MasukSabrina Watson. Nama itu mendadak muncul dalam sebuah aplikasi biro jodoh—tanpa izinnya. Frustrasi dan merasa dikhianati, Sabrina berniat melabrak sahabatnya yang diam-diam menyeretnya ke dalam acara kencan paling konyol yang pernah ia dengar. Namun malam itu tak berjalan sesuai rencana. Sebuah kekacauan kecil berubah menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit… dan berbahaya. Seorang pria asing menariknya masuk ke dalam bilik toilet. Tubuhnya terkurung dalam dekapan yang tak memberi ruang untuk menolak. Bisikan rendah memaksanya diam—dan sebelum Sabrina sempat memahami apa yang terjadi, satu kecupan mendarat di bibirnya. Singkat. Menekan. Mengguncang
Lihat lebih banyakTerik matahari siang memantul dari kaca jendela, menembus tirai tipis yang menggantung miring. Panas itu seolah merayap masuk hingga ke ruang tamu, membuat udara di dalam terasa lebih sesak, lebih menekan.
Namun, bukan cuaca yang membuat ruangan itu terasa seperti ruangan eksekusi—melainkan tiga pasang mata yang saling menghindar, seakan percaya bahwa dengan tidak saling menatap, masalah akan mengecil dengan sendirinya.
Sabrina Watson, perempuan cantik berkulit putih, memiliki wajah bulat, duduk di kursi kayu tua yang kaki-kakinya sedikit bergoyang. Jemarinya mengetuk meja ritmis—tak sabar, tertekan, marah—namun tak satu pun dari ketiga orang di ruangan itu berani menyahut duluan.
Ibunya—Taylor Rosi—sedang terbaring di rumah sakit. Napasnya lemah, tubuhnya dipenuhi selang-selang yang membuat Sabrina ingin memaki dunia.
Dan kini, perempuan itu sedang sendirian memperjuangkan sesuatu yang seharusnya diperjuangkan seluruh keluarga.
“Kenapa kalian cuma diam saja?” suaranya pecah. Datar, tapi getir.
Tuan George Watson—ayahnya—menghela napas panjang dari sofa usang yang warnanya mulai pudar. Asap rokok terakhirnya masih menggantung di udara sebelum dia menekan puntung itu kuat-kuat di asbak, seolah kemarahan Sabrina menular pada jarinya.
“Bukan diam, tapi Kita tidak ada uang, Sabrina.” suaranya berat, pasrah. “Biaya operasinya… sangat besar.”
Sabrina mengangkat wajah, menatap ayahnya, lalu menggeser tatapannya pada dua sosok di dekat jendela.
Cloe Watson, kakak perempuannya, bersedekap dengan wajah kesal yang berusaha menutupi rasa bersalah.
Henry Watson, si sulung, berdiri memunggungi ruangan sambil pura-pura sibuk menatap halaman.
Sabrina tersenyum miring—senyum yang lebih mirip luka.
Tentu saja mereka tidak menatap balik.
Tentu saja mereka menghindar.
“Kalau saja sisa harta keluarga kita tidak dipakai untuk investasi bodong,” katanya pelan namun tajam, “kita bisa pakai uang itu buat biaya operasi Mama.”
Cloe langsung menoleh, matanya menyala seperti api kecil yang tersulut ego.
“Kamu menyalahkan kita berdua?” tanya Cloe, nadanya meninggi.
“Kuanggap iya, kalau kalian merasa,” sahut Sabrina tanpa berkedip.
Henry mendengus tajam. “Kita cuma bermaksud membantu. Beberapa kali juga investasi itu menguntungkan.”
Sabrina tertawa pelan—dan tawa itu jelas menyakitkan. “Oh, begitu? Dan sekarang ratusan juta hilang. Menurut kalian… kita harus apa?”
Diam.
Cloe membuang muka.
Henry menggeleng kecil, seperti anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan tapi masih mencoba membela diri dalam hati.
Sabrina mengepalkan jemarinya di atas paha.
Tak ada waktu untuk menyalahkan siapa pun.
Yang dia butuhkan sekarang adalah solusi.
“Nggak ada waktu, Pa.” Sabrina menatap ayahnya lurus-lurus. “Operasi harus dilakukan paling lambat besok.”
Keheningan lain jatuh.
Bukan hening yang penuh harapan—tapi hening orang-orang yang sedang diam karena tak punya pilihan.
Lalu…
Dering ponsel memecah udara.
Sabrina terlonjak kecil. Ia melihat layar ponsel, dan alisnya langsung berkerut.
Sebuah notif muncul.
Pengirimnya tidak memakai nomor.
Hanya satu nama.
Pasangan Hati
Sabrina meringis kecil. Biro jodoh itu—yang seminggu lalu didaftarkan oleh Amanda tanpa sepengetahuan Sabrina—kini menampakkan diri tepat di tengah kekacauan hidupnya.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka pesan itu.
Sabrina beranjak. Ia berlari cepat menaiki tangga kayu rumahnya menuju kamar. Tiga orang di ruang tamu saling pandang tanpa suara—entah merasa bersalah, atau pura-pura tidak peduli.
Setibanya di kamar, Sabrina menutup pintu dengan telapak tangan gemetar. Ponsel itu masih bergetar pelan, seolah memanggil-manggilnya untuk kembali melihat pesan yang ia buka tadi.
Kening Sabrina berkerut, alisnya saling bertautan. Perlahan ia mundur, pantatnya mendarat di tepi ranjang. Ia membuka ulang pesan itu, memastikan ia tidak salah membaca.
PASANGAN HATI – PEMBERITAHUAN RESMI
Dengan ini kami memberitahukan bahwa peserta atas nama: SABRINA WATSON telah memasuki tahap kecocokan virtual dan dijadwalkan untuk pertemuan perdana.
Waktu pertemuan: Minggu 24 Agustus 2025, pukul 21:00
Lokasi: Suite 1903, Hotel Margain
Di bawahnya, paragraf lain tampil seperti ancaman halus:
Perlu diingat bahwa seluruh peserta wajib mengikuti seluruh rangkaian pertemuan setelah menerima biaya awal fasilitas pencocokan. Pembatalan sepihak akan dikenakan konsekuensi berupa:
1. Pengembalian penuh biaya fasilitas senilai 45.000 USD, dibayarkan dalam 48 jam.
2. Sanksi administratif dan tuntutan pidana berdasarkan perjanjian privasi dan kontrak layanan bab 4, pasal 17.
3. Pembekuan akses layanan kesehatan premium yang telah diberikan selama masa keanggotaan awal.”
Sabrina membaca kalimat itu tiga kali. Dan tetap saja, jantungnya serasa berhenti.
45.000 USD?
Dia bahkan tidak pernah memegang uang sebanyak itu dalam hidupnya.
Dan ini semua ulah Amanda.
"Astaga! Aturan gila dari mana ini!" decaknya frustrasi, suara pecah oleh kemarahan yang menumpuk sejak pagi.
Dia menggigit bibir, lalu merengek sambil menjatuhkan diri di ranjang. Kedua kakinya menendang-nendang tak karuan seperti balita minta gendong, rambutnya berantakan di atas bantal.
"Amanda… apa yang sudah kamu lakukan padaku?" geramnya lirih, giginya mengerat kuat sampai rahangnya sakit.
Bab 106Satu bulan kemudian…Berita itu meledak seperti api yang disiram bensin.Nama Dawson dan Maria memenuhi layar televisi, halaman utama media cetak, juga linimasa digital yang tak pernah tidur. Kebakaran puluhan tahun lalu, kecelakaan lalu lintas tunggal yang dulu ditutup rapat, kini dibongkar satu per satu—lengkap dengan detail yang membuat publik bergidik.Kegaduhan mencapai puncaknya ketika media mengungkap hubungan gelap Ralph Dawson dan Maria, pembunuhan ibu kandung Liam, serta fakta terakhir yang mengguncang segalanya: Sabrina adalah pewaris sah terakhir keluarga Attalaric.Malam itu, tepat pukul sembilan.Tiga mobil polisi menerobos jalan menuju istana Dawson. Sirene meraung memecah keheningan hutan pinus, sementara sorot lampu kamera menyapu bangunan megah itu tanpa ampun.“Berani sekali kalian menangkapku!” teriak Ralph Dawson, meronta ketika borgol mengatup di pergelangan tangannya. “Lepaskan aku!”Jawabannya hanya dorongan tegas menuju mobil tahanan.Di belakangnya, M
Bab 105Ruangan itu menegang seolah udara mendadak mengental. Tidak ada satu pun suara yang berani keluar—bahkan tarikan napas terasa seperti pelanggaran. Detak jam dinding terdengar lirih, teratur, seperti ejekan halus di tengah ketegangan yang menyesakkan dada.Semua mata tertuju pada satu sosok.Ellen.Perlahan, wanita tua itu berdiri dari duduknya. Gerakannya kaku, seakan lututnya menolak bekerja sama dengan beban kenangan yang mendadak menyerbu. Ia berbalik, menghadapkan tubuhnya pada bingkai foto di dinding—foto yang sejak tadi menjadi pusat kegelisahan.“Kamu berpikir ayahmu punya wanita lain selain ibumu saat ini?” ucap Ellen akhirnya. Suaranya datar, tapi jemarinya yang saling menggenggam betrgetar tak bisa menyembunyikan keguncangan.Liam menautkan kedua alisnya. Kepalanya sedikit miring, pandangannya kembali menyapu foto itu—pria yang begitu ia kenal, dan wanita asing dengan bayi di pelukannya. Perlahan, ia menggeleng, lalu menoleh lagi pada Ellen.“Aku tidak tahu,” jawabny
Bab 104Matahari menyorot terang dari balik pepohonan rindang, meninggalkan bayangan panjang saat mobil hitam itu memasuki sebuah perkampungan yang sunyi dan asri. Udara pagi masih bersih, bercampur aroma tanah basah dan dedaunan.Halaman panti tampak hidup. Anak-anak berlarian kecil sambil menggendong tas sekolah mereka, tawa riang sesekali pecah ketika sebuah bus sekolah kuning berhenti di jalan utama. Beberapa anak melambai ceria sebelum menaiki bus, sementara yang lain menunggu giliran dengan sabar.Di sisi bangunan rumah, para remaja sibuk dengan rutinitas pagi—menjemur pakaian di tali jemuran, menyiram tanaman pot yang berjajar rapi, atau sekadar duduk di teras sambil bercanda pelan.Namun suasana itu berubah seketika.Tatapan-tatapan polos itu menegang saat mobil Liam berhenti di halaman. Mesin dimatikan. Keheningan aneh menggantung, seolah tempat itu mengenali siapa yang datang.Bahkan sebelum mereka bertiga turun, satu dari para remaja itu sudah berlari masuk ke dalam rumah,
Bab 103Ralph berdiri di ambang pintu balkon kamarnya, punggungnya tegak. Kimono putih berbulu lembut membungkus tubuh renta itu, kontras dengan udara pagi yang dingin dan pucat. Di tangannya, secangkir teh hangat ia genggam erat—seakan cairan itu satu-satunya hal yang masih bisa menenangkan pikirannya.“Tidak perlu khawatir,” ucap Ralph tenang, nyaris santai.Ia berbalik perlahan, senyum tipis terukir di bibirnya saat menatap perempuan yang selama bertahun-tahun menjadi bayangan gelap dalam hidupnya. Perempuan yang berdiri tak jauh darinya—gelisah, resah, dan tak lagi mampu menyembunyikan ketakutannya.“Liam tidak akan berbuat lebih,” lanjut Ralph. “Dia selalu tahu batas.”Maria mendesis pelan, suaranya bergetar menahan panik. Jemarinya mengepal, kukunya menekan telapak tangan sendiri.“Dia mulai curiga,” katanya cepat. “Perempuan yang bersamanya itu sudah mempengaruhinya. Jelas sekali.”Ralph menyesap tehnya dengan gerakan lambat, seolah kata-kata Maria hanyalah angin lalu. Ia lalu
Bab 74Sabrina keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan. Handuk kimono putih berbulu lembut membalut tubuhnya, masih menyisakan kehangatan air yang baru saja membasahi kulitnya. Rambutnya yang basah digulung rapi dengan handuk lain, beberapa helai halus tetap lolos dan menempel di pelipis.Kaki
Bab 73Sinar matahari itu menyambar seperti kilat. Menyapu sebagian ruangan kamar saat tirai setinggi langit-langit bergeser perlahan, membiarkan cahaya pagi masuk tanpa ampun.Sabrina melenguh pelan. Tubuhnya meliuk ke kanan, refleks mencari posisi nyaman. Namun gerakan itu justru membuatnya tersa
Bab 72Jubah tipis itu terlepas dari pundaknya, meluncur jatuh ke pasir dengan suara lirih yang nyaris tak terdengar, seolah ikut menyerah pada angin malam. Udara pantai yang dingin menyentuh kulit Sabrina, membuatnya menggigil—entah karena suhu, atau karena sentuhan Liam yang semakin berani.Tali
Bab 47Cahaya pagi menyusup melalui celah tirai kamar hotel, jatuh miring di lantai lalu merayap perlahan ke tepi ranjang. Debu-debu halus menari di udara, memantulkan warna keemasan yang hangat—terlalu lembut untuk kepala yang terasa seperti dipukul dari dalam.Sabrina menggeliat.Kepalanya berat,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan