Share

Bab 5 Eh, Kin ...?!

last update publish date: 2026-09-27 14:38:25

“Makasih,” ucap Arka menyindir gadis yang baru turun dari boncengannya.

 

Kinara sendiri mengerutkan kening. “Gue nggak lupa. Cuma belum buka helm aja!” Ia mencebik kesal, sambil menyerahkan helm. “Terima kasih tebengannya, Dek Arka!”

 

Arka langsung menyengir lebar. Gadis manis yang ia yakin suka pada kakaknya itu, sering bersikap judes. Tapi malah Arka melihat wajahnya semakin manis.

 

“Entar malem makan di luar bareng gue, Mbak. Lo lagi pengen apa, gue traktir.”

 

Kinara mau langsung naik tangga, tapi ucapan tersebut membuatnya menoleh. “Lo amnesia? Kita ketemu di rumah makan padang! Gue udah beli nasi lauk dobel!”

 

Kinara mengangkat keresek merah ke depan wajah Arka. Malam nanti, ia masih mau merayakan sakit hati. Jadi Kinara sengaja beli makan yang mengenyangkan. Di sana tadi mereka bertemu. Kebetulan Arka juga sedang beli makanan.

 

“Tapi lo, kan, makannya banyak, Mbak. Gue jamin nanti jam delapan lo laper lagi.” Arka menggerakkan alis naik turun. Itu membuat ekspresinya jadi menjengkelkan.

 

“Malah ngatain gue!” Kinara langsung naik ke tangga.

 

“Yee ...!” Arka tak jadi melanjutkan kalimatnya. Ia memperhatikan gadis yang sedang menapaki anak tangga dengan cepat.

 

Hanya saja, di mata Arka gerakan Kinara itu sangat pelan. Bukan punggung yang diperhatikan, justru sepasang bongkahan yang bergerak naik turun bergantian saat Kinara berjalan.

 

“Montok juga ternyata,” gumam Arka sambil tersenyum. Bukan berniat mau mesum, tapi matanya langsung menangkap bagian itu.

 

“Ngapain lo?”

 

Arka menoleh saat ada suara yang ia kenal. “Lah, lo ngapain di sini?” ujarnya heran.

 

“Nunggu Bang Satria pulang,” ucap gadis yang berdiri di pintu kamar Satria itu.

 

Mata Arka melotot. “Nungguin?!” ujarnya tegas. Seolah tak percaya dengan pendengarannya sendiri. Atau mungkin pacar kakaknya yang salah bicara.

 

“Iya.” Nadira mengangguk pelan. “Lo bareng Kinar tadi?” Ia melongok ke lantai atas, meski tak bisa melihat teman baiknya.

 

“Kepo!” ujar Arka sambil memarkirkan motor di depan jendela kamar kos. “Jangan masuk, gue mau mandi!”

 

“Lo nyuruh gue nunggu di luar?!” tanya Nadira dengan nada tegas. “Gue bilangin Bang Satria, ya! Dia aja kasih izin gue masuk. Ngasih kunci cadangan juga!”

 

Arka menoleh, menatap pacar kakaknya dengan heran. “Mbak, lo kalo mau berduaan sama Bnag Sat, nggak apa. Sekarang cuma ada gue.”

 

Kening Nadira mengerut, kurang paham dengan maksud ucapan Arka.

 

"Nggak ngerti?” tanya lelaki muda itu. “Heran, kan, ngapain Bang Sat macarin cewek begini!?” gumam Arka kemudian.

 

“Tunggu di luar!” Hanya saja, Arka malas menjelaskan. Ia hanya bicara tegas sambil menunjuk wajah Nadira, lalu masuk dan menutup pintu.

 

“Arka!” Nadira memanggil lantang, tapi kemudian malu sendiri. Banyak tetangga yang keluar kamar. Ada yang baru pulang kerja. Dan mereka memperhatikannya.

 

“Maaf,” ujar Nadira sambil meringis. Karena pintu kamar ditutup oleh Arka, jadi Nadira naik ke lantai dua. Lagi pula, ia tak mungkin berduaan dengan Arka di kamar.

 

“Bener kata Bang Satria, Arka nyebelin banget.” Nadira kesal sendiri. Ia sampai di depan pintu kamar Kinara. Kebetulan terbuka sedikit, jadi pasti temannya sudah pulang.

 

“Kin,” panggil Nadira sambil mendorong pintu.

 

“Astaga! Kampret lo!” Kinara yang sedang buka baju, langsung kaget. Matanya melotot karena kemejanya sudah hampir terlepas saat pintu terbuka.

 

“Hehehe. Maaf.” Nadira hanya meringis. Ia masuk, lalu menutup pintu. “Lo pulang bareng Arka tadi?”

 

“Nggak.” Kinara langsung melenggang ke kamarnya. “Kebetulan aja sampenya bareng.”

 

“Oh.” Nadira mengekori temannya. “Gue kira bareng sama lo. Soalnya dia bawa helm dua.”

 

Kinara yang sedang  meraih handuk, jadi bergeming. ‘Eh, iya, tadi pagi dia boncengin gue. Apa biasanya anter jemput ceweknya dulu?’

 

“Nganter ceweknya kali,” ujar Kinara kemudian. Tak mau mengakui kalau benar ia dibonceng Arka dari rumah makan padang. “Gue mau mandi dulu, ya. Lo enakin aja di sini. Anggap kamar sendiri. Tapi jangan berantakin barang gue.”

 

“Hahaha.” Nadira hanya tertawa pelan. “Numpang rebahan, ya.”

 

“Sok.” Kinara pergi ke kamar mandi. Sudah bawa handuk dan baju ganti.

 

Sedangkan di kamar, senyum Nadira langsung lenyap saat bayangan Kinara hilang. “Lo punya apa sih, yang gue nggak punya, Kin?”

 

Mereka berteman sejak SMP. SMA juga satu sekolah, satu kelas pula selama 3 tahun. Lalu mereka sama-sama merantau, sama-sama mencari kerja.

 

Bedanya, Nadira nyaman dengan pekerjaannya dulu. Jadi kasir minimarket. Sampai ia sekarang masih bekerja tempat serupa, meski sudah pindah beberapa tempat.

 

Kinara dulu juga bekerja di minimarket, tapi ia nekat kuliah dengan gaji pas-pasan itu. Harus bisa mengatur uang sampai gajian lagi.

 

“Kin, lo sekali gajian berapa, sih?”

 

“Hah?!” Kinara baru keluar dari kamar mandi, kaget mendengar pertanyaan Nadira.

 

“Kerja di PT gajinya banyak, ya?” Nadira mengubah pertanyaannya.

 

“Tergantung jabatannya. Kenapa? Lo pengen pindah kerja?” Kinara melirik temannya itu, lalu mengusap rambut basah dengan handuk.

 

“Bukan pengen pindah kerja. Sebenarnya tempat yang sekarang gue udah nyaman.”

 

Kali ini Kinara menoleh dengan cepat. “Hla, terus ...?”

 

Nadira tersenyum samar. “Gue pengen kerja bareng Bang Satria.”

 

Sejenak, Kinara hanya bergeming. “Kuliah dulu di BSI. Bang Sat kan, kuliah di sana. Ntar kerja bareng, dah.”

 

Nadira malah merengut. “Emang kerja di PT gitu harus kuliah, ya?”

 

“Kalo lo mau jadi operator Produksi, ijazah SMA cukup. Tapi Bang Sat kan, di bagian Office. Yang kerjanya duduk, depan komputer, ketemu sama orang penting. Harus bisa Bahasa Inggris juga. Soalnya semua komputer nggak ada yang bahasa Indonesia.”

 

Nadira meringis. “Gue di bawah standar, dong?”

 

Kinara menatap temannya agak lama. “Jangan gitu ....”

 

“Gue Cuma iri lo bisa bareng Bang Satria tiap hari,” potong Nadira cepat.

 

Kinara sampai bengong karena suara temannya yang tegas itu. “Gue nggak bareng sama Bang Sat.”

 

“Tadi pagi?” tanya Nadira memastikan.

 

“Nggak.” Kinara menggeleng. “Dira, lo kenal gue. Kita temenan bukan cuma setahun. Lo tahu, kalo cowok yang punya pasangan itu, nggak menarik di mata gue.”

 

Nadira tahu. Tetap saja ia cemburu saat pagi tadi Satria mengatakan mau bareng Kinara. “Ya ....”

 

Ting!

 

Ucapan Nadira berhenti. Malah ia langsung meraih ponsel yang baru berdenting karena sebuah pesan masuk. Senyuman juga muncul di wajah gadis itu.

 

Kinara yang melihat, langsung melengos. Ia menebak pesan dari pacar Nadira. Meski cemburu, tapi Kinara bersikap baik. Ia mengusap rambut lagi, lalu menggantung kain basah itu di pintu.

 

Saat itu, Kinara lewat di belakang Nadira. Tidak berniat kepo, tapi matanya melirik ke arah ponsel temannya itu. Di  sana ia bisa melihat kalimat sayang-sayangan.

 

“Dih?!” Tanpa sadar, Kinara mencibir. Hanya saja, kemudian ia melihat nama yang tertulis di bagian atas layar. Bukan nama Satria. Bukan Sayangku, Cintaku, atau sejenisnya.

 

“Mas Ano?!” gumam Kinara lirih.

 

Tapi Nadira mendengar. Ia menoleh, lalu buru-buru menutup layar ponsel. “Eh, Kin ...?” Gadis itu panik sendiri.

 

Sedangkan Kinara hanya menatap, tanpa berniat bertanya.

 

 

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Oh Hana
Kumpulin koin dulu buat baca next part. Semangat, Kak Dwi! ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ditolak Kakaknya, Dikejar Adiknya   Bab 8 Bego

    Dira [Kin, lo sengaja bareng Arka biar bisa deket terus sama Bang Satria, kan?] Satria [Kin, lo belum sampe? Mampir ke mana sama Arka?] Arka [Mbak Kin, kaki aku luka parah. Kamu tanggung jawab pokoknya. Nanti sore traktir aku makan sate. Aku butuh protein buat pemulihan.] “Para Kampret!” Kinara mendesah panjang saat melihat layar ponsel. Tiga pesan yang tadi pagi diterima hampir bersamaan, belum ada yang ia balas. Sampai siang, ponsel Kinara tetap sepi. Tidak ada notifikasi, kecuali pembaruan aplikasi. Tapi setiap kali Kinara buka ponsel, tiga pesan paling atas itu membuatnya kesal terus. Akhirnya ia mengirim balasan. [Maksud lo gimana?] Kinara menekan tombol kirim. Pesan dari Nadira yang ia balas. Sekarang Kinara makan siang di kantin sambil menatap layar ponsel. Pesan dengan cepat berubah jadi centang biru. Bahkan Nadira terlihat sedang mengetik. Kinara jadi menunggu. Dira [Lo dulu sering banget ceritain Bang Satria. Lo suka sama dia, kan?] Kinara sampai me

  • Ditolak Kakaknya, Dikejar Adiknya   Bab 7 Hah?

    “Kinara belum dateng, Pak?” Satria bertanya pada Manajer Bagian Produksi yang sedang berdiri di depan meja. “Belum.” Lelaki itu menjawab pelan, bahkan hanya melirik sekilas pada teman Kinara. Satria langsung memeriksa jam tangan. “Lah, ke mana tuh, bocah? Tadi berangkat duluan.” Lelaki bernama Purnomo yang sedang pakai komputer Kinara, melirik lagi. “Kinara punya pacar, loh, Mas,” ucapnya santai. Karena di mata Purnomo, jelas sekali kalau Satria suka pada Kinara. Tapi selama dua hari, Purnomo melihat Kinara diantar pacar. Mereka bercanda, saling sindir, lalu Kinara pamit dengan lambaian kecil. Meski wajah Kinara terlihat jutek, beberapa langkah saat meninggalkan gerbang, Kinara tersenyum. “Hah?!” Sekarang Satria bengong. “Punya, Pak? Siapa?” “Nggak tahu namanya. Tapi dianter terus tiap pagi.”Satria mengerjap pelan. Ia langsung tahu yang dimaksud Purnomo adalah Arka, adiknya. “Bukan pacar itu, Pak. Kinara bohong.” Purnomo jadi menatap Satria. Ia tersenyum simpul. “Kinara nggak

  • Ditolak Kakaknya, Dikejar Adiknya   Bab 6 Kawin yuk, Mbak

    “Mau sarapan apa, Kin?” Pertanyaan Nadira membuat Kinara menoleh dengan cepat. “Gue paling beli sambil jalan,” ujar gadis yang sedang menyisir rambut itu. “Lah, nggak sarapan bareng dong?” Nadira sampai merengut. “Gue udah janjian sama Bang Satria.” “Ya, udah. Lo berdua aja. Ngapain juga ngajak gue!?” Kinara merapikan rambut sekali lagi, memastikan penampilannya sudah rapi. “Ya, gue nginep di sini. Masak lo nggak mau sarapan bareng.” Kinara mendesah panjang. Bukan keinginannya Nadira menginap. Bahkan ia terpaksa mengizinkan gadis itu tidur di kamarnya. Kinara mengira Nadira sudah diantar pulang setelah pergi kencan dengan Satria. Justru menjelang tengah malam, pintu kamarnya diketuk. Pukul 23.05. Kinara sampai kaget melihat Nadira dan Satria berdiri di depan pintu kamarnya. Sekarang temannya itu pakai kemejanya, pakai jeans miliknya juga. Bahkan pakaian dalam juga milik Kinara yang masih baru. Ia merelakan stok pakaian dalamnya untuk Nadira, daripada miliknya dipinj

  • Ditolak Kakaknya, Dikejar Adiknya   Bab 5 Eh, Kin ...?!

    “Makasih,” ucap Arka menyindir gadis yang baru turun dari boncengannya. Kinara sendiri mengerutkan kening. “Gue nggak lupa. Cuma belum buka helm aja!” Ia mencebik kesal, sambil menyerahkan helm. “Terima kasih tebengannya, Dek Arka!” Arka langsung menyengir lebar. Gadis manis yang ia yakin suka pada kakaknya itu, sering bersikap judes. Tapi malah Arka melihat wajahnya semakin manis. “Entar malem makan di luar bareng gue, Mbak. Lo lagi pengen apa, gue traktir.” Kinara mau langsung naik tangga, tapi ucapan tersebut membuatnya menoleh. “Lo amnesia? Kita ketemu di rumah makan padang! Gue udah beli nasi lauk dobel!” Kinara mengangkat keresek merah ke depan wajah Arka. Malam nanti, ia masih mau merayakan sakit hati. Jadi Kinara sengaja beli makan yang mengenyangkan. Di sana tadi mereka bertemu. Kebetulan Arka juga sedang beli makanan. “Tapi lo, kan, makannya banyak, Mbak. Gue jamin nanti jam delapan lo laper lagi.” Arka menggerakkan alis naik turun. Itu membuat ekspresinya jadi menjeng

  • Ditolak Kakaknya, Dikejar Adiknya   Bab 4 Hah, Suka?

    “Sialan! Mau ada audit, malah kesiangan!” Kinara kesal pada diri sendiri karena terlambat bangun. Alarm pukul 5 pagi, tak terdengar. “Gara-gara kebanyakan nangis, sih! Drama banget! Kayak abis diapain aja sama si Bang Sat!” Kinara kembali menggerutu sendiri. Tubuhnya terus bergerak melakukan persiapan kerja. “Jam berapa ini?” Kinara menghidupkan layar ponsel saat akan keluar dari pintu kamar. “Gila! Mepet banget!” Gadis itu keluar dengan cepat. Tangannya pun lincah mengunci pintu. Kemudian, kakinya melangkah lebar, bahkan langsung melewati dua anak tangga. “Bareng gue, Kin!” Kinara menoleh. Ada Satria yang baru memanaskan motor. Lelaki itu tersenyum padanya. “Bentar. Gue ambil helm lo dulu!?” Lelaki itu langsung ke kamar lagi. Kinara meringis. Yang dimaksud bukan helm miliknya. Tapi helm milik Satria yang sering ia pakai saat nebeng. “Nggak usah, Bang. Gue mau beli lontong dulu!” seru Kinara lantang. “Gue anter. Gue juga mau nyari lontong sayur!” Suara Satria terden

  • Ditolak Kakaknya, Dikejar Adiknya   Bab 3 Kamu Nggak Apa-Apa?

    “Hop! Hop!” seru Kinara sambil menepuk pundak Arka dengan kuat. “Berhenti! Gue turun di sini!” ujarnya lagi. “Lah, ngapa dah? Tinggal masuk doang, malah minta stop!” Arka tetap menghentikan motornya di depan pagar kos. “Banyak orang, Ogeb!” Kinara melotot pada lelaki yang ternyata 4 tahun lebih muda darinya itu. “Gue nggak mau ada gosip!” “Bilang aja lo takut Bang Satria salah paham,” ucap Arka setengah mengejek. “Nggak, ya! Jangan asal ngomong!” Kinara menyangkal dengan tegas. “Hahaha. Biasa aja kali?! Nggak usah panik gitu.” Arka cengengesan melihat gadis yang panik itu. Ia belum maju, masih duduk di atas motor yang berhenti di depan pintu masuk kos. “Sana masuk! Ngapain berdiri di sini?! Nungguin gue?” Alis Arka naik sebelah. Senyumnya juga muncul, tapi itu membuat wajahnya jadi tengil. “Dih, ge-er!” Kinara langsung melengos. Ia melewati pagar yang masih terbuka lebar. Mata gadis itu langsung waspada, karena ada motor Satria. “Jangan bilang Dira masih ada,” gumamnya li

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status