Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Extra Chapter 1

Share

Extra Chapter 1

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-11-02 15:17:22

Empat tahun kemudian.

Nindy duduk di kursi tinggi dekat jendela sambil membaca catatan belanja minggu ini. Bi Inah masih sering menegurnya kalau dia mulai berdiri, tetapi sekarang teguran itu keluar tanpa suara keras. Dokter Ratna sudah mengatur ritme hidupnya dengan rapi, yaitu obat tiap malam, pemeriksaan tiap enam bulan, dan jadwal istirahat yang harus ditaati. Terkendali, kata Dokter Ratna, dan itu sudah cukup untuk hidup dengan tenang.

Ayunda berdiri di atas bangku kecil dekat meja adonan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dok, Please Cukup!   Extra Chapter 3 (END)

    Minggu pagi, makam Wisnu dan Suryani masih sepi ketika mobil Malik berhenti di depan gerbang pemakaman. Udara masih dingin, dan embun menempel di rumput sampai ke sepatu.Ayunda sudah sebelas tahun. Dia turun dari mobil lebih dulu sambil membawa sekeranjang bunga mawar putih yang dia beli sendiri di pasar, dan dia menolak dibantu siapa pun saat menaiki tangga kecil menuju makam."Aku bisa sendiri, Ayah. Ayah jangan ikut-ikut," ucap Ayunda."Iya, Yun. Ayah cuma pegang keranjangnya," jawab Malik sambil tertawa.Danu dan Rania menyusul dari mobil di belakang. Danu berjalan pelan dengan topi di kepala, sedangkan Rania membawa payung kecil walaupun cuaca mulai cerah.Mereka berhenti di depan dua nisan yang berdekatan. Nindy berlutut lebih dulu di depan makam Wisnu dan menaruh tangannya di atas batu nisan yang sudah dibersihkan semalam."Bapak, aku bawa anakmu hari ini. Dia udah tinggi, dan dia udah bisa ngaduk bubur tanpa diomelin Bibi," ucap Nindy pelan.Nindy menyentuh batu nisan itu sek

  • Dok, Please Cukup!   Extra Chapter 2 

    Hari yang sama, sore, rumah besar Eleanor sudah dipenuhi orang sejak jam empat.Halaman belakang kembali dipasangi tenda putih, tetapi kali ini tenda itu dipasang untuk acara yayasan, dengan spanduk bertuliskan Jalan Pulang di atas pintu gerbang.Yayasan itu lahir dari kamar lantai atas yang dulu terkunci tiga puluh empat tahun. Eleanor membiayai pencarian keluarga-keluarga yang kehilangan anak sejak lama, dan Hendra mengurus semua berkas hukumnya tanpa meminta bayaran apa pun.Malam itu ada sembilan keluarga yang hadir. Beberapa baru bertemu kembali minggu lalu, dan beberapa masih canggung sampai harus disuruh duduk berdampingan oleh petugas yayasan.Hendra datang sebelum acara dimulai sambil membawa map tipis, dan topinya dia lepas di depan pintu. Dia menyerahkan map itu kepada Malik, lalu mengabarkan bahwa perkara Bahar sudah diputus pengadilan bulan lalu dengan vonis yang lebih ringan karena Bahar mau bekerja sama dengan penyidik."Yogi dan Darsono juga sudah jadi tersangka, Lik.

  • Dok, Please Cukup!   Extra Chapter 1

    Empat tahun kemudian.Nindy duduk di kursi tinggi dekat jendela sambil membaca catatan belanja minggu ini. Bi Inah masih sering menegurnya kalau dia mulai berdiri, tetapi sekarang teguran itu keluar tanpa suara keras. Dokter Ratna sudah mengatur ritme hidupnya dengan rapi, yaitu obat tiap malam, pemeriksaan tiap enam bulan, dan jadwal istirahat yang harus ditaati. Terkendali, kata Dokter Ratna, dan itu sudah cukup untuk hidup dengan tenang.Ayunda berdiri di atas bangku kecil dekat meja adonan. Celemek birunya kebesaran sampai menyapu lantai, dan dia mengaduk tepung dengan sendok kayu yang hampir sama panjang dengan lengannya."Bi, ini udah kental belum?" tanya Ayunda."Belum. Diaduk lagi sampai bunyinya berubah," jawab Bi Inah dari kompor."Bunyinya gimana, Bi?" tanya Ayunda lagi."Kayak orang lagi ngomong pelan. Makanya kamu dengerin baik-baik," jawab Bi Inah.Ayunda memiringkan kepala, lalu mengaduk lebih pelan sambil menutup mata. Nindy tertawa di kursinya, dan Laila yang sedang m

  • Dok, Please Cukup!   TAMAT

    Dalam satu tahun, Dapur Suryani pindah ke ruko dua lantai di deretan yang sama. Dapur itu sekarang dipegang Bi Inah dan Dewi, dan Laila membantu setiap Sabtu sepulang mengajar. Jam dinding tua milik Danu masih tergantung di dinding dapurnya, dan jarumnya masih berdetak walaupun Bi Inah pernah bersumpah akan membuangnya.Nindy kembali bekerja tiga hari seminggu di meja kasir lantai atas. Ayunda duduk di boks bermain di sebelahnya, dengan mainan kayu yang disusun Danu dan selalu jatuh berantakan.Hari ini Sabtu sore, dan ulang tahun pertama Ayunda dirayakan di lantai atas ruko itu. Pintu masuk sudah dihias balon sejak siang, dan Bi Inah berdiri di dekat tangga dengan celemek bersih dan wajah galak yang sama seperti dulu."Siapa pun yang masuk, lepas sepatu dulu. Lantai ini baru saya pel," ucap Bi Inah kepada setiap tamu.Tamu pertama yang datang adalah Eleanor, yang masuk bersama Bima dan Nur. Eleanor masih rutin terapi dua kali seminggu, dan sekarang dia memimpin yayasan dengan Hendra

  • Dok, Please Cukup!   Bab 271 Kontrasepsi

    Dia bilang ke suaminya bahwa dia sudah tidak menunggu kabar dari siapa pun lagi. Malik memeluknya dari belakang dengan lengan melingkar di perut istrinya, dan dia memandangi kamar yang dulu terkunci tiga puluh empat tahun itu tanpa bicara."Aku nggak nunggu siapa-siapa lagi, Lik. Aku udah punya kamu, dan dia," bisik Nindy."Iya. Sekarang kita punya rumah yang pintunya nggak perlu dikunci lagi," jawab Malik.Dari bawah terdengar tawa Kinan dan suara Eleanor yang memanggil semua orang untuk makan siang. Malik mencium tengkuk istrinya sekali, lalu melepaskan pelukannya sebentar untuk menyapa ibunya yang sudah berdiri di tangga.Malik berbisik di telinga istrinya bahwa kontrol enam minggunya jatuh hari Kamis minggu depan, lalu dia menambahkan dengan nada yang dibuat-buat serius bahwa dia sudah menghitung harinya sejak Ayunda lahir. Nindy menyikut perutnya, lalu berbisik balik bahwa dia juga menghitung.Kamis pagi, empat hari sesudah selapanan, Dokter Ratna menyatakan semuanya pulih di kon

  • Dok, Please Cukup!   Bab 270 Kenangan

    Lima minggu pertama di rumah dilewati Nindy dengan kurang tidur. Dia terbangun hampir setiap dua jam, menyusui sambil setengah sadar, lalu tertidur lagi dengan lampu tidur yang masih menyala. Satu pagi dia menangis sendirian di kamar mandi tanpa alasan yang jelas, dan Malik menemaninya duduk di lantai sampai tangisnya reda.Kontrol ke Dokter Ratna dilakukan minggu kedua, dan hasilnya membuat Nindy menarik napas lega. PGAD-nya tetap terkendali sesudah melahirkan, tidak kambuh dalam tiga minggu terakhir, dan tensinya kembali ke angka yang Dokter Ratna mau."Tetap istirahat, Nin. Kamu boleh duduk di dapur, tapi jangan masak sendiri," ucap Dokter Ratna."Aku nggak lagi masak, Dok. Aku cuma ngeliatin Bi Inah," jawab Nindy."Itu justru yang bikin saya curiga," balas Dokter Ratna sambil tertawa.Di rumah besar, Eleanor membaca pesan dari Bram berkali-kali sebelum dia membalasnya. Balasannya cuma satu kalimat pendek, yaitu bahwa Bram boleh datang asal datang sebagai paman, dan selapanan itu d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status