Chapter: 93. MenundaSetelah menyelesaikan makan siang mereka di kantin rumah sakit, Kevin beranjak berdiri dari kursinya. Sementara itu, Evelyn masih enggan beranjak, wanita itu tetap duduk dengan tatapan terkunci pada sisa makanan di atas meja.Percakapan di antara mereka tadi sama sekali belum menyelesaikan apa pun. Kevin masih menyimpan kemarahan terhadap Om Hardi, pria yang ia curigai menjadi dalang di balik kematian ayahnya.Di sisi lain, Evelyn juga belum sepenuhnya mengetahui seberapa jauh keterlibatan pria itu dalam tragedi kematian ayah Kevin. Namun, di tengah ketegangan itu, setidaknya Kevin tidak lagi harus menanggung beban ini seorang diri.“Jangan melakukan sesuatu tanpa memberitahuku lebih dulu, Kevin.” ucap Evelyn tegas, menghentikan langkah Kevin.Tanpa menoleh sepenuhnya, Kevin memasukkan kartu identitas milik Om Hardi ke saku. “Aku tidak akan gegabah.” sahutnya dingin.Evelyn mengangkat sebelah alisnya. “Kamu baru saja mengatakan ingin menyelidiki semuanya sendiri, Vin. Itu terdengar sa
Terakhir Diperbarui: 2026-10-28
Chapter: 92. CurhatKantin rumah sakit siang itu cukup sepi. Hanya ada dua orang yang duduk di dekat jendela, sementara beberapa meja lainnya kosong.Evelyn memilih meja di sudut ruangan yang agak jauh dari keramaian dengan dua kursi saling berhadapan. Ia meletakkan tasnya di kursi kosong di sampingnya. Kevin duduk di hadapannya setelah membeli dua gelas minuman dan beberapa makanan ringan. Ia meletakkan semuanya di atas meja, lalu duduk."Kamu mau makan ini?" Kevin mendorong salah satu bungkus roti ke arahnya.Evelyn menerimanya. "Terima kasih."Ia membuka bungkus roti itu. Sebenarnya ia sudah makan siang tadi bersama Rina tetapi ia masih merasa lapar. Ia menggigit roti itu, sementara Kevin membuka bungkus keripik kentang dan mulai makan.Mereka sempat makan dalam diam. Evelyn tidak mendesak Kevin untuk segera bicara. Jadi ia hanya duduk di sana, menikmati rotinya, dan menunggu.Kevin beberapa kali melirik ke sekitar mereka. Setelah memastikan tidak ada orang yang memperhatikan, Kevin memasukkan tangan
Terakhir Diperbarui: 2026-10-25
Chapter: 91. BangunlahEvelyn akhirnya berdiri di depan pintu ruang rawat Bram. Ia menggenggam tali tasnya erat-erat lalu mengembuskan napas perlahan. Ia mendorong pintu perlahan dan engselnya berderit pelan.Ruangan itu terasa sejuk, dengan suara pendingin udara yang berhembus pelan. Cahaya matahari sore masuk melalui celah tirai.Bram terbaring di sana. Wajahnya terlihat lebih pucat daripada yang Evelyn ingat. Beberapa alat medis terpasang di tubuhnya. Monitor di samping ranjang menampilkan angka-angka yang tidak sepenuhnya dipahami Evelyn.Evelyn akhirnya berjalan mendekati ranjang. Ia berhenti di samping ranjang, menatap wajah suaminya untuk beberapa saat. "Bram," panggilnya.Evelyn menarik kursi di samping ranjang lalu duduk. Ia meletakkan tasnya di lantai, lalu menatap Bram lagi."Ini aku," katanya."Aku datang setelah bekerja. Tadi aku sebenarnya mau datang lebih awal, tapi ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan."Evelyn mengembuskan napas kecil. Ia menunduk, menatap tangannya sendiri yang te
Terakhir Diperbarui: 2026-10-21
Chapter: 90. KeadaanPukul sebelas siang, Evelyn akhirnya mendapatkan waktu istirahat dan ia duduk di ruang staf yang sepi. Evelyn menyandarkan punggungnya di kursi lalu mengeluarkan ponselnya dari saku seragam dan membuka pesan dari Kevin.Kevin: Kak, sudah sampai tempat kerja?Evelyn: Sudah, bagaimana keadaan Ibu dan Bram?Kevin: Masih istirahat dan Kak Bram belum menunjukkan perubahan.Evelyn: Kevin, aku mau tanya sesuatu. Kenapa kau sangat membenci Om Hardi?Kevin: Aku belum bisa menjelaskannya lewat pesan, nanti aku ceritakan langsung.Evelyn: Hm, baiklah. Tapi jangan membuat masalah dengan Ibu, beliau masih dalam masa pemulihan.Kevin: Aku tahu, Kak.Evelyn: Dan jangan melakukan sesuatu terhadap Hardi tanpa memberitahuku.Kevin: Aku tidak akan menyentuhnya.Evelyn menatap pesan itu untuk beberapa saat.Kevin mungkin tidak akan menyentuh Hardi, tidak akan memukul, tidak akan melakukan kekerasan fisik. Tetapi itu tidak berarti ia akan berhenti mencari tahu.Evelyn: Baik, kita bicara nanti. Jaga Ibu da
Terakhir Diperbarui: 2026-10-19
Chapter: 89. KesalEvelyn tiba di tempat kerja ketika matahari mulai terbit. Wajahnya terlihat lelah dan rambutnya diikat seadanya.Ia mendorong pintu kaca ruang staf dan melangkah masuk. Beberapa rekan kerjanya sudah ada di sana. Begitu Evelyn masuk, sahabatnya langsung menghampirinya. "Evelyn, akhirnya kamu datang juga!" serunya. "Aku hampir menghubungi supervisor untuk mencari penggantimu. Kamu tahu kan, piket pagi itu nggak bisa telat."Evelyn meletakkan tasnya di kursi. "Maaf, ada urusan keluarga yang mendadak."Rina memperhatikannya dengan saksama. Ia melihat wajah Evelyn yang pucat, matanya yang sembab, dan gerakannya yang tidak seperti biasanya. "Kamu baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali, kamu kayak orang yang belum tidur semalaman."Evelyn tersenyum tipis. "Aku cuma kurang tidur," jawabnya.Rina memperhatikan Evelyn beberapa saat. Ia sudah mengenal Evelyn cukup lama dan ia tahu bahwa Evelyn bukan tipe orang yang suka mengeluh.Rina mengambil tas dari tangan Evelyn dan meletakkannya di bawah me
Terakhir Diperbarui: 2026-10-16
Chapter: 88. KartuBegitu mereka sampai, pemandangan di depan mata membuat langkah Evelyn terhenti sesaat. Gelas yang sebelumnya berada di tangan Ibu Wijaya kini sudah pecah di lantai.Ibu Wijaya duduk dengan wajah pucat. Tangannya terlihat sedikit gemetar. Seorang dokter sudah berdiri di hadapannya. Pak Budi juga berada di sana. Ia langsung menoleh ketika melihat Kevin dan Evelyn datang."Pak…" Kevin menghampirinya dengan napas yang masih terengah. "Ada apa?""Gelasnya terlepas dari tangan Ibu." jawab Pak Budi. Suaranya pelan, tetapi ada nada khawatir di dalamnya.Kevin menatap ibunya. "Ibu?"Ibu Wijaya tidak menjawab. Pandangannya justru tertuju kepada dokter di depannya.Pak Budi segera memberi isyarat kepada salah satu karyawan rumah sakit yang kebetulan berada tidak jauh dari sana. "Maaf, Pak. Tolong bantu bersihkan pecahan kacanya."Karyawan tersebut segera mengambil alat kebersihan."Maaf atas kegaduhan yang terjadi." Pak B
Terakhir Diperbarui: 2026-10-12
Dua Tuan Tampan
Raina Atmaja, seorang gadis sederhana dengan bakat melukis terpendam, terpaksa meninggalkan impian seninya demi keluarga. Ia mengambil pekerjaan sebagai asisten pribadi Arjuna Dirgantara, seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan sangat menuntut, pemilik Grup Dirgantara yang megah.
Hidup Raina berubah drastis menjadi penuh tekanan dan formalitas, jauh dari kebebasan yang ia dambakan. Namun, ia diam-diam bertemu kembali dengan Bima Samudra, seorang seniman berjiwa bebas yang tulus menghargai bakat Raina dan mengundangnya berkolaborasi dalam sebuah proyek mural.
Perhatian Raina yang terbagi memicu kecemburuan tak terucapkan dari Arjuna. Ketegangan memuncak saat Arjuna dan Bima berhadapan langsung dan memperjelas persaingan di antara mereka.
Kini, Raina terjebak di antara dua dunia yang berbeda: dunia Arjuna yang menawarkan kemewahan dan keamanan finansial dengan harga kebebasan jiwa, dan dunia Bima yang menawarkan semangat seni dan kehangatan tanpa syarat.
Baca
Chapter: 59. CahayaSuara tembakan yang menusuk telinga, kegelapan yang mencekam, dan aura ancaman dari Prakoso kini memudar, digantikan oleh gema sirene polisi yang mendekat. Raina terhuyung, bersandar pada dinding yang dingin, membiarkan napasnya tersengal.Ia mencengkeram erat tangan Arjuna Dirgantara, yang kini berdiri di sampingnya, memandangi Bima Samudra yang menahan Prakoso yang tak sadarkan diri. Mata Raina berkaca-kaca, bukan karena takut, melainkan karena lega yang luar biasa. Mereka berhasil. Mereka selamat. Polisi tiba beberapa menit kemudian, menggeledah rumah Prakoso dan mengamankan Bramantyo yang juga masih terlihat syok. Mereka menemukan pistol Prakoso yang tergeletak di sudut ruangan, dan segera mengambil berkas bukti yang dipegang Arjuna. Rekaman suara kecil dari dalam berkas itu menjadi kunci utama, suara yang merekam percakapan Prakoso dan kaki tangannya mengenai skandal yayasan dan, yang paling mengerikan, perintah untuk membungkam Arya. Seluruh ruangan itu kini dipenuhi petugas y
Terakhir Diperbarui: 2025-06-29
Chapter: 58. Jejak di DalamRencana Raina untuk memicu alarm kebakaran di kediaman Prakoso bagaikan percikan api yang akan menyulut ledakan. Di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari rumah mewah itu, Arjuna Dirgantara mengangguk, menyetujui strategi berani Raina. Ketegangan memenuhi udara pagi di kota kecil itu, sebuah ketegangan yang hanya bisa dibandingkan dengan bisikan angin dingin yang menyelinap melalui celah jendela mobil. Raina merasakan jantungnya berdebar kencang, setiap detiknya terasa seperti sebuah hitungan mundur menuju momen krusial."Bagaimana Anda akan melakukannya, Raina?" tanya Arjuna, suaranya rendah, matanya menatap Raina penuh kekaguman sekaligus kekhawatiran. Ia melihat tekad di mata Raina, sebuah keberanian yang jauh melampaui tugas seorang asisten.Raina tersenyum tipis, sebuah senyum penuh keyakinan. "Saya sudah mempelajari beberapa sistem keamanan yang biasa digunakan di rumah-rumah mewah. Ada celah kecil yang bisa dimanfaatkan pada panel alarm eksternal. Dengan sedikit modifikasi pa
Terakhir Diperbarui: 2025-06-28
Chapter: 57. DalangNama yang dibisikkan Arjuna Dirgantara di dalam mobil, nama yang seharusnya menjadi pilar kepercayaan dalam dunia Grup Dirgantara, kini terasa bagai hantaman palu godam bagi Raina. Prakoso. Mitra bisnis terdekat Tuan Dirgantara Senior. Sosok yang selama ini dianggap sebagai tangan kanan keluarga. Kenyataan bahwa dialah dalang di balik pembunuhan Arya adalah pengkhianatan yang paling kejam, sebuah duri yang menusuk hingga ke inti jiwa Arjuna.Raina merasakan darahnya berdesir dingin. Ia menatap Arjuna, wajah pria itu kini lebih pucat dari sebelumnya, matanya memancarkan campuran duka yang mendalam dan kemarahan yang membara. Aura kuat yang biasa menyelimuti Arjuna kini tergantikan oleh kerapuhan yang menyayat hati. Raina tahu, ini adalah titik balik. Arjuna tidak hanya kehilangan adiknya, tetapi juga kepercayaannya pada dunia yang selama ini ia anggap aman."Prakoso..." Raina berbisik, namanya terasa asing di lidahnya, berlumuran pengkhianatan. "Bagaimana mungkin?"Arjuna menggeleng, t
Terakhir Diperbarui: 2025-06-27
Chapter: 56. Terowongan KegelapanBeberapa hari setelah penemuan surat Arya, Arjuna dan Raina menghabiskan waktu luang mereka untuk menggali lebih dalam tentang Bramantyo. Mereka menyadari, nama ini tidak hanya terkait dengan skandal yayasan, tetapi juga dengan kepergian Arya yang misterius.Raina, dengan kemampuannya yang teliti, mulai mencari informasi tentang Bramantyo melalui jaringan internal kantor dan sumber-sumber terbuka. Ia menemukan bahwa Bramantyo, setelah skandal yayasan mereda, tidak benar-benar menghilang. Ia hanya mengubah namanya, dan hidup di bawah radar, jauh dari sorotan publik. Ia memiliki beberapa bisnis kecil di luar kota, yang tidak terkait langsung dengan sektor keuangan atau properti."Dia sengaja bersembunyi," Raina berbisik pada Arjuna saat mereka membahas temuan ini di ruang kerja Arjuna yang sepi. "Dia tahu ada yang mencarinya."Arjuna mengangguk, rahangnya mengeras. "Kita harus menemukannya. Dia pasti tahu sesuatu."Namun, Raina tahu, mendekati Bramantyo adalah langkah yang sangat berbah
Terakhir Diperbarui: 2025-06-26
Chapter: 55. Surat AryaPengakuan Tuan Dirgantara Senior tentang Sinta adalah bom yang telah meledak, menghancurkan tembok kebohongan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Namun, penolakannya untuk berbicara tentang kaitan Arya membuat Raina, Arjuna Dirgantara, dan Bima Samudra terdiam. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap, lebih menyakitkan, yang masih terkubur dalam-dalam di benak pria tua itu. Sebuah bayangan yang enggan terungkap, mengisyaratkan tragedi yang lebih besar dari sekadar skandal yayasan.Raina merasakan beban yang semakin berat di pundaknya. Ia kini tahu bahwa perannya tidak hanya sebagai jembatan antara Arjuna dan Bima, melainkan juga sebagai penyelidik kebenaran yang sesungguhnya. Ia harus menemukan apa yang Tuan Dirgantara Senior sembunyikan, bahkan jika itu berarti menggali lebih dalam ke masa lalu yang penuh rasa sakit.Setelah percakapan singkat di kamar rumah sakit, Arjuna dan Bima sepakat untuk tidak menekan Ayah mereka lebih jauh. Mereka tahu, memaksanya dalam kondisi seperti itu tidak
Terakhir Diperbarui: 2025-06-25
Chapter: 54. SunyiKeesokan harinya, suasana di kantor terasa lebih mencekam. Ketidakhadiran Arjuna dan Tuan Dirgantara Senior meninggalkan kekosongan yang terasa berat. Lia, sekretaris senior, tampak lebih sibuk dari biasanya, menjawab telepon-telepon dari media dan kolega yang penasaran. Raina mencoba fokus pada pekerjaannya, namun pikirannya terus melayang ke rumah sakit. Bagaimana keadaan Tuan Dirgantara Senior? Bagaimana reaksi Arjuna terhadap semua ini? Apakah ia akan dipecat?Desas-desus mulai beredar di antara karyawan. Ada yang mengasihani Tuan Dirgantara Senior, ada yang menyalahkan Bima karena terlalu gegabah, dan ada pula yang diam-diam menyalahkan Raina karena telah 'membocorkan' rahasia keluarga. Raina merasakan tatapan-tatapan sinis itu, namun ia berusaha mengabaikannya. Ia tahu, ia telah melakukan hal yang benar, terlepas dari konsekuensinya.Ia mencoba menghubungi Arjuna, namun tidak ada jawaban. Pesan singkat yang ia kirimkan juga tak berbalas. Raina merasa putus asa. Ia tahu, kepercay
Terakhir Diperbarui: 2025-06-24