Mag-log inDi luar ruangan, Keenan yang sedang memperhatikan semuanya melalui ponselnya di koridor laboratorium, hampir saja melempar ponselnya ke dinding. Giginya bergemeretak. "Bajingan kau, Raisya!" desisnya. [Aruna, tenang. Ingat apa yang kita siapkan semalam. Flashdisk itu... Pakai flashdisk di saku kirimu, bukan yang di kotak,] bisik Keenan melalui interkom, suaranya begitu tenang namun penuh otoritas. Aruna yang tadinya ketakutan, tiba-tiba mendengar kata-kata Keenan melalui Interkom. Ia menarik napas panjang, menenangkan detak jantungnya. Ia melihat ke arah kamera CCTV di sudut ruangan, seolah tahu Keenan sedang menontonnya. Aruna tersenyum kecil. Sebuah senyum yang membuat Julian dan Raisya merasa merinding tanpa alasan. "Baiklah, Pak Alexander. Kalau Raisya mengaku itu datanya... Saya ingin dia menjelaskan satu hal," Aruna berjalan ke depan, berdiri tepat di samping Raisya yang mulai terlihat gelisah. "Raisya, di slide
lKeenan tidak membiarkan Aruna melanjutkan kecurigaannya. Ia langsung meraih tengkuk Aruna dan membungkam bibir istrinya dengan ciuman yang penuh gairah. Ciuman itu terasa begitu menuntut, lidah Keenan menjelajahi mulut Aruna seolah ingin menghapus semua pertanyaan yang ada di kepala wanita itu. Aruna terengah-engah saat Keenan melepaskan ciumannya. "Keenan... Kita di tempat umum..." "Aku tidak peduli. Aku hanya ingin kamu fokus padaku, bukan pada pengawal satpam itu," bisik Keenan dengan nada suara yang rendah dan sensual. "Sekarang, pesanlah makananmu. Kamu butuh energi untuk bayi kita dan untuk risetmu sore nanti." Makan siang itu berlalu dengan penuh kemesraan, meskipun pikiran Keenan terus berputar mencari cara untuk kembali ke laboratorium tanpa ketahuan. Namun, ketenangan mereka tiba-tiba terusik ketika ponsel Aruna berdering. Layar ponsel menunjukkan nama, Julian-CEO Arkana. Wajah Aruna seketik
Aruna masih menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Di layar itu, Keenan tampak begitu tenang, tapi hanya tampak kepalanya saja seakan menyembunyikan bagian leher hingga ke bawah. Suaranya juga terdengar berat dan berwibawa saat bicara melalui speaker ponsel, menjelaskan kalau dia sedang berada di tengah-tengah jeda rapat penting. [Kenapa wajahmu begitu, Aruna? Apa ada yang tidak beres dari wajahku?] tanya Keenan di layar video call, bibirnya tetap mengukir senyum tipis yang tampan. [Bukan begitu, Keenan... Hanya saja, Pak Budi.. Pengawal baruku, baru saja izin ke kamar mandi tepat saat kamu menelepon. Rasanya... Aneh saja,] gumam Aruna, matanya melirik ke arah pintu laboratorium yang masih tertutup. Keenan terkekeh pelan. [Mungkin itu hanya kebetulan, Aruna. Sudah dulu ya, Yosua sudah memanggilku. Nikmati ruang riset barumu, Aruna. Aku mencintaimu.] Klik. Panggilan terputus. Di s
Sudah dua jam berlalu. Aruna mulai merasa haus. Ia berjalan menuju dispenser di sudut ruangan. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat Pak Budi sedang menyesap kopi di dekat meja pantry kecil sambil memperhatikannya. Pria itu mengangkat cangkirnya, dan saat itulah Aruna melihat sesuatu. Di pergelangan tangan pria itu, di balik lengan seragam yang sedikit tersingkap, terdapat bekas luka bakar kecil yang sangat ia kenali. Luka itu didapat Keenan saat menyelamatkan Aruna dari sebuah insiden kecil di dapur apartemen mereka beberapa hari lalu. Jantung Aruna berdegup kencang. Ia memperhatikan cara pria itu memegang cangkir, jari kelingking yang sedikit terangkat, persis seperti kebiasaan Keenan saat sedang berpikir keras. "Pak Budi," panggil Aruna tiba-tiba. Pria itu tersentak, hampir menumpahkan kopinya. "Iya, Bu Aruna?" Aruna berjalan mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga aroma pria itu t
Keenan, kini sudah duduk di balik kemudi dengan kaos polo hitam yang mencetak jelas otot tubuhnya dan dadanya yang bidang. Tangannya yang besar menggenggam kemudi, sementara tangan kirinya tak sedetik pun lepas dari paha Aruna, sesekali mengusapnya dengan gerakan sensual yang membuat Aruna sulit berkonsentrasi pada jadwal risetnya. "Ingat, Aruna. Jangan pernah lepaskan interkom itu. Aku akan mendengarkan setiap napasmu, setiap langkahmu," bisik Keenan dengan nada rendah yang protektif saat mobil berhenti di depan lobi. Aruna tersenyum, mengusap rahang tegas suaminya. "Aku tahu, Keenan. Kamu sudah mengatakannya sepuluh kali sejak kita sarapan tadi. Aku akan baik-baik saja." "Aku serius. Kalau Julian atau Raisya itu mendekat lebih dari satu meter, aku akan segera masuk dan meratakan tempat itu," lanjut Keenan. Ia menarik tengkuk Aruna, mendaratkan ciuman yang dalam dan penuh menuntut di bibir istrinya. Ciuman yang sedang menandai milikny
Begitu pintu apartemen lantai 12 itu tertutup dan terkunci, suasana langsung berubah drastis. Keenan tidak membiarkan Aruna menapakkan kaki di lantai. Ia langsung membopong Aruna menuju kamar utama mereka. Keenan menurunkan Aruna tepat di balik pintu kamar, menyudutkan tubuh wanita itu di antara pintu dan tubuh kekarnya. "Keenan..." desah Aruna saat merasakan deru nafas hangat Keenan terasa di keningnya. "Aku perlu memeriksa semuanya, Aruna. Semua bagian tubuhmu," bisik Keenan serak. Dengan gerakan yang sangat lembut namun penuh hasrat, tangan Keenan mulai membuka satu per satu kancing blazer yang dikenakan Aruna. Matanya menatap tajam setiap inci kulit yang mulus, mencari-cari apakah ada memar atau luka yang terlewatkan. Blazer jatuh ke lantai, disusul dengan kemeja putih Aruna. Keenan menelan ludah saat melihat istrinya kini hanya mengenakan dalaman satin tipis. Ia meraba bahu Aruna, lengannya, dan saat jarinya menc







