LOGIN“Biarkan Lily menjadi pengganti Azalea untuk menikahi Dimitri. Kami berjanji akan segera menggantikannya dengan Azalea setelah ia ditemukan nanti!” Belum kering luka di hatinya karena laki-laki yang ia cintai kabur dengan kakak perempuannya di hari pernikahan kakaknya, Lily Kanita tiba-tiba dipaksa menjadi pengganti kakaknya untuk menikahi Arya Dimitri Wijaya, calon suami sang kakak yang merupakan dokter spesialis bedah sekaligus pewaris tunggal keluarga konglomerat. Lily ingin menolak karena keluarga Dimitri pun juga terang-terangan menolak dan membencinya karena keadaan kakinya yang pincang. Tapi, kenapa Dimitri justru menyetujui usulan tersebut? Apakah Dimitri berencana untuk membalas dendam melalui dirinya sebab sang kakak kabur di hari H pernikahan?
View More“Azalea kabur dari pernikahan? Lalu bagaimana dengan nasib pernikahan ini? Para tamu sudah hadir dan 30 menit lagi akad harus dilakukan!”
Lily menelan ludah. Suara lantang dari Rose Seraphina Wijaya, wanita yang seharusnya menjadi mertua kakaknya, Azalea, sebelum semuanya hancur berantakan seperti sekarang, mengundang bisik-bisik dari para staf hotel yang mengelilingi mereka.
Mereka yang awalnya hanya menyimak, karena bingung harus melakukan apa akibat perginya calon pengantin wanita, kini memandang Lily dan orang tuanya yang sedang tertunduk dengan pandangan merendahkan. Seolah-olah mereka adalah makhluk paling hina yang ada di muka bumi.
“Aku dengar pengantin wanitanya pergi bersama pria lain.”
“Sungguh? Tapi, bukankah mempelai prianya Tuan Dimitri?”
“Wah, benar-benar tidak tahu malu!”
Lily mengeratkan genggaman tangannya pada kruk. Perasaan terhina dan amarah membara dalam hatinya. Meski begitu, ia tidak bisa membantah karena semua ucapan mereka benar.
Semua ini dimulai dari munculnya sepucuk surat yang ditinggalkan Azalea di meja rias. Salah satu staf hotel yang bertugas mengurus Azalea lah yang pertama kali menemukannya. Ia datang ke ruangan Azalea untuk mengecek persiapan terakhir sebelum acara dimulai, tapi malah berakhir menemukan surat itu.
Staf itu bergegas menemui keluarga Lily dan menyerahkan surat tersebut. Ketika dibuka, isinya berupa dua baris tulisan pendek, berbunyi:
‘Maafkan aku. Aku mencintai Evan. Karena itu, aku sama sekali tak bisa menikahinya. Jadi, jangan cari aku dan biarkan aku bahagia dengan laki-laki yang aku cintai.’
Ya. Azalea yang seharusnya menikahi Dimitri Wijaya, putra tunggal dari pasangan Wijaya, kabur di detik-detik acara pernikahan dimulai.
Hal itu seketika menimbulkan kegaduhan. Para staf segera dikerahkan untuk mencari keberadaan Azalea dan Evan. Sementara orang tuanya sibuk menghubungi ponsel Azalea, berharap bisa tersambung meski hasilnya nihil.
Lily juga ikut mencari dengan pikiran yang bercabang dan hati bergemuruh. Bukan hanya karena kakaknya tiba-tiba menghilang, tapi karena satu nama yang ada di surat kakaknya. Evan.
Teman masa kecil mereka. Tetangga sebelah rumah. Sekaligus orang yang ia sukai sejak SMP.
Gadis itu sama sekali tak menyangka kalau Evan akan kabur dengan kakaknya. Padahal, selama ini, pria itu tidak terlihat memiliki perasaan pada Azalea meski kakaknya itu terang-terangan menunjukkannya dan lebih menaruh perhatian pada Lily. Membuat gadis itu mengira kalau perasaan mereka berbalas.
Nyatanya, ia salah. Evan ternyata menyukai Azalea. Buktinya, ia bersedia untuk kabur bersama kakaknya itu.
Mengabaikan rasa sesak yang kembali muncul di hatinya, Lily mengalihkan pandangan ke ayahnya, Tomy Kusuma, yang masih berusaha menelepon Azalea.
“Masih belum ada jawaban?” tanyanya yang segera dibalas gelengan frustrasi oleh ayahnya.
Hal itu membuat Rose menghela napas kasar. Wanita itu memijat-mijat kepalanya kesal, seolah tak habis pikir dengan masalah ini.
“Lalu sekarang bagaimana? Kita tidak mungkin memulangkan para tamu. Bisa jelek nama kita kalau mereka tahu soal masalah ini!” decak Rose.
Ana Kusuma, ibu Lily, berusaha menjawab dengan gemetar, “Ma-Maafkan kami, Nyonya. Kami akan segera menemukan Azalea. Beberapa staf juga masih mencarinya. Jadi—”
“Sampai berapa lama lagi?! Ini sudah hampir setengah jam!” potong Rose mengkal membuat Ana kembali tertunduk. “Ini semua salah kalian karena tidak bisa mengawasi gadis itu! Apa kalian lupa dengan perjanjian kita? Kami baru akan membantu perusahaan kalian kalau Azalea dan Dimitri menikah!”
Bentakan itu membuat kepala orang tua Lily semakin tertunduk. Tubuh mereka gemetar saat wanita di hadapannya mengingat kembali soal perjanjian di antara mereka.
Pernikahan Azalea dengan Dimitri memang bukan dilandaskan oleh cinta. Semua ini dilakukan demi mendapat pinjaman untuk mengembalikan perusahaan keluarga Kusuma.
Keluarga Kusuma memang bukan keluarga sembarangan. Sebelum mereka mengalami kebangkrutan, usaha Tomy Kusuma cukup besar. Perusahaannya mencakup perusahaan manufaktur berorientasi ekspor.
Namun karena ada lawan bisnis yang menyebarkan berita bohong membuat citra perusahaan itu turun sampai akhirnya bangkrut. Untuk mencegah hal itu, mereka mencoba mencari pinjaman ke sana ke mari. Sampai akhirnya Keluarga Wijaya adalah yang pertama mengulurkan tangan kepada mereka.
Tentunya itu semua tidak gratis. Mereka mengajukan sebuah syarat; Azalea harus menikah dengan Dimitri untuk mendapatkan pinjaman tersebut.
Azalea memang gadis yang sempurna. Berbanding terbalik dengan Lily yang terlahir biasa, bahkan memiliki satu kaki cacat akibat kecelakaan.
Kakaknya itu memiliki paras elok, tubuh proporsional bak model, serta tingkah lakunya yang anggun, membuat semua orang mudah terpikat padanya.
Selain itu, ia juga seorang pianis bertalenta. Namanya sudah harum dan mendunia karena ia selalu menang dalam berbagai ajang kompetisi, baik nasional maupun internasional.
Hal itu membuat Azalea terkenal di kalangan keluarga pebisnis dan banyak yang mengincarnya menjadi menantu. Salah satunya keluarga Wijaya.
Karena itu, Lily tahu keluarga Wijaya sebenarnya hanya mengambil kesempatan agar bisa menjadikan Azalea menantu mereka, alih-alih memang ingin membantu.
Orang tuanya yang begitu menyayangi Azalea tentunya merasa keberatan dengan hal tersebut. Tapi, mereka tidak ada pilihan selain menyetujuinya.
Mereka bahkan sampai memeluk Azalea sambil menangis ketika memberitahukan syarat itu ke putri mereka. Lily masih ingat, kala itu ia hanya memerhatikan dari balik pintu kamar, mendengar dengan hati penuh luka saat ibunya berkata,
“Maafkan ibu, Lea. Seandainya Lily tidak cacat, ibu pasti sudah memintanya untuk menggantikanmu!”
“Mau bagaimana lagi, kita batalkan saja pernikahan ini,” dengus Anggara Mitra Wijaya, suami Rose yang juga berdiri di samping istrinya.
“Sebagai gantinya, perjanjian kita batal. Keluarga Wijaya tidak akan memberikan kucuran dana pada kalian dan kalian harus mengganti rugi dua kali lipat dari biaya pernikahan ini!”
“Ti-tidak! Tunggu dulu, Tuan! Tolong jangan batalkan pernikahan ini!” iba Ana sambil bersimpuh di kaki pasangan Wijaya itu.
Ayahnya ikutan bersimpuh, “Benar, Tuan! Biarkan kami memperbaiki ini!”
“Dan bagaimana kalian memperbaikinya?” tanya Anggara dingin dengan tatapan yang terasa membekukan.
Firasat Lily seketika tidak enak. Sekujur tubuhnya meremang saat melihat lirikan sekilas Ana padanya sebelum kembali bersuara dengan sedikit tercekat.
“Lily …. Biarkan Lily menjadi pengganti Azalea di acara ini,” Ana berkata gemetar, “Kami berjanji akan segera menggantikannya dengan Azalea setelah ia ditemukan nanti!”
Ucapan itu seketika menimbulkan kasak-kusuk di dalam ruangan. Tubuh Lily membeku. Matanya membesar, tidak memercayai ucapan yang baru saja disampaikan ibunya tadi.
“Sa-Saya mau ke kamar mandi.” Dimitri menaikkan sebelah alisnya. Kemudian seolah mengejek Lily, ia kemudian mengarahkan dagunya ke pintu kamar mandi. Lily menggigit bibirnya tidak sadar. Ia seharusnya memang berpikir lebih dahulu sebelum berbicara. Untuk apa ia harus keluar dari kamar hanya untuk ke kamar mandi. Padahal sudah jelas setiap kamar di rumah ini memiliki kamar mandi sendiri. “Duduk.”Lily seperti mematung membuat suaminya itu kembali mengulangi ucapannya. “Duduk di sini, Lily. Ada yang harus kita bicarakan.” Lily akhirnya menurut karena ia juga tidak punya alasan untuk menolak Dimitri. Ia menaruh kruk di dekatnya yang juga tak luput dari pandangan pria gagah itu. “Kenapa kamu tadi datang ke kantor?Apa ada masalah?” Lily menggeleng. Ia kembali teringat bagaimana teman-teman suaminya tadi memojokkan dan menghina dirinya. Sakit hati sekali dirinya jika harus mengingat hal itu. “Tidak ada masalah. Tadi hanya…”“Hanya apa?” Dimitri memerhatikan Lily yang sepertinya tid
Lily menimbang-nimbang sejenak apakah dia perlu mengangkat telepon tersebut. Ia tahu mamanya pasti akan menanyakan lagi soal hubungannya dengan Dimitri dan Lily sedang tidak mood untuk menanggapinya.Tapi, teringat bahwa ia membutuhkan Azalea dan hanya orang tuanya lah yang mempunyai informasi terkait kakaknya itu, membuat Lily akhirnya memutuskan untuk mengangkatnya.“Halo, Lily. Bagaimana kabarmu? Apa hubunganmu dan Dimitri baik-baik saja?”Ucapan pertama Ana membuat Lily seketika mencengkram ponselnya. Dugaannya ternyata benar. Menarik napas sejenak, Lily akhirnya menjawab, “Kami baik-baik saja. Baru saja tadi aku bertemu dengannya.”“Benarkah? Baguslah kalau begitu. Mama senang mendengarnya,” ucap Ana. Nada suaranya terdengar lega. Meski begitu, Lily tahu Ana merasa lega bukan karena hal itu. Tapi, karena Lily masih tetap bisa mengikat Dimitri. Seandainya dia tahu kejadian hari ini, mamanya sudah pasti akan marah besar dengannya. “Ingat Lily, kamu harus tetap berhubungan baik
“Julian! Jaga ucapanmu!” tegur Kayla pada lelaki yang menuding Lily, “Kamu bisa membuatnya menangis. Kasian kan Dimitri nanti makin sibuk dan tidak bisa bermain dengan kita karena harus menenangkannya?”“Aku hanya berbicara yang sebenarnya. Harus ada orang yang menyadarkannya, kan?” dengus Julian tak terima.Seluruh tubuh Lily bergetar melihat teman-teman Dimitri yang lain mengangguk-anggukkan kepala, setuju dengan ucapan Julian. Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan; percakapan Kayla dan Julian ini atau ucapan Julian tadi.Tapi, ia tahu ucapan Julian tadi tidak salah. Azalea adalah gadis sempurna. Semua orang menginginkannya, dan Dimitri bukanlah pengecualian. Karena itu, ucapan pria tadi seolah memberikan lubang di hatinya. Membuat dadanya sesak dan terluka.Tahu tidak bisa membendung emosinya lagi, Lily akhirnya bangkit dan berbalik badan. Ia segera pergi dari sana tanpa memerhatikan reaksi teman-teman Dimitri.Gadis itu berjalan tertatih-tatih melewati koridor depan pintu rapa
Lily menunggu Dimitri sampai semalaman suntuk. Berpikir bahwa Dimitri mungkin akan tetap datang setelah mengetahui dirinya bersiap. Karena tidak mungkin seorang pria akan menolak godaan itu, kan?Tapi, sampai pagi menjelang, Dimitri ternyata tidak datang. Bahkan tidak ada bekas ia tidur di sebelah Lily, yang berarti ia juga tidak tidur di sana. “Tuan Dimitri ada banyak pekerjaan dari semalam, Nyonya. Karena itu, ia tidak datang ke kamar,” beritahu Rudi dengan raut wajah tak enak saat Lily bertanya, “Pagi ini beliau juga ada rapat. Makanya masih belum sempat pulang.”Alasan yang masuk akal. Apalagi, ia tahu kalau Dimitri memang sibuk. Tapi, setelah berhari-hari ditinggal terus sampai malam hari, Lily menyadari mungkin itu semua alasan belaka.Mungkin saja pria itu sebenarnya hanya enggan untuk bersamanya. Meski dia setuju menikahi Lily sebagai pengganti Azalea, tapi bukan berarti dia juga mau tinggal bersamanya, kan? Karena itu, dia pasti menghindari Lily.Tapi, bukankah itu keterlalu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews