LOGIN(Catatan: Mengandung konten dewasa. Mohon bijaksana dalam memilih bacaan!) - Terjebak utang dan stigma status janda, Maya terpaksa bekerja di klub malam demi mengobati ayahnya. Namun, takdir berubah saat ia bertemu Julian Vane, konglomerat dingin yang menderita insomnia akut. Bagi Julian, hanya suara halus Maya yang mampu menenangkan otaknya. -- Sebuah tawaran gila pun tercipta: "Mulai malam ini jangan layani pria lain, cukup aku!" Berawal dari obat penenang, Maya lambat laun terseret dalam jerat gairah dan pemuas dahaga sang penguasa.
View More"Buka bajumu. Katanya kamu tahu tugasmu di sini, kan?"
Kalimat itu terlempar begitu saja di tengah kesunyian kamar VIP The Valhalla Mansion. Ruangan luas berdinding kayu gelap itu riuh oleh bau kayu cendana dan alkohol mahal—aroma khas tempat di mana uang bisa membeli apa saja, termasuk harga diri manusia.
Maya membeku. Tangannya yang gemetar saling meremas di depan gaun marun berbahan sutra yang melekat ketat di tubuhnya. Di depannya, seorang pria paruh baya bertubuh tambun menatapnya dari atas sampai bawah. Matanya lapar, menyisir setiap inci lekuk tubuh Maya tanpa sisa rasa hormat sedikit pun. Itu Tuan Bram, salah satu pengusaha langganan tempat gila ini.
"Kenapa diam? Kamu dipasang di sini bukan buat jadi patung," kekeh Bram sambil meneguk minumannya. Langkah kakinya mendekat, membuat Maya refleks mundur satu langkah hingga punggungnya menabrak dinding dingin. "Jangan berakting seolah kamu tidak tahu cara melayani pria."
Tatapannya yang merendahkan membuat perut Maya mual. Memangnya siapa yang mau ada di sini? Jeritnya.
Selama tiga bulan terakhir, status janda yang menyertainya seperti cap merah yang tak bisa dihapus.
Orang-orang di luar sana selalu berasumsi sama, bahwa seorang wanita yang pernah menikah pasti sudah berpengalaman, lihai memikat pria, dan mudah diajak ke tempat tidur.
Mereka berasumsi ia tahu segalanya tentang sentuhan dan gairah, tanpa mau tahu kenyataan pahit di balik status tersebut.
"Saya..memang tidak tahu, Tuan" jawab Maya jujur. Sebagai wanita terhormat dengan tata krama yang tinggi di keluarganya, Maya di didik untuk tidak menjadi wanita yang liar, bahkan kepada suami. Patuh dan menjadi istri yang penurut.
Kenyataannya, pernikahan pertamanya dulu cuma jebakan. Maya dinikahkan dengan seorang pria yang sudah sakaratul maut hanya demi dijadikan tumbal saat harta keluarga itu habis.
Di malam pernikahan, suaminya menghembuskan napas terakhir di atas ranjang rumah sakit—bahkan sebelum sempat menyentuh seujung jarinya pun. Maya menyandang status janda tanpa pernah benar-benar merasakan bagaimana rasanya disentuh sebagai seorang istri.
Namun publik tidak peduli. Bagi mereka, janda muda sepertinya adalah mangsa empuk.
Penderitaannya tidak berhenti di situ. Keluarga mantan suaminya justru menimpakan hutang ratusan juta padanya. Biaya pengobatan mendiang suaminya semua dibebankan padanya.
Di saat yang sama, ayah kandungnya terbaring koma di ICU dan butuh biaya pengobatan saban minggu. Ibu tirinya memanfaatkan keputusasaan itu—menjual Maya ke tempat laknat ini demi menutup pinjaman. Malam ini, di ruangan bernuansa remang ini, Maya sadar ia sudah terjepit di sudut paling gelap dalam hidupnya.
"Tolong, Tuan... saya cuma ditugaskan menemani minum dan mengobrol," bisik Maya. Suaranya bergetar. Matanya mulai berair, menahan tangis yang sudah ditahannya sejak melangkah masuk ke gedung ini.
"Jangan bercanda! Untuk apa saya bayar mahal cuma buat dengar kamu bicara?"
Bram mendengus kasar dan tidak sabar. Tanpa peringatan, tangan tambunnya mencengkeram bahu Maya dan menghempaskannya ke sofa kulit. Maya menjerit pelan saat jemari kasar pria itu merobek bagian atas gaun sutranya. Kancing baju berhamburan ke lantai.
"Lagipula, kamu kan sudah berpengalaman! Jangan sok jual mahal di depan saya!" bentak Bram, napasnya yang berbau alkohol menghantam wajah Maya.
Rasa hina dan takut mencekik leher Maya seketika. Ia mencoba mendorong dada pria itu, tapi tenaganya tidak ada apa-apa. Maya memejamkan mata erat-erat, merutuki nasibnya yang harus berakhir menjadi pemuas nafsu pria berkantong tebal hanya karena stigma murahan yang ditempelkan orang-orang padanya.
Tepat saat tangan Bram makin lancang menyentuh lehernya, pintu kayu tebal kamar VIP itu terdorong keras.
Brak!
Suasana kamar mendadak hening. Bram membeku, mengutuk pelan sang pengganggu sambil menoleh ke arah pintu.
Seorang pria tinggi menjulang berdiri di sana. Kemeja hitamnya tergulung sampai siku, memamerkan jam tangan mewah dan aura dingin yang langsung menguasai seluruh ruangan. Matanya tajam, memindai isi kamar sebelum akhirnya terkunci pada Maya yang terduduk gemetar dengan gaun robek di atas sofa.
Julian Vane. Pemilik Vane Group—pria yang namanya saja cukup untuk membuat pengusaha sekelas Bram gemetar.
"T-Tuan Julian?" wajah garang Bram seketika pucat pasi. "Ada apa ini? Ruangan ini sudah saya sewa—"
"Keluar," potong Julian. Suaranya tidak keras, tapi ada ancaman mutlak di sana.
"Tapi wanita ini—"
"Kuulangi sekali lagi: keluar dari ruanganku sebelum kumanfaatkan seluruh sahammu di pasar modal besok pagi," sela Julian, matanya tak lepas dari Maya.
Bram menelan ludah. Tanpa berani membantah lagi, pria itu buru-buru merapikan jasnya dan melangkah cepat keluar, meninggalkan Maya sendirian dengan pria asing berhawa mematikan itu.
Keheningan kembali menyelimuti. Maya menyilangkan kedua tangan di dada, berusaha menutupi gaunnya yang robek sambil menatap Julian dengan napas tersengal-sengal.
"Sialan! Jangan biarkan pria itu datang kesini lagi!" perintahnya tegas.
Julian melangkah mendekat. Langkah kakinya terdengar pelan, tanpa tergesa-gesa. Tanpa mengalihkan pandangan, ia melepas jas mewahnya lalu melemparnya ke pangkuan Maya untuk menutupi bagian dadanya yang terbuka.
Pria itu kemudian berlutut dengan satu kaki di hadapan Maya, menyamakan posisi mereka. Bau wangi maskulin perpaduan black pepper dan cedarwood dari tubuh Julian seketika menggeser bau alkohol menyengat yang ditinggalkan Bram tadi.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Julian. Maya menggeleng pelan.
Jari-jarinya yang panjang dan dingin terulur, menyentuh pelan dagu Maya—menahannya di sana agar Maya berhenti bergetar.
"Kamu..." suara Julian rendah dan dalam, bergema di keheningan kamar. "Wanita yang tadi bernyanyi pelan di ruang tunggu belakang, kan? Manager bilang, namamu….Maya?"
Maya menelan ludah. Pandangannya kabur oleh sisa air mata, namun mata gelap pria di depannya terlihat begitu pekat dan sulit dibaca. "T-Tuan... tolong, biarkan saya pergi..."
Julian menatapnya lurus, wajahnya tanpa ekspresi, tetapi matanya mengunci Maya sepenuhnya.
"Aku tahu apa yang kamu alami dari Catherine" ucap Julian menyebut nama manager club ini dan memberi jedah untuk Maya mencerna "Aku bisa melunasi seluruh hutang keluargamu dan memastikan perawatan ayahmu di rumah sakit terbaik," ucap Julian datar, suaranya seperti tawaran bisnis yang dingin namun realistis. "Tapi tentu saja itu tidak bisa kuberikan secara gratis. Bagaimana?"
Julian melepaskan jemarinya dari dagu Maya, lalu berdiri tegak sembari memasukkan sebelah tangannya ke saku celana.
"Mulai malam ini, kamu tidak boleh melayani pria mana pun. Kamu cuma akan bekerja untukku—melayaniku!"
Julian melirik pintu yang terbuka, lalu kembali menatap Maya yang masih lemas di atas sofa.
"Pikirkan baik-baik!"
Pria itu berbalik pelan, seolah bersiap meninggalkan ruangan. Maya memandang punggung tebal Julian yang berjarak beberapa langkah darinya. Pria ini tampak seram dan dingin, tapi di mata Maya, tawaran itu jauh lebih masuk akal dibanding harus melayani puluhan pria hidung belang yang memandangnya seperti bangkai.
"Tunggu, Tuan Julian! Saya—"
"Nnggh... emmh...!"Lenguhan basah dan terputus-putus lolos dari celah bibir Maya saat Julian melumatnya tanpa ampun. Di dalam kabin mobil yang makin panas dan kedap udara, ciuman Julian terasa brutal, dalam, dan menuntut—seolah pria itu ingin menyedot habis seluruh pasokan oksigen di paru-paru Maya.Kepanikan seketika menguasai benak Maya. Sensasi terkunci di atas pangkal paha Julian dan tekanan ketegangan keras di bawah sana membuat insting bertahannya menyala hebat. Maya mulai memberontak. Kedua tangan kecilnya terkepal, memukul-mukul dada bidang Julian yang keras bagaikan dinding batu."T-Tuan... emph... Tuan...!" ringis Maya di sela-sela pagutan bibir Julian yang kian menggebu.Julian melepaskan tautan bibir mereka secara mendadak, namun tidak dengan rengkuhan tangannya. Ia mengunci rahang Maya dengan jemari lebarnya, menatap wanita itu dengan napas berburu kasar dan sepasang iris kelam yang menggelap oleh nafsu kepemilikan."Berhenti memanggilku Tuan," desis Julian rendah, suara
Sentuhan dingin namun kuat di pinggang Maya memberikan kehangatan yang instan. Dekapan Julian merengkuh tubuhnya yang sempat gemetar, memisahkan Maya secara tegas dari kejamnya tatapan orang-orang di lorong rumah sakit.Julian berdiri tegap, matanya yang tajam menyapu seisi lorong dengan aura intimidasi yang pekat. Ketegangan merayap di udara, membuat seluruh pengunjung dan staf rumah sakit tertunduk, tak berani menatap langsung sepasang iris kelam milik sang miliarder."Kalian tahu siapa wanita yang baru saja kalian hina ini?" suara Julian bergaung berat, rendah, tetapi sanggup menembus setiap sudut lorong yang mendadak sunyi senyap.Julian merapatkan tubuh Maya ke sisinya, menegaskan kepemilikan mutlak di hadapan publik. "Dia adalah calon istriku. Calon istri Julian Vane."Kalimat singkat itu menghantam seisi lorong bagaikan ledakan bom.Kanya terbelalak, napasnya tertahan di tenggorokan. Ibu mertua Maya seketika mundur setengah langkah dengan wajah pucat pasi seperti mayat. Bisik-
"Ibu, aku akan menyelesaikan utang itu... tapi jangan sekali-kali Ibu dan Kanya menggangguku lagi setelah ini!" ancam Maya, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang membakar dadanya.Langkah kaki Maya tertahan keras di tengah lorong rumah sakit yang dingin. Tatapannya menajam pada wanita paruh baya dan adik iparnya yang berdiri menghadang tanpa rasa bersalah.Ibu mertuanya melipat tangan di dada, lalu terkekeh sinis melihat keberanian Maya. "Mengganggumu? Begini ya caramu bicara sekarang? Kamu itu tidak tahu terima kasih banget, Maya... Kalau bukan karena kami yang membukakan jalan, kamu pikir kamu akan bisa bertemu dengan pria kaya yang sekarang menampungmu itu?"Kalimat tidak tahu diri itu bagaikan sembilu yang menyayat hati Maya. "Kalian menjualku ke klub itu! Jangan kalian pikir aku tidak tahu! Kalian sudah menerima uang dari pihak klub, dan jumlahnya sudah jauh lebih dari cukup untuk pelunasan utang almarhum Mas Dimas!""Oh, begitu?" Kanya—adik almarhum suaminya—maju satu lang
"Tuan Julian, maafkan saya sudah membuat tidur Anda terganggu. Ini malam pertama saya di sini, saya terbiasa memiliki mimpi buruk di tempat baru," ucap Maya pelan dari balik pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.Malam pertama di penthouse ini terasa begitu panjang dan menyiksa buat Maya. Sensasi basah dan debaran gila akibat mimpi aneh tadi masih membakar permukaan kulitnya.Julian yang berdiri di luar kamar mandi menatapnya datar. "Kalau begitu, apakah bisa kita tidur lagi? Aku ingin mendapatkan tidur lebih lama, karena malam ini aku merasa mendapatkan tidur terbaikku selama beberapa tahun ini."Sebuah ungkapan jujur yang mengalun polos tanpa dosa, tetapi sukses membuat Maya merutuk dirinya sendiri di dalam hati. Pria itu sama sekali tidak tahu bahwa di dalam mimpi Maya, dialah pelakunya.Maya akhirnya mengekor langkah kaki panjang Julian menuju ranjang raksasa itu. Ia berbaring kembali di samping pria jangkung tersebut, memiringkan tubuhnya membelakangi Julian, lalu kembali bersen






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.