LOGIN-WARNING 21+ (MENGANDUNG KONTEN DEWASA) Harap Bijak memilih Bacaan!! Pernikahan adalah sebuah ritual yang sakral dan hanya akan dilakukan sekali seumur hidup. Itulah prinsip yang di pegang teguh oleh Valeria Aluna. Namun, pernikahan yang dia jalani bukanlah pernikahan yang dia impikan selama ini. Menikah di malam pertamanya. Namun, nasib berkata lain. Valeria harus terjebak malam panas dengan kakak iparnya. Pria yang selama ini dia anggap manusia batu itu ternyata menaruh hasrat kepadanya. “Kamu?" teriak Valeria, setelah menyadari jika pria yang menggagahinya tadi bukanlah sang suami. “Kenapa, kau kaget? Ingatlah kata-kata ini. Aku tak akan pernah melepaskan apa yang telah menjadi milikku!” bisik Teo.
View MorePintu ruang tamu tertutup setelah Teo pergi. Namun tidak seorang pun bergerak.Jason masih berdiri di depan meja, menatap foto-foto yang tadi digunakan Viviane untuk membongkar hubungan Teo dan Valeria.Aneh. Beberapa menit lalu ia ingin menghancurkan Teo. Ia ingin memukulnya lagi, menuntut penjelasan, bahkan mungkin menyeretnya kembali ke hadapan Gerald untuk mempertanggungjawabkan semuanya.Tetapi sekarang, setelah amarahnya sedikit mereda, yang tersisa justru sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Ketakutan.Takut bahwa Valeria benar-benar sudah pergi dari hidupnya. Bukan hanya dari rumah. Bukan hanya dari pernikahan mereka. Tetapi sepenuhnya.“Jason.” Suara Gerald membuatnya mengangkat wajah. “Kau mau melakukan apa sekarang?”Jason tidak langsung menjawab. Ia mengambil surat Valeria dari atas meja. Jemarinya merapikan bagian yang terlipat, lalu membaca kembali beberapa baris yang sudah berkali-kali ia baca sejak menemukannya.Ada satu bagian yang membuat dadanya terasa sesak. Valer
Ruangan itu mendadak sunyi. Pengakuan Teo masih menggantung di udara.Benar.Satu kata yang cukup untuk mengubah seluruh keadaan di ruang tamu itu.Jason berdiri dengan dada naik turun. Tangannya masih mengepal sejak beberapa detik lalu. Tatapannya tertancap pada Teo seolah laki-laki di hadapannya baru saja mengaku melakukan sesuatu yang tak pernah terlintas dalam pikirannya.“Kapan?” Suara Jason rendah. Dia tak menyangka jika pengakuan Teo membuatnya sehancur ini.Teo mengangkat wajahnya. Sudut bibirnya masih menyisakan luka akibat pukulan Jason tadi. Ia mengusapnya dengan ibu jari, kemudian melihat noda merah tipis di jarinya. “Pertanyaan lo terlalu luas.”Jason melangkah mendekat. “Jangan main-main sama gue.”Teo tergelak. “Gue nggak lagi main-main.”“Sejak kapan lo sama Valeria?”Teo terdiam sebentar. Bukan karena takut menjawab. Ia hanya sedang menimbang apakah jawaban itu akan membuat keadaan lebih buruk.Kemudian ia mengembuskan napas. “Itu urusan gue sama Valeria.”Jason terta
Jason sedang mencari Teo ketika mereka tidak sengaja berpapasan di ruang tamu. Teo baru saja keluar dari lorong ketika Jason muncul dari arah berlawanan. Tatapan mereka bertemu.Jason tidak mengatakan apa-apa.Buk!Tinju Jason menghantam wajah Teo. Teo terhuyung dan jatuh di samping sofa.“Shiit!” Teo mengumpat pelan. Tatapan tajam menghunus ke arah Jason.Dia menyentuh sudut bibirnya, kemudian melihat noda merah di ujung jarinya. Bukannya marah, Teo malah terkekeh. Tawanya pendek, sumbang, seperti baru saja menyadari sesuatu yang sangat bodoh.Jason berdiri di depannya dengan napas memburu. “Jangan tertawa seperti orang bodoh.”Teo bangkit perlahan. “Gue cuma baru sadar.”“Sadar apa?” Jason tampak bingung dengan ucapan Teo.“Lo baru sadar setelah kehilangan?”Jason mengerutkan kening. “Jangan sok tahu.”Teo menyeringai. “Dari cara lo datang dan langsung mukul gue, gue nggak perlu jadi cenayang buat tahu.”“Lo tahu Valeria pergi?” pertanyaan itu meluncur begitu saja. Teo mengusap sud
Pagi itu, mansion terasa berbeda.Bukan karena sesuatu yang besar terjadi. Tidak ada suara benda pecah, tidak ada pertengkaran, bahkan para pelayan masih menjalankan rutinitas seperti biasa. Namun, ada satu hal yang membuat Viviane berhenti di tengah tangga.Valeria belum terlihat sejak pagi.Biasanya perempuan itu sudah turun sebelum sarapan selesai disiapkan. Kadang duduk di ruang makan dengan secangkir teh, kadang memilih sarapan di teras belakang. Hari ini kursinya kosong.Viviane menatap jam di pergelangan tangannya."Florensia."Pelayan muda itu yang sedang membawa nampan berhenti."Ya, Nyonya?""Valeria di mana?"Florensia tampak ragu sepersekian detik."Di kamar, mungkin.""Sudah kau lihat?""Belum."Viviane mengerutkan kening."Pergi panggil dia."Florensia mengangguk dan segera berbalik.Namun beberapa menit kemudian dia kembali dengan wajah yang berbeda."Nyonya...""Apa?""Kamar Nyonya Valeria kosong."Viviane langsung menatapnya."Apa maksudmu, Florensia?""Saya sudah men






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore