LOGINDi usia kehamilannya yang memasuki 24 minggu, Sinta menyaksikan Abimanyu melepaskan hasrat sendirian sambil mendesahkan nama wanita lain. Selama tiga tahun pernikahan, ia terus berusaha meluluhkan hati suaminya yang dingin. Namun, sebuah kecelakaan yang disebabkan wanita yang dicintai Abimanyu membuat janin dalam kandungannya meninggal. Saat itulah cinta Sinta lenyap seutuhnya. Sinta memutuskan pergi meninggalkan keluarga Djaja yang menyengsarakannya. Ketika ia kembali sebagai wanita yang anggun bersama dengan pria berkuasa di sisinya, Abimanyu baru menyadari bahwa ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya. Namun, penyesalan itu datang terlambat. "Tuan Djaja, jangan menghalangi jalanku. Seperti katamu dulu, sekarang kita hanyalah orang asing."
View Moresuara Sinta melengking di balik telepon, antara terkejut, bingung, dan tak percaya.Lula di ujung telepon langsung meremas gaunnya dengan canggung. Ia melirik Tuan Prabu yang justru terkekeh santai seraya menyesap anggur merahnya di meja makan Ritz-Carlton."Iya, Sinta. Papa sedang ada urusan bisnis di London dan kebetulan bertemu Lula di bandara kemarin," sahut Prabu mengambil alih ponsel Lula, suaranya terdengar begitu tenang dan penuh wibawa. "Kamu tidak perlu cemas. Sahabatmu aman bersama Papa."Di Jakarta, Sinta menoleh pada Arjuna yang baru saja melangkah mendekatinya. Arjuna yang mendengar percakapan itu mengernyitkan kening, merebut ponsel dari tangan istrinya."Well, sepertinya aku melewatkan sesuatu.""Tutup mulutmu."Arjuna terkekeh pelan, kemudian menyerahkan kembali ponsel itu pada istrinya.Sinta yang tidak mengerti apapun tetap bersikap seperti biasa. Mengobrol dengan Lula dan ayah mertuanya bergantian.Setelah panggilan itu berakhir, Sinta menatap wajah suaminya yang t
Dua hari kemudian, Sinta dan Arjuna kembali bekerja di perusahaan masing-masing. Sinta kembali ke kantor Saraswati Corp, sementara Arjuna menggantikan sang ayah yang tengah dinas ke luar negeri untuk memimpin Pandawa Group. Selama dua hari, Sinta melihat Jay terus mencoba menghubungi Lula. Namun, Sinta dengan berat hati tidak memberitahunya. Pagi ini, Sinta akhirnya mencoba untuk memberi pengertian pada Jay bahwa Lula sudah mengambil keputusan untuk pergi, dan jika Lula sudah memutuskan sesuatu, gadis itu tidak akan mudah mengubah pikirannya. "Mas Jay, aku tahu Mas Jay tulus menyayangi Lula. Tapi, tanpa restu dari orang tua, akan sulit bagi kalian berdua untuk melangkah ke jenjang selanjutnya. Apalagi, orang tua Mas Jay hanya tinggal Ibu saja. Kalau kalian memang berjodoh, pasti akan ada jalannya nanti, tapi untuk sekarang, aku rasa Mas Jay harus menerima keputusan Lula. Kalau keadaan sudah lebih tenang, Mas Jay bisa mencoba untuk menghubunginya lagi nanti." Saat mendengar ucapan
Namun, Lula tidak beranjak dari tempatnya meskipun ia telah mendengar sendiri ucapan Arjuna bahwa keadaan Jay saat ini tidak memungkinkan untuk terus berhubungan dengan Lula. Lula mengusap sisa air mata di pipinya. Meskipun sakit, ia tidak ingin memaksakan sesuatu yang memang bukan untuknya. Jay pria yang baik, dia juga memanjakannya dengan tulus. Namun, pria juga bisa berubah jika sudah berurusan dengan restu orang tua. Dan Lula bukanlah wanita yang masih percaya bahwa ia mampu meluluhkan hati seseorang dengan pembuktian akan ketulusannya. Karena ada contoh nyata bahwa ketulusan seperti itu malah dijadikan alat untuk menindas. Contohnya, Sinta. Namun, tidak semua orang bisa sekuat dan seberuntung Sinta yang berhasil lepas dari keluarga mertuanya yang toxic lalu bertemu dengan pangerannya, Arjuna. Lula belum tentu seberuntung itu. Jadi, memang sebaiknya ia dan Jay putus saja. Toh, hubungan mereka belum lama, perasaan mereka juga belum sedalam itu. Lula yakin bahwa ia bisa
Setelah acara makan siang keluarga besar selesai dengan hangat dan penuh kesan, Arjuna memenuhi janjinya. Ia mengantar Sinta dan Lula menuju ruangan bersantai privat di lantai atas hotel yang lebih tenang, sementara ia pamit sejenak untuk menghubungi Jay.Sinta duduk di sofa berbusa empuk tepat di samping Lula. Ia menggenggam kedua tangan sahabatnya yang terasa dingin dan gemetar."Lula... sekarang cuma ada kita berdua," bisik Sinta lembut, menatap lurus ke dalam mata Lula yang berkaca-kaca. "Cerita sama aku, ada apa? Kenapa mata kamu sembab dan wajah kamu pucat begini dari tadi pagi? Apa kamu ada masalah sama Mas Jay?"Mendengar nama Jay diucapkan, pertahanan Lula runtuh seketika. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes membasahi pipinya. Gadis itu menunduk dalam-dalam, terisak pelan."Sin... maafin aku ya," bisik Lula dengan suara parau yang amat rapuh. "Harusnya di hari bahagia kamu ini, aku tidak merusaknya dan membuatmu cemas.""Ssst, jangan bicar












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore