Sentuhan Berbahaya Miliarder Tampan

Sentuhan Berbahaya Miliarder Tampan

last updateLast Updated : 2026-02-03
By:  Michaella KimOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
3views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Satu malam. Satu kesalahan. Satu pria asing yang seharusnya tidak pernah ada. Ariana Bennett hanya ingin pengalaman pertamanya berjalan sesuai rencana. Semua sudah diatur—pria bayaran, kamar hotel, dan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Namun pagi setelah malam penuh gairah itu, sebuah pesan menghancurkan segalanya. Pria yang seharusnya datang… tidak pernah muncul. Lalu siapa pria yang tidur dengannya semalam? Terjebak antara rasa takut, penasaran, dan konsekuensi yang mungkin mengubah hidupnya selamanya, Ariana harus mencari identitas pria misterius itu—sebelum rahasia di balik pertemuan mereka lebih dulu menghancurkannya. Dan ketika kebenaran mulai terkuak, Ariana sadar: pria itu bukan sekadar orang asing. Dia adalah bahaya yang kini terikat pada takdirnya. Sentuhan seorang asing bisa menjadi awal dari obsesi, kepemilikan… dan cinta yang paling berbahaya.

View More

Chapter 1

Bab 1. Sentuhan Erotis Pria Asing

Tangan putih mulus itu mendorong dada bidang seorang pria tampan yang segera saja terjatuh menimpa empuknya ranjang. Kedua tangan pria itu bertumpu ke ranjang, menopang tubuh. Sementara itu, kedua matanya berusaha dibuka lebar-lebar, mengenali wanita yang tampak samar di pandangannya.

“Kau sepertinya bibit unggul. Wajahmu sangat tampan.”

Tangan lentik wanita itu kini mulai menyentuh lembut permukaan kulit wajah si pria tampan , mengelus dengan gerakan nakal, hingga turun dan berhenti di sekitar dagunya. Mengangkatnya. Membuatnya menghadap tepat ke wajah wanita yang tahu-tahu sudah ada di dekatnya.

Wanita itu ikut naik ke ranjang, duduk di pangkuan pria yang tampak tak berdaya di bawahnya. Baju luarnya sudah tanggal, menyisakan tanktop hitam dan rok selutut yang sedikit tersingkap.

“Kuharap performamu bagus. Elle sudah memberikan banyak informasi, dan jelas dia pasti tidak akan mengecewakanku,” lanjut wanita itu.

Ariana Bennett melebarkan senyum puas begitu melihat pria tampan itu hanya pasrah di bawah kendalinya. Membuatnya bisa dengan mudah melancarkan satu per satu aksinya.

“Tapi yang utama, jelas aku butuh benihmu. Jadi, nanti kau keluarkan di dalam, ya?” Ariana berbicara dengan tangan sibuk mencopot satu per satu kancing kemeja panjang merah yang dikenakan pria itu.

Tiba-tiba tangan kanan pria itu menahan gerakan tangannya. Dia menyipitkan mata. Meski telah beberapa gelas vodka ditenggak, kesadarannya masih ada. Dia hanya mencoba bergabung ke dalam permainan menarik wanita ini.

Beberapa saat lalu, pria itu sedang menikmati minumannya sendirian, dan tiba-tiba seorang wanita menghampiri lalu mengajaknya minum bersama. Bohong jika dia tidak tergoda. Ya, wanita itu memiliki paras yang luar biasa cantik dan tubuh seksi. Dia masih sangat normal. Tentu tak mungkin menolak wanita yang menyerahkan tubuh padanya.

“Kau begitu ingin bercinta denganku, hm?” bisik pria itu dengan suara serak.

Ariana dengan nakal malah mencium bibirnya, melumat sedikit. Kemudian, dia tersenyum saat melihat tatapan pria di bawahnya mulai berkabut. “Jangan kecewakan aku,” jawabnya tepat di depan wajah itu. “Tapi kuharap kau sedikit lembut. Ini pengalaman pertamaku. Tolong pelan. Aku tidak terlalu suka kalau kau kasar.”

Pria itu melebarkan senyum, dan sialnya senyumannya itu tampak begitu tampan menawan. “Pengalaman pertama, hm?” Dengan gerakan cepat, dia membalikkan posisi. Tubuh Ariana terbanting lembut ke permukaan ranjang, segera dikurung oleh kedua tangannya. “Gadis nakal.”

Ariana balas tersenyum. Kedua tangannya segera naik memeluk tengkuk leher pria itu. “Siapa namamu, Tampan?” tanyanya dengan suara manja.

Pria itu tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dengan gerakan cepat, dia melumat bibir Ariana. Ariana dengan cepat terbuai oleh permainan lidah pria itu yang berhasil membangkitkan desakan-desakan panas di tubuhnya. Ditambah pengaruh alkohol, ciuman itu benar-benar terasa memabukkan.

 “Arthur,” kata pria itu setelah melepas pagutan. Bibir Ariana tampak sedikit bengkak, dan dia puas atas perbuatannya itu.

“Ah, ... Arthur ....” Ariana dengan nakal malah mendesahkan nama Arthur dalam suara lembutnya yang bernada rendah manja.

Arthur tersenyum miring. Dia menegakkan tubuh begitu Ariana melepas pelukan pada lehernya. Tangannya segera menanggalkan pakaian, membuat dada bidang dan perut sixpack-nya yang penuh pahatan otot gagah terpampang di depan mata.

Ariana menggigit bibir, pikirannya segera penuh oleh bayangan panas yang sepertinya akan seru kalau terjadi dengan pria memesona ini.

“Aku Ariana,” jawab Ariana dengan pipi agak tersipu malu, melihat tubuh bidang Arthur.

Arthur tersenyum miring, di kala wanita yang mengajaknya ke hotel ini mulai memperkenalkan diri. “Kau mengajakku bermain di pengalaman pertamamu, Ariana?” Dia sudah kembali menunduk, berbicara tepat di depan wajah Ariana. “Maka akan kubuat malam ini berkesan dan sulit kau lupakan. Oh, tentu aku juga akan mengabulkan permintaanmu, untuk mengeluarkan benihku di dalammu.”

Arthur berbisik tepat di telinga kanan Ariana, lalu menggigit cuping wanita itu dengan gerakan memprovokasi. Ciumannya lalu berpindah ke leher, mengabsen setiap inci. Tangannya sibuk melakukan tugas lain. Tangan kiri mulai menelusup masuk ke balik tanktop dari area pinggang. Tangan kanannya meremas paha bagian dalam wanita itu.

Ariana merebah pasrah dengan kedua tangan mengalung manja di tengkuk leher Arthur. Matanya memejam, kegelian sekaligus nikmat merasakan setiap sentuhan pria itu. Terasa memabukkan dan membuat melayang.

Mmmhhh ....” Ariana mendesah.

Suara merdu itu bak bensin yang menyiram kobaran api gairah dalam diri Arthur. Segera saja ciumannya berubah lebih dalam, penuh nafsu membakar.

Satu per satu jejak kemerahan mulai timbul di permukaan kulit putih mulus Ariana. Namun, jelas Arthur belum selesai. Ah, bahkan tahap pembukaan saja belum. Ini baru pemanasan.

“Ah!” desah Ariana lagi, refleks, begitu tangan kiri Arthur meremas sebelah payudaranya. Rasanya geli sekaligus membakar.

Arthur menghentikan cumbuan selama beberapa saat. “Call my name with every breath you take,” bisiknya serak, dengan nada memerintah.

“Arthur, ... ngghhh ....”

Tubuh Ariana mulai bergerak gelisah. Entah kenapa mulai merasakan suhu di sekitarnya memanas dengan cepat, sementara kepalanya terasa kosong. Di bawah sana, tepat di bagian intinya, sungguh terasa tidak nyaman. Geli dan panas, seolah menginginkan sesuatu.

“Kau sudah basah?” Arthur berbisik dengan seringai puas di wajahnya, begitu telunjuknya menemukan celana dalam Ariana sudah basah di bawah sana.

Dengan nakal, dia membuat gerakan lembut, sengaja menggoda Ariana. Caranya sukses, wanita itu terlihat menahan sesuatu sampai merapatkan bibirnya. Namun, Arthur tidak membiarkan Ariana lebih lama menahan diri. Dengan tangan kanan menelusup masuk pada lembah basah itu, tangan kirinya sibuk meremas-remas payudara Ariana.

Combo mematikan.

“A–Arthur ...,” racau Ariana dengan suara bergetar. Kedua matanya masih memejam, sementara wajahnya terasa panas—tidak, bahkan seluruh tubuhnya.

Yes?” balas Arthur, sengaja berbisik dengan suara serak.

“Arthur, ... help me ... ahhh!” Ariana kembali mendesah. Tidak bisa lagi mengendalikan atau menahan diri begitu menerima semua serangan Arthur. Pria itu begitu mendominasi dan memimpin permainan.

Open your eyes,” perintah Arthur.

Ariana menurut dengan cepat. Begitu kedua matanya terbuka, segera saja dia menemukan wajah Arthur yang entah kenapa terlihat begitu tampan lagi maskulin. Entah mungkin karena sekarang pria itu tengah memberinya servis terbaik yang membuatnya merasakan ledakan-ledakan perasaan baru.

“Lihat siapa yang sedang memuaskanmu sekarang, Ariana.” Arthur berkata dengan nada dominan. Sementara tangannya di bawah sana mulai menerobos masuk pada liang sempit Ariana. Sontak wanita itu memejam kenikmatan, dengan mulut terkunci rapat menahan desahan.

Namun, Arthur mulai menggerakan satu jarinya keluar-masuk, sebelum menambah satu jari lagi saat melihat Ariana mulai larut dalam permainannya. Gerakan tangannya mulai bertambah cepat saat Ariana membuka mulut, melepaskan embusan napas panas yang memuat gairahnya.

Faster ... ngghhh ... please!” racau Ariana penuh permohonan.

Arthur mengabulkan, dengan seringai puas makin terkembang lebar di wajahnya. Gerakan tangannya makin cepat, menusuk keluar-masuk memuaskan hasrat Ariana.

Hingga, lenguhan bernada berat yang lolos dari bibir Ariana menandai bahwa wanita itu baru saja mendapat pelepasan. Sekarang tubuhnya melemas, napasnya terengah, wajahnya memerah dengan rona kental.

Arthur menarik diri, setengah berdiri. Dengan tatapan mengunci Ariana, kedua tangannya sibuk melepas gesper lalu menanggalkan celana, penutup terakhir tubuhnya.

“Kau sudah mencapai puncak hanya dengan jariku? Bagaimana kau akan menerima milikku di dalammu nanti, hm?” Arthur berbisik serak di depan wajah Ariana, begitu kembali menindih tubuh wanita itu.

Sekarang mereka telah sama-sama polos tanpa sehelai benang pun. Ariana bahkan tidak tahu sejak kapan helai demi helai pakaian di tubuhnya mulai ditanggalkan.

“Kau minta agar aku memberikan benihku padamu, kan?” tanya Arthur dengan nada mengintimidasi. Tangan kirinya memegang rahang Ariana, membuat wanita itu hanya bisa menatap padanya.

Ariana mengangguk kaku. Jantungnya berdentam-dentam oleh adrenalin yang kembali terpacu.

“Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu. Tapi sebagai imbalan, kau harus bisa memuaskanku malam ini,” lanjut Arthur, sebelum menyerang bibir bengkak Ariana dengan ciuman menuntut yang lebih brutal.

Gerakan Arthur tidak sesantai tadi. Kali ini, pria itu seolah mulai perlahan-lahan memperlihatkan nafsu gairahnya. Setiap sentuhannya membangkitkan gairah, setiap tindakannya menunjukkan sisi dominan.

Ariana hanya bisa pasrah terkendali di bawah permainan liar Arthur yang makin memuncak. Ciuman dan lumatan pria itu benar-benar membuatnya takluk sekaligus ketagihan.

“Aku akan masuk.” Arthur berbisik serak di depan wajah Ariana.

Ariana hanya mengangguk, bahkan sudah tidak sabar sejak tadi. Pikirannya kosong. “Apa akan sakit?” tanyanya tiba-tiba.

“Kau bisa menggigit atau mencakarku kalau merasa demikian,” jawab Arthur cepat.

Kemudian, sebelum Ariana sempat berbicara lagi, sesuatu yang besar lagi panjang mendadak mengentak masuk menerobos inti dirinya. Namun, percobaan pertama gagal.

Shit! Kau benar-benar masih perawan,” kata Arthur, setengah frustrasi tetapi terdengar senang.

“Batalkan saja! Ini sakit!” Ariana meminta dengan panik. Tangannya mulai memukul-mukul dan mendorong dada Arthur. Namun, segera saja kedua tangannya terkunci di atas kepala, dipegangi kuat-kuat oleh sebelah tangan pria itu.

Arthur tertawa sinis. “Batalkan? Saat aku baru saja pemanasan? Tidak, Gadis Nakal. Kita sudah sepakat.”

Kemudian, Arthur kembali mencoba mendobrak masuk. Kali ini dalam entakan yang lebih beritme, dalam dan terjeda. Ariana mulai menjerit dengan tubuh terentak-entak seiring dorongan kuat dari Arthur.

Shit!” Arthur mengumpat kasar begitu akhirnya berhasil mendobrak masuk. Miliknya tertanam penuh, terjepit kehangatan yang memabukkan.

Di bawahnya, Ariana terisak, tak kuasa menahan rasa sakit dan perih saat inti dirinya diterobos masuk oleh kejantanan Arthur yang besar.

“Jangan menangis. Simpan suaramu baik-baik untuk mendesahkan namaku,” kata Arthur, sebelum membungkam mulut Ariana dengan ciuman liar yang menuntut.

Ariana kembali tenggelam dalam nafsu gairahnya yang dibangkitkan oleh ciuman panas Arthur. Lidah pria itu menerobos masuk, mengabsen setiap inci rongga mulutnya dan mengajak lidahnya berdansa dengan belitan-belitan memabukkan.

Begitu merasakan wanita itu lebih relaks, Arthur mulai memainkan tempo. Pinggulnya mulai bergerak maju-mundur dengan ritme lebih cepat, sementara tubuh Ariana tersentak-sentak seiring menerima setiap tusukannya.

Hingga, ledakan itu mulai terkumpul dan membesar seiring permainan panas mereka yang terus menghabiskan waktu. Kemudian, ketika Arthur nyaris sampai puncak, dia menambah kecepatan lagi. Bak melodi merdu, dengan Ariana yang tak berhenti mendesah di bawahnya, bunyi decapan basah dari kulit mereka yang bertamparan terdengar kian syahdu.

“Arthur! Faster! Ahhh ....” Ariana melenguh panjang, merasakan kenikmatan pertama kali, bercampur dengan nyeri perih.

Oh, fuck! Ariana, kau menjepitku.” Arthur kian merasa pening seiring miliknya yang membesar.

Kemudian, ledakan itu mewujud menjadi semburan lahar panas yang memenuhi rahim Ariana. Arthur tak langsung mencabut miliknya. Sebaliknya, dia terus mengentak masuk dalam gerakan lebih pelan dan dalam, seolah tak membiarkan setetes pun cairannya terbuang.

Setelah puas, Arthur berguling ke kiri, membiarkan Ariana menghirup udara sebanyak mungkin dengan tubuh telentang tanpa sehelai benang pun.

Rasa kantuk datang menyergap, membelai tubuh Ariana yang rasanya remuk. Perlahan, kedua matanya mulai memejam saat merasakan sesuatu yang hangat menyelimutinya.

Entah berapa lama dia tertidur, tetapi dia kembali terjaga beberapa lama kemudian. Dia agak kesusahan terbangun dari tempat tidur karena tangan kekar itu memeluk posesif pinggangnya. Pun dia merasakan perih dan sakit di bagian kewanitaannya.  Namun, tentu dia menahan agar tak mengeluarkan suara desisan sakit.

Sambil buru-buru mengenakan pakaiannya satu per satu, Ariana membuka ponsel dalam langkahnya yang meninggalkan kamar hotel. Ada sebuah pesan masuk dari Eleanor, sahabatnya yang mengenalkannya pada pria malam ini.

Namun, di kala satu pesan masuk dari Eleanor dibaca oleh Ariana, seketika itu juga kalimat yang tertulis sukses membuat Ariana memelotot ngeri, dan tubuhnya mematung penuh keterkejutan.

[Ariana, maaf. Pria yang aku bayar batal memenuhi janji yang kubuat. Dia memiliki alasan pribadi dan menyampaikan permohonan maafnya padamu lewat aku. Kau pasti sudah menunggunya, kan?]

Pesan itu tiba beberapa jam lalu. Jelas tak terbaca karena Ariana sudah tenggelam dalam momen panas di ranjang dengan Arthur.

Hell, apa maksudnya ini? Jadi, siapa pria yang tidur denganku tadi?”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status