LOGIN"Iya, tadi Alka dan mama main baleng. Telus Alka lapal. Telus mama teliak hantu, lalu mama pergi ninggalin Alka," ulang Arka. "Hantu?" tanya Riri kembali mengingat orang yang berteriak hantu. "Iya mama lihat hantu. Tapi Alka ndak lihat hantu." "Di mana tadi Arka dan mama Arka makan?" tanya Riri memastikan apa orang tadi adalah Lili. "Tu, di cana," sahut Arka menunjuk ke arah tempat Riri makan tadi. 'Jangan-jangan yang berteriak hantu tadi adalah Lili. Dia mengira kalau aku sudah menjadi hantu. Ditambah lagi penampilan aku memang mirip hantu seperti kata papa dan Alex.' "Arka jangan menangis lagi ya. Ada kak Alex di sini," bujuk Alex dan menyerahkan balon miliknya. Arka menerima dengan senang hati. Dia suka sama balon. "Alka ndak nangis lagi. Kan ada kak Alek," sahut Arka senang. "Bagus," puji Alex mencoba menjadi kakak yang baik dan dewasa. "Emmm ... apa ini Mama Kak Alex?" tanya Arka penasaran. Curi-curi pandang ke arah Riri. "Iya, ini Mama Kak Alex," jawab Alex dengan
Alex dan Riri berjalan ke arah taman. Riri memilih duduk pada kursi yang ada di taman. Sedangkan Alex segera berbaur dengan anak lain yang ada di taman. Alex merupakan anak yang cepat akrab dengan anak yang lain sejak dia bersama dengan Riri. Sikapnya juga banyak berubah. Dia sudah membuka diri kepada orang lain. "Mama beli balon ya," minta Alex menatap penjual balon. Alex sudah selesai bermain. Matanya tergiur dengan balon. Mainan khas anak-anak. "Boleh, setelah kita beli balon, kita akan pulang ya." "Oke." "Ayo, Mama antar." "Tidak perlu, Ma. Biar Alex saja," tolak Alex yang sudah bisa mandiri. "Baiklah, kamu jangan jauh-jauh. Langsung balik ke sini." "Baik, Ma," ujar Alex. Alex dengan segera berlari ke arah tukang jual balon. Dia ingin membeli balon yang berbentuk ikan. Dia sangat menyukai ikan. Satu lagi berbentuk princess, buat pamannya agar tidak kesepian lagi. Riri duduk lagi di bangku menunggu Alex. Dia masih bisa melihat Alex dari sana. Di antara hembusan angin,
Gilang segera bangun dan berjalan ke arah pelayan untuk meminta kain dan akan meminta pelayan untuk membersihkan jus yang tertumpah tadi. "Alex ikut." Alek yang merasa bersalah juga ikut pergi bersama Gilang. Riri masih dalam posisi berdiri. Dia tidak berani duduk karena bisa mengotori kursi yang terbuat dari bahan kain. Menunggu Gilang balik, dia mendengar suara pintu cafe yang terbuka. Dia dengan reflek menghadap ke arah pintu cafe yang terbuka. Dengan kedua tangan yang diangkat sejajar pinggang seperti orang basah kuyup pada umumnya. "Hantu!" teriak orang yang baru saja ingin masuk. Dia tidak jadi masuk dan berlari dari sana. "Apa? Hantu? Di mana hantu?" tanya Riri yang juga takut dengan hantu. Karena dia masih belum membuka mata, maka dia tidak bisa melihat apapun. Dia jadi sangat panik dan memundurkan langkah. Hampir saja Riri terjatuh, untung saja ada Gilang dan Alex yang menahan tubuh Riri agar tidak menabrak kursi yang lain. "Ada apa Ri?" tanya Gilang melihat Riri yang
"Ri, kamu di mana?" panggil Ansel lagi. "Ansel, kamu kenapa di sini?" tanya Gilang kaget melihat Ansel yang memanggil Riri. 'Apa tadi dia melihat Riri? Mereka belum saatnya bertemu. Aku ingin hadiah terbaik untuk ulang tahun cucuku' Gilang segera memeriksa ke seluruh ruangan untuk mencari Riri. Matanya menemukan Riri yang berjongkok di samping sofa, tidak lagi di bawah meja. Dia tahu jika mereka tidak sengaja bertemu. Gilang langsung maju beberapa langkah untuk mencegah Ansel menemukan Riri. Rencana mereka tidak boleh gagal, Ansel tidak boleh bertemu dengan Riri terlebih dahulu. Masih ada waktu seminggu lagi untuk mereka bisa bertemu. Rencana kado untuk ulang tahun Arka tidak boleh gagal. "Papa, apa Papa melihat Riri?" tanya Ansel dengan menggebu. "Kamu melihat Riri? Dimana?" tanya Gilang balik. "Tadi dia ada di sini Pa." "Apa kamu tidak salah mengenal orang? Jangan-jangan yang kamu lihat adalah Lili?" tanya Gilang berpura-pura melihat ke sekitar berpura-pura mencari Riri.
"Kenapa kamu malah memanggil Papa sayang, sekarang mama sedang minta maaf sama kamu. Apa kamu mau memaafkan Mama?""Alka udah maapin Mama, Pa," sahut Arka. Arka melepaskan kaki Ansel. Kemudian berlari lagi ke arah Lili."Mama adalah Mama Alka," gumam Arka memeluk Lili. "Terima kasih sayang kamu memang anak yang sangat baik," puji Lili sangat tidak ikhlas."Ma, apa boleh, becok kita main belcama. Alka mau main cama Mama," pinta Arka menatap mata Lili dengan lekat."Iya sayang, tentu. Besok Mama akan membawa kamu jalan-jalan," ujar Lili memeluk Arka agar Arka mau memaafkan dia.'Dasar anak Setset (di sensor aja ya), bisa-bisanya cari kesempatan sekarang. Untung ada Ansel di sini.' Arka sangat senang dipeluk oleh Lili. Dia membalas pelukan Lili dengan sangat kuat. Sekarang air matanya kembali menetes, tapi dengan cepat menghapusnya agar Lili tidak melihatnya. Dia tidak mau dicap sebagai anak yang cengeng.Ansel menatap kejadian itu dengan hati yang tidak karuan. Dia sangat berharap ji
Arka masih terbayang-bayang dengan Alex yang yang diperhatikan oleh Riri karena bajunya yang kotor. Sepanjang pulang dari bermain bersama para kakeknya, dia memikirkan cara yang sama untuk mendapatkan perhatian dari Lili. Di tangan Arka sudah ada satu cup es krim yang dia minta pada para pembantu. Dia akan melakukan hal yang sama untuk menarik perhatian Lili. Dia sudah berada di depan kamar Lili dari tadi. Sedikit takut untuk masuk. Dengan takut takut dia mengintip Lili yang ada di kamarnya. Arka segera mundur ketika Lili bangun dari tempat tidur. Dia semakin tambah gelisah mendengar pintu yang dibuka oleh Lili."Kamu ngapain di sini?" tanya Lili dengan kasar melihat Arka yang ada di dekat pintu kamarnya.Lili ingin ke dapur untuk mengambil minuman. Dia hampir saja menabrak Aria yang berdiri tidak jauh dari pintu. "Mama," panggil Arka dengan takut-takut menatap Lili."Kalau tidak ada yang penting, sana kamu pergi dari sini," usir Lili."Emm itu … Alka mau …," kata Arka dengan gugup
"Lalu, apa yang harus kami lakukan Dok?" "Usahakan agar Ibunya tetap tenang dan nyaman. Hindari dia memikirkan hal yang berat. Selalu awasi sang Ibu, jangan biarkan sendiri. Hormon ibu hamil tidak pernah ada yang bisa tebak. Dia bisa senang dan sedih di waktu yang dekat," saran Meka. 'Sebaiknya a
Beberapa menit kemudian, Riri bosan sendiri di rumah. Dia tidak ada kawan bermain. Tidak ada tontonan yang seru juga. "Apa aku kembali ke apartemen dulu ya. Mumpung tidak ada orang lain. Biasanya kalau ada mama dan papa, mereka akan larang aku pulang. Aku ingin menulis diary aku. Aku sudah lama t
Gilang membawa Ansel ke ruang kerjanya. Di sana mereka bisa lebih leluasa. Dia juga ingin mengatakan sesuatu hal kepada Ansel."Jadi, apa yang terjadi sama Lili?" tanya Ansel begitu bokongnya menyentuh sofa.Gilang menghembus nafas berat. Masalah tentang Riri bukan masalah sepele. "Intinya Lili pi
Perhatian Riri teralihkan oleh suara pintu yang terbuka. Dengan langkah hati-hati dia melihat siapa orang yang masuk. Orang yang masuk adalah Lili. "Lili, kenapa kamu bisa ke sini," tanya Riri heran yang bisa berpapasan dengan Lili. "Apa aku tidak boleh ke sini lagi? Inikan rumah milik Ansel. An







