LOGINKatya, asisten dosen yang terjepit antara kuliah dan biaya pengobatan ibunya, dipaksa dosen atasannya menjebak Prof. Erland—dosen muda yang dikenal jujur dan berprinsip. Satu malam penuh tipu daya menghancurkan mereka berdua: Erland dicap predator, Katya dijuluki mahasiswi murahan. Saat segalanya runtuh dan Katya kembali dengan kehamilan tak terduga, Erland—pria yang justru paling ia rugikan—menatapnya tanpa benci. “Kalau dunia sudah menjatuhkan kita,” katanya pelan, “biarkan kita bangkit dengan cara yang mereka benci.” Tapi beranikah Katya mempercayai satu-satunya pria yang masih melihatnya tanpa jijik?
View More“Pak… Tolong pelankan… Ini pertama kalinya bagiku.”
“Pelankan? Bukankah kamu yang membawa kita sampai ke sini?!” Suara desahan itu bercampur dengan derit ranjang dan nafas berat seorang pria dewasa. Katya membeku, tangannya berusaha mencari sandaran di tembok. Suara itu—suara dirinya sendiri—bergema dari layar ponsel di tangannya. Tubuhnya merinding. Tangannya menutup mulut, air mata menetes tanpa suara. “I—ini tak mungkin…” Ponsel di tangannya terlepas, jatuh ke lantai. “Ke—kenapa video itu bisa tersebar?!” Ting! Ting! Ting! Notifikasi bertubi-tubi masuk, memecah sunyi kamarnya. “Katya, video itu… jangan bilang…” “Gila! Kenapa kamu bisa ada di video dengan Pak Erland?!” “Dasar najis! Selama ini nilai kamu bagus karena kamu tidur dengan dosen, ya?!” Dunia yang dulu ia perjuangkan kini menelannya hidup-hidup. Seolah bisa mendengar satu per satu impian yang telah susah payah dia bangun kini berderak ambruk. Tubuhnya luruh di lantai. Ini pasti mimpi. Bagaimana–mungkin?! Sekali lagi dia menatap layar ponsel yang menampilkan adegan itu. Tangannya yang lunglai berusaha keras memukuli tubuhnya yang telah kotor, bahkan Katya jijik pada dirinya sendiri. Dia seperti perempuan murahan yang melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya. Dan itu... Prof. Erland orang yang sangat dia hormati. Dia telah menghancurkan dosen yang dia kagumi. Yang selama ini begitu baik padanya. Penyesalan itu menerjangnya tanpa ampun. “Andai aku tak menerima tawaran itu lima minggu lalu, mungkin semua ini takkan terjadi....,” ratapnya pilu. Dengan sisa-sisa keteguhan hati yang dia miliki Katya menyeka air matanya. Dia harus menghubungi seseorang... seseorang yang pasti bisa membebaskannya dari masalah ini. Dengan tangan gemetar dia mencari sebuah nama di ponselnya tapi tiba-tiba ponsel itu berbunyi nyaring, kali ini dia tidak bisa mengabaikan panggilan itu. “Sa–saya akan kesana,” katanya terbata saat menjawab. Tangannya terkulai lemas begitu saja dengan masih memegang ponsel. Tamat sudah.. semuanya sia-sia. Dia tak punya lagi jalan untuk lari. Setelah satu bulan lebih memilih mendekam dalam kamar kosnya setelah kejadian malam itu. Ini kali pertama Katya datang lagi ke kampusnya. Kedatangannya disambut tatapan sinis penuh penghakiman dari semua orang, tapi dia harus menguatkan langkah. Entah apapun hasilnya semua akan diputuskan hari ini. “Hei Katya!” Katya menoleh, beberapa mahasiswa menatapnya dengan pandangan kurang ajar. “Kalau sudah selesai semua ini hubungi aku, aku bisa membayarmu mahal untuk memuaskanku.” “Wah tidak bisa bro! Aku bisa membayarnya dua kali lipat darimu.” “Hoi Katya! Perlu bantuanku untuk membuat nomer antrian.” “Buang saja baju buluk itu, tubuhmu lebih indah kalau telanjang.” Katya memejamkan mata, tak sanggup lagi mendengar ucapan-ucapan itu. Kalau dulu dia tidak akan segan untuk menampar mulut lancang mereka, tapi sekarang dia tak akan sanggup melakukannya. Karena ucapan itu memang benar dia berubah menjadi wanita murahan dalam semalam. Dengan tangan gemetar Katya mengetuk pintu ruang rektorat dan dekannya sendiri yang membuka pintu ruangan. “Katya, masuklah kamu sudah ditunggu di dalam.” Gadis itu berjalan dengan langkah goyah, tapi dia masih bisa mendengar ucapan lirih sang dekan. “Kamu kan asisten Erland, bagaimana bisa kamu lakukan itu padanya?” Katya tak menjawab tepatnya dia tak sanggup untuk menjawab, mereka sudah ada di sebuah ruangan bundar yang penuh dengan orang-orang yang menatapnya penuh rasa penasaran, tapi pandangannya kembali jatuh pada sosok yang menatapnya tajam. Prof. Erland. Orang yang sudah dia hancurkan karir dan harga dirinya. “Silahkan duduk di sana,” kata salah satu dosen yang hadir di ruangan itu. Setahunya pihak kampus memang telah membentuk sebuah komite penegakan moral untuk mengadilinya. Seperti robot. Katya hanya melakukan apa yang mereka suruh. Dia duduk di kursi kayu yang telah disediakan menghadap para dosen yang menatapnya penuh penghakiman. Dia tahu bahkan sebelum sidang vonisnya sudah diputuskan. Tak ada lagi peluang. Tak ada lagi harapan. Semua cita-cita dan kerja kerasnya akan terkubur oleh satu kebodohan yang fatal. “Saudari Katya, apa kamu mengakui menjebak Prof Erland?” Katya mengangkat kepalanya, dia memang bersalah. Dia memang bodoh tapi dia harus mengatakan yang sebenarnya. “Ya, saya melakukannya. Saya memberi minuman yang dicampur obat perangsang pada Prof Erland.” Dengungan penuh penghakiman langsung terdengar riuh mengisi ruangan itu, tapi pandangan Katya kembali pada Prof. Erland yang hanya bisa menatapnya antara marah dan tidak percaya. Percayalah Prof, saya juga tidak percaya saya mampu melakukan kekejian ini pada anda. Orang yang telah banyak membantu saya, batin Katya nelangsa. “Jelaskan, kenapa anda nekad melakukannya?” tanya salah satu dosen senior setelah kegaduhan tadi reda. “Karena kami adalah sepasang kekasih.” Kata-kata itu seketika menyentak Katya. Matanya menatap Prof. Erland dengan membulat. Se—sepasang kekasih katanya? Laki-laki itu tidak menyalahkannya sama sekali?! “Benarkah?” “Tentu saja, bukankah banyak yang melihat kami sering bersama. Tapi saya tidak tahu siapa orang iseng yang menyebar video itu,” kembali Prof Erland yang menjawab. Rasa bersalah langsung membanjiri hati Katya. Bagaimana mungkin... dia begitu tega menyakiti laki-laki sebaik ini? “Pak!” Setelah keluar dari ruang rektorat, Katya sengaja mengejar Prof. Erland dia harus menjelaskan semua yang terjadi. “Kamu ingin kita dapat masalah lagi... dengan terlihat bersama.” Ucapan dingin Prof. Erland berhasil menghentikan langkahnya, sesaat Katya lupa dengan mata-mata yang akan menatap mereka penuh rasa penasaran. Dengan pandangan matanya dia masih mengikuti langkah Prof. Erland. Rasa penyesalan kali ini lebih hebat menggerusnya, kenapa Prof. Erland membelanya, hingga dia hanya mendapat sanksi skorsing satu semester kedepan dan bukannya DO seperti yang dia dan banyak orang lain pikirkan. Prof. Erland tidak pantas mendapat perlakuan buruk ini... tidak sama sekali. Dia harus menemui orang itu... orang yang harusnya bertanggung jawab untuk kejadian ini. Andai waktu bisa diulang Katya tak akan menerima tawaran itu. Sungguh dia malu dan marah pada Prof. Erland dan dirinya sendiri. Pikirannya kosong. Ini bukan yang dia inginkan. Dia tidak sejahat ini, tapi bagaimana caranya membuktikan kalau ini adalah rencana Prof. Ben? Tidak ada saksi, apalagi bukti yang dia punya. Hanya ucapan dan keyakinan yang kian lama kian kabur. Bahkan tadi Prof. Ben juga salah satu dosen yang mengadilinya, terlihat sangat tenang dan bijak. Semua orang tak akan mungkin percaya ucapannya. Dosen senior yang terhormat menjadi sutradara dari drama murahan yang diperankan mahasiswi dan juga rekan juniornya. Dia hanya mahasiswi miskin yang punya sedikit kepintaran, tapi sayang sekarang semua orang menganggap kepintarannya itu digunakan untuk membawa dosennya sendiri ke atas ranjang. Tapi Katya percaya serapi apapun kejahatan pasti ada celah, dan dia berjanji akan mencarinya. Demi dirinya dan juga... Prof. Erland.“Mau mas suapin?” Tanya sang suami dengan manis. Katya menggeleng, dia hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun saat siomay yang dia pesan menjadi sate ayam dan tetap menahannya. Katya akan pura-pura tak tahu apa yang terjadi sampai sang suami sendiri yang mengatakannya. Tadinya dia ingin mendekat dan memastikan apa yang terjadi. Bisik-bisik para tamu menyebut nama sang suami dan wanita itu, tapi Katya percaya sang suami memang perlu waktu untuk menyelesaikan apa yang tertinggal di antara mereka. Dengan keyakinan kalau wanita itu hanya masa lalu untuk suaminya, Katya kembali duduk dan menunggu, sampai dia melihat wanita itu berjalan cepat melewatinya dengan mata sembab dan bahu merosot. Dia tahu tebakannya benar. “Tadi Liandra menemuiku,” kata Laki-laki itu sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. “Aku tahu,” jawab Katya tenang. “Maaf ya, aku tidak bermaksud untuk menemuinya, dia tiba-tiba saja ada di belakangku.” “Itu juga aku tahu,” kata Katya masih dengan senyumnya yang manis
“Erland bisa bicara sebentar.” “Ada apa, Bu Liandra? Jika tentang kasus itu saya sudah melimpahkan pada pengacara,” kata laki-laki itu sambil melanjutkan isi piringnya.Siomay ini terlihat lezat, istrinya pasti akan suka, dan akhir-akhir ini wanita kesayangannya itu nafsu makannya semakin bertambah. Erland tersenyum saat mengingat sang isri yang akan cemberut saat dia bilang tambah gemoy. Dirasa cukup Erland beranjak pergi dari tempat itu, tapi siapa sangka wanita itu masih berdiri di belakangnya. “Aku masih mencintaimu, maafkan aku dulu meninggalkanmu.” Erland memejamkan matanya. Dia tahu mantan kekasihnya ini sangat keras kepala dulu memang dia berpikir hal itu bagus untuk bekal mencapai kesuksesan tapi sekarang dia merasa ini sangat memalukan, apalagi dengan banyaknya orang yang diam-diam mendengar percakapan mereka. Dia tidak ingin istrinya salah paham dan yang lebih fatal terjadi hal yang buruk pada istri dan bayi dalam kandungannya. “Terima kasih, tapi maaf cinta saya su
Mereka memang sengaja datang saat pesta akan berakhir, para tamu undangan sebagian besar memang sudah kembali pulang, meninggalkan para teman dekat dan saudara yang masih betah mengobrol sambil menikmati hidangan. “Selamat ulang tahun,” kata Erland menjabat tangan ibu tirinya, datar dan formal. Tak ada pelukan atau bahkan cium pipi kiri kanan seolah dia sedang menghadiri acara rekan kerjanya. Meski begitu wanita itu menyambut ucapan Erland dengan sangat antusias, bahkan saat Katya juga melakukan hal sama senyumnya tak juga surut. “Mama sudah menunggu kalian sejak tadi, iya kan, Pa.” Laki-laki paruh baya itu hanya mengangguk dan menyalami anak dan menantunya. “Maaf-” Ucapan permintaan maaf Katya langsung terputus saat sang suami dengan sengaja menekan pinggangnya, memberi kode supaya sang istri tidak bicara lagi. “Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya punya hal penting untuk dibicarakan, kapan acara ini berakhir?” Katya meringis melihat sikap suaminya yang bisa dibilang k
“Nanti jangan jauh-jauh dariku, kita pulang setelah semua clear, atau aku perlu sewa pengawal.” Katya langsung melongo mendengar ucapan terakhir suaminya. “Mas kita mau ke acara keluarga lho bukan mau ke tempat teroris,” kata Katya sambil cemberut. “Justru mereka bisa lebih kejam dari teroris. Kamu lupa apa yang telah mereka lakukan,” kata laki-laki itu sambil bergidik ngeri membayangkan apa yang menimpa Lyla minggu lalu terjadi pada istrinya. Sampai sekarag Erland masih menyesali apa yang terjadi, dan menyalahkan dirinya. Akan tetapi kali ini dia akan memegang erat istrinya dan berusaha menulikan telinga dari suara sumbang istri ayahnya itu. “Yang membuatku celaka bukan keluarga mas tapi mantan kekasih, mas.” Katya langsung mengatupkan bibirnya menyesal dengan apa yang sudah dia katakan pada sang suami, apalagi saat dia melihat penyesalan itu begitu pekat. “Maaf.” “Maaf.” Keduanya saling menatap dan tersenyum saat mengucapkan kata itu secara bersamaan. “Sebaikny






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews