Masuk"Aku juga bisa seperti Ace dan Audrey," sahut Arsen tanpa mengubah posisinya. Nada suaranya terdengar datar, namun terselip kesal di setiap katanya. "Aku bisa merajuk juga, dan marah kalau sedang kesal. Kamu pilih kasih."Tawa Lily langsung pecah, meski ia buru-buru menahannya agar tidak terdengar terlalu keras. Ia menggelengkan kepala, lalu perlahan mengangkat tubuhnya hingga duduk tegak di atas kasur. Kedua tangannya terulur memegang bahu kokoh Arsen, menariknya cukup kuat agar suaminya itu mau berbalik dan menoleh ke arahnya.Namun, gerakan Arsen jauh lebih cepat. Laki-laki itu tiba-tiba memutar tubuhnya dan langsung membalik posisi mereka. Dalam hitungan detik, punggung Lily sudah terempas lembut ke atas kasur dengan tubuh besar Arsen yang mengungkungnya dari atas."Akh—mph!"Mata Lily membulat sempurna karena terkejut. Pekikan yang hampir lolos dari tenggorokannya langsung teredam saat kedua telapak tangannya bergerak refleks membungkam mulutnya sendiri. Jantungnya berdegup kencan
Arsen membuang napas kasar. Dadanya naik-turun dengan cepat saat ia menjauhkan wajahnya dari Lily, menciptakan jarak yang sedetik lalu tak tersisa di antara mereka. "Selalu saja," dengkusnya dengan nada frustrasi yang sangat kental. Ia menjatuhkan punggungnya ke atas kasur, berbaring telentang menatap langit-langit kamar dengan sorot mata sebal. "Selalu saja ada halangan kalau aku sudah ingin bercinta."Suara tawa kecil langsung meluncur dari bibir Lily. Wanita itu menggeleng pelan melihat raut wajah suaminya yang tertekuk sempurna. Alih-alih membujuk, Lily menarik tubuhnya bangun dari kasur. Tangannya bergerak cepat meraih kembali kimono satin yang sempat merosot di lengannya, lalu menarik tali luaran itu dan mengikatnya dengan simpul kuat di pinggang.Gedoran di pintu terdengar lagi, kali ini disusul tangisan yang makin kencang. Lily melangkah lebar. Tangannya memutar gagang dan menarik pintu terbuka. Di ambang pintu, Ace berdiri dengan piama bermotif dinosaurus yang tampak kusut.
Mendengar ucapan Lily barusan, kening Arsen perlahan berkerut. Ia menundukkan wajahnya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata istrinya, mencari letak keseriusan di sana."Bosan?" Alis Arsen terangkat sebelah. "Apa kamu yakin kamu merasa bosan di rumah?"Lily mengangguk tanpa ragu, masih mempertahankan posisinya yang berdiri merengkuh pinggang suaminya."Kamu mulai melanggar batas, Lily Mahesa." Nada suara Arsen sengaja direndahkan. Terdengar berat, namun getaran di tenggorokannya menyiratkan nada menggoda yang jelas. Laki-laki itu memajukan wajahnya. "Aku, sampai kapan pun, tidak akan pernah mengizinkanmu bekerja lagi."Arsen menatap Lily dengan tatapan tajam, mencoba mengintimidasi istrinya. Namun, bukannya ciut, kedua sudut bibir Lily justru tertarik ke atas membentuk senyuman lebar. Ia melepaskan sandarannya sejenak, menjinjitkan kedua kakinya hingga wajahnya sejajar dengan wajah Arsen, lalu mendaratkan satu kecupan singkat namun penuh penekanan tepat di bibir suaminya.Setelah
Mendengar pertanyaan Lily, Audrey tak menjawab sepatah kata pun. Anak perempuan itu menundukkan kepala. Perlahan, bibir bawahnya menekuk ke depan, melengkung ke bawah dengan mata yang mulai berkaca-kaca, persis seperti anak yang siap menumpahkan tangisnya kapan saja.Melihat perubahan raut wajah putrinya, Lily segera melangkah maju. Ia menekuk kedua lututnya hingga tingginya sejajar dengan Audrey. Tangan Lily terulur, mengusap lembut kedua lengan kecil itu."Ya sudah," ucap Lily pelan, menatap langsung ke dalam mata Audrey yang sudah basah. "Kalau Audrey memang tidak suka dengan sekolah yang ini, tidak apa-apa. Nanti kita lihat sekolah yang lain lagi, ya?"Audrey mengerjapkan matanya, lalu mengangguk-angguk pelan. Genggaman tangannya pada ujung baju Lily sedikit mengendur. Setelah memastikan Audrey lebih tenang, Lily segera bangkit berdiri. Ia menoleh ke arah kepala sekolah dan guru yang sejak tadi menemani mereka, lalu menganggukkan kepala seraya pamit undur diri dari tempat itu.**
Arsen membuang napas kasar. Hembusan udara terdengar berat dari sela bibirnya. Ia menyandarkan punggungnya dengan keras ke sandaran kursi kulitnya, lalu menatap asistennya dengan kening berkerut dalam."Apa yang sedang hits sekarang?" tanya Arsen, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk permukaan meja kerja. "Apa ada tren lamaran yang baru? Atau tren memberi kejutan? Cari apa pun itu, Thom. Aku butuh referensi secepatnya."Thomas menegakkan postur tubuhnya, mengangguk tanpa ragu sedikit pun. "Baik, Pak. Saya akan segera mencarinya dan melakukannya untuk Anda.""Terima kasih."Setelah mendengar ucapan dari atasannya, Thomas melangkah mundur, membalikkan badan, dan berjalan keluar dari ruangan. Bunyi klik dari pintu yang tertutup rapat menjadi penanda bahwa Arsen kini sendirian.Mata laki-laki itu perlahan turun, tertuju pada ponsel pipih yang tergeletak diam di atas meja. Ia meraih benda itu, menatap layarnya yang gelap selama beberapa detik, sebelum akhirnya bergumam sendiri di tengah kehenin
"Iya, Tante itu ngeliatin Papa terus," jawab Audrey dengan suara khas anak kecilnya. Mulut mungilnya sedikit mengerucut ke depan, menandakan ia sedang mengingat kejadian kemarin dengan serius. "Terus, kata Ace, Tante itu juga nggak bolehin Mama naik lift, ya? Ace bilang Tante itu ngehalangin jalan Mama." Mendengar rentetan kalimat yang meluncur begitu saja dari mulut putrinya, tangan Lily yang baru saja hendak meraih jepit rambut untuk dirapikan terhenti seketika. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia menatap wajah polos putrinya dari pantulan cermin meja rias di hadapannya. Audrey dan Ace masih kecil, tapi Lily sungguh tidak menyangka kalau ternyata mereka sudah bisa mengamati keadaan sekitar dengan begitu tanggap. Ace bahkan menaruh perhatian penuh pada insiden kecil di depan lift kemarin, padahal saat itu Lily merasa sudah berusaha keras bersikap santai agar Ace tidak merasa ada yang aneh. Lily menarik napas pelan, berusaha keras menutupi rasa kagetnya
Hari ulang tahu Audrey tiba. Pesta ulang tahun dan syukuran kehamilan Lily diadakan di halaman mansion, konsep pesta juga sesuai dengan yang Lily inginkan. Lily sangat cantik memakai gaun biru muda yang senada dengan setelan jas yang dipakai Arsen. Mereka berdiri di pintu masuk tempat pesta, men
Lily berdiri di depan mansion. Sesekali dia menatap ke arah gerbang sambil mondar-mandir di teras menunggu kedatangan Arsen. Ketika tatapannya tertuju ke mobil Arsen yang baru saja memasuki halaman mansion, Lily segera turun dari teras, menyambut di dekat garasi, sampai mobil berhenti. Begitu Ar
Lily diam menunggu jawaban Adhitama. “Tidak ada masalah,” balas Adhitama, “tapi dewan direksi meminta waktu untuk berpikir. Ini juga pasti menjadi keputusan yang sulit bagi mereka juga,” imbuh Adhitama menjelaskan. Lily diam, tahu masalah ini memang sangat tidak mudah. “Kalau begitu, biar aku
Malam harinya. Dini dan Anthony baru saja tiba di depan rumah Diana. Dini belum melepas sabuk pengaman yang menyilang di dadanya. “Tidak apa-apa, kita sekalian bicarakan soal rencanamu ingin resign,” kata Anthony ketika melihat Dini ragu. Dia juga tidak paham kenapa Diana memintanya ke rumah. D







