Compartir

Bab 83. Penahanan Riri

last update Última actualización: 2026-01-17 01:59:59

"Papa dari mana aja. Kenapa jam segini baru pulang," tegur Miranda.

Miranda masih terjaga di dalam kamar. Jam sudah menunjukkan pukul 12 lewat. Dia tidak bisa tidur karena sang suami belum pulang dan tidak dikabari pulang telat. Bagaimana jika terjadi sesuatu. Suaminya itu bukan lagi pria sibuk. Sejak semua urusan diserahkan ke Ansel, sang suami sering di rumah dan menemaninya. Bukan berarti suaminya itu tidak ada kerjaan.

"Ma, tadi kan Papa sudah izin sama Mama. Papa mau ketemu sama teman Papa," sahut Gilang menyusul sang istri yang berada di atas kasur.

"Kenapa sampai larut seperti ini?"

"Kenapa? Apa Mama kangen sama Papa. Tidak mau pisah sama Papa?" canda Gilang.

"Papa tidak usah ngalih pembicaraan," ujar Miranda melotot.

"Ya ya Papa minta maaf. Lain kali Papa nggak akan pulang larut," ngalah Gilang daripada harus tidur diluar.

Belajar dari pengalaman dulu. Jika melawan sang istri saat sedang marah, tidak jarang dia diusir dari kamar. Untung saja sejak anak mereka besar, d
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Dipaksa Jadi Istri Kedua Suami Adikku    Bab 103. Sandiwara Lili

    "Apa maksud kamu tadi. Kenapa kamu mengambil kalung itu dari Riri!" seru Ansel ketika mereka berdua sudah ada di depan rumah. "Nggak, Ansel. Aku nggak mengambilnya. Riri yang kasih," ujar Lilis tetap berbohong. "Aku tidak buta Li. Aku melihat bekas merah di leher Riri." Lili menggeleng. Dari semua orang yang marah, kemarahan Ansel yang paling ditakuti. Ansel adalah sumber kehidupannya. "Maaf Ansel. Aku mengaku salah aku khilaf," kata Lili mengalah. Agar amarah Ansel sedikit mereka. Ansel menghela nafas berat. Semakin lama dia semakin tidak mengenali sosok Lili. Lili sudah sangat berubah. "Ansel, kamu jangan marah ya. Tadi kedua orang tua kamu sudah memarahi aku. Masak kamu juga ikut memarahi aku. Aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi," mohon Lili dengan wajah semelas mungkin. Cari iba. "Sebaiknya kamu pulang dulu. Kita bicara lain waktu." "Ansel!" eru Lili tidak terima. "Pak, tolong antar dia pulang," suruh Ansel kepada sopir yang sudah berdiri di depan rumah. "Ansel t

  • Dipaksa Jadi Istri Kedua Suami Adikku    Bab 102. Menantu Satu-satunya

    *** Setelah selesai dari kamar mandi. Lili mengantar Riri kembali ke tempat duduk semula. Raut wajahnya kini sudah kembali cerah. Sehingga Gilang mencium bau sesuatu yang mencurigakan. Ditambah Riri yang terlihat murung. Dalam hitungan detik, Gilang langsung menemukan penyebabnya. Mata elangnya menyadari kalau kalung warisan keluarga sudah pindah tempat. "Kenapa kalung menantuku ada sama kamu?" geram Gilang. Gilang sempat memperhatikan area sekitar leher Riri. Dari jarak beberapa meter bekas luka itu terlihat jelas. Miranda sontak memperhatikan leher Lili. Bener seperti yang dikatakan suaminya. Tadi dia ingat jelas jika kalung itu masih bertengger di leher Riri. "Ri, kenapa kamu memakai kalung punya Riri?" tegur Miranda. Masih bisa bicara dengan sabar. Tidak seperti suaminya. "Oh, ini. Lili yang kasih ke aku tadi," sahut Lili dengan pede. Mata Miranda dan Gilang tertuju ke arah Riri. Termasuk Ansel. "Bener Li?" Riri tidak berani menatap mata kedua mertuanya. Menunduk dan men

  • Dipaksa Jadi Istri Kedua Suami Adikku    Bab 101. Perampasan

    "Ma, Lili mau ke kamar mandi dulu ya. Tak apakan?" potong Riri tidak enak. Tapi dia sudah tidak tahan mau buang biar kecil."Kamu ini. Mau ke kamar mandi aja pun. Sini Mama temani. Perut kamu sudah besar.""Tidak apa Ma. Lili bisa sendiri," tolak Riri halus. "Li, bagaimana kalau aku saja yang menemani kamu ke kamar mandi," tawar Lili ramah."Tidak u ….""Ayo aku temani."Lili segera bangun dan membantu Riri berdiri. Dengan kuku jari jempol menekan kuat ke tangan Riri sebagai peringatan agar tidak melawan."Ri, kamu di sini tamu," tegur Gilang tidak suka Riri bersama Lili. Pasti ada udang di balik batu."Nggak apa Pa. Biar, Kak Riri yang membantuku," bella Riri menahan sakit. Saat Gilang melarang, Lili semakin menekan kuku jempolnya. Tidak ada satupun yang menyadari hal itu. Sedikit ditutupi dengan tubuh mereka yang berdiri dempetan."Sudah Pa. Biarin aja Riri membantu Lili. Mungkin menantu kita lebih suka sama kak kan ya."Gilang hanya bisa berpasrah membiarkan mereka berdua pergi.

  • Dipaksa Jadi Istri Kedua Suami Adikku    Bab 100. Dibikin Panas

    Riri dan Ansel juga penasaran apa hadiah yang akan diberikan kepada Lili. Dari ukuran kotak hadiah, itu seperti baju atau tas. Jangan tanya masalah harga dengan Gilang. Senyum Lili luntur melihat isi kado. Itu hanya beberapa detik dia kembali memaksa senyum mengetahui hadiahnya hanya cake. "Gimana? Kamu suka. Ini cake yang Om dapatkan dari luar negeri. Katanya kamu belum pernah keluar negeri. Ini cake yang cukup terkenal," ujar Gilang tenang sambil menyeruput air. Jangan lupa dengan mata elang Gilang. Meskipun senyum Lili luntur hanya sedetik, senyum itu sudah cukup membuatnya puas. Lili terlihat sangat kecewa dengan hadiah yang diberikan. Jangan pernah berharap Gilang akan memberikan barang mewah untuk Lili. Semua barang tersebut hanya boleh diberikan untuk Riri, menantu satu-satunya. Mana mungkin dia repot h repot menyiapkan barang mewah untuk Lili. Orang yang sudah menyakiti menantunya. Kalau untuk Riri jangan ditanyakan, dia akan memberikan apapun. Tinggal sebut saja. "Iya Om

  • Dipaksa Jadi Istri Kedua Suami Adikku    Bab 99. Hadiah

    Lili tiba di kediaman Gilang. Orang yang menyambut kedatangannya adalah Ansel. Hanya kebetulan Ansel berada di dekat pintu masuk ketika Lili tiba. Begitu melihat penampilan Lili, dia menarik Lili menjauh dari pintu. "Li, kamu kenapa berpakaian seperti ini?" tanya Ansel setelah melepaskan tangan Lili. "Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Lili balik dengan acuh. "Kakak kamu itu tidak pernah berpenampilan seperti ini. Baju yang kamu pakai …." "Kamu tenang saja Ansel. Aku tahu apa yang aku lakukan." "Maksudnya kamu?" "Ansel, apa Riri sudah sampai?" teriak Miranda dari dalam rumah. Obrolan Ansel dan Lili terputus dengan seruan Miranda. "Tuh, Mama kamu sudah panggil kita. Tidak baik mereka menunggu kita terlalu lama," ujar Lili menepuk bahu Ansel pelan. Lalu melengos pergi begitu saja. 'Li, apa yang sedang kamu rencanakan? Pasti ada sesuatu yang kamu rencanakan di balik semua ini kan? Aku harap kamu tidak melakukan sesuatu yang bodoh,' terka Ansel dalam hati sambil mengikuti Lili.

  • Dipaksa Jadi Istri Kedua Suami Adikku    Bab 98. Undangan Makan Malam

    *** "Ada apa Ansel menghubungiku," gumam Lili memperhatikan panggilan masuk dari Ansel. Ansel sudah jarang menghubungi Lili. Ditambah mereka tadi sudah bertemu. "Lebih baik aku angkat dulu," lanjut Lili. Lili segera menggeserkan tombol warna hijau di layar handphone. Otomatis panggilan langsung terhubung. Lalu menyamakan diri di atas sofa. "Ada apa, Ansel?" "Li, malam besok kamu ada waktu?" tanya Ansel to the point. 'Wah, ada angin apa ni Ansel tanya waktu aku. Apa dia mau ajak dinner. Sebagai pengganti makan siang tadi yang kacau,' batin Lili sudah duluan kesenangan. "Hallo, Li. Kamu masih di sana?" sapa Ansel yang tidak mendapatkan respon. "Ah, aku ada waktu kok. Besok aku seharian tidak kemana-mana," balas Lili cekikikan. "Baguslah." "Apa kamu mau ngajak aku dinner?" "Bukan, Mama aku menyuruh kamu datang ke rumah besok malam." "Untuk apa?" Seketika Lili langsung bete. Ternyata tidak sesuai dengan harapannya. "Makan malam bersama." "Tumben. Kenapa tiba-tiba?" "I

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status