تسجيل الدخولSabrina Watson. Nama itu mendadak muncul dalam sebuah aplikasi biro jodoh—tanpa izinnya. Frustrasi dan merasa dikhianati, Sabrina berniat melabrak sahabatnya yang diam-diam menyeretnya ke dalam acara kencan paling konyol yang pernah ia dengar. Namun malam itu tak berjalan sesuai rencana. Sebuah kekacauan kecil berubah menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit… dan berbahaya. Seorang pria asing menariknya masuk ke dalam bilik toilet. Tubuhnya terkurung dalam dekapan yang tak memberi ruang untuk menolak. Bisikan rendah memaksanya diam—dan sebelum Sabrina sempat memahami apa yang terjadi, satu kecupan mendarat di bibirnya. Singkat. Menekan. Mengguncang
عرض المزيدHoor's pov :
It was my wedding day, but I couldn't feel any excitement. This day was like any other day of my life, filled with a distant fear , just today the fear was intensified. I was sitting at a salon ,a beautician muttered "she's so pretty , keep her makeup light ,her beauty shouldn't be hidden by makeup ". I still didn't say anything .
My dupatta"head drap " was being set, when my stepmother came to get me .
"Pull it on her face also" she said in a stern voice. The dresser placed it in a way that it covered my face till my chin. I was happy about that, atleast now I didn't have to bear people staring at me. I knew many of the beauticians were imagining if I am dumb or deaf, because I haven't uttered a word or told them any of my choices .They did all the work on me by their choice .
"Let's go! "my stepmother said and we headed out. I could feel her eyes boring in to me , but I said nothing. I learnt a long time ago , there's no point of speaking , when none is going to value your words .
Third person pov :
Hoor was looking stunning in her deep red lehnga. Her step mother always felt wary of her .Hoor had gotten the best features of her father and mother . Hoor's step sister was a year older than her. She was beautiful with her black hair and grey eyes , but it was nothing compared to Hoor. Her stepmother didn't want any troubles for her own daughter(Aiza) thats why, decided to marry her off .
...........
On the other hand , Arhaan was standing in front of mirror wearing a black 3 piece, combing his hair when his phone started ringing . He picked the call , seeing it was from his sister(Amal).
She was 25, married and out of the country with her husband .
"How can you do this , bhai ? You are marrying and I'm getting to know this from your PA " Amal screeched , she was feeling hurt .
"Amal , relax. Its no big , this wedding is nothing more than a bussiness deal" Arhaan explained .
"But still bhai .." Amal said in a sad voice .
"I'm only going to marry this girl , because Mr Siddiqui wasn't ready to allow my shipment without it . He wanted a permanent alliance between our companies and he thought that marrying his daughter to me would get him that , but he is highly mistaken .and I didn't inform you , because this event is not important enough for you to come back." Arhaan said .
"How's the girl? "Amal asked .
"I don't know , but I'm ready for them . Mr. Siddiqui is a greedy man, he's making me his son in law because I'm rich. I'm expecting nothing less from his daughter. I've met the girl's elder sister, and I can guarantee you that you wont like her one bit" Arhaan said and Amal pouted .She tried to find positive in every situation.
Arhaan ended the call soon and headed towards the venue with some of his friends. Everything was done perfectly, it was clear that if you have money 2 weeks aren't less to arrange a perfect marriage .
Nikkah was done and Hoor was taken to sit beside Arhaan. He found the face covering a bit weird because Siddiqui was nothing close to religious .Aiza was wandering around wearing sleeveless shirt with no dupatta in site.
Everyone was looking at the stunning couple. Hoor's face was hidden, but the delicacy of her hand , her figure showed that there was a beauty hidden under the dupatta.
"Why have you given this hunk to your mute sister ? "Aiza 's friend said drooling over Arhaan .
"Don't go on his handsome face, he is a beast hidden in the attire of a prince .His ruthlessness isn't confined to his bussiness only , he won't even care if its a girl infront of him before insulting" Aiza said. She was attracted towards Arhaan, but her mother had made her understand that they were marrying Hoor to him because he wasn't a nice guy, they needed Arhaan for their bussiness only. She didnt want that for Aiza , she wanted a loving rich husband for her .
"Why does it sound like you've been insulted by him ? "Aiza's friend asked him and Aiza sputtered looking here and there "there's nothing like that! "
She remembered just 2 weeks ago, she tried to flirt with this hunk and he hadn't let her place her hands on his shoulder and gave her cold eyes .It was enough for Aiza to back away.
Bab 106Satu bulan kemudian…Berita itu meledak seperti api yang disiram bensin.Nama Dawson dan Maria memenuhi layar televisi, halaman utama media cetak, juga linimasa digital yang tak pernah tidur. Kebakaran puluhan tahun lalu, kecelakaan lalu lintas tunggal yang dulu ditutup rapat, kini dibongkar satu per satu—lengkap dengan detail yang membuat publik bergidik.Kegaduhan mencapai puncaknya ketika media mengungkap hubungan gelap Ralph Dawson dan Maria, pembunuhan ibu kandung Liam, serta fakta terakhir yang mengguncang segalanya: Sabrina adalah pewaris sah terakhir keluarga Attalaric.Malam itu, tepat pukul sembilan.Tiga mobil polisi menerobos jalan menuju istana Dawson. Sirene meraung memecah keheningan hutan pinus, sementara sorot lampu kamera menyapu bangunan megah itu tanpa ampun.“Berani sekali kalian menangkapku!” teriak Ralph Dawson, meronta ketika borgol mengatup di pergelangan tangannya. “Lepaskan aku!”Jawabannya hanya dorongan tegas menuju mobil tahanan.Di belakangnya, M
Bab 105Ruangan itu menegang seolah udara mendadak mengental. Tidak ada satu pun suara yang berani keluar—bahkan tarikan napas terasa seperti pelanggaran. Detak jam dinding terdengar lirih, teratur, seperti ejekan halus di tengah ketegangan yang menyesakkan dada.Semua mata tertuju pada satu sosok.Ellen.Perlahan, wanita tua itu berdiri dari duduknya. Gerakannya kaku, seakan lututnya menolak bekerja sama dengan beban kenangan yang mendadak menyerbu. Ia berbalik, menghadapkan tubuhnya pada bingkai foto di dinding—foto yang sejak tadi menjadi pusat kegelisahan.“Kamu berpikir ayahmu punya wanita lain selain ibumu saat ini?” ucap Ellen akhirnya. Suaranya datar, tapi jemarinya yang saling menggenggam betrgetar tak bisa menyembunyikan keguncangan.Liam menautkan kedua alisnya. Kepalanya sedikit miring, pandangannya kembali menyapu foto itu—pria yang begitu ia kenal, dan wanita asing dengan bayi di pelukannya. Perlahan, ia menggeleng, lalu menoleh lagi pada Ellen.“Aku tidak tahu,” jawabny
Bab 104Matahari menyorot terang dari balik pepohonan rindang, meninggalkan bayangan panjang saat mobil hitam itu memasuki sebuah perkampungan yang sunyi dan asri. Udara pagi masih bersih, bercampur aroma tanah basah dan dedaunan.Halaman panti tampak hidup. Anak-anak berlarian kecil sambil menggendong tas sekolah mereka, tawa riang sesekali pecah ketika sebuah bus sekolah kuning berhenti di jalan utama. Beberapa anak melambai ceria sebelum menaiki bus, sementara yang lain menunggu giliran dengan sabar.Di sisi bangunan rumah, para remaja sibuk dengan rutinitas pagi—menjemur pakaian di tali jemuran, menyiram tanaman pot yang berjajar rapi, atau sekadar duduk di teras sambil bercanda pelan.Namun suasana itu berubah seketika.Tatapan-tatapan polos itu menegang saat mobil Liam berhenti di halaman. Mesin dimatikan. Keheningan aneh menggantung, seolah tempat itu mengenali siapa yang datang.Bahkan sebelum mereka bertiga turun, satu dari para remaja itu sudah berlari masuk ke dalam rumah,
Bab 103Ralph berdiri di ambang pintu balkon kamarnya, punggungnya tegak. Kimono putih berbulu lembut membungkus tubuh renta itu, kontras dengan udara pagi yang dingin dan pucat. Di tangannya, secangkir teh hangat ia genggam erat—seakan cairan itu satu-satunya hal yang masih bisa menenangkan pikirannya.“Tidak perlu khawatir,” ucap Ralph tenang, nyaris santai.Ia berbalik perlahan, senyum tipis terukir di bibirnya saat menatap perempuan yang selama bertahun-tahun menjadi bayangan gelap dalam hidupnya. Perempuan yang berdiri tak jauh darinya—gelisah, resah, dan tak lagi mampu menyembunyikan ketakutannya.“Liam tidak akan berbuat lebih,” lanjut Ralph. “Dia selalu tahu batas.”Maria mendesis pelan, suaranya bergetar menahan panik. Jemarinya mengepal, kukunya menekan telapak tangan sendiri.“Dia mulai curiga,” katanya cepat. “Perempuan yang bersamanya itu sudah mempengaruhinya. Jelas sekali.”Ralph menyesap tehnya dengan gerakan lambat, seolah kata-kata Maria hanyalah angin lalu. Ia lalu
Bab 74Sabrina keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan. Handuk kimono putih berbulu lembut membalut tubuhnya, masih menyisakan kehangatan air yang baru saja membasahi kulitnya. Rambutnya yang basah digulung rapi dengan handuk lain, beberapa helai halus tetap lolos dan menempel di pelipis.Kaki
Bab 73Sinar matahari itu menyambar seperti kilat. Menyapu sebagian ruangan kamar saat tirai setinggi langit-langit bergeser perlahan, membiarkan cahaya pagi masuk tanpa ampun.Sabrina melenguh pelan. Tubuhnya meliuk ke kanan, refleks mencari posisi nyaman. Namun gerakan itu justru membuatnya tersa
Bab 72Jubah tipis itu terlepas dari pundaknya, meluncur jatuh ke pasir dengan suara lirih yang nyaris tak terdengar, seolah ikut menyerah pada angin malam. Udara pantai yang dingin menyentuh kulit Sabrina, membuatnya menggigil—entah karena suhu, atau karena sentuhan Liam yang semakin berani.Tali
Bab 47Cahaya pagi menyusup melalui celah tirai kamar hotel, jatuh miring di lantai lalu merayap perlahan ke tepi ranjang. Debu-debu halus menari di udara, memantulkan warna keemasan yang hangat—terlalu lembut untuk kepala yang terasa seperti dipukul dari dalam.Sabrina menggeliat.Kepalanya berat,


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
المراجعات