LOGINDi usia kehamilannya yang memasuki 24 minggu, Sinta menyaksikan Abimanyu melepaskan hasrat sendirian sambil mendesahkan nama wanita lain. Selama tiga tahun pernikahan, ia terus berusaha meluluhkan hati suaminya yang dingin. Namun, sebuah kecelakaan yang disebabkan wanita yang dicintai Abimanyu membuat janin dalam kandungannya meninggal. Saat itulah cinta Sinta lenyap seutuhnya. Sinta memutuskan pergi meninggalkan keluarga Djaja yang menyengsarakannya. Ketika ia kembali sebagai wanita yang anggun bersama dengan pria berkuasa di sisinya, Abimanyu baru menyadari bahwa ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya. Namun, penyesalan itu datang terlambat. "Tuan Djaja, jangan menghalangi jalanku. Seperti katamu dulu, sekarang kita hanyalah orang asing."
View MoreDi usia kehamilannya yang memasuki 24 minggu, Sinta malah menyaksikan suaminya melepaskan hasrat sendirian sambil mendesahkan nama wanita lain.
Setiap malam sejak ia hamil, biasanya Sinta menyiapkan dua botol minuman di atas meja di samping tempat tidurnya. Namun, karena terlalu mengantuk setelah makan malam, Sinta pun tertidur tanpa menyiapkannya. Ia turun dari ranjang dan pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Saat baru saja keluar kamar, Sinta melihat cahaya lampu dari lorong ruang kerja Abimanyu masih menyala, sementara ruangan lainnya sudah gelap gulita. Berpikir jika suaminya sudah pulang, Sinta akhirnya berjalan mendekat untuk memastikan. Saat jaraknya semakin dekat, Sinta malah mendengar suara-suara aneh dari dalam ruang kerja Abimanyu hingga membuat bulu kuduknya berdiri. “Rashta…” Sinta membeku di depan pintu. Itu jelas suara Abimanyu. Pintu ruang kerja itu kebetulan tidak tertutup rapat. Sinta bisa melihat dari sela pintu, sosok Abimanyu yang duduk di kursi kerjanya, tengah bermain sendiri sambil memandangi foto seseorang. Jantung Sinta seakan merosot ke tanah melihat pemandangan itu, terutama saat menyadari nama yang disebutkan oleh suaminya. Rashta? Kenapa suaminya itu melakukannya sambil menyebutkan nama Rashta? Rashta Djaja. Anak angkat kesayangan keluarga Djaja. Adik angkat yang paling dimanjakan oleh Abimanyu. Sinta hampir tidak bisa menerima kenyataan. Tubuhnya limbung ke belakang dan tanpa sengaja menjatuhkan vas bunga dari atas rak hiasan yang ada di sudut lorong. Prang! Sinta tersentak saat pecahan beling itu mengenai kulit kakinya. Belum sempat ia melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu, pintu ruang kerja Abimanyu terbuka. “Sinta?” Sinta yang tengah menunduk membelakangi Abimanyu segera mengusap air matanya dengan cepat, lalu berbalik menghadap ke arah pria itu. “Maaf, tadi aku—” “Apa yang kamu lakukan di depan ruanganku?” Sinta meneguk ludahnya dengan kasar sebelum akhirnya menjawab, “Tadi aku haus dan ingin mengambil minum di dapur. Lalu aku melihat lampu ruang kerja Mas masih menyala, jadi aku pikir—” “Kamu pikir, kamu harus mengintip apa yang sedang aku lakukan?” Sinta mendongak, menatap netra biru pria itu dengan saksama. Wajah Abimanyu tetap datar, tanpa ada rasa malu ataupun bersalah darinya. Padahal yang dia lakukan tadi... “M-maaf, lain kali tidak akan aku ulangi.” Sinta akhirnya kehilangan energi untuk berkata-kata. Kenyataan pahit yang baru saja menghantamnya sudah cukup membuatnya terpukul. Sinta tidak menyadari tatapan Abimanyu yang penuh tanda tanya, sebelum pria itu kembali berbicara dengan ketus, “Kembalilah ke kamarmu. Jangan berkeliaran tengah malam dan mengagetkan orang.” Setelah berkata demikian, Abimanyu masuk kembali ke ruangan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Sinta. Sinta kembali ke kamarnya dengan langkah gontai. Setelah menutup pintu, tubuhnya merosot ke lantai. Sambil memeluk perutnya yang membuncit, Sinta melampiaskan kesedihannya karena kejadian mengejutkan yang barusan ia lihat. Abimanyu adalah seorang pengacara terkenal sekaligus pemain saham yang sangat sukses. Tampan, berbakat, sukses di usia muda—pria idaman semua wanita, termasuk Sinta. Sinta sudah mencintai Abimanyu selama 10 tahun, sejak masih duduk di bangku SMA. Ia begitu tergila-gila padanya, sedangkan pria itu memang tidak pernah tertarik padanya. Namun, ayah Abimanyu sendirilah yang melamar Sinta untuk putranya. Abimanyu, meski sosok yang dingin dan acuh, tidak pernah bisa membantah keinginan ayahnya. Jadilah mereka menikah dengan kondisi terpaksa. Meski Abimanyu selalu bersikap dingin semasa pernikahan mereka, Sinta tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan baik. Apalagi, sebentar lagi akan ada anak di antara mereka. Sinta yakin Abimanyu akan pelan-pelan menerimanya jika ia menjadi istri dan ibu yang baik bagi anak mereka. Belakangan, ia menyadari, Abimanyu bersikap dingin padanya bukan hanya karena terpaksa menikahinya, melainkan karena pria itu mencintai orang lain. Sinta mengerti. Abimanyu tampan dan menawan, dengan postur tubuh yang sangat ideal serta kesuksesan di usia muda. Tentu saja pria itu pasti sudah punya seseorang yang dicintai. Yang tidak ia duga adalah; orang yang dicintainya adalah Rashta, perempuan yang diangkat sebagai anak oleh keluarga Abimanyu sejak masih bayi. Perasaan Abimanyu pada adik angkatnya tidak mungkin diresmikan; itukah sebabnya ia mau-mau saja menerima pernikahan ini? Hati Sinta terasa begitu perih. Ia menatap perutnya yang membuncit, mengelusnya pelan. Tok, tok, tok! Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Sinta. Ia yang tengah duduk di balik pintu seketika menoleh ke samping. “Sinta.” Abimanyu memanggilnya. Sinta hanya melirik ke arah pintu sebentar, lalu memutuskan untuk mengabaikannya. Lagipula, mereka sudah pisah ranjang sejak sebulan yang lalu. Saat itu, Sinta tiba-tiba mengalami kontraksi palsu tengah malam, yang terjadi karena efek kelelahan setelah Sinta membantu ibu mertuanya menyiapkan acara pesta anniversary. Sejak itu, Abimanyu memutuskan untuk pisah kamar dengan alasan khawatir ia menendang atau melukai Sinta saat sedang tidur. Sekarang, Sinta tahu alasan sebenarnya kenapa Abimanyu tiba-tiba bersikeras meminta pisah kamar. Setelah beberapa saat, akhirnya suara ketukan itu berhenti, diikuti dengan langkah kaki yang menjauh. Malam itu, Sinta tidak bisa tidur karena terus menangis hingga baru bisa benar-benar terlelap setelah hampir pukul empat dini hari. Keesokan paginya, Sinta bangun tidur seperti biasa karena tidak terbiasa bangun lewat dari jam tujuh. Ia sengaja keluar dari kamar saat waktu menunjukkan pukul sembilan pagi dengan harapan Abimanyu sudah pergi ke kantor. Namun, baru saja melangkahkan kakinya dua jengkal, Sinta malah melihat Abimanyu duduk di ruang makan, menatapnya dengan dingin. “Baru bangun?” tanya Abimanyu tiba-tiba. Tumben sekali. Biasanya ia tidak pernah menyapa Sinta terlebih dahulu. “Hm,” Sinta menjawab dengan gumaman. Karena sarapan untuknya telah disiapkan, Sinta pun terpaksa duduk untuk sarapan bersama suaminya, meskipun kejadian semalam membuatnya tiba-tiba merasa mual. Melihat wajah murung Sinta, ekspresi Abimanyu pun ikut meredup. Sejak dulu, Sinta selalu tersenyum di hadapannya untuk menjaga suasana. Kali ini, Sinta tidak melakukannya. “Kamu masih marah?” tegurnya dingin. “Kalau kamu sangat ingin aku menemanimu periksa kandungan, untuk jadwal periksa selanjutnya, aku akan mengosongkan jadwalku.” Ternyata, Abimanyu mengira istrinya itu masih marah karena tidak ditemani periksa kehamilan kemarin, karena Rashta meminta dia untuk menonton film bersama dengan Orion dan Jupiter. Sinta memang sempat merajuk, tapi itu kemarin, saat ia masih berpikir pernikahan ini layak untuk dipertahankan. Sekarang, perasaannya pada Abimanyu terasa hambar. Lima tahun pernikahannya seperti berakhir sia-sia. “Nggak perlu. Aku bisa pergi sendiri.” Sinta menjawab datar tanpa menghentikan gerakannya memotong sandwich. Mendengar jawaban istrinya, ekspresi Abimanyu mengeras. “Apakah kamu harus semarah ini hanya karena masalah sepele? Kamu akan menjadi seorang ibu, berhentilah bersikap kekanak-kanakan.” Sinta menatap Abimanyu dengan tatapan kosong, “Masalah sepele?” “Apalagi kalau bukan masalah sepele? Masih ada banyak waktu ke depan sebelum tanggal kelahiran. Jangan membuat orang lain lelah karena sikapmu.” Mendengar itu, Sinta menarik napas panjang, “Kalau kamu selelah itu, mungkin sebaiknya kita akhiri saja semua ini. Ayo kita bercerai.”Senyum miring yang terukir di wajah Renata belum sempat memudar ketika derap langkah tergesa-gesa memecah ketegangan di pelataran apartemen. Dua orang petugas sekuriti berseragam lengkap berlari mendekat dengan raut wajah cemas, disusul oleh manajer operasional gedung yang tampak panik."Bu Sinta! Anda tidak apa-apa?" tanya kepala sekuriti dengan napas terengah-engah begitu mengenali Sinta."Wanita ini tiba-tiba datang menyerang Sinta sampai terluka," sahut Arjuna. Netra gelapnya menatap Renata dengan tajam. Gadis itu mengambil satu langkah ke belakang."Aku cuma mendorongnya sedikit. Dia sendiri yang lebay sampai jatuh!""Renata, apa kamu benar-benar tidak punya rasa malu?" Ekspresi Arjuna menjadi lebih gelap, salah satu tangannya terkepal erat hingga urat-urat di lengannya tampak menonjol tajam.Renata tampak sedikit panik dan menelan ludahnya dengan gugup. Gadis itu sepertinya sudah tahu bahwa ia telah memancing amarah Arjuna."Aku datang kemari untuk menuntut keadilan, dia telah
Beberapa pengunjung restoran di sekitar mereka sempat menoleh ke arah meja akibat teriakan histeris Lula. Lula yang sadar jadi pusat perhatian cepat-cepat menutup mulutnya dengan kedua tangan, lalu terkekeh canggung seraya membungkukkan badan sedikit untuk meminta maaf kepada pengunjung lain."Lula, pelankan suaramu..." bisik Sinta sambil menutup wajahnya yang makin merona karena malu."Bagaimana aku bisa tenang?!" seru Lula dengan suara tertahan, melotot girang. "Ini berita terbesar tahun ini! Sahabatku akhirnya dilamar oleh pria yang benar!"Tak lama kemudian, Mas Jay kembali ke meja setelah dari kamar mandi. Pria itu menatap bingung ke arah Lula yang masih berkedip-kedip heboh dan Sinta yang wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus."Ada apa ini? Suara jeritan Lula bahkan terdengar sampai ke lorong toilet," goda Jay seraya mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah Lula."Babe, kamu tidak akan percaya ini!" Lula mengguncang-guncang lengan Jay tanpa ampun. "Tuan Muda kita baru saja
Napas Sinta tercekat. Ia tidak menyangka bahwa Arjuna akan mengatakan hal itu padanya.Menikah?"J-Juna...""Sinta... aku tidak akan memaksa kalau kamu tidak bersedia. Tapi, menikah denganku juga merupakan cara yang paling ampuh untuk membuatnya menyerah."Sinta mengerti, "dia" yang dimaksud tidak lain adalah Abimanyu."Maksudmu, kamu mau menikah denganku hanya agar dia menyerah?" tanya Sinta. Meski hanya sedetik, wajahnya tampak kecewa.Mendengar pertanyaan itu, ekspresi Arjuna menjadi lebih serius. "Tentu saja tidak. Aku mau menikah denganmu karena aku..."Arjuna menggigit bibir bawahnya, tampak bimbang dan khawatir. Sementara itu, Sinta kini menatap pemuda itu lekat-lekat, tanpa sadar meremas ujung blazernya kuat-kuat."Kamu... kenapa?"Arjuna menelan ludahnya dengan cepat, wajahnya memerah hingga ke telinga. Tak lama kemudian, pemuda itu menatap Sinta dalam-dalam. Setelah mengambil napas sejenak, ia berkata, "Aku mencintaimu. Sangat. Sinta, aku sangat mencintaimu."Sinta tercengan
"Tuan Abimanyu berpikir terlalu jauh. Saya hanya sedikit mengingatkan, bukan berarti saya akan mengingkari janji." Sinta berusaha untuk tetap tenang, kemudian melanjutkan, "Lagi pula, perjanjian itu hanya menyatakan bahwa saya wajib mendampingi Anda sebagai partner bisnis setiap akhir pekan. Tidak ada klausul khusus yang menyatakan bahwa saya harus memakai gaun pemberian Anda."Abimanyu menyandarkan punggungnya ke sofa, lalu melipat kedua tangannya di dada. Senyum tipis yang sarat akan dominasi kembali terukir di bibirnya."Memang tidak tertulis secara spesifik, Bu Sinta," ucap Abimanyu santai, namun terdengar begitu mengintimidasi. "Namun, saya punya standar sendiri, jadi sebaiknya Bu Sinta mengikuti standar saya. Bu Sinta tahu, kan, bahwa saya sangat menjaga martabat dan kehormatan keluarga Djaja?""Apa hubungannya gaun dengan kehormatan keluarga?""Tentu saja ada hubungannya, Bu Sinta. Jamuan makan yang saya hadiri merupakan acara bergengsi yang dihadiri oleh banyak pejabat, pengus






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore