LOGIN“Maya kehilangan suami, rumah, dan perlindungan. Saat keluarganya menjualnya ke klub malam untuk melunasi utang, ia diselamatkan oleh Julian Vane—miliarder dingin yang tidak hanya menawarkan uang, tetapi juga namanya. . Dengan satu pengumuman, Maya menjadi calon istri pria paling berkuasa di kota itu. . Namun, perlindungan Julian memiliki harga. Maya harus tinggal di penthouse-nya, menenangkan insomnia pria itu, dan mematuhi setiap aturannya. Semakin Julian menjaganya, semakin Maya sadar bahwa ia tidak sedang tinggal di rumah mewah. . Ia sedang hidup di dalam sangkar emas milik pria yang tidak akan pernah membiarkannya pergi.
View More"Buka bajumu. Katanya kamu tahu tugasmu di sini, kan?"
Kalimat itu terlempar begitu saja di tengah kesunyian kamar VIP The Valhalla Mansion. Ruangan luas berdinding kayu gelap itu riuh oleh bau kayu cendana dan alkohol mahal—aroma khas tempat di mana uang bisa membeli apa saja, termasuk harga diri manusia.
Maya membeku. Tangannya yang gemetar saling meremas di depan gaun marun berbahan sutra yang melekat ketat di tubuhnya. Di depannya, seorang pria paruh baya bertubuh tambun menatapnya dari atas sampai bawah. Matanya lapar, menyisir setiap inci lekuk tubuh Maya tanpa sisa rasa hormat sedikit pun. Itu Tuan Bram, salah satu pengusaha langganan tempat gila ini.
"Kenapa diam? Kamu dipasang di sini bukan buat jadi patung," kekeh Bram sambil meneguk minumannya. Langkah kakinya mendekat, membuat Maya refleks mundur satu langkah hingga punggungnya menabrak dinding dingin. "Jangan berakting seolah kamu tidak tahu cara melayani pria."
Tatapannya yang merendahkan membuat perut Maya mual. Memangnya siapa yang mau ada di sini? Jeritnya.
Selama tiga bulan terakhir, status janda yang menyertainya seperti cap merah yang tak bisa dihapus.
Orang-orang di luar sana selalu berasumsi sama, bahwa seorang wanita yang pernah menikah pasti sudah berpengalaman, lihai memikat pria, dan mudah diajak ke tempat tidur.
Mereka berasumsi ia tahu segalanya tentang sentuhan dan gairah, tanpa mau tahu kenyataan pahit di balik status tersebut.
"Saya..memang tidak tahu, Tuan" jawab Maya jujur. Sebagai wanita terhormat dengan tata krama yang tinggi di keluarganya, Maya di didik untuk tidak menjadi wanita yang liar, bahkan kepada suami. Patuh dan menjadi istri yang penurut.
Kenyataannya, pernikahan pertamanya dulu cuma jebakan. Maya dinikahkan dengan seorang pria yang sudah sakaratul maut hanya demi dijadikan tumbal saat harta keluarga itu habis.
Di malam pernikahan, suaminya menghembuskan napas terakhir di atas ranjang rumah sakit—bahkan sebelum sempat menyentuh seujung jarinya pun. Maya menyandang status janda tanpa pernah benar-benar merasakan bagaimana rasanya disentuh sebagai seorang istri.
Namun publik tidak peduli. Bagi mereka, janda muda sepertinya adalah mangsa empuk.
Penderitaannya tidak berhenti di situ. Keluarga mantan suaminya justru menimpakan hutang ratusan juta padanya. Biaya pengobatan mendiang suaminya semua dibebankan padanya.
Di saat yang sama, ayah kandungnya terbaring koma di ICU dan butuh biaya pengobatan saban minggu. Ibu tirinya memanfaatkan keputusasaan itu—menjual Maya ke tempat laknat ini demi menutup pinjaman. Malam ini, di ruangan bernuansa remang ini, Maya sadar ia sudah terjepit di sudut paling gelap dalam hidupnya.
"Tolong, Tuan... saya cuma ditugaskan menemani minum dan mengobrol," bisik Maya. Suaranya bergetar. Matanya mulai berair, menahan tangis yang sudah ditahannya sejak melangkah masuk ke gedung ini.
"Jangan bercanda! Untuk apa saya bayar mahal cuma buat dengar kamu bicara?"
Bram mendengus kasar dan tidak sabar. Tanpa peringatan, tangan tambunnya mencengkeram bahu Maya dan menghempaskannya ke sofa kulit. Maya menjerit pelan saat jemari kasar pria itu merobek bagian atas gaun sutranya. Kancing baju berhamburan ke lantai.
"Lagipula, kamu kan sudah berpengalaman! Jangan sok jual mahal di depan saya!" bentak Bram, napasnya yang berbau alkohol menghantam wajah Maya.
Rasa hina dan takut mencekik leher Maya seketika. Ia mencoba mendorong dada pria itu, tapi tenaganya tidak ada apa-apa. Maya memejamkan mata erat-erat, merutuki nasibnya yang harus berakhir menjadi pemuas nafsu pria berkantong tebal hanya karena stigma murahan yang ditempelkan orang-orang padanya.
Tepat saat tangan Bram makin lancang menyentuh lehernya, pintu kayu tebal kamar VIP itu terdorong keras.
Brak!
Suasana kamar mendadak hening. Bram membeku, mengutuk pelan sang pengganggu sambil menoleh ke arah pintu.
Seorang pria tinggi menjulang berdiri di sana. Kemeja hitamnya tergulung sampai siku, memamerkan jam tangan mewah dan aura dingin yang langsung menguasai seluruh ruangan. Matanya tajam, memindai isi kamar sebelum akhirnya terkunci pada Maya yang terduduk gemetar dengan gaun robek di atas sofa.
Julian Vane. Pemilik Vane Group—pria yang namanya saja cukup untuk membuat pengusaha sekelas Bram gemetar.
"T-Tuan Julian?" wajah garang Bram seketika pucat pasi. "Ada apa ini? Ruangan ini sudah saya sewa—"
"Keluar," potong Julian. Suaranya tidak keras, tapi ada ancaman mutlak di sana.
"Tapi wanita ini—"
"Kuulangi sekali lagi: keluar dari ruanganku sebelum kumanfaatkan seluruh sahammu di pasar modal besok pagi," sela Julian, matanya tak lepas dari Maya.
Bram menelan ludah. Tanpa berani membantah lagi, pria itu buru-buru merapikan jasnya dan melangkah cepat keluar, meninggalkan Maya sendirian dengan pria asing berhawa mematikan itu.
Keheningan kembali menyelimuti. Maya menyilangkan kedua tangan di dada, berusaha menutupi gaunnya yang robek sambil menatap Julian dengan napas tersengal-sengal.
"Sialan! Jangan biarkan pria itu datang kesini lagi!" perintahnya tegas.
Julian melangkah mendekat. Langkah kakinya terdengar pelan, tanpa tergesa-gesa. Tanpa mengalihkan pandangan, ia melepas jas mewahnya lalu melemparnya ke pangkuan Maya untuk menutupi bagian dadanya yang terbuka.
Pria itu kemudian berlutut dengan satu kaki di hadapan Maya, menyamakan posisi mereka. Bau wangi maskulin perpaduan black pepper dan cedarwood dari tubuh Julian seketika menggeser bau alkohol menyengat yang ditinggalkan Bram tadi.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Julian. Maya menggeleng pelan.
Jari-jarinya yang panjang dan dingin terulur, menyentuh pelan dagu Maya—menahannya di sana agar Maya berhenti bergetar.
"Kamu..." suara Julian rendah dan dalam, bergema di keheningan kamar. "Wanita yang tadi bernyanyi pelan di ruang tunggu belakang, kan? Manager bilang, namamu….Maya?"
Maya menelan ludah. Pandangannya kabur oleh sisa air mata, namun mata gelap pria di depannya terlihat begitu pekat dan sulit dibaca. "T-Tuan... tolong, biarkan saya pergi..."
Julian menatapnya lurus, wajahnya tanpa ekspresi, tetapi matanya mengunci Maya sepenuhnya.
"Aku tahu apa yang kamu alami dari Catherine" ucap Julian menyebut nama manager club ini dan memberi jedah untuk Maya mencerna "Aku bisa melunasi seluruh hutang keluargamu dan memastikan perawatan ayahmu di rumah sakit terbaik," ucap Julian datar, suaranya seperti tawaran bisnis yang dingin namun realistis. "Tapi tentu saja itu tidak bisa kuberikan secara gratis. Bagaimana?"
Julian melepaskan jemarinya dari dagu Maya, lalu berdiri tegak sembari memasukkan sebelah tangannya ke saku celana.
"Mulai malam ini, kamu tidak boleh melayani pria mana pun. Kamu cuma akan bekerja untukku—melayaniku!"
Julian melirik pintu yang terbuka, lalu kembali menatap Maya yang masih lemas di atas sofa.
"Pikirkan baik-baik!"
Pria itu berbalik pelan, seolah bersiap meninggalkan ruangan. Maya memandang punggung tebal Julian yang berjarak beberapa langkah darinya. Pria ini tampak seram dan dingin, tapi di mata Maya, tawaran itu jauh lebih masuk akal dibanding harus melayani puluhan pria hidung belang yang memandangnya seperti bangkai.
"Tunggu, Tuan Julian! Saya—"
"Jangan coba-coba membuang muka dariku, Maya."Bisikan rendah itu meluncur tepat di samping telinga Maya, mengunci wanita tersebut dalam kungkungan berat tubuh Julian di atas ranjang. Kain gaun pengantin hitam legam yang dikenakannya terasa semakin menyesakkan dada, berpadu dengan kepenatan fisik dan mental yang telah mencapai batas maksimal setelah prosesi pemberkatan paksa tadi.Maya mengepalkan kedua tangannya di atas seprai, berusaha menepis gelombang pusing yang mendadak kembali menyerang kepalanya. Rasa mual di lambungnya terasa semakin nyata, sebuah reaksi penolakan biologis yang tidak bisa ia kendalikan meski otaknya terus memerintahkan tubuhnya untuk tetap kuat.Julian tidak memberikan waktu bagi Maya untuk bernapas atau memulihkan diri. Pria itu menangkup rahang Maya dengan satu tangan, memaksa wajah pucat wanita tersebut untuk mendongak dan menatap langsung ke dalam manik matanya yang gelap gulita. Tidak ada kelembutan di sana, yang ada hanya kilau dominasi mutlak seorang p
"Tanda tangani, Maya."Perintah itu meluncur tanpa ampan dari bibir Julian Vane, memecah keheningan kaku di ruang pemberkatan privat lantai dasar penthouse. Di atas meja altar berlapis kayu mahoni gelap, dokumen tebal dengan stempel resmi terbuka lebar. Ujung pena bermata emas terulur tepat di antara jemari Maya yang gemetar hebat.Maya menatap ujung pena tersebut seolah benda itu adalah bilah pisau yang siap menorehkan luka permanen. Kepalanya masih terasa pening, sisa-sisa gelombang mual tadi pagi berputar pelan di dalam lambung, memperburuk ketegangan mental yang sudah berada di ambang batas. Sekeliling ruangan terasa menyempit. Sean berdiri tegak tanpa ekspresi di sisi kiri altar, sementara sang pendeta sipil menunduk patuh menunggu detik-detik pengesahan ikatan tersebut.Tidak ada jalan mundur. Julian berdiri terlalu dekat, mengawasi setiap gerak-gerik wanita di sampingnya dengan sorot mata predator yang tidak memberi celah sedikit pun untuk melarikan diri.Dengan napas tertahan,
"Jangan membuatku harus naik ke kamar ini dua kali untuk menyeretmu, Maya."Suara Julian yang berat dan tajam itu bergeming di ambang pintu kamar, menghentikan langkah ragu Maya yang baru saja menyentuh kain hitam legam gaun pengantin tersebut.Maya menarik napas dalam-dalam, menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya, lalu dengan tangan bergetar meraih gaun itu dari manekin. Tidak ada lagi jalan untuk mengelak. Desakan mual yang masih samar-samar berdenyut di perutnya iaabaikan sekuat tenaga, memaksa dirinya bergerak cepat sebelum Julian kehilangan sisa kesabarannya yang tipis.Beberapa menit kemudian, Maya melangkah keluar dari kamar ganti. Gaun pengantin hitam bergaya minimalist-chic itu membalut tubuhnya dengan sempurna, mempertegas garis pinggang dan kontur tubuhnya yang jenjang, namun sekaligus memberikan aura kelam bagaikan gaun pemaksaan menuju algojo. Wajahnya dipoles tipis, menyamarkan pucat pasinya, meski sorot mata kecut dan ketakutan di balik manik matanya tidak bi
Ancaman itu masih menggantung, berpadu dengan kepanikan yang bergemuruh di dada Maya. Namun, Julian tidak memberinya waktu barang sedetik pun untuk memproses ketakutan tersebut. Pria itu berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Maya yang masih mencengkram tepi wastafel dengan napas memburu.Belum genap sepuluh menit ia berusaha menenangkan gejolak mual di lambungnya, pintu kamar utama diketuk dua kali sebelum dibuka dari luar. Sean masuk bersama dua pelayan wanita berwajah kaku, membawa sebuah manekin berbalut kain hitam yang berdiri tegak di atas roda dorong."Gaun ini bukan pilihan, Nona Maya. Ini adalah seragam untuk status baru Anda," suara Sean terdengar datar namun mutlak, memecah keheningan yang menyesakkan.Di atas manekin itu, sebuah gaun pengantin bergaya minimalist-chic berwarna hitam legam tergantung tanpa cela. Tidak ada renda putih, tidak ada kesan suci atau romantis; yang ada hanyalah siluet tegas yang memancarkan aura kematian dan kepemilikan mutl
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.