Masuk-WARNING 21+ (MENGANDUNG KONTEN DEWASA) Harap Bijak memilih Bacaan!! Pernikahan adalah sebuah ritual yang sakral dan hanya akan dilakukan sekali seumur hidup. Itulah prinsip yang di pegang teguh oleh Valeria Aluna. Namun, pernikahan yang dia jalani bukanlah pernikahan yang dia impikan selama ini. Menikah di malam pertamanya. Namun, nasib berkata lain. Valeria harus terjebak malam panas dengan kakak iparnya. Pria yang selama ini dia anggap manusia batu itu ternyata menaruh hasrat kepadanya. “Kamu?" teriak Valeria, setelah menyadari jika pria yang menggagahinya tadi bukanlah sang suami. “Kenapa, kau kaget? Ingatlah kata-kata ini. Aku tak akan pernah melepaskan apa yang telah menjadi milikku!” bisik Teo.
Lihat lebih banyak“The chains were cold, but not colder than the words.
The wounds were deep, but not deeper than the betrayal. And yet, beneath the deepest layers of pain, something still flickered: an ancient instinct, an unknown call. Not to run. Not to seek revenge. But to believe that one day, someone would see her— not as a nobody, but as someone. Someone alive. Someone who would fight.” Nyra Darkness did not ask permission when it forced its way into my life. It didn’t knock, didn’t beg for entry. It needed no words, no promises. It simply pressed down on me — like the damp, cold mist that seeps through cracks in the stone. Like the bitterness that gathers over the years, silently suffocating every dream I ever dared to hold. I crouched in the corner of the cell, folded in on myself, as if becoming smaller could make me invisible to the world that had never left me in peace. My back leaned against the damp wall, but the chill of the stone reached deeper than my skin — it soaked into my bones, clinging to me, as if the lifeless rock meant to drain the last spark from within me. Iron shackles bit into my wrists and ankles, the cold of the chains long since seared into my flesh. Scars — old and fresh alike — wound across my body like tangled vines, each cut, each lash adding to the story I never wished to tell. My body had already learned to speak in my place. The world was deaf to my suffering. No one heard the silent cries, the wordless prayers that mingled with the smell of stone and blood. The Moon — my only witness — stared in through the narrow bars, cold and indifferent, her pale face untouched by pity or wrath. Perhaps even the gods had turned their eyes away. Or perhaps they had never seen me at all. Once — in another life — I believed that existence was more than pain and humiliation. I believed there must be a place where breath was not bound to fear, where sunlight did not seep mockingly through prison cracks as a cruel reminder of freedom. But those hopes froze within me long ago, like the first fatal breath of winter, when the world offers no refuge, only frozen silence. Now, only silence remains my companion. And the darkness. Hunger, thirst, the pulse of open wounds — these became the fragments of my everyday. Yet the heaviest burden was the crushing solitude, soundless and unyielding, wearing me down with every heartbeat. And still… deep inside, something flickered stubbornly. A faint instinct, a long-forgotten voice. Somewhere, far beyond these walls, I felt a presence drawing near. I did not know from where, or why. Only that the air grew heavier, as if the world outside had stirred. The soft rattle of my chains, the cold breath of the stone, the trembling of tree roots — all whispered the same warning: something was coming. The wolf within me, caged for years, pricked up its ears. My heart beat wild, restless against my ribs. Something was coming. Something greater than death. Something beyond the fear I had known until now. Something that could change everything. When the heavy door groaned open and slammed against the wall, I did not move. My breath came shallow, my body shook — but my eyes, the last frail lights of my torn, wounded soul, did not waver. I did not yet know that my fate was already sealed. I did not yet know that the darkness which had devoured me was now ready to lift me up. And that even here, in the depths of my prison, the Moon had turned her gaze on me once more. And this time, she did not look away.Pintu ruang tamu tertutup setelah Teo pergi. Namun tidak seorang pun bergerak.Jason masih berdiri di depan meja, menatap foto-foto yang tadi digunakan Viviane untuk membongkar hubungan Teo dan Valeria.Aneh. Beberapa menit lalu ia ingin menghancurkan Teo. Ia ingin memukulnya lagi, menuntut penjelasan, bahkan mungkin menyeretnya kembali ke hadapan Gerald untuk mempertanggungjawabkan semuanya.Tetapi sekarang, setelah amarahnya sedikit mereda, yang tersisa justru sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Ketakutan.Takut bahwa Valeria benar-benar sudah pergi dari hidupnya. Bukan hanya dari rumah. Bukan hanya dari pernikahan mereka. Tetapi sepenuhnya.“Jason.” Suara Gerald membuatnya mengangkat wajah. “Kau mau melakukan apa sekarang?”Jason tidak langsung menjawab. Ia mengambil surat Valeria dari atas meja. Jemarinya merapikan bagian yang terlipat, lalu membaca kembali beberapa baris yang sudah berkali-kali ia baca sejak menemukannya.Ada satu bagian yang membuat dadanya terasa sesak. Valer
Ruangan itu mendadak sunyi. Pengakuan Teo masih menggantung di udara.Benar.Satu kata yang cukup untuk mengubah seluruh keadaan di ruang tamu itu.Jason berdiri dengan dada naik turun. Tangannya masih mengepal sejak beberapa detik lalu. Tatapannya tertancap pada Teo seolah laki-laki di hadapannya baru saja mengaku melakukan sesuatu yang tak pernah terlintas dalam pikirannya.“Kapan?” Suara Jason rendah. Dia tak menyangka jika pengakuan Teo membuatnya sehancur ini.Teo mengangkat wajahnya. Sudut bibirnya masih menyisakan luka akibat pukulan Jason tadi. Ia mengusapnya dengan ibu jari, kemudian melihat noda merah tipis di jarinya. “Pertanyaan lo terlalu luas.”Jason melangkah mendekat. “Jangan main-main sama gue.”Teo tergelak. “Gue nggak lagi main-main.”“Sejak kapan lo sama Valeria?”Teo terdiam sebentar. Bukan karena takut menjawab. Ia hanya sedang menimbang apakah jawaban itu akan membuat keadaan lebih buruk.Kemudian ia mengembuskan napas. “Itu urusan gue sama Valeria.”Jason terta
Jason sedang mencari Teo ketika mereka tidak sengaja berpapasan di ruang tamu. Teo baru saja keluar dari lorong ketika Jason muncul dari arah berlawanan. Tatapan mereka bertemu.Jason tidak mengatakan apa-apa.Buk!Tinju Jason menghantam wajah Teo. Teo terhuyung dan jatuh di samping sofa.“Shiit!” Teo mengumpat pelan. Tatapan tajam menghunus ke arah Jason.Dia menyentuh sudut bibirnya, kemudian melihat noda merah di ujung jarinya. Bukannya marah, Teo malah terkekeh. Tawanya pendek, sumbang, seperti baru saja menyadari sesuatu yang sangat bodoh.Jason berdiri di depannya dengan napas memburu. “Jangan tertawa seperti orang bodoh.”Teo bangkit perlahan. “Gue cuma baru sadar.”“Sadar apa?” Jason tampak bingung dengan ucapan Teo.“Lo baru sadar setelah kehilangan?”Jason mengerutkan kening. “Jangan sok tahu.”Teo menyeringai. “Dari cara lo datang dan langsung mukul gue, gue nggak perlu jadi cenayang buat tahu.”“Lo tahu Valeria pergi?” pertanyaan itu meluncur begitu saja. Teo mengusap sud
Pagi itu, mansion terasa berbeda.Bukan karena sesuatu yang besar terjadi. Tidak ada suara benda pecah, tidak ada pertengkaran, bahkan para pelayan masih menjalankan rutinitas seperti biasa. Namun, ada satu hal yang membuat Viviane berhenti di tengah tangga.Valeria belum terlihat sejak pagi.Biasanya perempuan itu sudah turun sebelum sarapan selesai disiapkan. Kadang duduk di ruang makan dengan secangkir teh, kadang memilih sarapan di teras belakang. Hari ini kursinya kosong.Viviane menatap jam di pergelangan tangannya."Florensia."Pelayan muda itu yang sedang membawa nampan berhenti."Ya, Nyonya?""Valeria di mana?"Florensia tampak ragu sepersekian detik."Di kamar, mungkin.""Sudah kau lihat?""Belum."Viviane mengerutkan kening."Pergi panggil dia."Florensia mengangguk dan segera berbalik.Namun beberapa menit kemudian dia kembali dengan wajah yang berbeda."Nyonya...""Apa?""Kamar Nyonya Valeria kosong."Viviane langsung menatapnya."Apa maksudmu, Florensia?""Saya sudah men






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak