LOGINTreated like trash, undermined, maltreated, overused and abused... all were the order of the day for Bethany Cassidy married to Charles Worth. The whole of his family used her like a wet piece of rag and used and dumped her whenever they wanted but Bethany, using the feelings she has for Charles to stay for him, endures all of it, considering it to be what they she tagged her marriage trials... UNTIL... Bethany walks into the room and sees Charles in bed with another woman who is supposed to be her sister-in-law. Finally, it all comes crashing down and in the spontaneous events that follows, she lands herself into the hot, rich and powerful mess called Arthur Worth... A man as fine as a good bottle of aged wine... Charles's Uncle. But all, they say, is fair in love and war... Bethany is about to fight her battles, with a very capable man by her sides. "Don't you mind that you'll have the same last name as that scumbag?" Arthur asks, suddenly jerking her close. Bethany smirks. "Leave the name, the man only matters." She whispers right back just as he kisses her fiercely on the lips in the middle of the onlooking crowd.
View More“Bagaimana kalau kita bersenang-senang sedikit sebelum Tuan Yama tiba?” Suara seorang pria membuat Dea berusaha sadar dari pengaruh wine yang diminumnya setengah jam yang lalu.
“Iya, Tuan hanya menginginkan nyawanya. Toh, dia akan dibuang ke jurang sesudah itu.” Seorang pria lain menyahut sambil tertawa.
"Tuan Y-yama? J-jurang?" Perkataannya membuat kedua mata Dea membulat seketika dan panik. Melihat beberapa pria yang sedang mengelilinginya saat ini. Dea menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali, berusaha sadar dari pengaruh alkohol yang sudah semakin kuat menjalar di tubuhnya. Sebuah kamar mewah! Dia sadar harus segera melarikan diri walau kepalanya terasa sangat berat. Dia setengah mabuk.
“Kalian siapa? Pergi!”
Dea masih tidak mengerti bagaimana dia bisa terbangun di ranjang dengan beberapa pria berwajah sangar menatapnya seolah-olah mereka sangat lapar.
Satu jam sebelumnya, dia menyaksikan bagaimana kekasihnya berlutut di hadapan salah seorang teman kerjanya. Sebuah cincin membuat kedua insan itu bertunangan secara resmi. Dia merasa dikhianati dan terpuruk.
Jean-Sahabatnya menelepon, berusaha menghibur hatinya dan mengatakan bahwa dia sudah mempersiapkan sebuah hiburan untuk menghibur Dea yang terluka. Sahabatnya malah mengatakan bahwa dia sudah menyiapkan beberapa pria penghibur yang ketampanannya ribuan kali dari mantan pacarnya.
Akan tetapi, saat sampai di Bar tempat mereka janji untuk bertemu, malah tidak terlihat bayangan sahabatnya—Jean.
Alhasil, Dea memesan sejumlah wine dan setengah botol minuman itu sudah berhasil membuat dirinya sempoyongan. Dea memilih pulang untuk mencegah terjadinya hal yang tidak dia inginkan. Namun, saat keluar dari cafe itu, dia malah diculik oleh beberapa pria asing dan tidak mampu melawan.
Dea berakhir di ranjang saat ini. Ada enam pria berwajah sangar sedang mengelilinginya. Salah satu mereka sudah memaksanya minum obat perangsang sehingga Dea sudah hampir kehilangan kesadarannya, ditambah efek minuman yang sudah dihabiskannya setengah botol tadi juga sudah mulai menguasai dirinya.
Tiba-tiba, salah seorang dari pria itu melangkah maju, berusaha meraih tangan Dea dan mulai mencoba menarik gaun yang dipakai Dea, membuat lamunan Dea buyar seketika.
"J-jangan!" pekik Dea berusaha meronta di antara cahaya minim yang membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas.
Tanpa bisa dicegah, gaunnya sudah berhasil dikoyak oleh beberapa pria yang tertawa terus sepanjang aksinya.
"Sret! Sret!"
Bagian atas gaun yang dipakainya ikut terkoyak dan dalam hitungan detik sudah menyisakan dalaman yang membuat mata mereka yang lapar semakin lapar.
"Wow! Jalang kecil ini masih mulus." Ejekan menjijikkan keluar dari mulut mereka disertai siulan nakal beberapa pria.
"Lepaskan!" pekik Dea histeris dengan suara penuh keputusasaan.
"Plak!"
Sebuah tamparan mengenai pipi Dea dan membuat pelipisnya sobek, darah mengalir membasahi sudut matanya sehingga matanya basah bercampur air mata.
"J-jangan..." Suara Dea bergetar dan tanpa daya berada dalam kukungan beberapa pria yang siap mengerogoti tubuhnya dengan kejam. Tetapi sebelum para pria itu sempat melakukan aksi bejatnya lebih lanjut, sebuah suara berat memerintah dari belakang mereka.
“Kalian pergi. Dia pasti sudah mendapat pelajaran kali ini."
Dea bisa menebak, suara itu berasal dari Tuan yang mereka panggil Yama. Siluet sosok pria itu berjalan mendekat dengan langkah mantap. Sorot matanya tajam dan penuh otoritas. Dea segera menutupi dirinya dengan selimut kamar berwarna putih.
Dea tidak bisa melihat lebih jelas karena darah yang membasahi sebelah matanya membuatnya terasa perih. Dia hanya tahu, pria itu memiliki sosok rahang tegas dan berperawakan tinggi dengan suara bariton. Kepalanya berat dan pandangannya tidak jelas.
"T-tuan..."
Pria-pria itu segera mundur dengan patuh, meskipun salah satu dari mereka tampak enggan sambil memegang sudut celananya yang sudah terasa ketat. Beberapa dari mereka sudah sempat membuka kemeja dan hanya menyisakan celana pendek.
“Kalian dengar apa yang kukatakan? Pergi!” ulang Yama, kali ini dengan nada yang lebih tegas.
Akhirnya, mereka pergi, meninggalkan Dea sendirian dengan pria itu.
Dea yang masih terisak menggenggam pakaian koyaknya dengan erat. “Kalian sebenarnya siapa? Dan mengapa menangkapku?” tanyanya dengan suara bergetar. "Permainan kalian kasar. Aku tidak suka ini! Panggil Jean!"
"Siapa Jean? Kau menganggap ini permainan?" Yama merapat dan mengungkung Dea dengan cepat. Kedua tangan Dea ditekan ke atas kepalanya dan menempel di sandaran tempat tidur.
"Lepaskan, aku tidak akan membayar kalian!" geram Dea.
Pria itu menatapnya beberapa saat dan merasa bingung, sebelum akhirnya berkata, “Aku yang seharusnya bertanya, mengapa Ibumu mencelakakan Ibuku?"
"I-ibuku?"
Kondisi Dea membuat kedua mata Yama tertuju pada belahan depan gadis itu yang sudah tidak tertutup pakaian lagi.
“Siapa Ibumu?” Dea menatapnya bingung dengan mata nanar. Kepalanya tidak bisa mencerna dengan baik akibat efek mabuk yang mulai menguasainya sehingga dia juga tidak bisa membedakan apakah dia sedang bermimpi atau sedang dalam kondisi naas.
Kedua mata indah milik Dea berkedip-kedip terus dan berusaha melihat pria di depannya lebih jelas. Yama mengernyitkan keningnya lalu melepaskan tangan Dea.
“Errgh…” Suara Dea terdengar manja.
Pria yang dipanggil Yama itu menjepit dagu Dea dengan kedua jarinya sehingga wajah mereka bertemu. Saat itu, di antar cahaya remang lampu kamar, akhirnya Dea bisa melihat wajah Yama yang terlihat garang. Kumis tipis mengelilingi wajah tampan itu di antara cahaya samar-samar yang memantul di antara mereka.
"Ternyata kamu pria tampan," puji Dea tanpa sadar. Tenaganya untuk melawan sudah habis dan dia pasrah terhadap keadaan akibat obat perangsang yang didapatnya tadi.
Pria itu mengeryitkan alisnya sekali lagi dan melepaskan dagu Dea, tetapi masih tetap mengukung gadis itu di bawahnya.
Di luar dugaan, bukannya melarikan diri, Dea malah mengelus pipi Yama dengan lembut dan tidak menyadari bahaya yang dibawa pria itu.
"Kau mabuk?" Tanpa sadar, tatapan Yama menelusuri tubuh yang terkulai tak berdaya di bawah kukungannya. Seolah-olah sedang mengagumi kecantikan dari gadis yang sudah kehilangan tenaganya untuk meronta itu.
Kulit mulus Dea dengan beberapa tetesan keringat sebesar butiran jagung menghiasi tengkuk leher dan lekuk tubuhnya yang hanya tertutup kain dengan jumlah sangat minim, menimbulkan sebuah hasrat yang tidak mampu ditahan oleh pria normal seperti dirinya.
Bau alkohol menyeruak dari bibir tipis yang mungil miliknya, membuat dada Yama berdesir seakan-akan ingin ikut menikmati rasa manis yang mungkin disuguhkan.
"Pria Tampan, aku ingat sekarang. Jean memesanmu untuk melayaniku, bukan? Lakukanlah tugasmu sekarang!" bisik Dea dengan mata penuh manja.
Yama menelan salivanya sebelum berkata, "Baiklah, kalau kau masih tidak mau mengakuinya. Sepertinya aku harus mengambil sedikit keuntungan darimu sebagai bayaran atas apa yang sudah kalian perbuat!"
Sret!
Dalaman sebagai penutup bagian atas yang dipakai Dea koyak seketika dan dilempar ke belakang oleh pria itu secara asal. Membuat tubuh gadis itu polos seutuhnya.
"Mason! Come on, put the s'mores down for your sister." The eight year old boy pouts, and rolls his eyes. "She's not my sister." Bethany looks down at her son and raises an eyebrow. "Unless you want a smack on your non existent bum, put that smore down for Cleo." Cleo puts her tongue out, snatches the snack, eats it one whole bite and runs away, Mason on her tail. Chara looks up from her magazine and laughs, her eyes wide with age. "That's how it is, they'll grow to love one another either way. Mason must be so happy, seeing how they're getting along." Bethany chuckles softly in remembrance. It'll be eight years in a few weeks since he passed on. It'll be three since Martha also left them behind... And in another few months, it'll be eight years since these cat and mouse delights have been born. Eight years old, Bethany's Mason and Eight years old Chara's Cleo Worth. "Where's Arthur anyway?" Chara asks as she finishes the wine in the glass. Bethany chuckles... "He's..." Art
The news spreads faster than a regular tabloid scandal now that they are corporate world celebrities, but this time, the rumor is all true.Campbell Conglomerate isn’t just back on its feet, it’s pretty much untouchable.In less than a week since the press conference detonated Robert Matrick’s legacy into legal ash, Campbell’s shares have shot up by fifty seven percent. Their reputation, once hanging by a thread, is now gleaming now that the investors and shareholders are the ones showing up themselves, a win is always a win.And at this particular moment, at the very top of the building, on the 41st floor of the Campbell Conglomerate company building, the glass conference room is full.Bethany Worth walks in with a silk blouse tucked into a navy skirt and a slightly oversized blazer she hasn’t bothered to button, it’s fashion after all. And right behind her, Arthur follows with his sling finally gone, wearing a steel grey colored suit, specifically tailored for him, his hand resting a
The hospital room is dim and quiet except for the steady beeps of the machine strapped to Mason’s body… According to the doctors, he’s already on his last lap.Outside, the sun dips low over the city skyline, casting the last sun rays of the day through the half open window blinds. It should feel warm. Comforting.But in this room?It feels like a countdown.Arthur stands near the foot of the bed, cast still wrapped tightly around his left arm, he had used it to cushion his fall that day and dislocated it, his face is pale, his jaw clenched, but his eyes fixed on the man lying in front of him, they had hated each other’s guts at first but now it’s the complete opposite, he’s family after all.Beside him, Bethany sits in the corner, unusually still. Not cold. Just... bracing. Her hands are folded tightly in her lap, white knuckled, and her lips are pressed together in silence, many things wanting to be said but there aren’t any words to convey them.Mason Campbell, the soldier who woul
The Grand Hall in the heartbeat of the whole country is buzzing.Security is doubled this early evening. Cameras line the red carpet almost like it’s a celebrity party. There’s an army of media reps, government officials, and high-profile investors all gathered in their very best suits and evening wear, murmuring with excitement. Reporters in neat blazers, cameras adjusting lenses, doing pre conference shoots and all of those. The stage is set with the usual blue velvet backdrop and a pair of flags on either side.At the front of the stage, a massive LED screen glows behind a glassy black podium. The country’s seal gleams on everything except the things it is supposed to be on and something else’s logo is on every other thing, ranging from the podium itself to the press badges to the water bottles being handed out.It's practically a coronation ceremony for someone, rather than the public announcement it is supposed to be.Because today, this conference?Robert Matrick is here to annou
Bethany sat quietly by Alexa’s side in the hospital room, watching her closely.The beeping of the heart monitor and the sterile scent of disinfectant filled the air, creating an already uncomfortable atmosphere for someone like Bethany who does not like the smell and even though she tries to not ha
Bethany and Arthur lay side by side on the soft grass, the warmth of the sun sinking into their skin as a gentle breeze rustled the faraway trees around them.For a while, they simply enjoy the silence, the serenity of being away from all the noise and complications of the world. The tennis court th
The next morning, Bethany joins them down at breakfast, a bit disgruntled. "You two are so against me. Why would you two make breakfast?"Arthur looks up while taking off the apron. "What breakfast?"Bethany cocks her head to the side. "Really?" She shakes her head in the direction of the apron that h
The light in the window has changed. The opaque film has shifted just a little bit enough to know that it is now light outside.Bethany notices it first thing as she cranks her sore neck. Morning, or something close to it, has arrived. Not that it means anything in a place like this. She did not hav


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews