MasukSemoga syuka💅
"Edric..." panggil Vega pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deburan ombak malam di bawah tebing. Ia mendongak, menatap Edric dengan sorot mata yang dipenuhi rasa putus asa yang amat sangat. "Aku... aku kayaknya gak sanggup lagi. Aku rasa aku akan menyerah." Edric tersentak. Alisnya bertaut tajam. Tanpa ragu, ia menggenggam kedua bahu Vega, memutar tubuh gadis itu agar berhadapan penuh dengannya. "Ngomong apa sih lu? Menyerah gimana maksudnya?" "Ayah gak akan pernah luluh, Edric!" tangis Vega akhirnya pecah. Air mata meluncur deras membasahi pipinya yang halus. "Dari kecil, hidup aku cuma memenuhi ekspektasi Ayah. Aku harus jadi yang nomor satu, harus jadi pewaris sempurna, dan sekarang... aku dipaksa harus mengorbankan kamu juga. Aku gak mau ngerepotin keluargamu. Aku capek... aku gak mau kamu makin disudutkan dan dihina sama Ayah cuma gara-gara aku!" Edric menghela napas panjang. Tatapan matanya yang biasa tengil berubah menjadi sangat intens, hangat, dan penuh keyakinan. Ia men
Atmosfer di pelataran resort Uluwatu mendadak membeku saat kemarahan Ronald meletup di depan ratusan pasang mata tamu undangan. Pekikan keras Vega yang menyatakan ketidakmauannya untuk pulang kian memicu api di dada pria paruh baya yang terbiasa mendikte jalan hidup keluarganya itu. "Mas, gimana dong?" tanya Siti. Ia sampai mencengkeram lengan sang suami, ikut tegang dan agak takut kalau masalahnya jadi besar. Ronald memang tidak pernah cocok dengan Kingsley. "Kita lihat saja apa yang akan dia lakukan, Sayang," jawab Kieran. pada istri mudanya itu. "Anak tak tahu diri!" bentak Ronald, matanya menyalang menatap Vega yang bersembunyi di balik tubuh tegap Edric. "Bisa-bisanya kamu melontarkan kata-kata itu di depan publik?!" Edric menyipitkan mata, mengeratkan posisinya untuk membentengi Vega. Namun, sebelum situasi memanas menjadi tontonan menyebalkan yang mencoreng hari bahagia Victor dan Febi, sebuah langkah kaki tenang berwibawa memecah ketegangan. Kieran Kingsley melangkah tu
"Heh, bocah! Nyantai banget ya lu nongkrong di pojokan kayak turis asing, yang lain udah pegel berdiri nungguin sesi foto keluarga. Cepet sana!"Suara melengking yang sangat akrab itu langsung menginterupsi lamunan. Siti sang mama muda yang menatap tajam sambil melipat tangan di dada.Edric sontak meringis, buru-buru memasukkan ponselnya ke saku celana lalu cengar-cengir salah tingkah. "Ampun, Mi! Galak bener. Tadi cari angin sebentar, elah... Ini juga mau kesana kok," bela Edric sambil mengangkat kedua tangannya menyerah, membuat Siti mendengus geli sebelum akhirnya menjitak pelan kepala anak sambungnya itu."Udah, gak usah banyak alesan. Buruan gabung ke panggung sana. Papi lu noh udah mulai masang muka sangar nyariin lu," omel Siti, lalu menarik lengan Edric agar segera berjalan mengikutinya.Sesampainya di area panggung utama yang berlatar belakang lautan biru Uluwatu, formasi keluarga besar Kingsley sudah bersiap untuk sesi foto keluarga kedua. Pemandangan itu dipenuhi oleh kilata
"Aku mau, Victor," jawab Febi lirih namun penuh kepastian.Seketika sorak-sorai bahagia dan tepuk tangan meriah menggema di seluruh sudut ruangan. Siti bahkan tampak menyeka sudut matanya dengan tisu karena terharu, sementara Kieran tersenyum puas melihat anak bungsunya akhirnya berlabuh pada wanita yang tepat.Di sudut ruangan, sang ibu kandung yang setia mendampingi Febi--sosok wanita sederhana yang selama ini merawatnya di desa bersama sanak saudara--tersenyum penuh syukur, memegang erat ujung kerudungnya karena tak kuasa menahan haru melihat putri kesayangannya kini menemukan pelabuhan terakhir yang aman.Tanggal pernikahan pun langsung ditetapkan hari itu juga oleh para orang tua, membuat senyum Victor semakin mengembang lebar tanda kemenangan absolut. Namun, alih-alih menggelar resepsi tertutup di Jakarta, sang kepala keluarga besar Kingsley langsung turun tangan memberikan titah khusus.Pernikahan Victor dan Febi diputuskan digelar secara megah berkonsep coastal wedding atau
Langit kota Boston tampak membentang luas dengan warna biru cerah yang menyegarkan, dihiasi angin musim semi yang berhembus lembut menerpa halaman kampus terbaik dunia itu. Riuh rendah suara tawa, derap langkah sepatu para wisudawan, serta kilatan kamera ponsel dari keluarga yang mendampingi menciptakan atmosfer perayaan yang begitu hidup.Di antara kerumunan manusia berbalut jubah toga hitam dengan topi persegi di tangan, sosok Victor berdiri tegak sambil merapikan hoodie toga miliknya.Senyum lebar tak pernah luntur dari wajah tampannya. Penantian panjang, lembaran-lembaran tesis yang menguras tenaga, hingga perdebatan alot dengan sang ayah di ruang keluarga beberapa waktu lalu, akhirnya terbayar lunas hari ini. Gelar Ph.D. atau doktor resmi disandangnya."Wih, selamat ya, Pak Doktor Muda! Gak nyangka anak paling ngeyel se-Kingsley akhirnya bisa beneran pegang gelar profesor masa depan," sebuah suara familier mendadak terdengar dari arah samping.Victor menoleh dan langsung mendapati
Siti tertegun sejenak. Ia tahu betul latar belakang keluarga Vega bukanlah dari kalangan sembarangan. Keluarga besar gadis itu dikenal sangat konservatif, terpandang secara sosial, dan memiliki standar tinggi yang sama sekali tidak sejalan dengan rekam jejak Edric yang terkenal urakan di masa lalu—meskipun saat ini Edric sudah jauh lebih baik."Terus Vega gimana posisinya sekarang?" tanya Siti dengan nada prihatin."Itu masalahnya!" Edric mengusap rambutnya frustrasi. "Ponsel Vega tadi tiba-tiba dimatiin paksa sama mamanya pas kami lagi teleponan. Dia dikurung di kamarnya, Mi! Gak boleh keluar rumah, paspor dan dompetnya disita, dan dia dipaksa buat nerima perjodohan kilat sama anak rekan bisnis bokapnya minggu depan!"Suasana kamar mendadak sunyi. Ancaman besar itu datang bagaikan badai mendadak yang menghantam ketenangan Edric yang selama ini merasa hubungannya dengan Vega baik-baik saja.Edric berdiri dari tempat tidur, mondar-mandir mondar-mandir di dalam kamar dengan gelisah. Kepa







