Share

89. Kesal

Author: bluaeya
last update publish date: 2026-10-16 09:30:27

Evelyn tiba di tempat kerja ketika matahari mulai terbit. Wajahnya terlihat lelah dan rambutnya diikat seadanya.

Ia mendorong pintu kaca ruang staf dan melangkah masuk. Beberapa rekan kerjanya sudah ada di sana.

Begitu Evelyn masuk, sahabatnya langsung menghampirinya. "Evelyn, akhirnya kamu datang juga!" serunya. "Aku hampir menghubungi supervisor untuk mencari penggantimu. Kamu tahu kan, piket pagi itu nggak bisa telat."

Evelyn meletakkan tasnya di kursi. "Maaf, ada urusan keluarga yang menda
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   93. Menunda

    Setelah menyelesaikan makan siang mereka di kantin rumah sakit, Kevin beranjak berdiri dari kursinya. Sementara itu, Evelyn masih enggan beranjak, wanita itu tetap duduk dengan tatapan terkunci pada sisa makanan di atas meja.Percakapan di antara mereka tadi sama sekali belum menyelesaikan apa pun. Kevin masih menyimpan kemarahan terhadap Om Hardi, pria yang ia curigai menjadi dalang di balik kematian ayahnya.Di sisi lain, Evelyn juga belum sepenuhnya mengetahui seberapa jauh keterlibatan pria itu dalam tragedi kematian ayah Kevin. Namun, di tengah ketegangan itu, setidaknya Kevin tidak lagi harus menanggung beban ini seorang diri.“Jangan melakukan sesuatu tanpa memberitahuku lebih dulu, Kevin.” ucap Evelyn tegas, menghentikan langkah Kevin.Tanpa menoleh sepenuhnya, Kevin memasukkan kartu identitas milik Om Hardi ke saku. “Aku tidak akan gegabah.” sahutnya dingin.Evelyn mengangkat sebelah alisnya. “Kamu baru saja mengatakan ingin menyelidiki semuanya sendiri, Vin. Itu terdengar sa

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   92. Curhat

    Kantin rumah sakit siang itu cukup sepi. Hanya ada dua orang yang duduk di dekat jendela, sementara beberapa meja lainnya kosong.Evelyn memilih meja di sudut ruangan yang agak jauh dari keramaian dengan dua kursi saling berhadapan. Ia meletakkan tasnya di kursi kosong di sampingnya. Kevin duduk di hadapannya setelah membeli dua gelas minuman dan beberapa makanan ringan. Ia meletakkan semuanya di atas meja, lalu duduk."Kamu mau makan ini?" Kevin mendorong salah satu bungkus roti ke arahnya.Evelyn menerimanya. "Terima kasih."Ia membuka bungkus roti itu. Sebenarnya ia sudah makan siang tadi bersama Rina tetapi ia masih merasa lapar. Ia menggigit roti itu, sementara Kevin membuka bungkus keripik kentang dan mulai makan.Mereka sempat makan dalam diam. Evelyn tidak mendesak Kevin untuk segera bicara. Jadi ia hanya duduk di sana, menikmati rotinya, dan menunggu.Kevin beberapa kali melirik ke sekitar mereka. Setelah memastikan tidak ada orang yang memperhatikan, Kevin memasukkan tangan

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   91. Bangunlah

    Evelyn akhirnya berdiri di depan pintu ruang rawat Bram. Ia menggenggam tali tasnya erat-erat lalu mengembuskan napas perlahan. Ia mendorong pintu perlahan dan engselnya berderit pelan.Ruangan itu terasa sejuk, dengan suara pendingin udara yang berhembus pelan. Cahaya matahari sore masuk melalui celah tirai.Bram terbaring di sana. Wajahnya terlihat lebih pucat daripada yang Evelyn ingat. Beberapa alat medis terpasang di tubuhnya. Monitor di samping ranjang menampilkan angka-angka yang tidak sepenuhnya dipahami Evelyn.Evelyn akhirnya berjalan mendekati ranjang. Ia berhenti di samping ranjang, menatap wajah suaminya untuk beberapa saat. "Bram," panggilnya.Evelyn menarik kursi di samping ranjang lalu duduk. Ia meletakkan tasnya di lantai, lalu menatap Bram lagi."Ini aku," katanya."Aku datang setelah bekerja. Tadi aku sebenarnya mau datang lebih awal, tapi ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan."Evelyn mengembuskan napas kecil. Ia menunduk, menatap tangannya sendiri yang te

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   90. Keadaan

    Pukul sebelas siang, Evelyn akhirnya mendapatkan waktu istirahat dan ia duduk di ruang staf yang sepi. Evelyn menyandarkan punggungnya di kursi lalu mengeluarkan ponselnya dari saku seragam dan membuka pesan dari Kevin.Kevin: Kak, sudah sampai tempat kerja?Evelyn: Sudah, bagaimana keadaan Ibu dan Bram?Kevin: Masih istirahat dan Kak Bram belum menunjukkan perubahan.Evelyn: Kevin, aku mau tanya sesuatu. Kenapa kau sangat membenci Om Hardi?Kevin: Aku belum bisa menjelaskannya lewat pesan, nanti aku ceritakan langsung.Evelyn: Hm, baiklah. Tapi jangan membuat masalah dengan Ibu, beliau masih dalam masa pemulihan.Kevin: Aku tahu, Kak.Evelyn: Dan jangan melakukan sesuatu terhadap Hardi tanpa memberitahuku.Kevin: Aku tidak akan menyentuhnya.Evelyn menatap pesan itu untuk beberapa saat.Kevin mungkin tidak akan menyentuh Hardi, tidak akan memukul, tidak akan melakukan kekerasan fisik. Tetapi itu tidak berarti ia akan berhenti mencari tahu.Evelyn: Baik, kita bicara nanti. Jaga Ibu da

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   89. Kesal

    Evelyn tiba di tempat kerja ketika matahari mulai terbit. Wajahnya terlihat lelah dan rambutnya diikat seadanya.Ia mendorong pintu kaca ruang staf dan melangkah masuk. Beberapa rekan kerjanya sudah ada di sana. Begitu Evelyn masuk, sahabatnya langsung menghampirinya. "Evelyn, akhirnya kamu datang juga!" serunya. "Aku hampir menghubungi supervisor untuk mencari penggantimu. Kamu tahu kan, piket pagi itu nggak bisa telat."Evelyn meletakkan tasnya di kursi. "Maaf, ada urusan keluarga yang mendadak."Rina memperhatikannya dengan saksama. Ia melihat wajah Evelyn yang pucat, matanya yang sembab, dan gerakannya yang tidak seperti biasanya. "Kamu baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali, kamu kayak orang yang belum tidur semalaman."Evelyn tersenyum tipis. "Aku cuma kurang tidur," jawabnya.Rina memperhatikan Evelyn beberapa saat. Ia sudah mengenal Evelyn cukup lama dan ia tahu bahwa Evelyn bukan tipe orang yang suka mengeluh.Rina mengambil tas dari tangan Evelyn dan meletakkannya di bawah me

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   88. Kartu

    Begitu mereka sampai, pemandangan di depan mata membuat langkah Evelyn terhenti sesaat. Gelas yang sebelumnya berada di tangan Ibu Wijaya kini sudah pecah di lantai.Ibu Wijaya duduk dengan wajah pucat. Tangannya terlihat sedikit gemetar. Seorang dokter sudah berdiri di hadapannya. Pak Budi juga berada di sana. Ia langsung menoleh ketika melihat Kevin dan Evelyn datang."Pak…" Kevin menghampirinya dengan napas yang masih terengah. "Ada apa?""Gelasnya terlepas dari tangan Ibu." jawab Pak Budi. Suaranya pelan, tetapi ada nada khawatir di dalamnya.Kevin menatap ibunya. "Ibu?"Ibu Wijaya tidak menjawab. Pandangannya justru tertuju kepada dokter di depannya.Pak Budi segera memberi isyarat kepada salah satu karyawan rumah sakit yang kebetulan berada tidak jauh dari sana. "Maaf, Pak. Tolong bantu bersihkan pecahan kacanya."Karyawan tersebut segera mengambil alat kebersihan."Maaf atas kegaduhan yang terjadi." Pak B

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status