LOGINRiri dan Lili adalah saudara kembar identik. Hanya saja tubuh sang adik mengalami masalah kesehatan. Sehingga kedua orang tua lebih memprioritaskan Lili di atas segalanya. Hal itu yang membuat si bungsu menjadi egois dan merebut apapun yang dimiliki si sulung. Riri senantiasa sendirian dan kesepian. Puncak penderitaan yang harus dialami adalah ketika dia dipaksa menikah dengan Ansel, adik ipar sekaligus teman dan cinta pertama. Semua itu hanya untuk mempertahankan rumah tangga Ansel dan Lili. Lantaran Lili tidak bisa hamil.
View More*** Setelah selesai dari kamar mandi. Lili mengantar Riri kembali ke tempat duduk semula. Raut wajahnya kini sudah kembali cerah. Sehingga Gilang mencium bau sesuatu yang mencurigakan. Ditambah Riri yang terlihat murung. Dalam hitungan detik, Gilang langsung menemukan penyebabnya. Mata elangnya menyadari kalau kalung warisan keluarga sudah pindah tempat. "Kenapa kalung menantuku ada sama kamu?" geram Gilang. Gilang sempat memperhatikan area sekitar leher Riri. Dari jarak beberapa meter bekas luka itu terlihat jelas. Miranda sontak memperhatikan leher Lili. Bener seperti yang dikatakan suaminya. Tadi dia ingat jelas jika kalung itu masih bertengger di leher Riri. "Ri, kenapa kamu memakai kalung punya Riri?" tegur Miranda. Masih bisa bicara dengan sabar. Tidak seperti suaminya. "Oh, ini. Lili yang kasih ke aku tadi," sahut Lili dengan pede. Mata Miranda dan Gilang tertuju ke arah Riri. Termasuk Ansel. "Bener Li?" Riri tidak berani menatap mata kedua mertuanya. Menunduk dan men
"Ma, Lili mau ke kamar mandi dulu ya. Tak apakan?" potong Riri tidak enak. Tapi dia sudah tidak tahan mau buang biar kecil."Kamu ini. Mau ke kamar mandi aja pun. Sini Mama temani. Perut kamu sudah besar.""Tidak apa Ma. Lili bisa sendiri," tolak Riri halus. "Li, bagaimana kalau aku saja yang menemani kamu ke kamar mandi," tawar Lili ramah."Tidak u ….""Ayo aku temani."Lili segera bangun dan membantu Riri berdiri. Dengan kuku jari jempol menekan kuat ke tangan Riri sebagai peringatan agar tidak melawan."Ri, kamu di sini tamu," tegur Gilang tidak suka Riri bersama Lili. Pasti ada udang di balik batu."Nggak apa Pa. Biar, Kak Riri yang membantuku," bella Riri menahan sakit. Saat Gilang melarang, Lili semakin menekan kuku jempolnya. Tidak ada satupun yang menyadari hal itu. Sedikit ditutupi dengan tubuh mereka yang berdiri dempetan."Sudah Pa. Biarin aja Riri membantu Lili. Mungkin menantu kita lebih suka sama kak kan ya."Gilang hanya bisa berpasrah membiarkan mereka berdua pergi.
Riri dan Ansel juga penasaran apa hadiah yang akan diberikan kepada Lili. Dari ukuran kotak hadiah, itu seperti baju atau tas. Jangan tanya masalah harga dengan Gilang. Senyum Lili luntur melihat isi kado. Itu hanya beberapa detik dia kembali memaksa senyum mengetahui hadiahnya hanya cake. "Gimana? Kamu suka. Ini cake yang Om dapatkan dari luar negeri. Katanya kamu belum pernah keluar negeri. Ini cake yang cukup terkenal," ujar Gilang tenang sambil menyeruput air. Jangan lupa dengan mata elang Gilang. Meskipun senyum Lili luntur hanya sedetik, senyum itu sudah cukup membuatnya puas. Lili terlihat sangat kecewa dengan hadiah yang diberikan. Jangan pernah berharap Gilang akan memberikan barang mewah untuk Lili. Semua barang tersebut hanya boleh diberikan untuk Riri, menantu satu-satunya. Mana mungkin dia repot h repot menyiapkan barang mewah untuk Lili. Orang yang sudah menyakiti menantunya. Kalau untuk Riri jangan ditanyakan, dia akan memberikan apapun. Tinggal sebut saja. "Iya Om
Lili tiba di kediaman Gilang. Orang yang menyambut kedatangannya adalah Ansel. Hanya kebetulan Ansel berada di dekat pintu masuk ketika Lili tiba. Begitu melihat penampilan Lili, dia menarik Lili menjauh dari pintu. "Li, kamu kenapa berpakaian seperti ini?" tanya Ansel setelah melepaskan tangan Lili. "Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Lili balik dengan acuh. "Kakak kamu itu tidak pernah berpenampilan seperti ini. Baju yang kamu pakai …." "Kamu tenang saja Ansel. Aku tahu apa yang aku lakukan." "Maksudnya kamu?" "Ansel, apa Riri sudah sampai?" teriak Miranda dari dalam rumah. Obrolan Ansel dan Lili terputus dengan seruan Miranda. "Tuh, Mama kamu sudah panggil kita. Tidak baik mereka menunggu kita terlalu lama," ujar Lili menepuk bahu Ansel pelan. Lalu melengos pergi begitu saja. 'Li, apa yang sedang kamu rencanakan? Pasti ada sesuatu yang kamu rencanakan di balik semua ini kan? Aku harap kamu tidak melakukan sesuatu yang bodoh,' terka Ansel dalam hati sambil mengikuti Lili.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.