambil melirik kesal pada papanya, "kalia

  • Dinikahi CEO Dingin Yang Membesarkanku   148. (Z 9) Bagaimana dengan Anak Kita?

    Kiara sontak melebarkan mata, menatap semakin kaget dan panik pada sang big boss yang masih memeluk pinggangnya. Sedangkan semua orang, mereka refleks berdiri saking kaget dan tak percayanya dengan apa yang Zaiden katakan. Hanya Rayden yang tetap duduk, meraih cangkir kopi lalu menyeruput dengan khidmat–mengamati putranya yang terlihat senang dan Kiara yang terlihat panik. Shazia juga mengamati keduanya dengan ekspresi kaget. "Sayang, kamu se …-" Zaiden memotong cepat, "Ya, Maa. Aku ingin menikahi Kiara Angsa." "Tidak!" Kiara refleks menolak, melepas kuat pelukan Zaiden di pinggangnya lalu buru-buru menjauh dari pria berwajah dingin tersebut. Dengan wajah panik dan gugup setengah mati, Kiara menatap bergantian Shazia dan Rayden. "Ibu, Tuan …-" Kiara berhenti sejenak, kembali mundur karena Zaiden mendekat padanya, "ja-jangan salah paham. A-aku tidak ada hubungan dengan Tuan Zaiden. Maksudku … cuma mantan Big Boss. Aku sudah dipecat dan sekarang kami tidak punya hubungan apa-a

  • Dinikahi CEO Dingin Yang Membesarkanku   147. (Z 8) Wanita Pilihan Zaiden

    "Akhirnya kamu pulang, Sayang," ucap Shazia, mendekat lalu memeluk putranya. Bukan hanya itu, dia juga mencium ke-dua pipi sang putra secara bergantian–membuat pria di belakangnya langsung menatap tajam ke arah Zaiden. "Sepertinya putra Mama kelelahan." Setelah memeluk putranya, Shazia mengamati ekspresi Zaiden yang terasa dingin. Namun, Shazia tak mengambil pusing. Mungkin putranya hanya kelelahan. "Pergilah beristirahat. Nanti, jam makan malam, kamu turun yah, Sayang. Soalnya ada yang Mama dan Papa ingin bicarakan denganmu." "Baik, Maa," jawab Zaiden singkat. Dia senyum tipis pada mamanya lalu segera pergi ke kamarnya. Tiba di kamarnya, Zaiden langsung menelpon Marcus–di mana Marcus tak ikut pulang karena ia perintahkan mencari Kiara. 'Masih belum ketemu, Tuan,' ucap Marcus di seberang sana. "Humm." Zaiden berdehem singkat lalu secara mematikan sambungan telepon. Karena masih ada amarah yang tersisa dalam dirinya, Zaiden memilih berendam. Setelah itu, dia beristiraha

  • Dinikahi CEO Dingin Yang Membesarkanku   146. (Z 7) Menjadi Asisten

    "Ini kamar kamu, Sayang." Kiara menatap kamar luas tersebut dengan ekspresi wajah campur aduk. Di satu sisi ada perasaan harus dan di sisi lain ada perasaan sedih. Kamar ini bahkan jauh lebih luas dari kos-nya yang sebelumnya. Kiara senyum canggung lalu menatap perempuan yang dia selamatkan. "Ini serius kamarku, Kak- eh Ibu?" tanya Kiara dengan ekspresi wajah tak percaya. "Kenapa, Sayang? Kurang bagus yah?" tanya perempuan itu sambil menatap cemas pada Kiara. "Bukan bukan." Kiara menggelengkan kepala, "ini … ini Kebagusan, Bu," jawab Kiara sambil kembali mengamati kamarnya. Saat ini Kiara berada di rumah besar milik perempuan yang ia selamatkan–lebih tepatnya di sebuah bangunan tambahan di belakang bangunan utama, bangunan yang dikhususkan untuk para pekerja tinggal. Pria paruh baya yang memeluk perempuan ini–tadi, adalah suami si perempuan ini. Sepertinya pria paruh baya yang masih sangat tampan itu orang besar dan super kaya, terlihat dari auranya yang mahal dan mend

  • Dinikahi CEO Dingin Yang Membesarkanku   145. (Z 6) Mendadak Jadi Hero

    "Papa janji kan sampai di rumah Papa akan mengajari Caca menggambar bunga matahari." "Ouh, tentu, Putri kesayangan. Bukan hanya mengajari Caca menggambar bunga matahari, tapi Papa akan menanam bunga matahari di halaman depan rumah kita agar Caca happy." "Hore, Caca happy. Caca sayang Papa." "Hore, Caca happy Papa pun happy. Papa jauh lebih sayang Caca." Melihat interaksi hangat antara anak perempuan dan ayahnya tersebut, tanpa sadar bibir Kiara membentuk senyuman manis. Akan tetapi, bersamaan dengan air matanya yang berhasil jatuh. Dia terus mengamati sepasang putri dan ayah itu. Melihat anak kecil itu begitu bahagia dengan papanya, Kiara ikut senang. Dalam hati dia berdoa supaya anak kecil itu selalu disayangi dan dicintai oleh ayahnya. Jangan sampai seperti dirinya! Tak lama anak dan ayah itu pergi, rasa hangat yang sejenak menelusup dalam hati Kiara kembali terasa dingin. Senyuman tipis karena senang melihat keduanya langsung pudar. Dia kembali termenung, menetap ja

  • Dinikahi CEO Dingin Yang Membesarkanku   144. (Z 5) Tak Punya Apa-apa

    "Berani sekali kau memecat Angsaku, Jerk!" Bug' Zaiden kembali memukul wajah pria itu, melampiaskan kemarahannya pada sekretrasinya. "SIALAN!" bentaknya dengan suara yang menggelegar. Matanya merah, rahang mengatup kuat, dan mata mebgunus tajam ke arah Revano. "Tu-Tuan, saya …-" Bug' Ketika Revano bersuara, mencoba membela diri, Zaiden kembali melayangkan pukulan kuat ke wajah Revano. Bagaimana tidak?! Tanpa beristirahat, dia langsung datang ke sini hanya demi melihat gadisnya. Akan tetapi dengan lancang, pria sialan ini memecat angsa kecilnya. "Tuan, su-sudah," ucap Marcus, buru-buru mendekati Zaiden kemudian mencoba menahan Zaiden yang berniat menendang kepala Revano. "A-anda belum istirahat sejak kemarin, jadi tolong jangan buang tenaga anda dan … biarkan saya yang menghajarnya," ucap Marcus, sedikit was-was karena Zaiden terlihat begitu marah. Zaiden melayangkan tatapan dingin pada Marcus lalu segera kembali duduk ke kursinya. Sejenak dia menenangkan diri, me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status