MasukSelamat membaca dan semoga suka ....
Kiara sontak melebarkan mata, menatap semakin kaget dan panik pada sang big boss yang masih memeluk pinggangnya. Sedangkan semua orang, mereka refleks berdiri saking kaget dan tak percayanya dengan apa yang Zaiden katakan. Hanya Rayden yang tetap duduk, meraih cangkir kopi lalu menyeruput dengan khidmat–mengamati putranya yang terlihat senang dan Kiara yang terlihat panik. Shazia juga mengamati keduanya dengan ekspresi kaget. "Sayang, kamu se …-" Zaiden memotong cepat, "Ya, Maa. Aku ingin menikahi Kiara Angsa." "Tidak!" Kiara refleks menolak, melepas kuat pelukan Zaiden di pinggangnya lalu buru-buru menjauh dari pria berwajah dingin tersebut. Dengan wajah panik dan gugup setengah mati, Kiara menatap bergantian Shazia dan Rayden. "Ibu, Tuan …-" Kiara berhenti sejenak, kembali mundur karena Zaiden mendekat padanya, "ja-jangan salah paham. A-aku tidak ada hubungan dengan Tuan Zaiden. Maksudku … cuma mantan Big Boss. Aku sudah dipecat dan sekarang kami tidak punya hubungan apa-a
"Akhirnya kamu pulang, Sayang," ucap Shazia, mendekat lalu memeluk putranya. Bukan hanya itu, dia juga mencium ke-dua pipi sang putra secara bergantian–membuat pria di belakangnya langsung menatap tajam ke arah Zaiden. "Sepertinya putra Mama kelelahan." Setelah memeluk putranya, Shazia mengamati ekspresi Zaiden yang terasa dingin. Namun, Shazia tak mengambil pusing. Mungkin putranya hanya kelelahan. "Pergilah beristirahat. Nanti, jam makan malam, kamu turun yah, Sayang. Soalnya ada yang Mama dan Papa ingin bicarakan denganmu." "Baik, Maa," jawab Zaiden singkat. Dia senyum tipis pada mamanya lalu segera pergi ke kamarnya. Tiba di kamarnya, Zaiden langsung menelpon Marcus–di mana Marcus tak ikut pulang karena ia perintahkan mencari Kiara. 'Masih belum ketemu, Tuan,' ucap Marcus di seberang sana. "Humm." Zaiden berdehem singkat lalu secara mematikan sambungan telepon. Karena masih ada amarah yang tersisa dalam dirinya, Zaiden memilih berendam. Setelah itu, dia beristiraha
"Ini kamar kamu, Sayang." Kiara menatap kamar luas tersebut dengan ekspresi wajah campur aduk. Di satu sisi ada perasaan harus dan di sisi lain ada perasaan sedih. Kamar ini bahkan jauh lebih luas dari kos-nya yang sebelumnya. Kiara senyum canggung lalu menatap perempuan yang dia selamatkan. "Ini serius kamarku, Kak- eh Ibu?" tanya Kiara dengan ekspresi wajah tak percaya. "Kenapa, Sayang? Kurang bagus yah?" tanya perempuan itu sambil menatap cemas pada Kiara. "Bukan bukan." Kiara menggelengkan kepala, "ini … ini Kebagusan, Bu," jawab Kiara sambil kembali mengamati kamarnya. Saat ini Kiara berada di rumah besar milik perempuan yang ia selamatkan–lebih tepatnya di sebuah bangunan tambahan di belakang bangunan utama, bangunan yang dikhususkan untuk para pekerja tinggal. Pria paruh baya yang memeluk perempuan ini–tadi, adalah suami si perempuan ini. Sepertinya pria paruh baya yang masih sangat tampan itu orang besar dan super kaya, terlihat dari auranya yang mahal dan mend
"Papa janji kan sampai di rumah Papa akan mengajari Caca menggambar bunga matahari." "Ouh, tentu, Putri kesayangan. Bukan hanya mengajari Caca menggambar bunga matahari, tapi Papa akan menanam bunga matahari di halaman depan rumah kita agar Caca happy." "Hore, Caca happy. Caca sayang Papa." "Hore, Caca happy Papa pun happy. Papa jauh lebih sayang Caca." Melihat interaksi hangat antara anak perempuan dan ayahnya tersebut, tanpa sadar bibir Kiara membentuk senyuman manis. Akan tetapi, bersamaan dengan air matanya yang berhasil jatuh. Dia terus mengamati sepasang putri dan ayah itu. Melihat anak kecil itu begitu bahagia dengan papanya, Kiara ikut senang. Dalam hati dia berdoa supaya anak kecil itu selalu disayangi dan dicintai oleh ayahnya. Jangan sampai seperti dirinya! Tak lama anak dan ayah itu pergi, rasa hangat yang sejenak menelusup dalam hati Kiara kembali terasa dingin. Senyuman tipis karena senang melihat keduanya langsung pudar. Dia kembali termenung, menetap ja
"Berani sekali kau memecat Angsaku, Jerk!" Bug' Zaiden kembali memukul wajah pria itu, melampiaskan kemarahannya pada sekretrasinya. "SIALAN!" bentaknya dengan suara yang menggelegar. Matanya merah, rahang mengatup kuat, dan mata mebgunus tajam ke arah Revano. "Tu-Tuan, saya …-" Bug' Ketika Revano bersuara, mencoba membela diri, Zaiden kembali melayangkan pukulan kuat ke wajah Revano. Bagaimana tidak?! Tanpa beristirahat, dia langsung datang ke sini hanya demi melihat gadisnya. Akan tetapi dengan lancang, pria sialan ini memecat angsa kecilnya. "Tuan, su-sudah," ucap Marcus, buru-buru mendekati Zaiden kemudian mencoba menahan Zaiden yang berniat menendang kepala Revano. "A-anda belum istirahat sejak kemarin, jadi tolong jangan buang tenaga anda dan … biarkan saya yang menghajarnya," ucap Marcus, sedikit was-was karena Zaiden terlihat begitu marah. Zaiden melayangkan tatapan dingin pada Marcus lalu segera kembali duduk ke kursinya. Sejenak dia menenangkan diri, me
"Kamu dipecat!" ketus seorang pria, tak lain adalah sekretrasi sang big boss yang tak ikut ke luar negeri. Pria tampan dengan penampilan rapi tersebut bernama Revano. Kiara menatap tak percaya pada Revano. "Kenapa aku dipecat?" ucap Kiana dengan nada setengah kesal, menatap protes pada Revano. Kiara merasa dia tak pernah melakukan kesalahan, dia selalu bekerja dengan baik dan benar. Lalu kenapa dia dipecat? Atas dasar apa? "Simpelnya karena kamu tidak dibutuhkan lagi di sini, Kiara," ucap Revano dengan nada dingin. Sebenarnya Revano adalah pacar kakak tiri Kiara dan sejujurnya awalnya Kiara cukup kaget karena Revano ternyata bekerja di Shine'D–merupakan sekretaris sang Big Boss. Kiara kurang tahu seperti apa Revano dan apa pekerjaannya karena dia jarang bertemu dengan pria ini. Kiara tidak tinggal dengan ayahnya, oleh sebab itu dia kurang tahu menahu tentang Revano. Kenapa Kiara tidak tinggal dengan ayahnya? Itu karena hubungan Kiara dengan ayahnya sangat tidak baik. Se







