ログインEvelyn, gadis biasa berusia 24 tahun yang bekerja keras demi adiknya yang sakit, tiba-tiba dipaksa menikah dengan Bram Wijaya, pengusaha dingin dan kejam berusia 32 tahun yang menguasai separuh kota. Pernikahan ini paksaan Ayah Evelyn yang berutang besar pada keluarga Wijaya menyerahkan putrinya sebagai jaminan.
もっと見る“Evelyn, kalau kamu nggak nikah sama Bram besok malam, besok pagi Rara mati di rumah sakit.”
Cangkir mi instan yang Evelyn pegang terlepas dari tangan. Kuah panas tumpah membasahi lantai apartemen sempit, pecahan keramik berhamburan. “Apa?” Suara Evelyn bergetar. Di depan pintu, ayahnya berdiri dengan kemeja lusuh. Wajah pria lima puluh tahun itu pucat pasi, matanya merah. Rambutnya yang beruban terlihat acak-acakan. “Papa ngomong apa?” bisik Evelyn pelan. Ia meraih tepi meja kecil di sampingnya untuk menopang tubuhnya. Pria itu menunduk, bahunya bergetar. “Papa nggak punya pilihan, Evelyn.” “Jawab aku!” Suara Evelyn meninggi. “Kenapa Rara dibawa-bawa? Rara nggak ada hubungannya sama semua ini!” Ayahnya menutup wajah dengan kedua tangan. “Biaya operasinya, Evelyn. Rumah sakit nggak mau lanjut kalau tagihannya belum lunas mereka udah kasih peringatan tiga kali. Papa nggak tahu harus gimana lagi.” Evelyn membeku. Sudah enam bulan adiknya keluar masuk rumah sakit karena penyakit jantung bawaan. Evelyn masih ingat jelas hari pertama Rara pingsan di sekolah. Wajah adiknya yang pucat, bibirnya yang membiru, dan suara dokter yang mengatakan Rara membutuhkan operasi besar. Selama ini Evelyn bekerja pagi sampai malam, mengambil pekerjaan tambahan, bahkan menjual motor demi membayar biaya pengobatan. Ia pikir semua itu cukup, ternyata tidak. “Aku bakal cari uang.” kata Evelyn, suaranya mulai pecah. “Aku bakal kerja lebih keras lagi atau pinjam ke siapa pun, tapi jangan pernah bilang aku harus menikah sama orang yang bahkan nggak aku kenal!” Air mata Evelyn mulai memenuhi pelupuk matanya. Satu tetes jatuh. Ayahnya menggeleng pelan. “Bukan cuma soal uang, Evelyn.” Belum sempat Evelyn bertanya lagi, ketukan pintu terdengar. Tok. Tok. Tok. Ayahnya semakin pucat, tangannya yang tadi menutupi wajah kini di sisi tubuhnya. Siapa yang datang malam-malam begini ke apartemen kumuhnya? Ia melangkah menuju pintu. Begitu pintu terbuka, napasnya tercekat. Seorang pria tinggi berdiri di sana. Jas hitam mahal, sepatu kulit mengkilap, matanya dingin, wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, tetapi tatapan itu tajam. Rambutnya rapi disisir ke belakang. Di belakangnya berjajar beberapa pria berbadan besar dengan setelan hitam, mereka mungkin pengawal. “Evelyn Widyadana.” Suara pria itu rendah, tenang. “Aku Bram Wijaya.” Nama itu menghantam kepala Evelyn seperti palu godam. Siapa yang tidak mengenalnya? Pengusaha muda kerajaan bisnis keluarga Wijaya. Media selalu menyebutnya pria kaya, dingin, dan tak pernah memberi kesempatan kedua bagi yang mengkhianatinya. Foto wajahnya hampir setiap minggu ada di sampul majalah bisnis. “Ada urusan apa?” Suara Evelyn bergetar, tapi ia berusaha terdengar tegas. Bram tidak langsung menjawab. Tatapannya ke isi apartemen. Dinding mengelupas, sofa tua, kipas angin berdecit, meja kayu dengan kaki miring. “Ayahmu berhutang.” kata Bram akhirnya. Evelyn mengepalkan tangan, kukunya menusuk telapak tangannya. “Itu urusan Papa.” “Benar dan sekarang menjadi urusanmu.” Tatapan Bram kembali padanya. " “Aku nggak ikut berhutang.” “Kamu enggak ikut berhutang, tapi kamu bisa membayarnya.” Evelyn mengernyit. “Dengan apa? Pagi sampai malam aku bekerja saja belum cukup—” Bram memasukkan satu tangan ke saku celananya dengan gerakan santai. “Dengan menjadi istriku.” Evelyn tertawa kecil. “Kamu bercanda? Aku nggak kenal kamu, aku bahkan nggak pernah ketemu kamu sebelumnya.” “Aku nggak punya waktu untuk bercanda.” Nada suara Bram tetap datar, tidak marah. Justru itu yang membuat Evelyn semakin kesal. “Kamu pikir uang bisa membeli semua orang?” Suara Evelyn mulai meninggi. “Kamu pikir semua wanita akan berlutut di depanmu hanya karena kamu kaya? Kamu salah orang, aku lebih baik mati daripada dijual seperti barang.” Bram menatapnya lalu ia mengeluarkan sebuah map tipis. Ia menyerahkannya dengan tenang. “Ini berisi tagihan rumah sakit.” Evelyn meraihnya. Tangannya gemetar saat membaca angka di sana. Nominalnya lebih besar daripada yang diberitahukan pihak rumah sakit. Benar-benar mustahil ia bisa melunasinya. “Apa ini?” bisiknya. “Kenapa bisa sebanyak ini?” “Ayahmu menunggak selama empat bulan, bunga menumpuk dan biaya perawatan Rara menghabiskan banyak sekali.” jawab Bram. “Mustahil melunasinya dalam waktu dekat!” “Besok pagi rumah sakit akan menghentikan semua tindakan medis jika pembayaran belum diterima. Tidak ada operasi dan perawatan. Adikmu akan dipindahkan ke ruang biasa tanpa alat bantu napas.” Evelyn menoleh ke arah ayahnya yang masih berdiri di sudut ruangan, tubuhnya gemetar hebat. “Papa....” Pria itu menangis tersedu. “Maaf, Evelyn.... Papa benar-benar nggak tahu harus gimana. Papa sudah mencoba segalanya pinjam ke sana kemari, tapi semua pintu tertutup.” “Papa pinjam uang sebanyak apa?” Ayahnya diam, hanya isak tangis yang terdengar. “PA!” teriak Evelyn, suaranya pecah. “Lima belas miliar.” Evelyn merasa lututnya lemas. Lima belas miliar? Bagaimana mungkin ayahnya mendapatkan utang sebanyak itu? “Apa yang Papa lakukan?” bisiknya, suaranya hampir tidak terdengar. Ayahnya hanya terus menangis, ia tidak bisa menjawab. Bram yang menjawab untuk menggantikannya. “Bisnisnya gagal, dia punya pinjaman berbunga di beberapa tempat. Judi juga lumayan dari laporan yang saya terima.” Kepala Evelyn langsung menoleh, tatapan penuh luka itu mengarah kepada ayahnya. “Judi? Papa janji sudah berhenti. Papa berjanji di makam Mama!” Ayahnya tak sanggup menjawab, ia hanya jatuh berlutut di lantai apartemen. “Maaf, Papa gagal jadi papa yang baik.” Air mata Evelyn jatuh. Selama ini ia bekerja mati-matian mengorbankan masa mudanya, menahan lapar agar Rara bisa makan sementara papanya berjudi. “Kenapa, Pa?” bisiknya, suaranya serak oleh tangis. “Kenapa Papa melakukan ini lagi? Setelah Mama meninggal karena Papa juga, kenapa Papa nggak belajar?” Bram melirik jam tangan mewahnya bosan. “Aku tidak suka membuang waktu.” Ia mengeluarkan dokumen. “Besok malam pernikahan, tiga hari setelahnya kamu resmi tinggal di rumah keluarga Wijaya. Semua persiapan sudah dilakukan.” Evelyn merobek dokumen itu tanpa berpikir. Sobekan kertas berhamburan di lantai apartemen, bercampur dengan pecahan cangkir dan kuah mi yang mengering. “Aku nggak akan pernah nikah sama monster seperti kamu!” Bram hanya mengangguk pelan, sudah menduga reaksi ini. “Lima menit lagi surat penghentian tindakan medis untuk adikmu akan dikirim ke rumah sakit. Dokumen sudah siap.” Darah Evelyn seperti berhenti mengalir. “Kamu bajingan!” Plak!Menjelang siang, suasana rumah mulai ramai kembali. Sebuah mobil sport putih memasuki halaman mansion. Pelayan segera membukakan pintu. Dari mobil, Sinta turun anggun. Ia membawa map hitam tebal di tangannya. Di sisi lainnya, ia menggenggam tas tangan bermerek. “Bram ada?” tanya Sinta pada pelayan yang menyambutnya. “Di ruang kerja, Nona.” Sinta mengangguk lalu masuk rumah itu. Saat melewati ruang keluarga, ia melihat Evelyn sedang menyiram tanaman di dekat jendela besar. Evelyn mengenakan gaun dan apron hijau, tangannya memegang gembor kecil. “Halo.” sapa Sinta dengan suara lembut. Evelyn hanya mengangguk singkat. Ia tidak memiliki energi untuk berbasa-basi. “Aku datang mengantar dokumen perusahaan, nggak usah tegang.” kata Sinta dengan senyum. Evelyn mengangkat alis. “Benarkah?” Sinta tersenyum lebih lebar. “Iya, aku cuma teman lama Bram.” Ia melangkah mendekat, lalu Sinta berbisik pelan. “Kalau aku jadi kamu, aku nggak akan nyaman tinggal di rumah ini.” Evelyn menatapn
Lambat laun, para tamu berpamitan. Malam mulai larut. Lampu aula perlahan dipadamkan. Para pelayan mulai membersihkan meja-meja. Evelyn berdiri di dekat pintu utama. Bram berdiri di sampingnya memberi salam pada tamu yang berpamitan. “Selamat malam, Bram. Selamat malam, Nyonya Wijaya.” kata Pak Hartono, salah satu kerabat dekat keluarga Wijaya. Ia menepuk punggung Bram. “Semoga cepat diberi momongan ya.” Bram tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.” Evelyn menunduk malu. Setelah semua tamu pergi, Evelyn menghela napas panjang. Seorang pelayan mengantarnya menuju kamar utama di lantai paling atas. Pintu besar terbuka perlahan. Ruangan itu kini dihiasi bunga putih dan lilin-lilin kecil yang menyala redup. Evelyn berdiri di dekat pintu. Kakinya terasa berat untuk melangkah masuk. Ia menggenggam ujung gaunnya erat-erat, mencoba menenangkan jantungnya. Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi dan Bram masuk. Ia melepas dasinya dengan kasar, lalu melepas jam tangan mahalnya dan meletakkan
Lambat laun, para tamu berpamitan. Malam mulai larut. Lampu aula perlahan dipadamkan. Para pelayan mulai membersihkan meja-meja. Evelyn berdiri di dekat pintu utama. Bram berdiri di sampingnya memberi salam pada tamu yang berpamitan. “Selamat malam, Bram. Selamat malam, Nyonya Wijaya.” kata Pak Hartono, salah satu kerabat dekat keluarga Wijaya. Ia menepuk punggung Bram. “Semoga cepat diberi momongan ya.” Bram tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.” Evelyn menunduk malu. Setelah semua tamu pergi, Evelyn menghela napas panjang. Seorang pelayan mengantarnya menuju kamar utama di lantai paling atas. Pintu besar terbuka perlahan. Ruangan itu kini dihiasi bunga putih dan lilin-lilin kecil yang menyala redup. Evelyn berdiri di dekat pintu. Kakinya terasa berat untuk melangkah masuk. Ia menggenggam ujung gaunnya erat-erat, mencoba menenangkan jantungnya. Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi dan Bram masuk. Ia melepas dasinya dengan kasar, lalu melepas jam tangan mahalnya dan meletakkan
“Saya... bersedia.”Suaranya lirih. Kedua tangannya gemetar di balik buket bunga putih yang ia genggam erat. Bibirnya bergetar, tetapi ia memaksakan diri tetap tegar.Di hadapannya, Bram berdiri dengan setelan jas hitam. Ekspresinya sedingin batu.Penghulu menoleh kepada Bram. “Apakah Saudara Bram Wijaya bersedia menerima Evelyn Widyadana sebagai istri Saudara?”Bram menghela napas pendek. “Saya bersedia.”Penghulu mengangguk. “Mulai hari ini, Saudara berdua resmi menjadi suami istri. Semoga pernikahan ini diberkahi dan dilindungi oleh Yang Maha Kuasa.”Tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Lampu kamera berkilatan dari berbagai arah. Para tamu tersenyum dan mengangkat gelas mereka.Saat cincin disematkan ke jari manisnya, Evelyn hanya mampu menunduk.~~~ Resepsi berlangsung sangat mewah. Evelyn berdiri di dekat meja utama dengan gaun pengantin putih.“Selamat ya, Nyonya Besar.”Suara Ibu Wijaya terdengar di sampingnya. Evelyn menoleh dan melihat wanita paruh baya itu mendekat denga












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.