Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!

Ditinggal Nikah? Kukencani Rivalnya!

By:  blazers990Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
50Chapters
22views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Dua belas tahun cinta, kesetiaan, dan janji. Semua hancur dalam satu tembakan. Aria mengira dia tahu arti cinta. Pengorbanan, kesabaran, dan keyakinan buta pada pria yang sudah dia panggil tunangannya selama lebih dari 10 thahun. Namun, di Hari Valentine, ketika pistol diarahkan ke mereka, Liam secara naluriah melindungi mantan kekasihnya, Sophia, sementara Aria dibiarkan berdarah dan diabaikan. "Kamu hampir mati!" "Dan dia bahkan nggak menatapku, Lili. Dia malah memeluk wanita itu seolah-olah aku nggak berarti apa-apa." Terbelah antara patah hati dan harga diri, Aria mengambil langkah berani. Dia menikahi Aiden Candra, rival Liam yang kaya, dalam tindakan balas dendam yang impulsif. Namun, Aiden bukan sekadar pelarian. Dia pria yang kuat, posesif, dan secara tak terduga protektif. Sekali dia menginginkan sesuatu, dia tidak akan melepaskannya. Kini, terjebak antara cinta yang mengecewakannya dan pria yang mungkin menuntut lebih dari yang siap dia berikan, hati Aria menghadapi ujian terakhirnya. Akankah dia akhirnya menjadi pilihan pertama seseorang, atau justru kehilangan dirinya sendiri dalam perjuangan itu?

View More

Chapter 1

Bab 1 Valentine yang Hancur

Sudut Pandang Aria:

Aku tak pernah menyangka Hari Valentine akan menjadi hari di mana hatiku benar-benar hancur.

Liam sudah memesan meja di Restoran Mutiara, restoran paling bergengsi di dunia kuliner di Manha. Lampu gantung kristal berkilauan di atas kami, udara dipenuhi lantunan musik jazz lembut dan aroma mawar di setiap meja. Seharusnya malam itu menjadi kencan Valentine yang sempurna, jenis malam yang kelak diceritakan pada anak-anak kami suatu hari nanti.

"Kamu kelihatan cantik malam ini, Aria," bisik Liam, tangannya menggenggam tanganku.

Aku tersenyum, berusaha mengabaikan jarak yang mulai terasa di antara kami akhir-akhir ini. Sejak Sophia Cahya kembali ke Kota Navani dua bulan lalu, hubunganku dengan Liam berubah. Meski begitu, aku tetap bertahan dengan harapan. Lagi pula, kami akan menikah dalam lima hari lagi.

"Aku senang kita bisa merayakan Valentine bersama," kataku pelan.

Liam mengangguk, tetapi pandangannya tampak jauh. "Tentu saja. Aku nggak akan melewatkannya."

Meski begitu, kata-katanya terasa hampa. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak mengingat semua janji makan malam yang dia batalkan belakangan ini. Selalu dengan alasan yang sama. Sophia butuh dirinya.

Saat hidangan pembuka kami datang, aku melihat mata Liam tiba-tiba membelalak. Mengikuti arah pandangannya, hatiku langsung mencelus.

Sophia berdiri di sana, memesona dalam balutan gaun putih yang membingkai tubuh rampingnya, rambut pirangnya tergerai lembut di bahu. Mata birunya yang besar dan tampak polos menyapu ruangan sampai berhenti di meja kami. Sebuah senyuman perlahan terbentuk di bibirnya.

"Wah, manis sekali." Suara Sophia bergema saat dia melangkah anggun ke arah kami, gaun sutra putihnya menempel sempurna seperti dilukis di kulitnya. "Liam, Aria, kebetulan sekali. Manha sebesar ini, tapi entah kenapa aku ketemu kalian terus." Senyumnya manis seperti gula, tetapi matanya jelas tidak begitu.

Aku menggigit bagian dalam pipiku. Ini sudah "kebetulan" yang ketiga bulan ini.

Liam langsung berdiri. "Sophia, ini benar-benar kejutan."

Kehangatan di suaranya tidak bisa disangkal.

"Aku cuma mau ketemu beberapa teman," katanya, menatapku sekilas sebelum kembali memusatkan perhatian pada Liam. "Tapi sepertinya mereka terlambat."

"Kenapa nggak duduk bareng kami dulu sambil menunggu?" ucap Liam, terlalu cepat, terlalu bersemangat.

Aku terdiam sejenak, tetapi dadaku terasa seperti dipukul benda tumpul, sakit yang menyebar perlahan. Kencan romantis Valentine kami baru saja berubah menjadi acara untuk tiga orang.

Sepanjang malam, Sophia mendominasi percakapan dengan cerita-cerita yang jelas dirancang untuk mengingatkan Liam pada masa lalu mereka. Setiap kali, Liam akan mengangguk antusias, tenggelam dalam kenangan yang sama sekali tak melibatkan aku. Aku duduk di sana, nyaris tak terlihat, menyaksikan tunanganku dan cinta pertamanya saling menggoda di depan mataku sendiri.

"Sophia," kataku pada akhirnya, kesabaranku menipis. "ini Hari Valentine. Aku dan Liam sedang makan malam berdua."

"Oh, Aria." Suara Sophia terdengar seperti berpura-pura simpati. "Jangan terlalu posesif. Aku dan Liam cuma teman lama yang lagi ngobrol. Benar nggak, Li?"

"Aria." Suara Liam terdengar tajam. "Jangan terlalu sensitif. Sophia cuma ngobrol biasa."

Aku menatapnya, tertegun oleh tegurannya. Ini seharusnya menjadi malam milik kami, tetapi kenapa dia malah membelanya?

"Lebih baik aku pergi saja," kataku pelan sambil meletakkan serbet di meja. Rasa sakit karena pengkhianatan Liam terlalu berat untuk kutanggung.

Sebelum aku sempat berdiri, suara kaca pecah memecah suasana restoran. Suara seorang pria, keras dan panik, menembus suasana elegan itu.

"Sophia! Di mana dia?!"

Aku melihat seorang pria berantakan berusia 30an, matanya liar dan tubuhnya sempoyongan. Yang membuatku takut bukan penampilannya, melainkan pistol yang digenggam oleh tangannya yang gemetar.

"Ryan," desah Sophia dari meja kami, wajahnya pucat seketika.

"Kalau aku nggak bisa memiliki kamu, nggak ada yang bisa!" teriak Ryan, suaranya pecah karena emosi.

Semuanya terjadi dalam gerak lambat. Wajah Ryan berubah marah. Dia mengangkat pistolnya, mengarahkannya langsung pada Sophia.

Liam bahkan tidak menatapku. Kursinya bergeser keras saat dia berlari ke arah Sophia, memeluknya seolah-olah wanita itu adalah hal paling berharga di dunia. Tangannya melingkari tubuhnya, suaranya panik, berbisik dengan janji-janji yang tak pernah dimaksudkan untuk kudengar.

Sedangkan aku? Aku terdorong ke samping, berdiri tanpa perlindungan di depan moncong pistol itu.

Suara tembakan menggelegar.

Rasa sakit menyambar lengan atasku saat tubuhku jatuh ke lantai. Darah hangat merembes melalui gaunku, tetapi mataku hanya terpaku pada pemandangan di depanku. Liam yang memeluk Sophia erat-erat, tubuhnya melindungi tubuh wanita itu, lengannya menyangga kepala Sophia dengan lembut.

Dia bahkan tidak menatapku. Saat itu, aku benar-benar tak terlihat baginya. Di matanya, hanya ada Sophia.

"Bu, kamu baik-baik saja?" tanya seorang pelayan dengan cemas. Dia berlutut di sampingku dengan mata membelalak saat melihat darah di lenganku.

Untungnya, aku hanya terluka gores. Saat tembakan terdengar, para satpam langsung menerjang Ryan dan mengalihkan arah bidikannya. Peluru itu hanya menggores lenganku, bukan menembusnya.

Rasa sakit di lenganku tak sebanding dengan kepedihan yang mengoyak hatiku.

Saat paramedis datang, Liam akhirnya baru menyadari keberadaanku. Matanya membelalak ketika melihat noda merah yang meluas di lenganku.

"Aria!" panggilnya dengan wajah memucat. "Astaga, kamu terluka?"

"Aku nggak apa-apa," bisikku, meski sebenarnya tidak ada satu pun yang baik-baik saja. Tidak akan pernah.

"Aku minta maaf," katanya terbata-bata sambil membantuku berdiri. "Sophia lebih dekat denganku, aku cuma bereaksi. Semuanya terjadi begitu cepat."

Aku mengangguk kaku, menerima alasannya karena menolak mengakuinya akan lebih menyakitkan. Namun, kebenaran tidak dapat dihindari. Dia tidak memilih Sophia karena jaraknya lebih dekat. Dia memilihnya karena Sophia lebih penting.

"Kita harus ke rumah sakit," katanya, akhirnya menunjukkan kepedulian sambil memeriksa lukaku.

Ruang gawat darurat penuh sesak. Saat dokter membersihkan dan menjahit lukaku, Liam mondar-mandir di ruangan kecil itu, resah.

"Kamu bikin aku takut," katanya, berhenti sejenak untuk menyibak rambut dari wajahku. "Waktu aku lihat darah itu ...."

Sesaat, aku membiarkan diriku percaya bahwa dia benar-benar peduli. Bahwa mungkin apa yang terjadi di restoran hanyalah refleks, bukan cerminan isi hatinya.

Kemudian, ponselnya bergetar. Dia melirik layar dan dari perubahan di wajahnya .... Rasa bersalah, panik, dan sesuatu yang belum pernah kulihat ditujukan padaku, menjelaskan semuanya bahkan sebelum dia menyebut namanya.

"Ini Sophia," gumamnya, nyaris seperti meminta izin. Seolah-olah sudah seharusnya aku mengerti. Seolah-olah meninggalkan tunangannya yang terluka demi mantan kekasihnya adalah hal yang wajar.

"Dia bilang dia kena serangan panik. Aku harus angkat ini."

"Silakan," kataku datar.

"Aku akan segera kembali," janjinya. Pintu baru saja tertutup di belakangnya saat air mata yang kutahan akhirnya mengalir bebas di pipiku.

Dua puluh menit kemudian, dokter selesai membalut lukaku. Liam belum juga kembali.

"Pelurunya menggores cukup dalam," jelas dokter. "Kamu beruntung nggak mengenai bagian vital. Aku beri resep antibiotik dan obat nyeri. Sebaiknya malam ini ada seseorang yang menemanimu."

Aku mengangguk pelan, bertanya-tanya siapa yang bisa menemaniku malam ini karena jelas tunanganku sedang sibuk di tempat lain.

"Aria!" Lillian menerobos masuk ke ruang perawatan, matanya membelalak karena cemas. "Aku langsung ke sini begitu dapat pesanmu. Astaga, kamu nggak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja," jawabku otomatis, meski kebohongan itu terasa berat di lidahku.

Lillian menatap sekeliling ruangan yang kosong, ekspresinya menggelap. "Di mana Liam?"

Aku tak sanggup menatapnya. "Dia harus terima telepon."

"Telepon? Kamu tertembak dan dia malah angkat telepon?" Suaranya meninggi. "Jangan bilang kalau itu telepon dari orang itu?"

Diamku sudah cukup sebagai jawaban.

"Nggak bisa. Aku nggak akan diam lagi," katanya tegas, menyilangkan tangan. "Dua belas tahun, Aria. Dua belas tahun kamu mencintai dia, dan beginilah balasannya?"

"Lili, aku mohon." Aku terlalu lelah, terlalu terluka untuk berdebat. "Kita pulang saja ya? Aku nggak mau ke rumah. Ayahku pasti panik kalau lihat aku begini."

Begitu kami sampai di apartemennya, aku nyaris kehilangan kendali. Begitu duduk, tangisanku pecah. Air mata mengalir deras, membasahi lengan baju Lillian. Lillian duduk di sampingku, menggenggam tangan kiriku dengan erat, kehangatannya menahanku agar tidak hancur.

"Kamu nggak bisa menikah dengannya, Aria," katanya lembut sambil menyeka air mataku. "Nggak setelah kejadian ini."

Aku menggeleng, mencoba bernapas di antara isakanku. "Aku nggak bisa pergi begitu saja, Lili, aku sudah mencintainya selama 12 tahun."

"Kami saling kenal sejak kecil, Lili. Dia ada di sisiku waktu ibuku meninggal. Dia yang memelukku di malam-malam terburukku. Dia sudah jadi ... segalanya buatku. Aku nggak bisa buang semua itu cuma karena satu kesalahan."

"Satu kesalahan?" ulangnya, alisnya berkerut. "Aria, ada pria yang menodongkan pistol dan Liam berlari melindungi Sophia. Bukan kamu. Itu bukan kesalahan, itu naluri. Itu hatinya yang bereaksi sebelum mulutnya sempat mencari alasan."

Aku menunduk menatap lantai apartemen yang dingin, tenggorokanku tercekat, dadaku terasa sesak. Aku tidak ingin mengakuinya, tetapi aku juga tak bisa menyangkal apa yang kulihat.

"Dia bilang nggak ada apa-apa," bisikku serak. "Katanya mereka cuma teman."

Lillian menarik napas berat, lalu menggenggam tanganku yang tak terluka. "Aku tahu kamu mencintainya. Tapi cinta saja nggak selalu cukup. Apalagi kalau cuma kamu yang berjuang. Dan Aria, aku rasa cuma kamu yang masih bertahan."

Kata-katanya seperti pisau, menusuk luka yang belum sempat sembuh. Kepalaku berdenyut sakit.

Aku tahu Lillian benar. Namun, bagaimana aku bisa pergi sekarang? Keluarga kami sudah menyiapkan pernikahan ini berbulan-bulan. Semua orang menunggu akhir bahagia dari kisah cinta dua belas tahun kami.

Meski semuanya hancur, bagian yang kecil dan bodoh dalam diriku masih berharap kisah kami bisa diselamatkan. Bahwa Liam akan ingat alasan dia dulu melamarku. Bahwa pria yang dulu berjanji melindungiku akan kembali menepati janjinya, sebelum semuanya terlambat.

"Aku akan kasih dia satu kesempatan terakhir," bisikku sambil menyeka air mata di pipi. Suaraku bergetar, tetapi kata-kataku tidak. "Lima hari. Kalau dalam lima hari dia nggak bisa buktiin kalau aku yang dia pilih, aku akan menyerah. Nggak ada lagi alasan. Dan aku nggak akan memohon sisa cintanya lagi."

Lillian tidak membantah. Dia hanya menarikku ke dalam pelukannya, seperti yang sudah sering dia lakukan sejak kami masih kecil.

Lima hari. Hanya itu waktu yang akan kuberikan padanya.

Setelah itu, aku harus belajar membahagiakan diriku sendiri.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
50 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status