Se connecterSabrina Watson. Nama itu mendadak muncul dalam sebuah aplikasi biro jodoh—tanpa izinnya. Frustrasi dan merasa dikhianati, Sabrina berniat melabrak sahabatnya yang diam-diam menyeretnya ke dalam acara kencan paling konyol yang pernah ia dengar. Namun malam itu tak berjalan sesuai rencana. Sebuah kekacauan kecil berubah menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit… dan berbahaya. Seorang pria asing menariknya masuk ke dalam bilik toilet. Tubuhnya terkurung dalam dekapan yang tak memberi ruang untuk menolak. Bisikan rendah memaksanya diam—dan sebelum Sabrina sempat memahami apa yang terjadi, satu kecupan mendarat di bibirnya. Singkat. Menekan. Mengguncang
Voir plusAmanda's POV
Boom!!!
The second balloon popped from where I had hung it earlier in the day, jolting me out of my thought, the tiny pieces falling on the bed.
I watched as the clocked ticked again, signalling another hour added to the ones I had ticked down.
He wasn't still back from work, I moved to the kitchen and started heating the food I had prepared all over again.
"Maybe it's work, my husband is so good at his job that he has to stay longer to round up things. It's his company though, he has it at heart." I muttered to myself while turning of the microwave for the third time that night.
I knew I was making excuses for him again, he didn't come home last night too and it was already late in the night today.
This was our third year Anniversary, he wouldn't miss it for anything. I had stayed up all day decorating our room, I made his favourite dishes, ordered for his favorite wine, he would be back in no time.
The clock ticked louder but my heart slamming against my chest was the loudest, I sat on the little cushion in our shared bedroom, running my fingers around the little box I had kept our anniversary gift in, this was sure to make him happy.
12AM
The clock ticked again, the hole in my heart deepened.
"What's happening here?" His voiced pulled me out of my thoughts.
I turned to the door, my face lit up as my eyes fell on my husband, the man I had loved earnestly for years now.
He stood there, his expression stoic, he didn't look happy but I was sure with everything I had planned tonight, he would come out of it.
"Hey babe, happy wedding anniversary." I announced as I walked over to meet him.
"What's this about?" He asked as his eyes raked the room.
"I was trying to put something together for us to celebrate today, don't mind how it looks, I'm not really good at these decorations." I said smiling to hide my nervousness.
"And what's so special about the day that you had to litter my room with such stuff." He asked, his eyes boring holes in my head.
"It's our anniversary baby – "
"What's there to celebrate about it? I have told you countless times on this same day that I don't share in the reason for this celebration."
He was right, he had said it on our first anniversary, he had also said it on our second anniversary, was I being too delusional to understand he wouldn't change his mind even if it was our seventh anniversary?
"I'm sorry Babe, I just thought it would be a nice idea to do this." I said twirling the hem of my skirt in embarrassment.
"What part of relationship will it change? don't you think it'll be better if we both ignored it? Every year you keep reminding me of my misery, this day is not worth celebrating, you know it's my biggest life mistake."
"Our marriage was a mistake?" I asked in shock.
"The biggest I've ever made." He replied with disgusted look on his face, the same one I've been used to for the past years of our marriage.
"Okay, come inside, I'll go downstairs to arrange your dinner." I said trying hard to fight back tears, I was used to the harsh words anyways.
He walked inside the room, that was when I noticed the figure behind him, someone had been standing at his back the whole time.
"Selene?" I half asked.
My younger sister was standing behind him with an expression I couldn't read.
"What are you doing here by this time? Is everything okay at home?" I asked.
She didn't reply, she walked inside and sat on the cushion, the same one he was sitting on.
I watched the both of them in shock and silence, hoping one person would break it and tell me what was going on, but they were both quiet.
"Can you guys tell me what's going on? Ryan, why did you bring my sister to the house by this time?"
"I'm moving in." Selene said without looking into my eyes, she focused them on the red balloon I had tied over the bed.
Looking at it now, I felt silly.
"Moving in? Why am I just finding out about it now? Is everything okay?" I asked still not making sense of what was happening.
"Ryan go ahead and tell her, I don't have the energy for this please."
My eyes moved from my younger sister to my husband who was resting his back on the chair, eyes closed.
I hated the fact that something was happening and I was the only one with no idea of what it was. Had my parents called him to bring her home? Was there trouble at home? The more questions I had, the more confused I became.
"Amanda, I want a divorce."
The words made something snap in my head, I didn't know if I had heard wrong but at the same time, it was clear and loud.
"What did you say?"
"We both know this marriage thing isn't working, been with you is torture and I'm not ready to do that for the rest of my life, I don't want this anymore and right now, the only thing I want is to be free from you."
"Free from me? A divorce? Ryan what has gotten into you? This is our third year anniversary, we're supposed to be celebrating it together, not you telling me about a divorce."
The thought of it made my heart sink, it felt like the news had constricted my air flow, I was struggling to breath while fighting back tears.
"But, what went wrong? Selene, please talk to Ryan, help me plead with him, he wants to divorce me." I pleaded with my sister who had a bored expression on her face.
He was doing this to me in front of my family member.
"She can't do anything about it , isn't it obvious Amanda? I am marrying selene, she's already carrying my child."
The room fell silent, the only thing I could hear was the echoes of his words in my head, my world went dark.
Bab 106Satu bulan kemudian…Berita itu meledak seperti api yang disiram bensin.Nama Dawson dan Maria memenuhi layar televisi, halaman utama media cetak, juga linimasa digital yang tak pernah tidur. Kebakaran puluhan tahun lalu, kecelakaan lalu lintas tunggal yang dulu ditutup rapat, kini dibongkar satu per satu—lengkap dengan detail yang membuat publik bergidik.Kegaduhan mencapai puncaknya ketika media mengungkap hubungan gelap Ralph Dawson dan Maria, pembunuhan ibu kandung Liam, serta fakta terakhir yang mengguncang segalanya: Sabrina adalah pewaris sah terakhir keluarga Attalaric.Malam itu, tepat pukul sembilan.Tiga mobil polisi menerobos jalan menuju istana Dawson. Sirene meraung memecah keheningan hutan pinus, sementara sorot lampu kamera menyapu bangunan megah itu tanpa ampun.“Berani sekali kalian menangkapku!” teriak Ralph Dawson, meronta ketika borgol mengatup di pergelangan tangannya. “Lepaskan aku!”Jawabannya hanya dorongan tegas menuju mobil tahanan.Di belakangnya, M
Bab 105Ruangan itu menegang seolah udara mendadak mengental. Tidak ada satu pun suara yang berani keluar—bahkan tarikan napas terasa seperti pelanggaran. Detak jam dinding terdengar lirih, teratur, seperti ejekan halus di tengah ketegangan yang menyesakkan dada.Semua mata tertuju pada satu sosok.Ellen.Perlahan, wanita tua itu berdiri dari duduknya. Gerakannya kaku, seakan lututnya menolak bekerja sama dengan beban kenangan yang mendadak menyerbu. Ia berbalik, menghadapkan tubuhnya pada bingkai foto di dinding—foto yang sejak tadi menjadi pusat kegelisahan.“Kamu berpikir ayahmu punya wanita lain selain ibumu saat ini?” ucap Ellen akhirnya. Suaranya datar, tapi jemarinya yang saling menggenggam betrgetar tak bisa menyembunyikan keguncangan.Liam menautkan kedua alisnya. Kepalanya sedikit miring, pandangannya kembali menyapu foto itu—pria yang begitu ia kenal, dan wanita asing dengan bayi di pelukannya. Perlahan, ia menggeleng, lalu menoleh lagi pada Ellen.“Aku tidak tahu,” jawabny
Bab 104Matahari menyorot terang dari balik pepohonan rindang, meninggalkan bayangan panjang saat mobil hitam itu memasuki sebuah perkampungan yang sunyi dan asri. Udara pagi masih bersih, bercampur aroma tanah basah dan dedaunan.Halaman panti tampak hidup. Anak-anak berlarian kecil sambil menggendong tas sekolah mereka, tawa riang sesekali pecah ketika sebuah bus sekolah kuning berhenti di jalan utama. Beberapa anak melambai ceria sebelum menaiki bus, sementara yang lain menunggu giliran dengan sabar.Di sisi bangunan rumah, para remaja sibuk dengan rutinitas pagi—menjemur pakaian di tali jemuran, menyiram tanaman pot yang berjajar rapi, atau sekadar duduk di teras sambil bercanda pelan.Namun suasana itu berubah seketika.Tatapan-tatapan polos itu menegang saat mobil Liam berhenti di halaman. Mesin dimatikan. Keheningan aneh menggantung, seolah tempat itu mengenali siapa yang datang.Bahkan sebelum mereka bertiga turun, satu dari para remaja itu sudah berlari masuk ke dalam rumah,
Bab 103Ralph berdiri di ambang pintu balkon kamarnya, punggungnya tegak. Kimono putih berbulu lembut membungkus tubuh renta itu, kontras dengan udara pagi yang dingin dan pucat. Di tangannya, secangkir teh hangat ia genggam erat—seakan cairan itu satu-satunya hal yang masih bisa menenangkan pikirannya.“Tidak perlu khawatir,” ucap Ralph tenang, nyaris santai.Ia berbalik perlahan, senyum tipis terukir di bibirnya saat menatap perempuan yang selama bertahun-tahun menjadi bayangan gelap dalam hidupnya. Perempuan yang berdiri tak jauh darinya—gelisah, resah, dan tak lagi mampu menyembunyikan ketakutannya.“Liam tidak akan berbuat lebih,” lanjut Ralph. “Dia selalu tahu batas.”Maria mendesis pelan, suaranya bergetar menahan panik. Jemarinya mengepal, kukunya menekan telapak tangan sendiri.“Dia mulai curiga,” katanya cepat. “Perempuan yang bersamanya itu sudah mempengaruhinya. Jelas sekali.”Ralph menyesap tehnya dengan gerakan lambat, seolah kata-kata Maria hanyalah angin lalu. Ia lalu
Bab 43Mobil itu masih melaju, membelah kota yang tak pernah benar-benar tidur. Gedung-gedung pencakar langit berdiri seperti barisan penjaga raksasa, sementara lampu jalan membentang memanjang di aspal, berkilau seperti garis takdir yang terus bergerak maju—tanpa memberi pilihan untuk berhenti.“K
Bab 42Dua kata itu jatuh begitu saja—ringan dari mulut Liam, namun menghantam Sabrina seperti beban berat yang menekan dada.Sabrina membeku.Ia duduk kaku di kursi penumpang, pandangannya jatuh ke pangkuan sendiri. Jemarinya meremas rok kain tipis itu tanpa sadar, seolah kain itu satu-satunya peg
Bab 41Restoran bernuansa go green itu dipenuhi aroma kayu basah dan daun segar. Tanaman rambat menggantung dari rangka besi di langit-langit, sementara cahaya senja menyelinap melalui dinding kaca besar, memantulkan warna jingga lembut ke lantai. Di luar, kendaraan berlalu-lalang seperti tak perna
Bab 28Sabrina sedikit terhuyung, refleks mundur selangkah saat Liam maju mendekat begitu pintu kamar tertutup rapat di belakangnya. Jarak di antara mereka menyempit, cukup untuk membuat dadanya mengeras oleh debar yang tak diundang.Tatapan Liam tertuju padanya—wajahnya datar, nyaris dingin. Namun
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires