INICIAR SESIÓN“Jadilah wanitaku, Hana. Aku akan memberikan kenikmatan yang tidak pernah suamimu berikan padamu!” Mas Angga, Kakak ipar yang seharusnya aku hormati, ternyata dia sangat terobsesi untuk memilikiku. Aku yang menjunjung tinggi cinta dan kesetiaan harus luluh pada pria yang bukan suamiku. Di saat suamiku tak pernah memahamiku, Kakak iparku lah yang datang untuk memberiku kehangatan, cinta bahkan sentuhan yang memabukkan. Haruskah aku terus terperangkap dalam hubungan rumit ini atau kah aku harus menyerah?
Ver más“Uh, mas… pelan-pelan...” aku melenguh, merintih lirih saat tangan besar itu perlahan merayapi punggungku yang hanya tertutup kain tipis.
Dua tahun lamanya aku menunggu sentuhan seperti ini, mengharapkan hangatnya pelukan suamiku yang selalu aku idam-idamkan. “Pelan-pelan katamu? Apa kamu pikir kamu ini masih perawan?” ketusnya mencibir. Aku membelalak. Jelas saja aku masih tersegel rapat. Kenapa mas Hendra malah bertanya seperti ini sih? Rasanya aku ingin menjawabnya dengan makian, tapi minuman yang aku dapatkan di meja kamar hotel tadi membuat kepalaku sedikit berputar. Entahlah, aku sendiri juga tidak mengerti apa yang sedang terjadi padaku saat itu. “Sudah lama sekali aku menunggu saat-saat seperti ini, Mas. Aku menginginkanmu,” ucapku dengan sambil mencengkeram bahunya erat. Bibirnya yang hangat mencium leherku dengan lembut, mulai dari bagian bawah telinga hingga lekukan leher yang membuatku merinding. Pria ini hanya diam saja. Ia malah mengangkat wajahku, sementara matanya yang gelap menatapku penuh hasrat. “Buka matamu! Aku tidak akan melakukannya jika matamu masih tertutup!” katanya dingin. Awalnya aku ragu, tapi tak lama aku memberanikan diri untuk membuka kelopak mataku. Cahaya lampu kamar yang sedikit redup membuat pandanganku kabur. Perlahan, mataku mencoba fokus. Samar-samar, aku bisa melihat sosok pria di atasku memiliki rambut yang lebih pendek dari mas Hendra dan lekukan rahangnya lebih tegas. “Mas, aku merasa malam ini kamu terlihat berbeda? Apa aku salah lihat?” tanyaku dengan suara pelan. Sebelum bisa mendapatkan jawaban, bibirnya sudah membungkam bibirku dengan ciuman yang memabukkan dari minuman beralkohol. Tangannya yang kuat mulai mendominasi setiap bagian tubuhku dengan lembut dan pasti, membuatku menggigit bibirku sendiri. “Apa kamu juga mabuk Mas? Sama sepertiku?” tanyaku lagi. Aku bisa mencium bau nafasnya yang begitu menyengat menghampiri inderaku. “Jangan terlalu banyak bertanya! Puaskan saja aku malam ini,” ucapnya di sela ciuman kami, membuatku sedikit bingung namun memilih pasrah. Aku pun segera merangkulkan kedua tanganku di pundaknya. Merespon setiap sentuhan mas Hendra dengan penuh cinta. Mengingat betapa lama aku sudah menantikan hal ini. “Aku mencintaimu, Mas,” ucap lagi sambil mencengkeram seprei. Tubuhku terkoyak seiring irama gerakannya yang kasar. “Apa begini rasanya? Kenapa milikku sakit sekali,” batinku meringis. Semakin lama, aku tak mempedulikan rasa sakit itu. Karena bagiku sekarang, aku akan menikmati semua waktuku bersama mas Hendra. “Ah, sial!” serunya dengan napas yang mulai tersengal-sengal. Suara napasnya yang kasar menggema memenuhi kamar, diiringi desahan dan gerakan tubuhnya yang semakin intens. “Mas, aku tidak tahan lagi,” rintihku, saat getaran rasa nikmat menghantamku. Pria di atasku malah merespon dengan hujaman yang semakin menggila, hingga akhirnya dia pun ikut tumbang diatas tubuhku. Perlahan, tanganku terangkat dan menyentuh wajahnya yang menempel di dadaku. Namun, saat jariku menyentuh dahinya, ada bekas luka di sana. Jelas saja aku sangat terkejut dan membuka mataku lebar-lebar. “K—kamu bukan mas Hendra?” kataku dengan tubuh gemetar bukan karena nikmat lagi, tapi karena rasa takut dan kebingungan yang melanda. Pria itu perlahan mengangkat wajahnya, menatapku dengan mata dingin dan wajah datar khasnya. “Hendra? Hendra siapa?!” serunya buru-buru bangkit dari atas tubuhku dengan sempoyongan lalu mengambil pakaiannya yang tercecer di lantai. Aku melihatnya dengan seksama. Wajah yang memang mirip wajah mas Hendra, tapi dengan ciri khas yang membuatku teringat pada seseorang. “Mas Angga? Kamu Mas Angga kan?!” pekikku melotot tak percaya. Mas Angga menoleh sekilas. Dari tatapan matanya, ia tak menunjukkan rasa bersalah sama sekali padaku. “Cih! Ternyata aku salah masuk kamar.” Ia memukul kepalanya yang masih terasa pusing akibat pengaruh alkohol. “Kenapa kamu melakukan ini, Mas?! Mengapa kamu berpura-pura jadi mas Hendra?!” Aku menangis sembari menarik diri ke sudut tempat tidur. Lalu menutupi tubuhku dengan selimut. Rasa malu dan kebingungan membuat aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Bisa-bisanya aku menghabiskan satu malam bersama kakak iparku sendiri? “Tidak, ini tidak mungkin...” jeritku, menjambak rambutku sendiri. “Apanya yang tidak mungkin. Kita melakukannya karena sama-sama mabuk, bukan? Kamu bisa menganggap ini kecelakaan,” ucapnya dengan wajah menyebalkan. Aku menyambar vas bunga yang ada di atas meja samping tempat tidur dan melemparkannya ke arah mas Angga. Beruntung dia langsung menangkapnya. Kalau tidak, mungkin saja di dahinya akan bertambah satu lagi luka. “Kecelakaan katamu? Ini tidak seharusnya terjadi, Mas! Ini salah! Aku adik iparmu, istri mas Hendra!” teriakku menolak semua yang keluar dari bibirnya. Ingin sekali aku berlari dari kamar itu tapi tubuhku masih lemah dan tidak berdaya. Apalagi milikku masih terasa perih. “Terserah. Yang jelas aku tidak akan memintamu untuk bertanggung jawab!” setelah mengatakan itu, mas Angga masuk ke kamar mandi. Meninggalkanku seorang diri. Aku hanya bisa menangis dalam diam dan bertanya pada diri sendiri bagaimana bisa semua ini terjadi? Siapa sangka bahwa mimpi yang selama ini aku dambakan ternyata adalah mimpi buruk yang akan menghancurkan hidupku selanjutnya. “Maafkan aku mas Hendra, maaf. Aku ceroboh dan malah memberikan kesucianku pada pria lain,” gumamku lirih.“Hendra, tunggu, Nak. Dengarkan penjelasan Ibu dulu!” seru ibu mertuaku dengan nafas terengah-engah. Mas Hendra tidak menyahut. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu dengan penuh emosi, ia melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Benda itu memantul di atas seprai, seolah menggambarkan betapa kacau pikirannya saat ini.“Penjelasan apalagi yang harus aku dengar, Bu?” teriaknya sembari berbalik dengan mata yang memerah dan napas memburu. “Sejak dulu, ayah memang tidak pernah menganggapku sebagai putranya. Dia buta! Dia tidak pernah menghargai keringat dan darah yang aku keluarkan untuk perusahaan! Yang ada di kepalanya hanya Angga, Angga, dan Angga! Aku muak dianggap sebagai figuran di rumahku sendiri!”Mas Hendra merasakan sakit di dalam dadanya, seolah ada benda tajam yang menusuknya setiap kali mengingat bagaimana ayahnya selalu memberikan senyuman hangat dan pujian pada mas Angga, sementara dirinya hanya mendapatkan tatapan dingin dan ucapan yang penuh kritikan.Ibu mertuaku melang
“Kenapa kamu terlihat terkejut begitu, Hana? Apa kamu keberatan mendampingi Angga?” tanya ayah mertua. Wajahnya yang keriput menambah keseriusan pada setiap kata yang keluar dari bibirnya, sementara tangannya yang kusam mengusap permukaan meja makan. Aku menelan ludah dengan susah payah, rasanya seperti ada batu besar yang terjepit di tenggorokanku. Bibirku terasa kering walau aku baru saja menyegarkan diri dengan segelas jus jeruk. Bukannya aku keberatan mendampingi seseorang dalam mengelola perusahaan keluarga yang telah berdiri sejak lima puluh tahun yang lalu, andai saja jika pria yang akan aku dampingi bukan mas Angga, aku akan langsung setuju tanpa ragu.Sayangnya, aku sekarang bingung harus menjawab apa. Mataku melirik ke arah piring makan yang masih tersisa sebagian nasi putih dan lauk ayam bakar pedas yang biasanya kunikmati dengan senang hati, tapi hari ini rasanya semua makanan itu tidak menarik sama sekali. Aku ingin sekali menolak permintaan ayah mertuaku dengan tegas,
“Sudah selesai Mas?” tanyaku lirih. “Seperti yang kamu lihat.” beberapa saat kemudian mas Hendra kembali ke meja, dengan wajah lebih tegang dari sebelumnya. “Maafkan menunggu lama. Ada masalah di proyek Singapura. Kontraktor kita membatalkan kerja sama tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kita harus mencari pengganti dalam waktu tiga hari kalau tidak ingin terkena denda besar,” katanya sambil duduk perlahan, lalu mengambil segelas air putih dan meneguknya habis. “Uang dan jabatan itu bisa dicari, Hendra. Tapi warisan sesungguhnya adalah darah dagingmu sendiri. Apa gunanya kekayaan ini jika tidak ada suara tawa anak kecil di dalamnya? Aku butuh penerus, bukan sekadar angka di laporan keuanganmu,” ucap ayah mertuaku. Mas Hendra mengangguk. “Aku tahu, Ayah. Aku akan berusaha," jawab singkat. Lantas, pandangan ayah mertuaku kini beralih, menghunus tepat ke arah Mas Angga. “Dan kau, Angga. Sampai detik ini, tidak ada satu pun wanita yang kau bawa ke hadapanku. Apa kau berencana membiar
“Sudah waktunya aku membicarakan soal penerus keluarga. Karena semakin hari, aku semakin tua dan tidak bisa memikul jabatanku,” ucap Ayah mertuaku sembari menyapukan pandangan tajamnya, menatap kedua putranya secara bergantian.“Kamu benar suamiku. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” sahut ibu mertuaku dengan nada yang tegas.“Seperti yang kalian tahu, warisan utama keluarga akan diberikan pada putraku yang bisa memberiku cucu laki-laki.”Kalimat itu jatuh seperti sebuah vonis yang tidak bisa diubah, menggema di dalam kepalaku hingga aku merasa telingaku berdenging.Sendok ditanganku pun hampir terlepas. Ternyata benar ucapan ibu mertua yang menyelinap dalam bisikan saat aku sedang membersihkan piring tadi dan juga omongan singkat mas Angga bahwa ayah mertua sudah tidak sabar menunggu seorang cucu.Dadaku yang sudah bertahun-tahun kutempa untuk tetap tegar, kini terasa seperti dihunjam ribuan jarum tak kasat mata. Rasa sakit itu datang perlahan namun pasti, menusuk satu demi












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas