LOGINArshala bisa melihat setiap sudut Desa Persik dengan bantuan formasi. Tentu saja cara kerja formasi ini berbeda dengan cara kerja kesadaran spiritual, jadi Tirta tidak akan mengetahuinya.Arshala melihat banyak wanita menawan bekerja dengan gembira di desa. Dia berkomentar, "Ternyata ada begitu banyak wanita ... bahkan semuanya secantik bidadari. Jangan-jangan ini desa dewi yang legendaris?"Arshala merasa dirinya sudah cukup cantik, tetapi kecantikannya tidak terlalu menonjol jika dibandingkan para wanita di desa ini.Selain itu, Arshala juga merasa bangunan di desa ini tampak aneh. Namun, semua bangunan itu beraturan. Mata Arshala berbinar-binar. Dia tidak pernah melihat tempat seperti ini sebelumnya.Berbagai jenis pohon buah dan bunga ditanam di sekeliling desa itu. Warnanya beraneka ragam sehingga terlihat sangat menarik. Baunya juga wangi.Arshala bergumam, "Energi spiritual di sini memang nggak melimpah, tapi desa ini membuatku merasa tenang dan damai. Kalau aku bisa melepaskan
Bagaimanapun, ada pembatasan yang ditinggalkan kultivator tingkat pengendali langit di bumi. Kultivator di bawah tingkat itu yang mendatangi bumi tidak bisa mengerahkan kemampuan di atas tingkat pembentukan dewa.Namun, Neiva bisa mengerahkan kemampuannya. Dengan perlindungan Neiva, Ayu dan lainnya tidak akan terancam bahaya.Sebaliknya, Nova baru mencapai tingkat pembentukan jiwa dan Nivia hanya orang biasa. Di dunia awani juga ada banyak kultivator hebat. Bahaya mengintai di mana-mana, mereka berdua bisa mati jika tidak berhati-hati. Tirta tidak ingin menyesal seumur hidup.Tirta sudah kembali bersikap seperti sebelumnya. Saat ini, Arshala memandangi wajah Tirta yang tampan dan muda. Dia merasa senang bisa tidur dengan pemuda seperti ini.Arshala menyetujui seraya mengangguk, "Oke. Aku akan temani kamu lakukan apa pun."Tirta berkata, "Aku akan beri tahu kamu alamatnya. Kamu bawa aku terbang saja. Sekarang kemampuanku belum pulih sepenuhnya, jadi aku terbang terlalu lambat."....Ars
Tirta menegaskan, "Aku pasti akan memegang omonganku! Aku ini terkenal kejam!"Sret! Tirta mengabaikan jeritan wanita itu dan merobek jubah hitamnya dengan Pedang Terbang. Dia terpaku di tempat dan matanya memelotot.Jangankan menggores ratusan kali, Tirta juga tidak tega membuat wanita sesempurna ini terluka sedikit pun.Wanita itu samar-samar merasakan hal yang lebih mengerikan akan terjadi. Dia menjerit, "Cepat bunuh aku!"Tirta menanggapi, "Bunuh kamu .... Um, sepertinya kurang bagus. Sebenarnya kita nggak punya dendam kesumat. Biarpun kamu ingin membunuhku, bukannya aku tetap baik-baik saja? Begini saja, aku sudah maafkan kamu dan aku akan ampuni kamu."Tirta menambahkan, "Tapi, kamu sudah membuatku terluka parah. Seharusnya kamu memberiku kompensasi, 'kan?"Tirta menelan ludah dan membantu wanita berjubah hitam mencari banyak alasan. Dia juga melempar Pedang Terbang di tangannya.Wanita berjubah hitam membalas, "Jangan bicara sembarangan! Bukannya tadi kamu bilang mau bunuh aku?
Sekarang selain memiliki ketangguhan fisik tingkat penebas dewa, wanita berjubah hitam sama sekali tidak bisa mengerahkan kultivasinya. Sekalipun kekuatan spiritual di dalam tubuh Tirta tersisa sedikit, itu juga sudah cukup untuk mengendalikan wanita berjubah hitam dengan mudah.Tirta terkekeh, lalu berkata, "Apa yang ingin kulakukan? Bukannya tadi kamu ingin membunuhku? Sekarang kamu malah bertanya seperti itu padaku! Tentu saja aku mau membunuhmu!"Wanita berjubah hitam menahan amarah dan penyesalannya sambil menimpali, "Bagaimanapun, aku nggak menyiksamu. Langsung bunuh aku saja. Aku terima dikalahkan orang sehebat itu."Sudah jelas wanita berjubah hitam tidak rela mati di tangan pecundang seperti Tirta. Namun, sekarang dia tidak mampu mengubah situasinya lagi.Tirta mendengus dan membalas, "Kamu ingin langsung mati? Nggak segampang itu! Kamu mengejarku begitu lama, bahkan pusat energiku hampir dikorek olehmu dan kepalaku hampir terbelah. Aku juga belum tentu bisa menemukan Nova dan
"Kamu bilang siapa wanita jalang?" tanya wanita berambut putih dengan tatapan dingin. Pupil matanya yang berwarna kuning kecoklatan menyusut menjadi bentuk vertikal. Dia seperti harimau ganas yang hendak melahap Tirta.Tirta segera mengoreksi ucapannya, "Bukan .... Maksudku Dewi, kamu datang tepat waktu. Kalau nggak, aku pasti kehilangan nyawaku."Mata wanita berambut putih kembali normal. Dia melambaikan tangannya, lalu peta bintang otomatis terbang ke tangannya.Wanita berambut putih mendengus dan menanggapi dengan datar, "Aku menyembunyikan klonaku di peta bintang ini. Aku memang meninggalkan klonaku untuk melindungi nyawamu. Siapa sangka, sekarang kamu hampir mati. Padahal kita baru berpisah beberapa hari. Kamu benar-benar lemah."Tirta baru tahu wanita yang muncul ini hanya klona. Namun, dia merasa klona wanita ini jauh lebih mengintimidasi daripada klona ayah penguasa agung. Tirta tidak bisa membayangkan seberapa mengerikan kultivasi wanita ini yang sebenarnya.Tirta tidak berani
Bella menunjukkan gigi taringnya seperti ingin menggigit Tirta untuk melampiaskan amarahnya.Althea menarik Heidi yang memiliki Tubuh Isap Alami dengan mata berkaca-kaca. Dia menghampiri Tirta dan bertanya dengan ekspresi malu, 'Sayang, malam ini aku temani kamu tidur ya? Aku juga ajak Bu Heidi yang kamu sukai ....'Kemudian, Yasmin dan Linda juga berlari menghampiri Tirta. Mereka berseru.'Kakak Guru, aku juga mau!''Guru, aku juga!'Luvia meremas tangannya sambil bertanya dengan ekspresi penuh harap, 'Tirta, mana teknik yang kamu janjikan padaku? Aku sudah nggak sabar ingin tidur denganmu ....'Terakhir, Devika yang berlinang air mata menangis histeris. Sekalipun Marila dan Shinta sudah berusaha membujuknya, kesedihan Devika tetap tidak berkurang sedikit pun.Devika marah-marah, 'Pria berengsek, aku nggak mau kamu mati! Kamu belum memberiku status! Kalau kamu berani mati, aku tetap nggak akan melepaskanmu biarpun masuk ke alam baka! Aku akan menangkapmu, lalu mengulitimu dan melenyap
Tentu saja Tirta bisa mendengar suara Devika. Dia membatin, 'Haha, gigit saja. Kalau gigitanmu makin kuat, aku merasa makin nyaman.'Tirta yang merasa senang bersenandung. Di tengah perjalanan, Shinta menanyakan cara pemakaian jimat. Tirta menjelaskannya dengan sabar, lalu Marila dan Shinta mengungk
Tirta tersenyum licik dan berkata, "Dik Linda, namaku Tirta Hadiraja. Tapi, aku lebih suka kamu panggil aku kakanda."Linda menyahut, "Kakanda? Oke ... aku pasti mengingatmu. Terima kasih ... tadi kamu sudah bantu aku, Kakanda. Aku harus membereskan urusan penting, aku nggak bisa ikut kamu."Linda m
Dalam perjalanan selama 2 jam lebih, Tirta sama sekali tidak bergerak. Namun, Marila yang bergerak sendiri.Sopir wanita memang tidak bisa melihat Marila. Bahkan, Tirta juga mengerahkan Teknik Senyap yang menyelubungi mereka berdua. Sopir wanita juga tidak bisa mendengar suara yang mereka keluarkan
Selain itu, saat tangan Devika yang menggenggam Jimat Bola Api dimasukkan ke bagian selangkangan Tirta, dia langsung tahu apa ....Sejujurnya, sekarang Devika tidak fokus. Ternyata ukurannya berbeda dengan yang dilihat Devika dalam mimpi, lebih besar berkali-kali lipat!Devika tidak berani membayang







