LOGIN“Jadilah wanitaku, Hana. Aku akan memberikan kenikmatan yang tidak pernah suamimu berikan padamu!” Mas Angga, Kakak ipar yang seharusnya aku hormati, ternyata dia sangat terobsesi untuk memilikiku. Aku yang menjunjung tinggi cinta dan kesetiaan harus luluh pada pria yang bukan suamiku. Di saat suamiku tak pernah memahamiku, Kakak iparku lah yang datang untuk memberiku kehangatan, cinta bahkan sentuhan yang memabukkan. Haruskah aku terus terperangkap dalam hubungan rumit ini atau kah aku harus menyerah?
View More“Mas, mau sampai kapan kamu bersikap egois soal cucu? Jika dibandingkan dengan Angga, selama ini Hendra sudah melakukan apa pun. Dia bekerja jauh lebih keras dari Angga!” ucap ibu mertuaku, Sarah. Wajahnya tampak memerah, menahan sisa amarah yang belum tuntas tersampaikan.Surya, ayah mertuaku, hanya menoleh sekilas tanpa melepaskan rokok yang terselip di jemarinya. Ia menyesapnya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya perlahan ke udara, seolah-olah perdebatan istrinya hanyalah gangguan kecil.“Bicara apa kamu, Sarah. Aku hanya mencoba adil pada mereka berdua,” jawab ayah Surya. “Adil bagaimana?” serang Ibu Sarah lagi. Ia melangkah mendekat ke arah kursi suaminya. “Jelas-jelas Angga adalah putra kandungmu, darah dagingmu sendiri. Sementara Hendra? Kamu tahu statusnya bagaimana, tapi kamu tetap memberikan beban yang sama beratnya. Kenapa kamu tidak mau sedikit saja melunak pada Hendra?”Ayah Surya meletakkan rokoknya di asbak, lalu menatap istrinya dengan pandangan tajam yang membuat
“Kenapa perasaanku tidak enak begini? Seolah ada mata yang terus mengawasi setiap langkahku,” gumamku lirih sembari mempererat pegangan pada tali tas belanjaku. Aku baru saja keluar dari salah satu toko pakaian di mall. Langkahku terasa berat, bukan karena barang bawaan, melainkan karena rasa was-was yang terus menghantui. Sejak menginjakkan kaki di sini, aku merasa ada bayangan yang mengikutiku dari kejauhan. Berkali-kali aku menoleh, namun yang kulihat hanyalah kerumunan pengunjung mall yang lalu lalang. Aku menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungku yang tidak beraturan. “Mungkin aku hanya terlalu stress karena kejadian di rumah tadi pagi,” pikirku mencoba menghibur diri. Di sudut lain mall, di balik pilar besar dekat eskalator, mas Hendra berdiri dengan topi dan kacamata hitam. Rahangnya mengeras setiap kali melihatku berhenti untuk melihat ponsel. “Di mana Angga? Tidak mungkin Hana hanya belanja sendirian sesantai ini setelah apa yang terjadi s
“Mas Hendra ternyata tidak pulang semalam,” gumamku lirih sembari meraba sisi ranjang di sebelahku yang terasa dingin dan kosong.Aku menoleh ke arah jam dinding, sudah pukul delapan pagi. Tidak ada bekas kerutan di bantalnya, tidak ada aroma parfum yang tertinggal. Pikiranku langsung melayang pada bayangan Ayu yang menggelayut manja di lengannya semalam. Apa mereka menghabiskan malam bersama di apartemen wanita itu? Ataukah mas Hendra sengaja menghindari rumah ini karena merasa muak melihat wajahku?Rasa sesak kembali menghimpit dada, namun aku mencoba kuat. “Jangan menangis lagi, Hana. Kamu sudah cukup terlihat menyedihkan semalam di depan mas Angga,” bisikku pada pantulan diri di cermin.Karena hari ini adalah hari Minggu dan aku sedang tidak ingin terkurung dalam kesepian rumah yang luas ini, aku memutuskan untuk pergi ke mall. Aku butuh udara segar, mungkin membeli beberapa potong pakaian baru atau sekadar berjalan-jalan untuk melupakan luka hati.Selesai membersihkan diri d
Mobil mas Angga berhenti di halaman rumah. Aku sama sekali tidak menyadari bahwa perjalanan telah usai. Rasa lelah yang luar biasa, ditambah tangis yang menguras energi, membuatku terlelap sangat dalam di balik jas besar milik mas Angga.Mas Angga menatap wajahku sejenak. Ia melihat sisa air mata yang mengering di pipiku. Tanpa membangunkan, ia turun dari mobil dan memutari pintu penumpang. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut memecahkan porselen mahal, ia menggendongku. Tangannya yang kokoh menyangga tubuhku dengan mantap.Begitu pintu depan terbuka, Maya yang sedang berjaga di ruang tengah langsung berdiri dengan wajah pucat pasi.“Lho, nyonya kenapa, Tuan? Nyonya pingsan?!” tanya Maya dengan suara setengah berteriak karena panik.Mas Angga langsung menempelkan telunjuk di bibirnya, memberikan kode tajam agar Maya diam. “Jangan berisik. Dia hanya tertidur karena kelelahan,” bisik mas Angga. Maya menutup mulutnya dengan kedua tangan, mengangguk cepat. “Ya Tuhan, s
Di sofa VIP yang melingkar ini, aku merasa seperti orang asing yang terjebak di planet lain.Seorang pria bertubuh gempal dengan perut buncit dan cerutu di tangan menatapku dengan tatapan menilai yang tidak sopan. Ia menyikut lengan mas Hendra yang duduk di sebelahnya.“Dia istrimu kan, Hendra? Ma
“Mas Hendra mana sih! Kenapa nggak diangkat-angkat?!” Ayu menggeram frustrasi, jemarinya mengetuk-ngetuk layar ponsel dengan kasar.Sudah lebih dari sepuluh kali ia mencoba menghubungi nomor pria itu, namun hasilnya nihil. Hanya suara operator yang menjawab secara otomatis. Ayu melempar ponselnya
“Ambil paper bag yang ada di jok belakang,” ucap mas Angga tanpa menoleh, matanya tetap fokus menatap jalanan di depan yang mulai padat oleh kendaraan.Aku menoleh ke belakang, melihat sebuah tas kertas berwarna cokelat dengan logo toko roti ternama. “Itu apa, Mas?” tanyaku penasaran.“Ambil saja,
Kami terus berdebat kecil sepanjang jalan, hal-hal sepele yang mas Angga tanyakan dengan nada ketusnya selalu berhasil ku balas dengan sewot.“Turunkan aku di gerbang depan saja, Mas,” ucapku saat mobil sudah memasuki kawasan perumahanku.“Kenapa? Takut suamimu melihat?” tanya mas Angga. “Iya. Aku












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews