เข้าสู่ระบบGilang segera bangun dan berjalan ke arah pelayan untuk meminta kain dan akan meminta pelayan untuk membersihkan jus yang tertumpah tadi. "Alex ikut." Alek yang merasa bersalah juga ikut pergi bersama Gilang. Riri masih dalam posisi berdiri. Dia tidak berani duduk karena bisa mengotori kursi yang terbuat dari bahan kain. Menunggu Gilang balik, dia mendengar suara pintu cafe yang terbuka. Dia dengan reflek menghadap ke arah pintu cafe yang terbuka. Dengan kedua tangan yang diangkat sejajar pinggang seperti orang basah kuyup pada umumnya. "Hantu!" teriak orang yang baru saja ingin masuk. Dia tidak jadi masuk dan berlari dari sana. "Apa? Hantu? Di mana hantu?" tanya Riri yang juga takut dengan hantu. Karena dia masih belum membuka mata, maka dia tidak bisa melihat apapun. Dia jadi sangat panik dan memundurkan langkah. Hampir saja Riri terjatuh, untung saja ada Gilang dan Alex yang menahan tubuh Riri agar tidak menabrak kursi yang lain. "Ada apa Ri?" tanya Gilang melihat Riri yang
"Ri, kamu di mana?" panggil Ansel lagi. "Ansel, kamu kenapa di sini?" tanya Gilang kaget melihat Ansel yang memanggil Riri. 'Apa tadi dia melihat Riri? Mereka belum saatnya bertemu. Aku ingin hadiah terbaik untuk ulang tahun cucuku' Gilang segera memeriksa ke seluruh ruangan untuk mencari Riri. Matanya menemukan Riri yang berjongkok di samping sofa, tidak lagi di bawah meja. Dia tahu jika mereka tidak sengaja bertemu. Gilang langsung maju beberapa langkah untuk mencegah Ansel menemukan Riri. Rencana mereka tidak boleh gagal, Ansel tidak boleh bertemu dengan Riri terlebih dahulu. Masih ada waktu seminggu lagi untuk mereka bisa bertemu. Rencana kado untuk ulang tahun Arka tidak boleh gagal. "Papa, apa Papa melihat Riri?" tanya Ansel dengan menggebu. "Kamu melihat Riri? Dimana?" tanya Gilang balik. "Tadi dia ada di sini Pa." "Apa kamu tidak salah mengenal orang? Jangan-jangan yang kamu lihat adalah Lili?" tanya Gilang berpura-pura melihat ke sekitar berpura-pura mencari Riri.
"Kenapa kamu malah memanggil Papa sayang, sekarang mama sedang minta maaf sama kamu. Apa kamu mau memaafkan Mama?""Alka udah maapin Mama, Pa," sahut Arka. Arka melepaskan kaki Ansel. Kemudian berlari lagi ke arah Lili."Mama adalah Mama Alka," gumam Arka memeluk Lili. "Terima kasih sayang kamu memang anak yang sangat baik," puji Lili sangat tidak ikhlas."Ma, apa boleh, becok kita main belcama. Alka mau main cama Mama," pinta Arka menatap mata Lili dengan lekat."Iya sayang, tentu. Besok Mama akan membawa kamu jalan-jalan," ujar Lili memeluk Arka agar Arka mau memaafkan dia.'Dasar anak Setset (di sensor aja ya), bisa-bisanya cari kesempatan sekarang. Untung ada Ansel di sini.' Arka sangat senang dipeluk oleh Lili. Dia membalas pelukan Lili dengan sangat kuat. Sekarang air matanya kembali menetes, tapi dengan cepat menghapusnya agar Lili tidak melihatnya. Dia tidak mau dicap sebagai anak yang cengeng.Ansel menatap kejadian itu dengan hati yang tidak karuan. Dia sangat berharap ji
Arka masih terbayang-bayang dengan Alex yang yang diperhatikan oleh Riri karena bajunya yang kotor. Sepanjang pulang dari bermain bersama para kakeknya, dia memikirkan cara yang sama untuk mendapatkan perhatian dari Lili. Di tangan Arka sudah ada satu cup es krim yang dia minta pada para pembantu. Dia akan melakukan hal yang sama untuk menarik perhatian Lili. Dia sudah berada di depan kamar Lili dari tadi. Sedikit takut untuk masuk. Dengan takut takut dia mengintip Lili yang ada di kamarnya. Arka segera mundur ketika Lili bangun dari tempat tidur. Dia semakin tambah gelisah mendengar pintu yang dibuka oleh Lili."Kamu ngapain di sini?" tanya Lili dengan kasar melihat Arka yang ada di dekat pintu kamarnya.Lili ingin ke dapur untuk mengambil minuman. Dia hampir saja menabrak Aria yang berdiri tidak jauh dari pintu. "Mama," panggil Arka dengan takut-takut menatap Lili."Kalau tidak ada yang penting, sana kamu pergi dari sini," usir Lili."Emm itu … Alka mau …," kata Arka dengan gugup
*** Riri di balik video call senang melihat Arka yang ingin makan sama dengan Alex. Dia dari tadi melihat interaksi Arka dan Alex tanpa muncul di layar. Walaupun mereka belum pernah bertemu, mereka bisa langsung akrab. Sekarang Riri, Alex dan Reymon berada di bandara. Mereka sedang menunggu keberangkatan. Sebentar lagi dia akan bisa melihat anaknya secara langsung. Sesungguhnya dia sudah sangat rindu kepada anaknya. Tapi Gilang sengaja yang menyuruhnya agar tidak menampak wajah. Supaya tidak menimbulkan rasa penasaran pada Arka yang melihat dia mirip sama Lili. Alex dan Arka terus saja ngobrol dengan dunia mereka. Saat Alex sedang makan es krim, Alex tidak sengaja menjatuhkan es krim pada bajunya. Sehingga membuat bajunya kotor. "Alex yang hati-hati dong. Ini es krim sampai meleleh ke baju," ujar Riri lembut dan langsung membersikah sisa es krim yang mengotori baju Alex dengan hati-hati. Riri membersihkan Alex dengan tetap menghindar jarak dari Alex agar dia tidak masuk ke layar
Ansel selalu bertanya-tanya kenapa David dan Gilang selalu membawa Arka secara sembunyi-sembunyi. Alasannya hanya rahasia antara kakek dan cucu laki-laki. "Apa salahnya. Itu kan cucu kami. Sudah sepantasnya kami memanjakan dia. Apalagi kami mau menikmati masa tua kami dengan bermain bersama cucu kami," sahut Gilang. David juga sudah menyerahkan seluruh pekerjaannya pada salah satu anak buah Gilang yang bisa dipercaya. Dia sudah tidak terlalu sanggup untuk mengelola perusahaan karena dia tidak mempunyai anak laki-laki. Apalagi Lili yang tidak bisa diharapkan untuk mengurus perusahaan. Hanya Riri yang ada kemungkinan bisa menggantikan dia. Jadi, sekarang David dengan senang hati bisa menghabiskan waktu untuk menjenguk Riri dan bermain dengan Arka. Jika dia pergi ke luar negeri, dia akan beralasan kalau dia ada kepentingan dengan pekerjaan agar Azumi atau yang lainnya tidak curiga sama sekali. Hubungan Azumi dan Miranda juga semakin dekat. Miranda lebih suka pergi ketempat Azumi da
"Lalu, apa yang harus kami lakukan Dok?" "Usahakan agar Ibunya tetap tenang dan nyaman. Hindari dia memikirkan hal yang berat. Selalu awasi sang Ibu, jangan biarkan sendiri. Hormon ibu hamil tidak pernah ada yang bisa tebak. Dia bisa senang dan sedih di waktu yang dekat," saran Meka. 'Sebaiknya a
Beberapa menit kemudian, Riri bosan sendiri di rumah. Dia tidak ada kawan bermain. Tidak ada tontonan yang seru juga. "Apa aku kembali ke apartemen dulu ya. Mumpung tidak ada orang lain. Biasanya kalau ada mama dan papa, mereka akan larang aku pulang. Aku ingin menulis diary aku. Aku sudah lama t
Gilang membawa Ansel ke ruang kerjanya. Di sana mereka bisa lebih leluasa. Dia juga ingin mengatakan sesuatu hal kepada Ansel."Jadi, apa yang terjadi sama Lili?" tanya Ansel begitu bokongnya menyentuh sofa.Gilang menghembus nafas berat. Masalah tentang Riri bukan masalah sepele. "Intinya Lili pi
Perhatian Riri teralihkan oleh suara pintu yang terbuka. Dengan langkah hati-hati dia melihat siapa orang yang masuk. Orang yang masuk adalah Lili. "Lili, kenapa kamu bisa ke sini," tanya Riri heran yang bisa berpapasan dengan Lili. "Apa aku tidak boleh ke sini lagi? Inikan rumah milik Ansel. An







