MasukSiska menikah dengan Evan, seorang chef terkenal yang dingin dan tak pernah benar-benar melihatnya sebagai istri. Ia berusaha mendekat—belajar memasak, merawat rumah, mencoba masuk ke hati Evan—namun tetap saja pintu itu tertutup. Semua runtuh saat Evan jatuh hati pada Fatin Alesha, wanita yang memiliki segala hal yang Siska rasa tidak ia punya. Melihat Evan memperjuangkan Fatin dengan cara yang tak pernah ia dapatkan, Siska akhirnya memilih mundur dan pergi. Namun, apakah kepergiannya benar-benar akhir dari segalanya? Atau justru awal bagi seseorang menyadari siapa yang sebenarnya ia butuhkan?
Lihat lebih banyakBAB 1
Pesta meriah telah dimulai. Siska telah berada di atas panggung setelah namanya dipanggil. Ia memberikan sepatah dua patah kata, baik tentang kariernya maupun tentang keinginannya di usianya yang telah menginjak 28 tahun.
Tidak hanya itu, Siska sempat menyebut nama Vero dan memujinya sebagai kolega terbaiknya. Hal itu sontak membuat semua tamu undangan bersorak. Tidak sedikit juga yang ingin menjodohkan mereka tanpa tahu status Vero yang sebenarnya.
“Sial!” seru Vero tertahan. Besok pasti banyak berita yang beredar, baik mengenai kerja samanya dengan perusahaan itu maupun tentang perjodohan dadakan antara dirinya dan Siska.
“Sepertinya hidupmu tambah rumit, Bro.” Evan datang tiba-tiba dari belakang dan langsung merangkul Vero.
“Diam kamu!” Pria yang mengenakan kemeja biru navy itu menyikut pelan perut Evan.
“Bagaimana kamu bisa masuk?” tegur Max. Di luar sana penjagaannya sangat ketat. Bagi yang tidak memiliki undangan, tentu saja tidak diperbolehkan masuk ke pesta ini.
“Aku ternyata diundang juga,” jawab Evan, membuat Vero dan Max menatapnya bersamaan.
“Mama dan papaku kenal dengan Tuan Heri dan Siska.”
“Oh.” Max hanya menanggapi singkat.
Ketiga pria itu pun berbincang ringan, meski sesekali pembicaraan mereka terpotong karena rekan bisnis Vero yang datang menyapa.
“Selamat malam, Tuan Vero, Tuan Max, dan ini?” sapa Siska yang menghampiri mereka.
“Ini Evan, teman kami,” jawab Max.
“Selamat malam, Tuan Evan,” ucap Siska sambil tersenyum.
“Hm.” Evan hanya berdehem. Raut wajahnya terlihat dingin.
“Terima kasih, Tuan, sudah datang memenuhi undangan kami. Saya berharap kalian menikmatinya.”
Siska pun mengajak Vero dan Max berbincang, dan semua itu tak luput dari bidikan kamera awak media serta beberapa pasang mata pengusaha lainnya.
Pemilik nama lengkap Siska Renata Heriawan itu kini tengah merasakan jantungnya berdebar cepat. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena perasaan takut. Meski begitu, wanita yang mengenakan gaun merah maroon, sangat kontras dengan kulit putihnya, tetap menampilkan senyum terbaik di depan semua orang.
Seorang pelayan wanita datang membawa minuman yang sedikit mengandung alkohol, seperti di pesta-pesta besar lainnya. Tanpa banyak bicara, mereka, termasuk Siska, mengambilnya dengan santai.
Di belakang sana, berdiri seorang wanita bernama Andin yang sedari tadi memperhatikan keempat orang itu. Setelah beberapa menit, ia tersenyum sinis.
“Aku yakin, kali ini pasti berhasil.”
Vero menarik diri dari keramaian pesta. Kepalanya mulai terasa pusing. Ia masih berusaha menahan kantuk yang menyerang. Beruntung, minuman itu tidak mengandung obat aneh, hanya obat tidur—hingga ia merasa sedikit lega.
“Awas saja kalau dua anak itu tidak berhasil. Aku akan mengirim mereka ke Antartika,” gumamnya pelan sambil berjalan menuju toilet. Ia butuh air untuk membasuh wajahnya. Namun belum sampai ke pintu toilet, tiba-tiba seseorang memukul tengkuknya, membuat Vero tak sadarkan diri.
***
“Bagaimana, Andin?” Siska menemui Andin di kamar hotel tempat wanita itu menunggu.
“Ayo kita ke kamar itu sekarang, Nona. Anak buah kita sudah mengantar Pak Vero ke sana dalam keadaan tidak sadar.”
Penjelasan Andin membuat Siska tersenyum puas.
“Kerja bagus, Andin. Kita ke sana sekarang.”
Karena sesuatu hal, Siska rela melakukan apa pun. Wanita itu pantang menyerah untuk menjadikan Vero miliknya. Sekalipun ia tahu bahwa Vero sudah menikah dan memiliki anak, hal itu tak membuatnya mundur. Justru semakin membuatnya nekat.
Siska dan Andin pun berjalan menuju kamar yang telah disiapkan.
“Bagaimana?” tanya Andin pada pria yang berjaga di depan pintu.
“Dia sudah di dalam, Nona,” jawabnya.
“Baiklah. Kerja yang bagus. Tetap berjaga di sini.”
“Baik, Nona,” jawab pria itu seraya menunduk, lalu sempat melirik ke arah pintu kamar di seberangnya.
Siska melangkah masuk ke kamar yang hanya memiliki sedikit pencahayaan. Samar-samar, di atas ranjang king size itu, seorang pria masih memakai pantofel dan tertidur pulas. Siska menarik senyum miring.
“Kali ini kau akan menjadi milikku, Vero,” bisiknya pelan.
Dengan cepat, ia mengganti dress mewahnya dengan tank top dan celana pendek. Setelah itu, ia menyuruh Andin keluar untuk melaksanakan tugas lain.
Siska perlahan merangkak ke atas tempat tidur sambil memegang ponselnya. Ia ingin mengabadikan kebersamaannya dengan Vero sebelum melanjutkan rencana berikutnya.
Ia merapatkan tubuh ke lelaki yang tertidur pulas itu. Wajah pria itu tidak tampak jelas, karena minimnya cahaya, tetapi dari aromanya, Siska yakin bahwa itu Vero.
Perlahan, ia membuat seolah-olah pria itu bersandar di dadanya. Dengan cepat, ia membidik kamera ponsel dan mengambil beberapa foto. Setelah puas, Siska menyimpan ponselnya lalu kembali menatap pria di sampingnya. Ia meraba wajah itu dengan lembut.
“Maafkan aku kalau harus memakai cara seperti ini. Tapi aku benar-benar membutuhkanmu, Vero,” ucapnya pelan sambil mendekatkan wajah.
Namun saat bibir mereka hampir bersentuhan, Siska tersentak. Lelaki itu tiba-tiba mencekik lehernya lalu menghempaskannya dengan kasar.
“Dasar wanita murahan!” hardik pria itu.
“Siapa kau?” Siska terbatuk, berusaha bernapas. Ia baru menyadari suara itu bukan suara Vero.
Ruangan itu seketika terang benderang setelah pria itu menyalakan lampu.
“Kau!” seru Siska sambil menunjuk. “Bukankah kau teman Vero yang tadi?”
Evan hanya tersenyum sinis tanpa menjawab. Ya, lelaki yang kini di depannya adalah Evan.
Sebenarnya, Evan masih ingin pura-pura tidur dan mendengarkan perkataan wanita itu. Namun begitu Siska berusaha menciumnya, ia memilih menghentikan segalanya. Ia tidak sudi disentuh wanita seperti itu—meski cantik—karena baginya, Siska adalah tipe wanita yang terlalu murahan.
“Di mana Vero? Kenapa kau yang di sini?” seru Siska marah.
“Cih. Vero sudah pulang ke rumah, tidur dengan tenang bersama istrinya,” jawab Evan dengan nada sengaja menyindir.
“Ah, sial!” teriak Siska. Ia mengambil bantal dan melemparkannya satu per satu ke arah Evan. Hingga bantal terakhir mengenai pria itu tepat di dada.
“Dasar laki-laki sialan! Kenapa kau harus ikut campur urusanku!”
Evan menangkap bantal itu dan membuangnya dengan kasar, membuat Siska hampir terjatuh.
“Aku peringatkan padamu,” tunjuk Evan kepada Siska. “Sahabatku sudah menikah dan hidup bahagia. Jadi jangan coba-coba merusak rumah tangganya hanya karena obsesi gilamu. Aku pikir kau butuh rumah sakit jiwa untuk memeriksa kejiwaanmu.”
Tamparan keras mendarat di pipi Evan. Siska tersenyum sinis.
“Aku memang gila!” Siska tertawa keras. “Sekarang, kau akan masuk dalam jebakan gilaku. Gara-gara kau, aku tidak bisa memiliki Vero! Sekarang kau tanggung akibatnya dan menggantikannya!”
Evan menoleh ke arah pintu saat terdengar suara riuh dari luar. “Kau … kau memanggil media?”
Siska tertawa keras tanpa menjawab.
Evan segera menarik baju Siska hingga tubuh mereka bertubrukan. “Hentikan mereka sekarang juga!” bentaknya sambil menatap tajam.
Wanita itu hanya menatap balik, sama intensnya.
“Aku pun sudah tidak bisa menghentikannya.”
Setelah kalimat itu meluncur dari bibirnya, beberapa orang telah berhasil
masuk ke dalam ruangan dan membidik kamera ke arah mereka.
***
Siska menutup mulutnya cepat. Ia masih mengantuk tetapi memaksakan diri untuk bangun.“ Ini semua gara-gara Andin, menelpon sampai tengah malam,” keluhnya seraya meregangkan otot-ototnya. Semalam sahabatnya itu sangat cerewet karena Siska pergi ke Paris tanpa memberitahukannya. Andin sedikit khawatir, namun setelah melihat unggahan Siska yang sedang bersama Evan di menara Eiffel rasa kesalnya justru semakin meningkat, karena tidak diajak. Siska tersenyum kecil mengingat percakapannya bersama Andin. Tak lama, ketukan di pintu terdengar, seorang pelayan masuk setelah Siska mengizinkan masuk. “Nona, ditunggu sarapan sama Grandma.” “Baik. Saya segera turun.”Pelayan itu lantas meninggalkan Siska. “Evan kemana?” ***Di taman di samping mansion, Siska mendorong kursi roda Nenek Evan. “Ada yang ingin Grandma bicarakan?” ucap Siska. Sejak sarapan Siska sudah memperhatikan wanita tua itu. Siska dapat menebak jika ada sesuatu yang ingin disampaikan. “Apa begitu kentara?” Wanita tua itu
Bab 32 – Singkat Tetapi BerdebarEvan mengulum senyum di depan cermin bulat. Masih berada di kamar mandi. Bayangan kejadian di perjalanan pulang tadi kembali terlintas, saat ia mengirimkan pesan kepada Nando.Evan: Kau hanya bisa mengagumi dia di sosial media. Sedangkan aku melihatnya secara langsung, berdiri di depanku.Tak lama kemudian, Evan mengirimkan foto Siska yang diam-diam ia ambil tadi.Sepanjang perjalanan pulang, Evan sibuk meladeni Nando yang mendadak uring-uringan. Pria itu bahkan mengancam, jika Evan tidak membawa Siska ke restoran untuk berkenalan, maka Nando sendiri yang akan datang langsung ke apartemen hanya demi numpang makan.Tanpa Evan sadari, sejak tadi Siska sering meliriknya dengan hati yang nyaris retak.“Ternyata dia benar-benar fans sama Siska,” gumam Evan. Ia mengulurkan tangan, menghapus embun di cermin, berusaha menatap wajahnya sendiri dengan lebih jelas.“Aku akan mempertemukan mereka, sebelum Nando berbuat aneh.”Ya, Nando sempat mengancam akan membu
Bangunan itu berdiri megah di hadapan mereka. Kubah kaca besar dengan rangka besi berornamen klasik memanjakan mata. Orang-orang berlalu-lalang, sebagian berhenti sekadar mengambil foto.Siska terdiam cukup lama.“Ini …” Suaranya pelan. “Ini Galeries Lafayette?”Evan mengangguk. “Iya.”Siska menelan ludah. Tangannya tanpa sadar mencengkeram lengan mantel Evan.“Aku cuma pernah lihat di majalah,” ucapnya lirih. “Aku tidak pernah membayangkan bisa ke sini.”Evan menoleh. Matanya menangkap ekspresi Siska yang sulit disembunyikan, mata berbinar, bibir sedikit terbuka, seperti anak kecil yang baru masuk ke dunia impiannya.Lucu, pikir Evan.Dan entah kenapa, dadanya terasa hangat.Siska dan Evan masuk.Langit-langit kubah kaca langsung menyambut. Tangga melengkung, etalase butik kelas dunia, dan aroma parfum mahal bercampur menjadi satu.Siska berdiri terpaku.“Evan …” Ia berputar perlahan, menatap ke segala arah. “Ini gila.”“Kau berlebihan,” ujar Evan, tetapi sudut bibirnya terangkat.“A
Menara Eiffel berdiri megah di hadapan mereka. Langit Paris berwarna jingga keemasan, matahari belum sepenuhnya tenggelam. Angin sore berhembus pelan, membawa udara dingin yang membuat Siska refleks merapatkan jaket tipisnya. Namun dingin itu sama sekali tidak mengurangi senyum di wajahnya.Setelah meminta izin secara diam-diam kepada Nenek Evan, Siska dan Evan akhirnya memutuskan ke Menara Eiffel. Siska pikir Evan akan menolaknya, tetapi lelaki itu justru lebih dulu bersiap.Di depan Menara Eiffel, Siska berhenti melangkah. Matanya membulat, bibirnya sedikit terbuka. Ia menatap ke atas, ke arah menara besi yang selama ini hanya ia lihat dari layar ponsel atau televisi.“Ini … beneran ya?” gumamnya lirih, seperti takut kalau semua ini hanya mimpi.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.