Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 233 Bikin Ibu Goyang

Share

Bab 233 Bikin Ibu Goyang

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-10-19 15:51:51

Sesudah tawanya reda, Malik mengeringkan tangan di serbet. Dia memandangi istrinya dengan alis sedikit terangkat.

"Kamu masih inget janji kamu?" tanya Malik.

"Janji yang mana? Aku banyak janji," jawab Nindy, pura-pura sibuk melipat serbet.

"Yang waktu itu kepotong gara-gara perut kamu bunyi. Kamu bilang nanti kita lanjutin lagi," ucap Malik.

"Aku nggak inget pernah bilang gitu," jawab Nindy, tetapi pipinya sudah merah sampai ke telinga.

"Kamu bilangnya sambil ketawa, terus abis itu minta dibiki
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dok, Please Cukup!   Bab 237 Tersimpan Rapi

    Eleanor memakai blus biru muda, warna yang sama dengan seprai kamar di lantai atas rumah besar. Mesin mobil sudah dimatikan sopirnya, tetapi Eleanor tetap duduk di kursi belakang dengan tas tangan di pangkuan."Ibu mau turun sekarang?" tanya Malik dari kursi depan."Sebentar. Ibu mau liat dulu dari sini," jawab Eleanor.Nindy duduk di sebelah mertuanya dan memegang tangan perempuan itu tanpa bicara. Dari balik kaca, mereka bisa melihat halaman panti yang tanahnya disapu bersih, ayunan besi yang catnya mengelupas, dan jemuran panjang berisi seragam sekolah anak-anak dalam berbagai ukuran.Sepuluh menit berlalu begitu. Seorang anak laki-laki kecil berlari melintasi halaman mengejar bola plastik, lalu berhenti dan memandangi mobil hitam itu dengan mulut terbuka."Bima dulu main di halaman itu juga, ya," ucap Eleanor, nyaris ke dirinya sendiri."Kata Bima di telepon semalem, dia yang paling sering jatuh dari ayunan itu," jawab Malik pelan.Eleanor membuka pintu mobil. Nindy dan Malik turu

  • Dok, Please Cukup!   Bab 236 Selalu Sama

    "Saya nggak pernah berniat ngambil apa pun dari Dokter. Itu yang pertama mau saya bilang, dari dua belas tahun lalu," ucap Bima.Malik mengangguk pelan. Kedua tangannya masih di saku jas putih, dan Nindy melihat kain di saku itu bergerak karena jari-jari di dalamnya mengepal."Kamu tahu dari kapan, aku adikmu?" tanya Malik."Dari umur dua puluh dua. Saya masih jadi pengasuh anak-anak kecil di panti waktu itu. Ada bapak tua pakai jas dateng ke kantor panti, nanya nama saya, terus duduk di depan saya dua jam tanpa ngomong apa-apa," jawab Bima."Ayah," ucap Malik pelan."Abis dua jam, dia bilang dia ayah saya. Terus dia nangis. Saya nggak pernah liat orang tua nangis sampai bahunya naik turun kayak gitu," lanjut Bima.Nindy memandangi tangan Bima yang terlipat di dada. Jari-jarinya panjang, kukunya dipotong pendek dan rata, dan ruas jari tengahnya sedikit lebih besar dari ruas yang lain, sama persis dengan tangan Malik yang setiap malam menggenggam tangannya.Tanpa sadar, Bima menyentuh

  • Dok, Please Cukup!   Bab 235 Itu Orangnya 

    Hendra mengangkat wajah dari buku catatannya. "Kamu tahu dia nambal pakai dana abadi dari mana?""Dari laporan tahunan yang dia kirim ke saya buat diperiksa, dulu, sebelum saya dipecat. Angkanya nggak cocok sejak tahun kedua," jawab Bahar.Malik memandangi laki-laki di depannya. Tiga pertanyaan dijawab tanpa satu pun kalimat yang diputar, dan dia tidak tahu apakah itu membuatnya lega atau malah lebih marah.Kipas angin di langit-langit berderit setiap kali putarannya sampai di titik yang sama. Di luar jendela berteralis, terdengar suara petugas memanggil nama-nama tahanan untuk apel siang, satu per satu.Hendra menutup bukunya dan meletakkan pulpen di atasnya. "Kerja sama kamu saya ajuin ke penyidik dengan satu syarat. Semua yang barusan kamu bilang dibikin tertulis, kamu tanda tangan, terus diserahkan ke Inspektur Rudi.""Kertasnya Bapak bawa?" tanya Bahar.Hendra mengeluarkan dua lembar kertas kosong dan satu pulpen dari mapnya, lalu menyodorkannya lewat petugas. Petugas itu memerik

  • Dok, Please Cukup!   Bab 234 Kok Dicabut?

    Ponsel Malik di nakas menyala jam sepuluh lewat sedikit. Nama Hendra muncul di layar, dan Malik mengangkatnya dengan pengeras suara karena dia tahu Nindy tidak akan tidur sebelum tahu isinya."Maaf ganggu malem-malem. Bahar ngajuin permohonan pertemuan kedua dari dalam rumah tahanan, barusan petugasnya nelepon aku," ucap Hendra.Nindy bangun setengah duduk sambil menarik selimut ke dadanya. Malik menatap ponsel di tangannya tanpa berkedip."Kali ini dia nolak ketemu Nindy. Yang dia minta dateng cuma kamu," lanjut Hendra.Permohonan Bahar dikabulkan pihak rumah tahanan dalam dua hari, dan Rabu pagi jam sepuluh kurang seperempat, mobil Eleanor sudah terparkir di luar pagar gedung itu. Nindy duduk di kursi belakang bersama sopir Eleanor di depan, ponselnya tersambung ke ponsel Hendra. Susunannya kebalikan dari kunjungan Nindy dulu, dan sambungan itu cuma boleh bertahan sampai pintu ruang besuk."Kalau dia ngomong yang aneh-aneh, kamu keluar aja. Nggak usah pamit," ucap Nindy sebelum suam

  • Dok, Please Cukup!   Bab 233 Bikin Ibu Goyang

    Sesudah tawanya reda, Malik mengeringkan tangan di serbet. Dia memandangi istrinya dengan alis sedikit terangkat."Kamu masih inget janji kamu?" tanya Malik."Janji yang mana? Aku banyak janji," jawab Nindy, pura-pura sibuk melipat serbet."Yang waktu itu kepotong gara-gara perut kamu bunyi. Kamu bilang nanti kita lanjutin lagi," ucap Malik."Aku nggak inget pernah bilang gitu," jawab Nindy, tetapi pipinya sudah merah sampai ke telinga."Kamu bilangnya sambil ketawa, terus abis itu minta dibikinin mi instan," lanjut Malik, melangkah mendekat.Nindy mundur selangkah sampai punggungnya menyentuh pintu kulkas. Magnet stroberi itu bergeser sedikit, dan dia menahan tawa sambil menekan dada suaminya dengan satu jari."Perutku sekarang lagi kenyang. Nggak bakal bunyi," ucap Nindy."Berarti nggak ada alasan," jawab Malik, lalu menunduk menciumnya.Malik menyambar ponselnya dari meja kaca, lalu mereka berjalan ke kamar utama sambil masih saling menarik tangan. Lampu tidur di nakas sudah menyal

  • Dok, Please Cukup!   Bab 232 Latihan

    Malik menatap layar itu lama, lalu menoleh ke direktur. "Rabu itu Om Bram bilang ke saya, empat belas minggu, masuk trimester dua minggu ini. Persis kalimat Dokter Ratna di catatan kontrolnya.""Saya percaya. Catatan Ratna memang selalu ditulis lengkap sama kalimat kayak gitu," jawab Handoko.Dia menyandarkan punggung ke kursi, memijat pangkal hidungnya dengan dua jari, lalu memakai kacamatanya lagi."Akses kamu sah. Itu yang pertama. Minggu ini saya tanda tangan berita acara penutupan resmi bersama komite etik, biar perkara itu tetap tertutup siapa pun yang duduk di kursi ini sesudah saya," ucap Handoko."Terima kasih, Pak," jawab Malik."Yang kedua, akun ini saya bekukan sekarang," lanjut Handoko, mengetik beberapa perintah di keyboard. Sesudah itu dia mengangkat gagang telepon lagi dan meminta bagian hukum rumah sakit naik ke ruangannya sebelum jam sembilan."Yogi bakal dilaporin, Pak?" tanya Nindy."Membuka rekam medis pasien tanpa kepentingan pelayanan itu pelanggaran berat di ru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status