Teilen

78. Terbongkar

last update Veröffentlichungsdatum: 22.09.2026 10:14:49

Malam itu Bram tidak bisa tidur.

Ia duduk di ruang kerja mansion, laptop menyala di depannya tapi layarnya sudah lama gelap karena tidak disentuh. Pikirannya terus berputar pada Sinta.

Bram mengambil ponselnya, membuka riwayat pesan lama antara dirinya dan Sinta. Tidak banyak, hanya percakapan basa-basi sejak ibunya memintanya menemani Bram beberapa hari setelah pengumuman perpisahan. Namun, ia ingat jelas caranya Sinta menyinggung masa lalu mereka seolah masih ada peluang d
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   78. Terbongkar

    Malam itu Bram tidak bisa tidur.Ia duduk di ruang kerja mansion, laptop menyala di depannya tapi layarnya sudah lama gelap karena tidak disentuh. Pikirannya terus berputar pada Sinta.Bram mengambil ponselnya, membuka riwayat pesan lama antara dirinya dan Sinta. Tidak banyak, hanya percakapan basa-basi sejak ibunya memintanya menemani Bram beberapa hari setelah pengumuman perpisahan. Namun, ia ingat jelas caranya Sinta menyinggung masa lalu mereka seolah masih ada peluang di sana.Ia menghela napas, meletakkan ponsel kembali ke meja.Menuduh tanpa bukti hanya akan membuatnya terlihat seperti orang yang paranoid, tapi membiarkan begitu saja juga bukan pilihan terutama kalau benar Sinta yang mulai menyebarkan keraguan pada ibunya sendiri.Ia butuh bicara langsung dengan Pak Budi besok pagi.~~~Keesokan harinya, Bram memanggil Pak Budi ke ruang kerjanya lebih awal dari jam kantor biasa."Ada yang bisa saya bantu,

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   77. Keraguan

    Di luar ruang sidang, koridor pengadilan mulai ramai oleh orang-orang yang menunggu giliran kasus masing-masing.Evelyn berjalan keluar lebih dulu, diikuti pengacaranya, sementara Bram masih berbincang sebentar dengan pengacaranya sendiri di dalam ruangan.Begitu keluar dari gedung pengadilan, Evelyn terkejut mendapati sebuah mobil hitam terparkir di seberang jalan, dengan wanita berdiri di sampingnya, mengenakan kacamata hitam besar yang menutupi sebagian wajahnya.Sinta.Evelyn berhenti sejenak, menatap Sinta dari kejauhan. Sinta membalas tatapan itu, tidak bergerak dari tempatnya, seolah sengaja menunggu untuk dilihat.Tidak lama kemudian, Bram keluar dari gedung pengadilan, berjalan mendekati Evelyn yang masih berdiri di anak tangga."Evelyn, kau baik-baik saja?" tanya Bram, belum menyadari kehadiran Sinta di seberang jalan.Evelyn mengangguk pelan, meski matanya masih melirik ke arah mobil hitam itu. "Aku baik-baik saja. Aku duluan, ya."Ia melangkah cepat menuju mobil yang sudah

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   76. Mediasi

    Bram sudah duduk di meja paling pojok dekat jendela ketika Evelyn tiba lima menit setelahnya."Maaf, agak macet di jalan." kata Evelyn sambil duduk di seberangnya."Tidak apa-apa." Bram menggeser secangkir cokelat hangat ke arah Evelyn, tanpa perlu bertanya lagi apa yang biasa ia pesan. "Aku pesankan ini, kalau kau masih suka yang sama seperti dulu."Evelyn menatap cangkir itu sesaat. "Masih.""Kamis nanti," Bram akhirnya membuka pembicaraan, "mediator akan bertanya soal pembagian aset dan mungkin soal alasan perpisahan. Aku sudah bicara dengan pengacaraku, kita bisa sepakat untuk tidak membuka detail soal kontrak awal pernikahan kita."Evelyn mengangguk pelan, memutar-mutar cangkir di tangannya. "Aku juga sudah bicara dengan pengacaraku. Katanya, kalau kita berdua sepakat soal poin-poin utama sebelum sidang, prosesnya bisa lebih cepat.""Soal aset, aku tidak akan meminta apa pun darimu dan aku juga tidak berharap kau meminta apa pun dariku selain yang memang menjadi hakmu. Aku hanya

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   75. Kesempatan

    Keesokan paginya, pernyataan resmi itu terbit hampir bersamaan di akun resmi Grup Wijaya dan beberapa media besar yang sebelumnya sudah dihubungi tim humas.Reaksi publik datang lebih cepat dari yang siapa pun perkirakan.Sebagian orang menuliskan komentar penuh kekecewaan, merasa dikhianati oleh kisah cinta yang baru saja mereka rayakan beberapa hari sebelumnya. Sebagian lain justru memuji keduanya karena bersikap terbuka dan dewasa, tidak seperti kebanyakan pasangan publik figur yang memilih menutupi masalah rumah tangga mereka.~~~Sinta membaca pernyataan resmi itu di kamarnya sendiri, duduk di depan meja rias dengan cermin besar di hadapannya.Ponselnya berdering. Nama Ibu Wijaya muncul di layar."Halo, Bu." jawabnya dengan nada lembut yang sudah terlatih."Sinta, aku ingin minta tolong sesuatu darimu." suara Ibu Wijaya terdengar lelah di seberang telepon."Apa pun, Bu. Katakan saja.""Bisakah kau menemani Bram beberapa hari ini? Aku khawatir dia terlalu sibuk mengurus semuanya s

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   74. Berkas

    Di rumah kecil itu, Evelyn masih duduk termenung di ruang tamu.Ponselnya bergetar lagi. Kali ini, nama yang muncul di layar adalah Bram. Evelyn menatap layar itu cukup lama sebelum akhirnya menekan tombol hijau."Halo.""Evelyn, kita perlu bicara. Videonya sudah membuat semuanya lebih rumit dari yang kita bayangkan." suara Bram terdengar lelah di seberang telepon. Evelyn menutup matanya sejenak, merasakan beban baru yang tiba-tiba menumpuk di pundaknya. "Aku tahu, Bram. Aku juga baru saja bicara dengan pengacaraku.""Apa katanya?""Katanya, kalau pihakmu memakai video ini sebagai bukti hubungan kita masih baik, sidang mediasi bisa tertunda, bahkan mungkin lebih rumit dari yang kita kira."Hening sejenak di ujung telepon."Aku tidak akan memakainya untuk itu, tapi aku tidak bisa menjamin apa yang akan dilakukan dewan komisaris atau tim legal perusahaan kalau mereka melihat ini sebagai peluang."Evelyn menggenggam erat ponselnya. "Jadi sekarang bukan cuma soal kita berdua lagi.""Sepe

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   73. Viral

    Malam berjalan dengan lancar untuk sebagian besar waktu. Evelyn menjawab beberapa sapaan ringan dari kenalan lama keluarga Wijaya, tersenyum ketika perlu, dan menghindar dengan sopan ketika pertanyaan mulai mengarah terlalu dalam.Hingga seorang wanita berpakaian formal dengan kartu identitas media tergantung di lehernya mendekat, membawa mikrofon kecil dan seorang juru kamera di belakangnya.“Nyonya Evelyn, boleh saya tanya sesuatu?” katanya dengan senyum ramah.Evelyn menoleh, sedikit menegang. “Silakan.”“Belakangan ini ada beberapa spekulasi soal keharmonisan Anda dan Tuan Bram. Bisa Anda tanggapi?”Sebelum Evelyn sempat menjawab, Bram melangkah lebih dekat. “Malam ini kami di sini untuk mendukung acara amal, bukan untuk membahas spekulasi.”Wartawan itu tersenyum, meski tidak sepenuhnya puas. “Baik, terima kasih, Tuan Bram.”Ia mundur, tetapi matanya sempat melirik Evelyn sekali lagi sebelum benar-benar pergi, seperti menyimpan sesuatu untuk ditanyakan lain waktu.Evelyn menghela

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status