LOGINSenyum miring yang terukir di wajah Renata belum sempat memudar ketika derap langkah tergesa-gesa memecah ketegangan di pelataran apartemen. Dua orang petugas sekuriti berseragam lengkap berlari mendekat dengan raut wajah cemas, disusul oleh manajer operasional gedung yang tampak panik."Bu Sinta! Anda tidak apa-apa?" tanya kepala sekuriti dengan napas terengah-engah begitu mengenali Sinta."Wanita ini tiba-tiba datang menyerang Sinta sampai terluka," sahut Arjuna. Netra gelapnya menatap Renata dengan tajam. Gadis itu mengambil satu langkah ke belakang."Aku cuma mendorongnya sedikit. Dia sendiri yang lebay sampai jatuh!""Renata, apa kamu benar-benar tidak punya rasa malu?" Ekspresi Arjuna menjadi lebih gelap, salah satu tangannya terkepal erat hingga urat-urat di lengannya tampak menonjol tajam.Renata tampak sedikit panik dan menelan ludahnya dengan gugup. Gadis itu sepertinya sudah tahu bahwa ia telah memancing amarah Arjuna."Aku datang kemari untuk menuntut keadilan, dia telah
Beberapa pengunjung restoran di sekitar mereka sempat menoleh ke arah meja akibat teriakan histeris Lula. Lula yang sadar jadi pusat perhatian cepat-cepat menutup mulutnya dengan kedua tangan, lalu terkekeh canggung seraya membungkukkan badan sedikit untuk meminta maaf kepada pengunjung lain."Lula, pelankan suaramu..." bisik Sinta sambil menutup wajahnya yang makin merona karena malu."Bagaimana aku bisa tenang?!" seru Lula dengan suara tertahan, melotot girang. "Ini berita terbesar tahun ini! Sahabatku akhirnya dilamar oleh pria yang benar!"Tak lama kemudian, Mas Jay kembali ke meja setelah dari kamar mandi. Pria itu menatap bingung ke arah Lula yang masih berkedip-kedip heboh dan Sinta yang wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus."Ada apa ini? Suara jeritan Lula bahkan terdengar sampai ke lorong toilet," goda Jay seraya mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah Lula."Babe, kamu tidak akan percaya ini!" Lula mengguncang-guncang lengan Jay tanpa ampun. "Tuan Muda kita baru saja
Napas Sinta tercekat. Ia tidak menyangka bahwa Arjuna akan mengatakan hal itu padanya.Menikah?"J-Juna...""Sinta... aku tidak akan memaksa kalau kamu tidak bersedia. Tapi, menikah denganku juga merupakan cara yang paling ampuh untuk membuatnya menyerah."Sinta mengerti, "dia" yang dimaksud tidak lain adalah Abimanyu."Maksudmu, kamu mau menikah denganku hanya agar dia menyerah?" tanya Sinta. Meski hanya sedetik, wajahnya tampak kecewa.Mendengar pertanyaan itu, ekspresi Arjuna menjadi lebih serius. "Tentu saja tidak. Aku mau menikah denganmu karena aku..."Arjuna menggigit bibir bawahnya, tampak bimbang dan khawatir. Sementara itu, Sinta kini menatap pemuda itu lekat-lekat, tanpa sadar meremas ujung blazernya kuat-kuat."Kamu... kenapa?"Arjuna menelan ludahnya dengan cepat, wajahnya memerah hingga ke telinga. Tak lama kemudian, pemuda itu menatap Sinta dalam-dalam. Setelah mengambil napas sejenak, ia berkata, "Aku mencintaimu. Sangat. Sinta, aku sangat mencintaimu."Sinta tercengan
"Tuan Abimanyu berpikir terlalu jauh. Saya hanya sedikit mengingatkan, bukan berarti saya akan mengingkari janji." Sinta berusaha untuk tetap tenang, kemudian melanjutkan, "Lagi pula, perjanjian itu hanya menyatakan bahwa saya wajib mendampingi Anda sebagai partner bisnis setiap akhir pekan. Tidak ada klausul khusus yang menyatakan bahwa saya harus memakai gaun pemberian Anda."Abimanyu menyandarkan punggungnya ke sofa, lalu melipat kedua tangannya di dada. Senyum tipis yang sarat akan dominasi kembali terukir di bibirnya."Memang tidak tertulis secara spesifik, Bu Sinta," ucap Abimanyu santai, namun terdengar begitu mengintimidasi. "Namun, saya punya standar sendiri, jadi sebaiknya Bu Sinta mengikuti standar saya. Bu Sinta tahu, kan, bahwa saya sangat menjaga martabat dan kehormatan keluarga Djaja?""Apa hubungannya gaun dengan kehormatan keluarga?""Tentu saja ada hubungannya, Bu Sinta. Jamuan makan yang saya hadiri merupakan acara bergengsi yang dihadiri oleh banyak pejabat, pengus
Saat itu, terdengar suara ketukan pintu yang lembut. Sinta segera mengusap air matanya dengan cepat, kemudian menarik napas dalam-dalam. "Masuk..." Marilyn masuk ke dalam ruangan itu dengan ekspresi cerah. Sinta menyambutnya dengan ceria. "Kak Marilyn? Apa ada sesuatu?" Marilyn mengangguk, kemudian meletakkan sebuah map di atas meja kerja Sinta. Saat ini, Marilyn telah resmi dipindahtugaskan menjadi sekretaris pribadi Sinta atas permintaan langsung dari Arjuna. Jadi, untuk ke depannya, Marilyn yang akan mendampingi dan mengajari Sinta agar bisa menjadi pemimpin perusahaan yang mumpuni. "Nona Sinta, ini adalah perjanjian kerja sama dari klien Jayadi Group sebelumnya. Kerja sama itu belum terlaksana. Saya sudah menjadwalkan pertemuan dengan pimpinan perusahaan ini besok lusa. Agendanya adalah membahas tentang kelanjutan proses pembangunan sepuluh blok apartemen bersubsidi di kawasan Tanah Abang yang sempat tertunda akibat krisis manajemen dan keuangan dari Jayadi Group sebelumny
"D-Dua triliun? Tidak mungkin!" Ruslan tampak sangat terkejut melihat surat perjanjian yang ada di hadapannya. Tubuhnya nyaris limbung ke belakang hingga pria itu harus berpegangan pada ujung meja rapat. Tidak hanya Ruslan yang seolah hampir kehilangan kesadaran, Renata, Ambar, Krisna, serta orang-orang yang ada di dalam ruang rapat itu langsung membeku. Wajah Renata dan Ambar bahkan sudah seputih kertas. Entah sejak kapan, Sinta merasa dalam dirinya telah tumbuh sisi iblis, hingga pemandangan di depannya membuat darahnya berdesir aneh, seperti rasa dahaga yang akhirnya bisa terpuaskan. Sinta menatap Renata dan Ruslan, yang sejak tadi paling bersemangat merendahkannya, secara bergantian. "Pak Ruslan, sesuai dengan perjanjian kita sebelumnya, karena saya berhasil mendapatkan tanah itu, maka Anda harus memohon maaf kepada saya dan dikeluarkan dari Saraswati Corp secara tidak hormat. Selain itu... Anda juga tidak akan mendapatkan pesangon sepeser pun karena Anda telah terbukti menyel







