Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 217 Jam Tangan

Share

Bab 217 Jam Tangan

Author: NFLusica
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-14 21:15:55

"Ada jam tangan Bapak di dasarnya. Udah mati, aku taruh lagi gara-gara aku kira nggak penting. Kalau nunggu besok pagi, aku takut lupa lagi," jawab Nindy, membuka pintu kamar.

Malik menyusul di belakangnya. Mereka menyusuri lorong pendek ke kamar tambahan, dan Malik menyalakan lampunya sementara Nindy menarik kursi plastik ke depan lemari.

"Turun, biar aku yang ambil," ucap Malik, memegang sandaran kursi itu sebelum Nindy sempat naik.

Nindy turun lagi tanpa membantah. Malik naik, meraih kardus
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dok, Please Cukup!   Bab 222 Interview

    "Bapak inget kasih ke siapa aja?" tanya Nindy."Sudah lupa. Tiap jam yang selesai saya benerin, saya selipkan satu kartu di kotaknya, biar orangnya ingat ke mana harus balik kalau rusak lagi. Kartu ini bisa ada di laci ratusan rumah," jawab laki-laki itu.Penjelasan itu masuk akal. Nindy memandangi wajahnya sambil menghitung dalam kepala, dan dia tidak menemukan satu bagian pun yang bisa dia bantah.Dia mencoba dari sisi lain. Kartu itu dia balik sampai sisi bertuliskan tangan menghadap ke atas, lalu dia dorong pelan ke arah laki-laki tersebut."Kalau tulisan di belakangnya ini, Bapak kenal tulisannya?" tanya Nindy.Laki-laki itu memakai kaca pembesarnya lagi untuk membaca baris pendek itu. Dia membacanya lama, lebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk membaca satu kalimat sependek itu, lalu melepas kaca pembesar dan meletakkannya di sebelah gelas teh."Tulisan orang tua, Bu. Tintanya habis di tengah jalan," jawab laki-laki itu."Tulisannya bilang orangnya ada di sini tiap hari kecu

  • Dok, Please Cukup!   Bab 221 Kartu Cetakan

    Nindy membuka tas, mengeluarkan bungkusan sapu tangan, lalu membukanya di atas meja kerja. Jam tangan bertali kulit cokelat itu tergeletak di atas kain hijau, kacanya buram, jarumnya berhenti di empat lewat dua belas."Ini jam peninggalan almarhum bapak saya. Bapak pakai jam ini dari muda, udah lama mati, saya pengin bisa jalan lagi," ucap Nindy.Laki-laki tua itu memandangi jam itu di atas meja beberapa detik, lalu baru mengulurkan tangan dan mengangkatnya dengan dua jari.Jam itu dia bolak-balik beberapa kali di bawah lampu. Bagian depannya, bagian sampingnya, lalu tutup belakangnya, dan di situ ibu jarinya berhenti di atas goresan-goresan halus bekas dibuka.Ibu jari itu diam di sana cukup lama. Nindy menghitung dalam kepala sampai tujuh sebelum jari itu bergerak lagi."Ini peninggalan bapak Ibu, ya?" tanya laki-laki itu."Iya, Pak," jawab Nindy, padahal kalimat itu baru dia ucapkan semenit lalu.Laki-laki itu mengangguk pelan. Jam tersebut dia letakkan kembali di atas kain hijau,

  • Dok, Please Cukup!   Bab 220 Benerin Jam Tangan

    Malik ikut mencondongkan badan. Bingkai pintu di foto dan bingkai pintu di ujung deretan itu sama persis, lengkung kecil di atas kusennya dan dua tiang bata di kiri kanannya, meski pintunya sekarang sudah diganti pintu lipat besi dan tiang-tiangnya dicat hijau tua yang sudah pudar."Catnya udah ganti berapa kali, ya. Dari foto kan nggak keliatan warnanya," gumam Malik."Tiga kali, mungkin. Liat, di bagian yang ngelupas ada warna biru, terus di bawahnya kuning," jawab Nindy, menunjuk lewat kaca.Foto itu dia lipat lagi dan dia kembalikan ke amplop. Malik memandangi bengkel itu beberapa saat, lalu menoleh ke istrinya."Biar aku masuk duluan, sendirian. Liat dulu orangnya kayak gimana, baru kamu nyusul," ucap Malik."Kita udah sepakat semalem, Malik. Masuk berdua, nggak nyebut nama siapa pun, terus pulang begitu aku nggak nyaman," jawab Nindy, tanpa menoleh dari kaca depan.Malik mengangguk dan tidak mengulang tawarannya. Tangannya pindah dari setir ke tangan Nindy di atas tas, lalu meng

  • Dok, Please Cukup!   Bab 219 Dua Minggu Lagi

    Mendengar itu, Nindy menyandarkan kepala ke jendela dan menghela napas panjang yang dibuat-buat. "Kita udah bahas ini berbulan-bulan lalu, Malik. Aku masih pengin ada Surya-nya, buat Ibu.""Surya Sastro," usul Malik."Kedengerannya kayak nama toko bangunan di pinggir jalan provinsi," jawab Nindy, dan Malik tertawa sampai harus mengencangkan pegangannya di setir.Sesudah tawa suaminya reda, Nindy melanjutkan, "Atau Prakoso, kayak nama belakang Bapak.""Prakoso Sastrowardoyo? Itu kedengerannya kayak nama jenderal yang fotonya dipajang di kantor kecamatan," ucap Malik.Mereka berdebat soal itu lebih lama dari yang perlu. Malik menyebut lima nama yang semuanya mengandung Sastro, Nindy menolak kelimanya dengan alasan yang makin lama makin mengada-ada, mulai dari terlalu panjang untuk ditulis di buku tulis anak SD sampai terlalu mirip nama pejabat kelurahan."Kita bahkan belum tahu laki-laki atau perempuan. Ngapain ribut sekarang?" ucap Nindy akhirnya."Dua minggu lagi mungkin udah keliatan

  • Dok, Please Cukup!   Bab 218 Aku Jagain Kamu

    Malik mengangkat wajah, dan Nindy menunduk menciumnya. Ciuman itu pelan, hampir tanpa tekanan, dan bertahan lama sampai Malik menariknya ikut berbaring.Mereka berbaring miring berhadapan di atas seprai. Kancing baju tidur Nindy dibuka Malik satu per satu dari atas, tanpa terburu-buru, dan setiap kancing yang terlepas diikuti satu kecupan di kulit yang terbuka di bawahnya.Nindy membalasnya dengan menarik kaus Malik ke atas sampai lepas. Jantung di balik dada suaminya berdetak cepat di bawah telapak tangannya.Lampu tidur di nakas masih menyala, menerangi amplop cokelat dan sudut kartu nama di sebelahnya. Nindy meraih ke belakang tanpa menoleh, meraba sampai menemukan saklarnya, lalu mematikannya.Kamar itu tinggal diterangi garis cahaya kota dari celah tirai. Dalam gelap, Nindy merasakan tangan Malik berhenti di pinggangnya, menunggu."Kamu yakin? Kamu capek dari pagi," bisik Malik."Yakin. Aku pengin kamu di sini, deket," jawab Nindy, hampir tanpa suara."Dingin?" bisik Malik lagi.

  • Dok, Please Cukup!   Bab 217 Jam Tangan

    "Ada jam tangan Bapak di dasarnya. Udah mati, aku taruh lagi gara-gara aku kira nggak penting. Kalau nunggu besok pagi, aku takut lupa lagi," jawab Nindy, membuka pintu kamar.Malik menyusul di belakangnya. Mereka menyusuri lorong pendek ke kamar tambahan, dan Malik menyalakan lampunya sementara Nindy menarik kursi plastik ke depan lemari."Turun, biar aku yang ambil," ucap Malik, memegang sandaran kursi itu sebelum Nindy sempat naik.Nindy turun lagi tanpa membantah. Malik naik, meraih kardus sepatu dari rak paling atas lemari, lalu menyerahkannya ke tangan istrinya dengan dua tangan."Yakin jamnya di sini?" tanya Malik, masih berdiri di atas kursi."Yakin. Waktu Pipit nganter, aku bongkar semuanya di lantai ini, terus jamnya aku taruh paling bawah biar nggak ketindih," jawab Nindy, sudah membuka tutup kardus."Pipit nemu ini di mana, sih, dulu?" tanya Malik, turun dari kursi."Di atas lemari kamar belakang rumah lama. Bapak sengaja naruh di tempat yang nggak bakal kejangkau tangan a

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status