Aruna melangkah cepat meninggalkan pantry, mengabaikan panggilan Keenan yang suaranya menggema di ruangan itu. Rasa perih di pergelangan tangannya tidak sebanding dengan gejolak di dadanya. Ia butuh ruang, butuh napas, dan yang terpenting, ia butuh menjauh dari Keenan.Aruna memutuskan menuju ruang medis kantor. Di sana, seorang dokter muda bernama dr. Andra sedang merapikan peralatan. Andra adalah tipe pria yang ‘aman’, ramah, cerdas, dan memiliki senyum yang menenangkan. Pria itu menoleh begitu ada yang masuk kedalam ruangan, ia langsung memperhatikan Aruna."Aruna? Ada apa? Wajahmu pucat sekali," Andra menghampiri dengan langkah cepat."Tumpahan kopi, Dokter. Sepertinya sedikit melepuh," Aruna menunjukkan pergelangan tangannya yang kini mulai menampakkan warna kemerahan yang kontras dengan kulit putihnya."Astaga, mari duduk di sini. Ini pasti sakit sekali." Andra menuntun Aruna ke ranjang periksa. Dengan sangat lembut, ia meraih tangan Aruna untuk memeriksa lukanya. "Untungnya
Last Updated : 2026-01-09 Read more