LOGINDua belas tahun cinta, kesetiaan, dan janji. Semua hancur dalam satu tembakan. Aria mengira dia tahu arti cinta. Pengorbanan, kesabaran, dan keyakinan buta pada pria yang sudah dia panggil tunangannya selama lebih dari 10 thahun. Namun, di Hari Valentine, ketika pistol diarahkan ke mereka, Liam secara naluriah melindungi mantan kekasihnya, Sophia, sementara Aria dibiarkan berdarah dan diabaikan. "Kamu hampir mati!" "Dan dia bahkan nggak menatapku, Lili. Dia malah memeluk wanita itu seolah-olah aku nggak berarti apa-apa." Terbelah antara patah hati dan harga diri, Aria mengambil langkah berani. Dia menikahi Aiden Candra, rival Liam yang kaya, dalam tindakan balas dendam yang impulsif. Namun, Aiden bukan sekadar pelarian. Dia pria yang kuat, posesif, dan secara tak terduga protektif. Sekali dia menginginkan sesuatu, dia tidak akan melepaskannya. Kini, terjebak antara cinta yang mengecewakannya dan pria yang mungkin menuntut lebih dari yang siap dia berikan, hati Aria menghadapi ujian terakhirnya. Akankah dia akhirnya menjadi pilihan pertama seseorang, atau justru kehilangan dirinya sendiri dalam perjuangan itu?
View MoreSudut Pandang Aria:Aku terbangun dengan kepala berdenyut hebat, mulutku kering seperti ampelas. Sinar matahari menyusup lewat celah tirai, menusuk mataku seperti jarum.Sambil mengerang, aku berguling mencari kegelapan yang menenangkan, lalu membeku ketika tanganku menyentuh sesuatu yang padat dan hangat.Mataku terbuka lebar meski terasa perih. Di sana, jaraknya kurang dari sejengkal, terbaring Aiden. Di ranjang yang sama. Bersamaku.Sial.Aku duduk tersentak, langsung menyesali gerakan mendadak itu ketika kepalaku berdenyut protes. Ruangan berputar-putar hingga membuatku mual, memaksaku memejamkan mata dan menarik beberapa napas dalam.Saat berani menatap lagi, dia masih di sana, tidur dengan tenang. Rambut hitamnya terbaring acak di bantal, dada telanjangnya naik turun mengikuti napasnya.Apa yang terjadi semalam? Pikiranku berpacu, berusaha menyusun potongan ingatan yang terpecah-pecah. Makan malam. Anggur ... begitu banyak anggur. Aiden menggendongku ... lalu apa?Aku melirik dir
Sudut Pandang Aiden:Mobil menepi dengan mulus ke pinggir jalan. Aku membantu Aria mendekat ke jendela, yang dia buka dengan tangan gemetar. Udara malam yang sejuk langsung masuk, sedikit mengusir kabut dari pikiran kami berdua.Setelah beberapa tarikan napas dalam, warna wajahnya kembali normal dan rasa mual itu tampaknya sudah mereda. Dia bersandar ke dadaku, kepalanya menempel di dadaku sambil menunjuk ke luar jendela."Aiden, mobil itu goyang banget."Aku bahkan tidak menoleh, mendorong tangannya kembali ke bawah. "Kamu cuma berhalusinasi.""Nggak, aku nggak berhalusinasi," bantahnya dengan keyakinan khas orang mabuk. "Lihat, mobil itu benaran goyang parah."Dia tiba-tiba terdiam, lalu menatapku dengan mata membelalak penuh rasa terkejut. "Goyangnya parah banget .... Menurutmu mereka lagi ... lagi berhubungan di dalam?"Aku terdiam. Di ruang mobil yang sempit, kata-katanya yang tanpa filter terdengar jelas.Situasi yang absurd ini, istriku yang biasanya pendiam dan sopan, tiba-tiba
Sudut Pandang Aiden:Pendingin udara di dalam mobil menyala kencang, tetapi pipi Aria justru semakin memerah dari menit ke menit, jelas karena pengaruh alkohol.Saat mobil berhenti di lampu merah, aku menyadari kalau dia tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak kami meninggalkan restoran, dan keheningan di dalam mobil terasa tidak biasa, begitu menekan.Untuk pertama kalinya, aku justru ingin mengajaknya bicara.Aku melirik ke arahnya. Dia melakukan sesuatu yang aneh, tangan kirinya menempel pada kaca jendela, jemarinya mencengkeram udara seolah-olah mencoba meraih sesuatu yang tidak kasatmata.Ketika lampu berganti hijau dan mobil kembali melaju, dia kehilangan keseimbangan sesaat, kepalanya membentur kaca.Dia meringis, tangannya terangkat ke dahi, mengusap bagian itu dengan gerakan kikuk."Biar aku lihat," kataku sambil meraih tangannya dari dahinya. Kulitnya hangat di bawah sentuhanku, terlalu hangat.Matanya, mata yang selalu menarik perhatianku, tampak sayu oleh alkohol dan sesua
Sudut Pandang Aria:Aku menyadari kalau aku sangat menikmati makan malam bersama Aiden di Restoran Akasha ini, bahkan lebih baik dari kuharapkan.Pemandangan lampu kota yang terbentang luas menciptakan suasana bak mimpi, selaras dengan hidangan lezat dan percakapan ringan di antara kami."Coba ini," saran Aiden sambil menuangkan cairan merah tua ke dalam gelasku. "Ini anggur vintage langka dari kebun kecil di Franca. Aku rasa kamu bakal menyukainya."Aku ragu, teringat toleransiku terhadap alkohol yang rendah. "Sepertinya nggak dulu deh. Aku nggak kuat minum anggur.""Cuma seteguk," kata Aiden, bersikeras dengan nada tegas yang entah kenapa membuatku ingin menurutinya. "Profil rasanya luar biasa."Satu teguk berubah menjadi beberapa gelas seiring berjalannya malam.Anggurnya memang istimewa, menghangatkanku dari dalam dan melonggarkan ketegangan yang baru kusadari selama ini bertumpuk di bahuku."Pipimu memerah," ujar Aiden, matanya terpaku di wajahku dengan intensitas yang membuat det






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.