author-banner
bluaeya
bluaeya
Author

Novel-novel oleh bluaeya

Dua Tuan Tampan

Dua Tuan Tampan

Raina Atmaja, seorang gadis sederhana dengan bakat melukis terpendam, terpaksa meninggalkan impian seninya demi keluarga. Ia mengambil pekerjaan sebagai asisten pribadi Arjuna Dirgantara, seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan sangat menuntut, pemilik Grup Dirgantara yang megah. Hidup Raina berubah drastis menjadi penuh tekanan dan formalitas, jauh dari kebebasan yang ia dambakan. Namun, ia diam-diam bertemu kembali dengan Bima Samudra, seorang seniman berjiwa bebas yang tulus menghargai bakat Raina dan mengundangnya berkolaborasi dalam sebuah proyek mural. Perhatian Raina yang terbagi memicu kecemburuan tak terucapkan dari Arjuna. Ketegangan memuncak saat Arjuna dan Bima berhadapan langsung dan memperjelas persaingan di antara mereka. Kini, Raina terjebak di antara dua dunia yang berbeda: dunia Arjuna yang menawarkan kemewahan dan keamanan finansial dengan harga kebebasan jiwa, dan dunia Bima yang menawarkan semangat seni dan kehangatan tanpa syarat.
Baca
Chapter: 59. Cahaya
Suara tembakan yang menusuk telinga, kegelapan yang mencekam, dan aura ancaman dari Prakoso kini memudar, digantikan oleh gema sirene polisi yang mendekat. Raina terhuyung, bersandar pada dinding yang dingin, membiarkan napasnya tersengal.Ia mencengkeram erat tangan Arjuna Dirgantara, yang kini berdiri di sampingnya, memandangi Bima Samudra yang menahan Prakoso yang tak sadarkan diri. Mata Raina berkaca-kaca, bukan karena takut, melainkan karena lega yang luar biasa. Mereka berhasil. Mereka selamat. Polisi tiba beberapa menit kemudian, menggeledah rumah Prakoso dan mengamankan Bramantyo yang juga masih terlihat syok. Mereka menemukan pistol Prakoso yang tergeletak di sudut ruangan, dan segera mengambil berkas bukti yang dipegang Arjuna. Rekaman suara kecil dari dalam berkas itu menjadi kunci utama, suara yang merekam percakapan Prakoso dan kaki tangannya mengenai skandal yayasan dan, yang paling mengerikan, perintah untuk membungkam Arya. Seluruh ruangan itu kini dipenuhi petugas y
Terakhir Diperbarui: 2025-06-29
Chapter: 58. Jejak di Dalam
Rencana Raina untuk memicu alarm kebakaran di kediaman Prakoso bagaikan percikan api yang akan menyulut ledakan. Di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari rumah mewah itu, Arjuna Dirgantara mengangguk, menyetujui strategi berani Raina. Ketegangan memenuhi udara pagi di kota kecil itu, sebuah ketegangan yang hanya bisa dibandingkan dengan bisikan angin dingin yang menyelinap melalui celah jendela mobil. Raina merasakan jantungnya berdebar kencang, setiap detiknya terasa seperti sebuah hitungan mundur menuju momen krusial."Bagaimana Anda akan melakukannya, Raina?" tanya Arjuna, suaranya rendah, matanya menatap Raina penuh kekaguman sekaligus kekhawatiran. Ia melihat tekad di mata Raina, sebuah keberanian yang jauh melampaui tugas seorang asisten.Raina tersenyum tipis, sebuah senyum penuh keyakinan. "Saya sudah mempelajari beberapa sistem keamanan yang biasa digunakan di rumah-rumah mewah. Ada celah kecil yang bisa dimanfaatkan pada panel alarm eksternal. Dengan sedikit modifikasi pa
Terakhir Diperbarui: 2025-06-28
Chapter: 57. Dalang
Nama yang dibisikkan Arjuna Dirgantara di dalam mobil, nama yang seharusnya menjadi pilar kepercayaan dalam dunia Grup Dirgantara, kini terasa bagai hantaman palu godam bagi Raina. Prakoso. Mitra bisnis terdekat Tuan Dirgantara Senior. Sosok yang selama ini dianggap sebagai tangan kanan keluarga. Kenyataan bahwa dialah dalang di balik pembunuhan Arya adalah pengkhianatan yang paling kejam, sebuah duri yang menusuk hingga ke inti jiwa Arjuna.Raina merasakan darahnya berdesir dingin. Ia menatap Arjuna, wajah pria itu kini lebih pucat dari sebelumnya, matanya memancarkan campuran duka yang mendalam dan kemarahan yang membara. Aura kuat yang biasa menyelimuti Arjuna kini tergantikan oleh kerapuhan yang menyayat hati. Raina tahu, ini adalah titik balik. Arjuna tidak hanya kehilangan adiknya, tetapi juga kepercayaannya pada dunia yang selama ini ia anggap aman."Prakoso..." Raina berbisik, namanya terasa asing di lidahnya, berlumuran pengkhianatan. "Bagaimana mungkin?"Arjuna menggeleng, t
Terakhir Diperbarui: 2025-06-27
Chapter: 56. Terowongan Kegelapan
Beberapa hari setelah penemuan surat Arya, Arjuna dan Raina menghabiskan waktu luang mereka untuk menggali lebih dalam tentang Bramantyo. Mereka menyadari, nama ini tidak hanya terkait dengan skandal yayasan, tetapi juga dengan kepergian Arya yang misterius.Raina, dengan kemampuannya yang teliti, mulai mencari informasi tentang Bramantyo melalui jaringan internal kantor dan sumber-sumber terbuka. Ia menemukan bahwa Bramantyo, setelah skandal yayasan mereda, tidak benar-benar menghilang. Ia hanya mengubah namanya, dan hidup di bawah radar, jauh dari sorotan publik. Ia memiliki beberapa bisnis kecil di luar kota, yang tidak terkait langsung dengan sektor keuangan atau properti."Dia sengaja bersembunyi," Raina berbisik pada Arjuna saat mereka membahas temuan ini di ruang kerja Arjuna yang sepi. "Dia tahu ada yang mencarinya."Arjuna mengangguk, rahangnya mengeras. "Kita harus menemukannya. Dia pasti tahu sesuatu."Namun, Raina tahu, mendekati Bramantyo adalah langkah yang sangat berbah
Terakhir Diperbarui: 2025-06-26
Chapter: 55. Surat Arya
Pengakuan Tuan Dirgantara Senior tentang Sinta adalah bom yang telah meledak, menghancurkan tembok kebohongan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Namun, penolakannya untuk berbicara tentang kaitan Arya membuat Raina, Arjuna Dirgantara, dan Bima Samudra terdiam. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap, lebih menyakitkan, yang masih terkubur dalam-dalam di benak pria tua itu. Sebuah bayangan yang enggan terungkap, mengisyaratkan tragedi yang lebih besar dari sekadar skandal yayasan.Raina merasakan beban yang semakin berat di pundaknya. Ia kini tahu bahwa perannya tidak hanya sebagai jembatan antara Arjuna dan Bima, melainkan juga sebagai penyelidik kebenaran yang sesungguhnya. Ia harus menemukan apa yang Tuan Dirgantara Senior sembunyikan, bahkan jika itu berarti menggali lebih dalam ke masa lalu yang penuh rasa sakit.Setelah percakapan singkat di kamar rumah sakit, Arjuna dan Bima sepakat untuk tidak menekan Ayah mereka lebih jauh. Mereka tahu, memaksanya dalam kondisi seperti itu tidak
Terakhir Diperbarui: 2025-06-25
Chapter: 54. Sunyi
Keesokan harinya, suasana di kantor terasa lebih mencekam. Ketidakhadiran Arjuna dan Tuan Dirgantara Senior meninggalkan kekosongan yang terasa berat. Lia, sekretaris senior, tampak lebih sibuk dari biasanya, menjawab telepon-telepon dari media dan kolega yang penasaran. Raina mencoba fokus pada pekerjaannya, namun pikirannya terus melayang ke rumah sakit. Bagaimana keadaan Tuan Dirgantara Senior? Bagaimana reaksi Arjuna terhadap semua ini? Apakah ia akan dipecat?Desas-desus mulai beredar di antara karyawan. Ada yang mengasihani Tuan Dirgantara Senior, ada yang menyalahkan Bima karena terlalu gegabah, dan ada pula yang diam-diam menyalahkan Raina karena telah 'membocorkan' rahasia keluarga. Raina merasakan tatapan-tatapan sinis itu, namun ia berusaha mengabaikannya. Ia tahu, ia telah melakukan hal yang benar, terlepas dari konsekuensinya.Ia mencoba menghubungi Arjuna, namun tidak ada jawaban. Pesan singkat yang ia kirimkan juga tak berbalas. Raina merasa putus asa. Ia tahu, kepercay
Terakhir Diperbarui: 2025-06-24
Dipaksa Menjadi Nyonya Besar

Dipaksa Menjadi Nyonya Besar

Evelyn, gadis biasa berusia 24 tahun yang bekerja keras demi adiknya yang sakit, tiba-tiba dipaksa menikah dengan Bram Wijaya, pengusaha dingin dan kejam berusia 32 tahun yang menguasai separuh kota. Pernikahan ini paksaan Ayah Evelyn yang berutang besar pada keluarga Wijaya menyerahkan putrinya sebagai jaminan.
Baca
Chapter: 70. Masakan
Dua hari setelah jadwal mediasi ditetapkan, kondisi Ibu Wijaya semakin membaik. Sore itu, langit di atas mansion Wijaya berwarna biru cerah. Sinta datang menjemput Ibu Wijaya dengan mobilnya.Pintu utama mansion dibuka oleh Sari, yang langsung mempersilakan Sinta masuk. Ibu Wijaya sedang duduk di ruang tamu.“Ibu Wijaya,” sapa Sinta. “Ibu saya masak banyak di rumah. Beliau tahu Ibu sudah boleh keluar rumah, jadi beliau mengundang Ibu untuk makan malam.”Ibu Wijaya tertawa kecil mendengar itu. “Nanti merepotkan.”“Justru Ibu yang berkali-kali meminta saya mengajak Ibu Wijaya.” bantah Sinta dengan lembut. "Beliau bilang masakannya sudah banyak dan tidak ada yang lebih menyenangkan daripada makan bersama teman lama. Jadi, Ibu Wijaya tidak perlu sungkan.”Kevin, yang sejak tadi duduk di ruang keluarga sambil bermain ponsel, ikut mendengar percakapan itu. Ia mengangkat kepalanya dan menatap ibunya. “Ibu mau keluar? Bagus juga, biar nggak bosan di rumah.”Ibu Wijaya mengangguk. “Baiklah, k
Terakhir Diperbarui: 2026-09-13
Chapter: 69. Jadwal
Menjelang malam, Bram baru keluar dari ruang rapat.Pertemuan berlangsung hampir lima jam. Investor akhirnya tetap melanjutkan kerja sama, tetapi dengan satu syarat tambahan.Mereka meminta Grup Wijaya memperkuat tata kelola perusahaan agar urusan keluarga tidak memengaruhi keputusan bisnis.Saat semua orang meninggalkan ruang rapat, Pak Surya menghampiri Bram. “Maaf kalau saya lancang. Kalau konflik rumah tangga ini berlangsung terlalu lama, dewan komisaris bisa mulai mempertanyakannya.”Bram mengangkat wajah. “Maksud Bapak?”“Direktur utama bukan hanya memimpin perusahaan. Ia juga membawa nama keluarga pemilik. Saya harap kau bisa menyelesaikan masalah ini demi perusahaan.”Bram tidak segera menjawab.Ia sadar, perjuangannya mempertahankan Evelyn kini tidak lagi berbenturan dengan perasaan istrinya saja.Perusahaan yang dibangun keluarganya perlahan ikut terseret ke dalam pusaran konflik itu.~~~Keesokan paginya, Bram tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Ia berharap bisa menyel
Terakhir Diperbarui: 2026-09-11
Chapter: 68. Kunjungan
Menjelang sore, suasana di sekitar rumah Evelyn terasa tenang dan damai. Di dalam rumah, Evelyn sedang sibuk di dapur, mencuci piring-piring kotor setelah persiapan makan malam.Di ruang tamu, Rara duduk di lantai sambil menggambar di atas kertas besar dengan pensil warna-warni. Kegiatannya itu tiba-tiba terhenti ketika ia mendengar ketukan di pintu depan.Tok. Tok. Tok.Rara meletakkan pensil warnanya, berdiri dan berlari kecil menuju pintu. Dengan semangat, ia membuka pintu lebar-lebar.Begitu pintu terbuka, Rara tertegun sejenak. Rara membuka mulutnya lebar, lalu teriak kegirangan. “Kak Bram!”Bram tersenyum kecil. “Rara, gimana kabarnya?”Rara mengangguk dengan antusias, matanya berbinar-binar. “Udah sehat, Kak! Dokter bilang aku boleh sekolah lagi minggu depan.” Ia meraih tangan Bram dan menariknya masuk ke dalam rumah, tanpa memberi kesempatan Bram untuk menanggalkan sepatunya. “Yah! Kak! Kakak Bram datang!”~~~Di dapur, Evelyn menutup keran air, mengeringkan tangannya dengan h
Terakhir Diperbarui: 2026-09-10
Chapter: 67. Rumah
Evelyn akhirnya membalikkan tubuh dan masuk ke dalam mobil, ia duduk di jok belakang. Pak Budi masuk ke kursi pengemudi. Mobil perlahan meluncur keluar dari halaman rumah besar itu.Sesampainya di parkiran kantor pengacara, Pak Budi mematikan mesin lalu menoleh ke belakang. “Nyonya, saya akan menunggu di sini.”Evelyn mengangguk, membuka pintu, dan melangkah keluar dari mobil.~~~Kantor pengacara tampak lebih ramai. Evelyn duduk di kursi dengan punggung tegak, kedua tangannya menggenggam erat sebuah map berisi dokumen-dokumen.Tidak lama kemudian, pintu ruang kerja di ujung koridor terbuka. Seorang perempuan melangkah keluar. “Silakan masuk, Nyonya. Kita bicara di dalam.”Evelyn berdiri, mengikuti perempuan itu ke dalam ruang kerja pengacara.Perempuan itu membuka map yang dibawa Evelyn, matanya bergerak cepat membaca sesekali ia mengangguk kecil. Tak lama kemudian ia mengangkat kepalanya menatap Evelyn. “Semuanya lengkap, Nyonya.”Evelyn mengangguk pelan. “Saya sudah memikirkannya
Terakhir Diperbarui: 2026-09-09
Chapter: 66. Damai
Mobil berhenti di halaman mansion, mesinnya mereda sebelum akhirnya mati sepenuhnya. Pak Budi turun lebih dulu membuka pintu untuk Evelyn. Evelyn keluar dengan tangan membawa map.Di ruang keluarga, Ibu Wijaya duduk di kursi tunggal. Tubuhnya dibungkus selimut tipis. Di hadapannya, Sinta duduk dengan mangkuk sup.Ibu Wijaya tersenyum tipis. “Kau ini selalu merepotkan diri, Sinta. Kau tidak perlu datang hanya untuk membawakan sup.”“Tidak, Ibu.”Saat itulah Evelyn masuk ke ruang keluarga.“Evelyn, kau pulang.”“Halo, Sinta.” Evelyn tersenyum tipis.Ibu Wijaya memperhatikan map di tangan Evelyn. “Sudah selesai?”Evelyn mengangguk. “Sudah. Pengacaranya akan mulai menyiapkan berkas gugatan, tapi sebelum didaftarkan ke pengadilan, pengacara memintaku menyerahkan beberapa dokumen tambahan termasuk salinan buku nikah dan beberapa surat perjanjian pernikahan.”Tak lama kemudian, Bram masuk dan langsung menatap map di tangan Evelyn, rahangnya mengeras. “Kau jadi menyiapkannya.”Evelyn mengangg
Terakhir Diperbarui: 2026-09-07
Chapter: 65. Pengacara
Pukul enam pagi.Hari yang selama enam bulan tidak pernah ingin dipikirkan akhirnya tiba. Hari terakhir kontrak pernikahan Bram dan Evelyn.Bram sama sekali tidak tidur. Ia masih duduk di ruang kerja sejak semalam dengan jas yang sudah kusut, kemeja yang tidak lagi rapi, dan mata yang merah karena begadang. Di hadapannya, tergeletak map kontrak pernikahan.Tok. Tok.Pak Budi masuk membawa secangkir kopi hitam. “Tuan, hari ini Ibu Wijaya sudah diperbolehkan pulang. Dokter mengatakan kondisinya cukup stabil untuk dirawat di rumah, asalkan tetap istirahat total dan tidak ada stres.”Bram mengangguk pelan, matanya masih tertuju pada map di hadapannya. “Aku akan menjemputnya sendiri. Setelah itu, aku akan membawa Ibu pulang ke sini.”Pak Budi menundukkan kepala. “Tuan, lalu bagaimana dengan kontraknya?”Bram menyentuh permukaan map itu. “Aku belum tahu, Pak Budi.”Pak Budi hanya mengangguk. Ia meletakkan kopi di meja, lalu mundur perlahan, menutup pintu dengan pelan.~~~Rumah sakit masih
Terakhir Diperbarui: 2026-09-05
Anda juga akan menyukai
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status