Share

Janji Di Atas Jembatan

Sebenarnya gak nyempe sih, tapi udah kadung sok-sokan mau loncat kalau gak jadi kan tengsin, kali ada yang lihat kan? Minimal malu ama surat wasiat lah. 

Dan tubuhku gemetar hebat ketika aku sudah berdiri sempurna di atas permukaan jembatan. 

"Waduh, ini kenapa kepalaku pusing begini kalau nunduk ke bawah?" Tremor gak jelas jadinya. 

Sempat ingin ku urungkan niatku untuk terjun karena tiba-tiba rasa takut menerjang. Tapi kalau ingat keinginan ayah yang bakal menikahkan ku dengan si anak kiyai itu membuat nyaliku untuk bunuh diri tumbuh lagi . 

"Demi mimpi yang tertunda, gue akhiri hidup ini!" 

Eh enggak, rupanya aku masih ada di atas jembatan. Aku merasa seseorang menahan kakiku dengan kuat. 

Begitu aku membuka mata, benar saja, seorang laki-laki berpeci hitam sedang memegangi kakiku dengan wajah panik. Siapa dia? Ganteng banget! Duh mataku masih sempat-sempatnya aja jelalatan. 

"Mba, astaghfirullah. Istighfar Mba, tak boleh seperti ini, bunuh diri itu dosa!" ucapnya membuat aku terpukau. 

Lah kok ngatur? Ikut campur banget sih! 

"Mba, bunuh diri bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Selagi bisa dibicarakan baik-baik, bunuh diri bukan solusinya." 

Sial, ini orang nambah masalah aja sih! Sudah gak bisa ke Korea, hutang banyak, dijodohin sama ustad, ini lagi orang gila pakek tiba-tiba ceramah segala!!! 

"Duh Mas, kalau mau ceramah di masjid sono! Saya lagi gak butuh ceramah. Pergi deh!" Aku berusaha mengusirnya, tapi dia masih kuat menahan kakiku. Untung saja aku pakai celana panjang, jadi dia gak ada kesempatan menengok yang lain. Ya kali aja peci sama baju koko nya cuma sebagai hiasan? Laki-laki kan begitu! 

"Saya bukan ceramah Mba, saya cuma sedang berusaha menyelamatkan hidup Mba. Tidak ada masalah yang tidak ada solusinya di dunia ini. Masih bisa dibicarakan baik-baik, Allah berfirman...." 

"Maaaasss!! Anda lagi sepi job ceramah apa gimana sih? Saya mau bunuh diri ngapain dikasih firman-firman segala. Udah deh minggir!" Aku berusaha melepaskan kakiku yang dia tahan dengan kuat. Namun, ku dengar dia berucap lagi sambil mencengkram lebih kuat. 

"Mba masalah itu tidak ada yang berat, justru bunuh diri akan memberatkan timbangan Mba menuju neraka, istighfar Mba!" 

Apa? Sok tahu banget dia bilang masalahku tidak berat. Dia tahu gak kalau mimpi aku direnggut demi dijodohkan sama bapak ustadz? 

"Anda tau gak sih Mas, saya tuh mau dijodohkan sama ayah saya," kataku yang masih berdiri di atas jembatan. Suara air sungai yang deras membuat kami harus berbicara dengan nada teriak. 

"Saya punya mimpi dan mimpi itu gagal karena perjodohan. Saya gak mau nikah. Ah, anda gak bakal ngerti karena anda gak mengalaminya sendiri. Bye Korea Selatan, cukup roh gue yang berkeliaran di sana!" ucapku pasrah. Namun tiba-tiba ku dengar dia meneriakkan namaku. 

"Mba, kamu Reynata bukan?" 

Aku terpekik sejenak. Hendak saja kakiku kutarik dengan keras namun ku urungkan. Dari mana dia tahu namaku? Kenalan aja belum. Sontak aku jadi terdiam dan mulai melemahkan semua otot-otot. Dia pun perlahan melepaskan cengkraman tangannya pada kakiku. 

"Mba, kamu Reynata putri dari Bapak Yusuf kan?" 

Angin dari mana ini, kenapa aku yang tadinya menggebu-gebu untuk mengakhiri hidup, sekarang malah turun dari jembatan begini. Aku jadi penasaran dan ingin menggali lebih dalam dari mana dia tahu namaku dan nama ayahku. 

Setelah aku turun sempurna di darat, iya tadi kan di awang-awang, aku mulai berbicara serius dengannya. 

"Iya, aku Reynata anaknya bapak Yusuf Ardiansyah. Kok Mas tahu sih?" 

Dia menunduk sambil membuang napasnya berkali-kali. Wajahnya, gak nahan banget, gila lu ganteng Mas! Jadi penasaran sih siapa dia. 

"Saya Husein Mba, anaknya kiayi Umar. Mba ingat kedua nama itu?" 

Hah? Bentar, kayak gak asing banget deh kedua nama itu. Tapi aku gak mau berpikir macem-macem dulu sebelum lebih banyak mendengar penjelasan darinya. 

"Mba, ingsyallah jika Mba bersedia minggu depan adalah waktu ijab qobul kita," ujarnya lagi. 

"Maksud Mas apaan ya?" Aku mencoba masih bersikap santai meski jantung ini berdegup lebih kencang. 

Dia mengatur napasnya kembali. 

"Mba, ayah kita sudah menjodohkan kita. Ingsyallah aku akan menjadi imam untuk Mba. Saya mengenali wajah Mba dari foto yang diberikan ayahanda Mba, saat datang pada kami." 

Aku melongo, ternganga tak percaya. Bisa-bisanya aku datang ke tempat ini untuk bunuh diri tapi yang berhasil menggagalkan aksi itu adalah penyebabnya sendiri. 

"Boong, bercanda banget lu!" Aku masih gak percaya. Kali aja ini settingan, aku memutar pandangan ke segala arah untuk mencari mana tau ada kamera tersembunyi. Anehnya dia pun ikut celingukan seperti mencari sesuatu juga. 

"Saya tidak bercanda Mba, demi Allah sumpah Rasulullah saya adalah anak kiayi Umar yang akan dinikahkan bersama Mba!" 

Please pengen loncat saat ini juga. Aku syok berat guys. Tapi aku harus melawan situasi ini. Bukannya bagus ketemu orangnya langsung dan akhirnya bisa berterus-terang bahwa aku menolak perjodohan itu. 

"Kalau iya yang lo ucapin, bagus. Sini dengerin!" Aku mulai mendekatinya tapi dia malah refleks mundur menjauhiku. 

Bodo amat lah, yang penting suaraku kedengaran. "Gini ya Mas, bisa kan batalkan pernikahan kita? Aku tuh gak mau ya, aku punya mimpi yang harus diwujudkan. Jadi tolong kasih tau keluarga Mas baik-baik untuk membatalkan pernikahan kita." 

Semoga dia langsung jawab iya, semoga dia bisa merasakan penderitaan aku. 

"Maaf Mba, sepertinya tidak bisa. Orang tua kita sudah sepakat, dan segala persiapan pernikahan sudah dilakukan. Durhaka Mba menyakiti hati kedua orang tua!" 

Glek!! Mampus! Sayonara sama mimpi deh jadinya. 

"Kok gak bisa sih? Memangnya Mas gak kasian sama aku yang terpaksa menjalani pernikahan? Aku masih muda, umur aja baru 23 tahun. Suruh nikah, ya ogah lah!" tandasku lagi tanpa ampun. Gila ya, maksa banget sih mereka. 

"Mba, saya pun tak diberi kesempatan untuk memilih menerima atau menolak ajakan pernikahan. Namun saya percaya pada ayah saya bahwa dia memilihkan jodoh yang terbaik, yang bisa saya bimbing menjadi sholihah. Ingsyallah saya mampu Mba, mari kita berbakti pada orang tua." 

Tuh kan, bener kata ayah kemarin bahwa calon suamiku adalah seorang pendakwah. Jadi aku harus menikah dengan cowok yang memberi asupan nasihat setiap detik begitu? Gak! Mending gue bunuh diri aja. 

Aku bersiap untuk naik ke jembatan lagi, aku tak peduli omongannya soal berbakti. Toh berbakti pada orang tua egois juga salah. 

"Astaghfirullah, Mba." 

Tubuhnya kini dengan sigap sudah ada di depanku, dia merentangkan kedua tangannya untuk menghalangi aku naik ke jembatan lagi. Aku terkesiap dan menghentikan langkahku saat itu juga. 

"Mba dengarkan, aku akan membuat janji padamu. Janji yang akan ku tetapi selama pernikahan kita. Mba jangan akhiri hidup! Hidup Mba berharga dan tak boleh disia-siakan." 

Sorot matanya setajam elang. Kurasa dia sangat serius untuk benar-benar mencegahku mengakhiri hidup. 

Aku menarik napas kasar, "Apa?" Tak ada salahnya mendengarkan ucapannya dulu. 

"Demi Allah, saya janji tidak akan pernah menyentuh tubuh Mba jika bukan Mba yang mengizinkannya. Saya janji tidak akan mengekang hidup Mba jika mba tidak melewati batas. Silakan hidup seperti biasanya, jika hijab masih berat silakan lakukan pelan-pelan. Cukup berbusana yang menutup tangan dan kakinya, ingsyallah saya tidak masalah. Tolong Mba, jangan akhiri hidupnya." 

Aku terdiam saat pelan-pelan mencerna kembali ucapannya yang baru saja ku dengar. Gimana nih? Apa yang harus aku lakukan? 

***

Comments (2)
goodnovel comment avatar
AbiAfnan Aye
lafadz arabnya kan, alif nun mati ketemu sya. hukum bacanya ikhfa, sedangkan ikhfa itu cara bacanya dengung. in syaa, berarti nun nya jelas dan lebih ke idzhaar dong
goodnovel comment avatar
Afrilla Purnomo
maaf thor sedikit koreksi. penulisan insyaa allah. bukan ingsyaallah ...
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status