LOGIN“Maya kehilangan suami, rumah, dan perlindungan. Saat keluarganya menjualnya ke klub malam untuk melunasi utang, ia diselamatkan oleh Julian Vane—miliarder dingin yang tidak hanya menawarkan uang, tetapi juga namanya. . Dengan satu pengumuman, Maya menjadi calon istri pria paling berkuasa di kota itu. . Namun, perlindungan Julian memiliki harga. Maya harus tinggal di penthouse-nya, menenangkan insomnia pria itu, dan mematuhi setiap aturannya. Semakin Julian menjaganya, semakin Maya sadar bahwa ia tidak sedang tinggal di rumah mewah. . Ia sedang hidup di dalam sangkar emas milik pria yang tidak akan pernah membiarkannya pergi.
View MoreSuara deburan ombak yang menghantam dinding dermaga terdengar sayup-sayup dari balik jendela kayu. Di dalam kamar tidur yang sederhana itu, Maya membungkuk di atas ember kecil di sisi tempat tidur, mencengkeram erat pinggirannya sementara tubuhnya bergetar hebat. Rasa mual yang luar biasa kembali menyerang lambungnya tanpa ampun, menguras sisa-sisa tenaga setelah perjalanan panjang yang melelahkan.Miranda bergegas masuk dengan membawa segelas air hangat dan handuk kecil di tangannya. Wanita itu langsung berlutut di lantai, menepuk-nepuk punggung adiknya dengan lembut lalu membantu Maya menegakkan tubuhnya."Minumlah perlahan, Maya," bisik Miranda cemas, menyodorkan gelas tersebut ke bibir adiknya.Maya menerima gelas itu dengan tangan gemetar, meneguk sedikit air hangat untuk meredakan rasa pahit di kerongkongannya. Napasnya masih memburu, peluh dingin membasahi pelipisnya.Miranda menatap wajah pucat Maya lekat-lekat, mengamati setiap perubahan ekspresi yang terukir di sana. Sebua
"Jangan pernah coba-coba menguji batas kesabaranku, Maya."Kalimat peringatan itu masih aterngiang di kepala Maya saat ia membuka mata di tengah gelapnya kamar utama. Malam telah merayap jauh, meninggalkan keheningan total di dalam penthouse mewah tersebut. Julian tertidur lelap di sisi ranjang, sebelah tangannya masih melingkar protektif di pinggang Maya dengan cengkeraman bawah sadar yang kuat.Maya menahan napas. Ini adalah celah terkecil yang ia miliki, dan mungkin kesempatan terakhir sebelum pengawasan Julian semakin diperketat pasca pernikahan mereka.Dengan gerakan sangat perlahan, Maya mengangkat tangan Julian dari pinggangnya, menggantinya dengan guling agar pria itu tidak menyadari kehilangannya. Jantungnya berdegup kencang menghantam tulang rusuk. Maya turun dari ranjang tanpa alas kaki, bergerak dalam remang-remang cahaya lampu kota yang menembus tirai kaca. Ia tidak membawa tas mewah, tidak membawa ponsel yang tertanam pelacak GPS, dan tidak mengambil satu pun perhiasan
"Jangan coba-coba membuang muka dariku, Maya."Bisikan rendah itu meluncur tepat di samping telinga Maya, mengunci wanita tersebut dalam kungkungan berat tubuh Julian di atas ranjang. Kain gaun pengantin hitam legam yang dikenakannya terasa semakin menyesakkan dada, berpadu dengan kepenatan fisik dan mental yang telah mencapai batas maksimal setelah prosesi pemberkatan paksa tadi.Maya mengepalkan kedua tangannya di atas seprai, berusaha menepis gelombang pusing yang mendadak kembali menyerang kepalanya. Rasa mual di lambungnya terasa semakin nyata, sebuah reaksi penolakan biologis yang tidak bisa ia kendalikan meski otaknya terus memerintahkan tubuhnya untuk tetap kuat.Julian tidak memberikan waktu bagi Maya untuk bernapas atau memulihkan diri. Pria itu menangkup rahang Maya dengan satu tangan, memaksa wajah pucat wanita tersebut untuk mendongak dan menatap langsung ke dalam manik matanya yang gelap gulita. Tidak ada kelembutan di sana, yang ada hanya kilau dominasi mutlak seorang p
"Tanda tangani, Maya."Perintah itu meluncur tanpa ampan dari bibir Julian Vane, memecah keheningan kaku di ruang pemberkatan privat lantai dasar penthouse. Di atas meja altar berlapis kayu mahoni gelap, dokumen tebal dengan stempel resmi terbuka lebar. Ujung pena bermata emas terulur tepat di antara jemari Maya yang gemetar hebat.Maya menatap ujung pena tersebut seolah benda itu adalah bilah pisau yang siap menorehkan luka permanen. Kepalanya masih terasa pening, sisa-sisa gelombang mual tadi pagi berputar pelan di dalam lambung, memperburuk ketegangan mental yang sudah berada di ambang batas. Sekeliling ruangan terasa menyempit. Sean berdiri tegak tanpa ekspresi di sisi kiri altar, sementara sang pendeta sipil menunduk patuh menunggu detik-detik pengesahan ikatan tersebut.Tidak ada jalan mundur. Julian berdiri terlalu dekat, mengawasi setiap gerak-gerik wanita di sampingnya dengan sorot mata predator yang tidak memberi celah sedikit pun untuk melarikan diri.Dengan napas tertahan,












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.