Mag-log inSombong! Setelah mendengar perkataan Tirta, pikiran pertama yang muncul di benak Bakrie adalah bocah ini terlalu sombong.Seorang bocah yang hanya mengandalkan teknik rahasia untuk memaksa peningkatan kultivasinya, justru ingin bertarung satu lawan satu melawan dirinya, seorang senior terkenal yang benar-benar berada di tingkat semi pencapaian agung.Benar-benar cari mati.Tidak berlebihan jika dikatakan kalau tadi Selvi tidak menggunakan kekuatan tingkat pencapaian agung, bahkan Selvi sendiri belum tentu bisa memperoleh keuntungan dalam pertarungan itu."Hahaha! Bocah, kamu yakin kamu nggak salah minum obat? Kamu benar-benar ingin bertarung satu lawan satu denganku?" Bakrie tertawa terbahak-bahak.Para pembunuh di belakang Bakrie juga tercengang. Tak lama kemudian, mereka mencibir dan mengejek tanpa ampun."Hehe. Jangan-jangan dia marah sampai kehilangan akal? Kalau begitu, apa bedanya dengan langsung menyerahkan tanaman spiritual, roh naga sejati, dan Mutiara Naga kepada Ketua?""Pas
Kali ini Irena sudah belajar dari pengalaman. Dia tidak mengatakan bahwa sebenarnya Tirta memiliki 60 hingga 70 tanaman spiritual berusia puluhan ribu tahun."Aku mau lihat barangnya dulu. Suruh dia keluarkan. Aku akan memeriksanya sebelum memutuskan." Bakrie berkata sambil memikirkan berbagai rencana di dalam benaknya.Swoosh! Tirta juga tidak ragu sedikit pun. Dia segera mengeluarkan tiga tanaman spiritual berusia puluhan ribu tahun dari Cincin Penyimpanan dan meletakkannya di telapak tangan.Dahan dan daunnya sebening batu giok. Buahnya yang merah menyala berkilau laksana batu akik. Aroma obat yang harum dan pekat terus menghantam indra seluruh anggota Dinasti Pembunuh.Bahkan Bakrie sendiri sampai terbelalak."Hiss .... Aroma obat yang begitu pekat. Setiap tanaman hanya menghasilkan satu buah. Ini memang tanaman spiritual berusia puluhan ribu tahun.""Tapi ... kenapa tanaman spiritual ini nggak mengandung fragmen hukum alam? Kalau nggak ada fragmen hukum alam, tanaman spiritual ini
Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, firasat buruk langsung muncul di hati Tirta.Swoosh! Terlihat lelaki tua yang berdiri di sisi kiri belakang Bakrie tersenyum dingin. Dari telapak tangannya, dia mengeluarkan sebuah artefak berbentuk kurungan.Artefak itu membesar, lalu melayang di depan Bakrie. Orang yang dipenjara di dalamnya ternyata adalah Lavanya yang sudah lama menghilang.Wajahnya pucat pasi. Dia tidak sadarkan diri dan bersandar lemah di salah satu sisi kurungan. Auranya juga sangat lemah, hampir tidak dapat dirasakan."Istriku!" seru Tirta dengan keras. Namun, dia tidak berani bertindak gegabah. Sebab saat ini, Lavanya berada terlalu dekat dengan Bakrie. Lawan hanya membutuhkan satu jurus untuk merenggut nyawanya."Nona Lavanya ditangkap oleh mereka!" Yumika dan Priya juga berseru kaget."Kakek Buyut! Gimana bisa Kakek Buyut melakukan hal yang begitu hina? Cepat lepaskan Nona Lavanya!" teriak Irena dengan cemas.'Bocah ini kenapa punya begitu banyak wanita? Sekarang muncu
Kalau tidak, mereka pasti sudah mati sejak tadi....."Bagus! Begini baru menarik!"Di saat yang sama, menghadapi serangan Bakrie, Selvi bukannya mundur, malah maju menyongsongnya. Dia melepaskan sebagian dari kekuatan yang selama ini ditekannya.Kepalan tangannya yang tampak mungil dan mulus justru memancarkan kekuatan dahsyat yang seolah mampu menghancurkan segalanya.Tang! Tang! Menghadapi energi pedang raksasa yang menebas ke arahnya, Selvi menghindar jika masih memungkinkan. Kalau tidak bisa dihindari, dia langsung menghantamnya dengan tinjunya.Energi pedang itu benar-benar dihancurkan olehnya hingga buyar. Benturan keduanya bahkan menghasilkan suara keras bagaikan dewa sedang menempa besi."Guncangan Seluruh Langit!" Bakrie menyipitkan matanya. Dia benar-benar tidak percaya. Sebab, sampai sekarang Selvi masih terlihat seolah belum mengeluarkan seluruh kemampuannya.Kalau lawannya adalah kultivator tingkat semi pencapaian agung biasa, mereka sudah lama tewas di bawah pedangnya.B
"Ah .... Bocah ini terlalu mengerikan! Ketua, cepat datang bantu kami!"Tirta terus-menerus menarik busur dan menembakkan anak panah seolah tidak ada habisnya.Di antara lima atau enam kultivator tingkat semi pencapaian agung yang bertarung melawan tiga orang suci dunia awani, tubuh tiga orang langsung tertembus dan terbakar hingga menjadi abu.Pemandangan seperti itu benar-benar mengerikan. Bahkan para pembunuh yang sudah lama berhati kejam pun tak kuasa menahan rasa takut yang luar biasa.Melihat keadaan itu, para pembunuh yang tersisa segera melarikan diri menuju Bakrie, yang menjadi sandaran mereka. Sambil terbang, mereka berteriak meminta pertolongan.Dalam sekejap, situasi di medan perang berubah menjadi berat sebelah. Keunggulan mutlak itu pun sepenuhnya berada di pihak Tirta."Bagus, bocah! Bagus sekali! Kamu ternyata sudah membunuh begitu banyak anak buah eliteku! Kalau begitu, biar aku sendiri yang menghadapimu!"Amarah Bakrie langsung membubung tinggi. Di saat yang sama, dia
Puft!"Irena, Kak Yumika, Nona Priya, hati-hati!" seru Tirta. Melihat dua pembunuh itu sudah mendekat dengan senyuman kejam di bibir mereka, dia sama sekali tidak menghindar. Dalam sekejap, dia mengaktifkan Teknik Rahasia Delapan Gerbang dan menaikkan kekuatannya hingga tingkat semi pencapaian agung.Pembunuh yang berada di paling depan memang sempat merasakan firasat bahaya. Namun, saat dia hendak mundur, semuanya sudah terlambat karena Tirta langsung menghancurkan kepalanya dengan satu pukulan. Saat jiwa spiritualnya terbang mundur dengan ketakutan, Tirta mengeluarkan Busur Matahari yang telah lama tidak digunakannya.Tirta mengayunkan Busur Matahari hingga bunga api beterbangan, lalu seorang pembunuh lainnya langsung dipukul mundur. Lengan pembunuh itu mati rasa karena benturan itu, bahkan tulangnya pun hampir retak."Bocah ini ternyata bisa keluarkan kekuatan sebesar ini," kata salah satu pembunuh yang menyadari situasinya mulai memburuk itu, lalu segera melesat keluar dari kepunga
Tiba-tiba, salah satu murid Sekte Mujarab memperhatikan sesuatu muncul di tangan Tirta. Namun, dia malah makin meremehkan Tirta. Dia menyindir, "Lihat barang di tangannya, cuma pedang kecil seukuran jari tangan! Haha, apa dia mau membunuh kita dengan pedang kecil itu?"Saat murid lain hendak ikut be
Biarpun sudah berhubungan intim dengan Alicia, Tirta juga tidak kehilangan akal sehat. Dia tahu ayah Alicia adalah salah satu petinggi Black Gloves. Dia juga salah satu pemimpin utama yang ingin melawan Negara Darsia. Bahkan, dia adalah salah satu dalang utama yang mencuri artefak Negara Darsia.Pem
Tirta tertawa dan menanggapi, 'Kamu menolak, tapi reaksi tubuhmu nggak sesuai omonganmu!'"Manusia nggak tahu malu ... aku mau buat perhitungan denganmu!" balas gadis harimau putih. Didengar dari suaranya, sepertinya dia makin malu. Cakarnya masuk ke dalam baju Tirta.Awalnya Elisa memejamkan mata u
"Ternyata kamu," ucap Susanti. Polisi cantik itu juga mengenali Tirta sekarang. Ketika mengingat usulan pria ini untuk mengobati payudaranya, dia pun merasa sedikit malu. Segera setelah itu, Susanti bertanya, "Kamu bilang aku ditipu, apa maksudnya?"Tirta menjelaskan, "Aku mengobati sesuai dengan kon







