LOGINSatu tanda tangan untuk melunasi hutang. Satu kontrak yang mengikat jiwa. Dan satu rahasia yang dapat menghancurkan dunia. Hidup Maya Ardelia hancur seketika saat kematian ayahnya menyisakan tumpukan hutang yang tak masuk akal. Di tengah keputusasaan saat penagih hutang siap merenggut segalanya, seorang pria misterius muncul dari balik bayangan. Lucien Noctis—Raja Negeri Bayangan—menawarkan jalan keluar yang tampak seperti mukjizat: melunasi seluruh hutang Maya dengan satu syarat sederhana: satu tahun pengabdian di istana miliknya. Tanpa sadar, Maya telah menandatangani kontrak jiwa yang mengikat nasibnya dengan sang Raja. Di Negeri Bayangan, Maya tidak hanya berhadapan dengan intrik istana yang kejam dan bangsawan yang meremehkannya. Ia menemukan bahwa Lucien sedang menyimpan kutukan kuno yang perlahan menggerogoti jiwanya—kutukan yang berkaitan erat dengan sejarah keluarga Maya yang selama ini terkubur rapat. Di tengah tarik-ulur perasaan yang tumbuh dari keterpaksaan, Maya justru mendapati dirinya sebagai kunci dari takdir dunia. Antara cahaya yang manipulatif dan kegelapan yang penuh rahasia, Maya harus memilih: mengikuti takdir yang sudah tertulis, atau melawan hukum alam demi menyelamatkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya. Satu tahun kontrak hanyalah permulaan. Karena di balik segel yang mulai retak, musuh terkuat yang pernah ada—Valthor, sang Dewa Kegelapan—telah terbangun.
View MoreHujan di kota kecil Aethelgard tidak sekadar turun; ia menghantam. Air bah yang jatuh dari langit seolah berusaha membasuh setiap dosa dan kesedihan yang melekat di jalanan berbatu. Suara gemuruh guntur yang bersahutan di kejauhan terdengar seperti detak jantung dunia yang sedang sekarat. Di dalam sebuah kontrakan kecil yang hanya terdiri dari dua ruangan, Maya Ardelia meringkuk di kursi kayu tua yang kain pelapisnya sudah mulai terkelupas.
Bau lembap bercampur dengan aroma tinta dan kertas lama. Di hadapannya, tumpukan surat peringatan dari bank berbaris seperti tentara yang siap mengeksekusi nasibnya. Total hutang itu... jumlah yang tidak masuk akal bagi seorang gadis yang menghabiskan hari-harinya menggambar ilustrasi pesanan orang asing di internet. Sejak ayahnya meninggal dunia akibat penyakit misterius dua minggu lalu, dunia Maya seolah kehilangan warna. Rumah ini, kenangan yang tersisa dari sosok sang ayah, bahkan haknya untuk merasa aman, kini berada di ujung tanduk.
Maya menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa perih yang menjalar di dadanya. Ia tidak menangis. Ia sudah terlalu lelah untuk menangis. Ia hanya merasa kosong, seperti cangkang yang tertinggal setelah isinya habis disedot oleh takdir yang kejam. Ia menatap layar komputernya yang redup. *Deadline* untuk ilustrasi sampul novel fantasi yang ia kerjakan tinggal beberapa jam lagi, namun pikirannya buntu. Bagaimana ia bisa menggambar kebahagiaan ketika ia sendiri tidak tahu apakah esok ia masih memiliki atap untuk berteduh?
*BRAK!*
Suara gedoran keras di pintu kayu yang tipis itu membuat Maya tersentak hingga hampir terjatuh dari kursinya. Jantungnya berdegup kencang di kerongkongan.
"Maya! Keluar kau! Kami tahu kau ada di dalam! Jangan berpura-pura tuli!" teriak suara bariton yang kasar. Itu adalah suara penagih hutang dari rentenir lokal yang telah menerornya selama tiga hari berturut-turut.
Maya berjalan perlahan menuju pintu, kakinya yang dingin gemetar di atas lantai kayu yang berderit. Ia membuka grendel pintu dengan tangan yang bergetar hebat. Di sana, di bawah payung besar yang melindungi mereka dari hujan badai, berdiri dua pria bertubuh besar dengan wajah yang tidak ramah. Mata mereka berkilat penuh ancaman, menatap Maya seolah ia hanyalah mangsa yang tak berdaya. Namun, di balik mereka, di sudut lorong yang remang-remang dan tak tersentuh cahaya lampu jalan, sesosok pria lain berdiri.
Ia tidak memegang payung, namun air hujan seolah enggan menyentuh tubuhnya. Jas hitamnya memiliki potongan yang sangat rumit dan mewah, tampak seperti busana dari era yang berbeda—elegan, aristokrat, dan sangat asing. Kulitnya pucat, dan matanya, biru keabu-abuan yang tajam, menembus kegelapan malam seolah-olah ia melihat menembus jiwa Maya. Ada aura dingin yang terpancar darinya, sebuah sensasi yang membuat Maya merasa bahwa jika ia melangkah mendekat, ia akan terjatuh ke dalam jurang kegelapan yang abadi.
"Siapa kau?" tanya Maya, suaranya nyaris berbisik, tenggelam di antara deru hujan yang memekakkan telinga.
Pria itu melangkah maju. Tidak ada langkah kaki yang terdengar di atas genangan air. Ia seolah melayang di atas permukaan dunia yang kasar ini. "Maya Ardelia," suaranya rendah, bergema dengan nada yang tidak wajar. Suara itu tidak terdengar seperti suara manusia biasa; ada resonansi yang membuat bulu kuduk Maya meremang. "Aku melihat kesedihanmu, dan aku melihat potensi besar di baliknya. Kau butuh pelunasan, bukan? Sesuatu yang akan mengubah seluruh hidupmu yang malang ini?"
Maya menatap pria itu, merasakan sensasi aneh—sebuah tarikan di lubuk hatinya yang tidak bisa ia jelaskan. Seolah-olah ada benang tak kasatmata yang menghubungkan dadanya dengan sosok asing ini. "Aku tidak kenal kau. Dan aku tidak butuh belas kasihan dari orang asing di malam seperti ini."
"Ini bukan belas kasihan, Nona Ardelia," pria itu menyeringai tipis, sebuah seringai yang justru membuat Maya semakin waspada. "Ini adalah bisnis. Aku datang menawarkan jalan keluar dari kehancuranmu. Tanda tangani kontrak ini, dan rumah ini, masa depanmu, semuanya akan kembali menjadi milikmu tanpa ada satupun orang yang berani mengusik tidurmu lagi. Tidak ada lagi penagih hutang, tidak ada lagi rasa lapar."
Pria itu mengulurkan sebuah gulungan kertas kuno yang tampak aneh. Kertas itu tampak bersinar samar di tengah kegelapan. Namun, sebelum Maya sempat menyentuhnya, penagih hutang di depan pintu kembali berteriak, menyadarkan Maya dari lamunannya.
"Hei! Kau bicara dengan siapa, hah?! Jangan coba-coba mengalihkan perhatian kami!" teriak salah satu pria berbadan besar itu sambil mendorong Maya ke samping.
Maya terjatuh ke lantai. Saat ia mendongak untuk melihat pria misterius itu, ia mendapati bahwa lorong itu kini kosong. Pria itu menghilang begitu saja. Tidak ada jejak kaki, tidak ada suara pintu terbuka, tidak ada apa-apa. Hanya aroma kayu manis, wangi dedaunan musim gugur, dan sensasi dingin yang tertinggal di tengah hujan.
"Mimpi," gumam Maya, menatap tangannya yang tadi sempat terulur. "Aku pasti sudah gila karena kurang tidur."
Namun, saat ia kembali berdiri dan menutup pintu dengan tangan yang masih gemetar, ia melihat sesuatu di atas meja kayu di dekat pintu. Sebuah kartu nama berwarna hitam pekat, dengan tulisan perak yang berkilau seolah tertulis dengan cahaya bintang. Di sana tertulis satu nama: Lucien Noctis.
Maya memungut kartu itu. Saat ujung jarinya menyentuh permukaan kartu tersebut, sebuah sengatan listrik kecil menjalar ke lengannya. Kartu itu terasa dingin, seperti es yang baru saja diambil dari dalam gua. Maya merasakan firasat yang sangat kuat bahwa hidupnya yang tenang dan biasa-biasa saja telah berakhir malam ini. Sesuatu yang jauh lebih besar, jauh lebih tua, dan jauh lebih gelap baru saja memasuki dunianya, dan ia tidak tahu apakah ia akan mampu menanggung konsekuensinya.
Ia kembali duduk di kursinya, namun kali ini ia tidak bisa fokus pada gambarnya. Ia menatap kartu nama itu, lalu menatap jendela yang basah. Di balik awan hitam itu, ia merasa seolah ada ribuan mata yang sedang mengawasinya. Nama 'Lucien Noctis' seolah-olah memiliki beban yang berat, sebuah kutukan yang terselubung dalam sebuah tawaran manis. Maya tahu, sekali ia melangkah ke jalan ini, tidak akan ada jalan kembali. Namun, di saat yang sama, ia merasa bahwa ia tidak memiliki pilihan lain. Hutang-hutang itu adalah rantai yang mengikat kakinya ke tanah, dan Lucien Noctis, entah siapa dia, baru saja datang membawa kunci untuk memutuskannya—meskipun kunci itu mungkin akan mengikatnya pada rantai yang baru.
Malam itu, Maya tidak bisa tidur. Ia duduk di sana, memandangi kartu hitam itu hingga matahari mulai mengintip di ufuk timur, membawa serta ketakutan sekaligus secercah harapan yang sama-sama mematikan. Ia tahu, ketika pria itu kembali—karena ia yakin pria itu akan kembali—ia tidak akan lagi memiliki kekuatan untuk menolak. Dan disanalah, di ambang pintu antara realitas dan misteri yang baru, Maya Ardelia menanti takdirnya menjemput.
Bersambung…
Malam yang dinantikan oleh seluruh kalangan bangsawan Istana Atas akhirnya tiba. Balairung Kristal—aula megah berlantai marmer hitam berkilau yang dikelilingi oleh pilar-pilar kristal raksasa—telah dipenuhi oleh ratusan tamu undangan dari klan-klan darah murni Astralia. Lampu-lampu gantung berbahan batu energi membiaskan cahaya perak yang menyilaukan, memantul di atas gaun-gaun sutra mewah dan perhiasan berkilau milik para wanita bangsawan. Gelak tawa yang dibuat-buat, denting gelas kristal, serta alunan musik harpa yang lembut melayang di udara, membungkus atmosfer balairung dalam kepalsuan yang amat sempurna.Di balik kemewahan tersebut, bisik-bisik intrik berkobar tanpa henti. Lord Valerius, pria tua berambut perak dengan mantel kebesaran berwarna merah tua yang melapisi zirahnya, berdiri di tengah lingkar tetua klan. Matanya yang licik bergerak mengawasi pintu gerbang utama balairung seraya menyesap anggur merah dari cangkirnya."Gadis fana yang membawa sihir liar itu berani menam
Tiga hari telah berlalu sejak peristiwa berdarah dan menegangkan yang mengguncang lorong-lorong kusam Kota Bawah. Berkat kekuatan sihir penyembuh perak murni milik Lucien yang disalurkan secara konstan tanpa kenal lelah, luka robek mengerikan yang sempat membedah punggung Maya telah pulih sepenuhnya. Tidak ada lagi rasa nyeri yang membakar atau hawa dingin racun yang menggerogoti jiwanya—hanya menyisakan sebaris garis merah tipis yang kian memudar di atas kulit halusnya. Suasana di dalam kediaman pribadi Sayap Mawar Hitam pun perlahan-lahan kembali tenang dan hangat. Akan tetapi, ketegangan politik di luar benteng kediaman sang Raja justru kian memuncak hingga mencapai titik didih.Tindakan nekat Maya yang melempar tubuhnya demi menyelamatkan seorang anak fana, ditambah dengan amarah meledak-ledak dari Lucien yang menghancurkan seluruh kelompok pemberontak dalam sekedip mata, telah menjadi buah bibir yang amat panas di setiap sudut Istana Atas. Para bangsawan klan utama yang bermukim
Langkah kaki Lucien bergema cepat membelah lorong-lorong sunyi Sayap Mawar Hitam. Pintu kayu ek berat berkilau obsidian terhempas terbuka lebar saat sang Raja melangkah masuk membawa tubuh Maya yang terkulai lemah. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menempatkan tubuh gadis itu dengan amat berhati-hati di atas ranjang berkanopi kain sutra hitam.Aroma amis darah segar yang berbinar keemasan membaur tajam dengan bau menyengat racun kotor berwarna kehitaman. Kain jubah abu-abu kasar di punggung Maya telah hancur terkoyak, memperlihatkan luka robek memanjang yang tampak mengerikan dan meradang hebat. Kulit halus di sekitar luka itu memar kebiruan, dengan urat-urat hitam tipis yang merayap perlahan bagaikan jaring laba-laba—menandakan bahwa racun kotor pemberontak itu tengah berusaha keras menembus dan merusak sistem saraf serta aliran sihir Primordial Maya."Maya... tetaplah sadar. Dengarkan suaraku," bisik Lucien. Suara bass sang Raja yang biasanya dipenuhi wibawa mutlak kini terdengar
Melihat darah kemerahan berbinar keemasan itu membasahi tanah berlumpur Kota Bawah, dunia seakan-akan berhenti berputar bagi Lucien. Suara teriakan histeris warga yang berlarian, derak kobaran api yang membakar reruntuhan kayu, hingga dentang benturan senjata tajam yang saling beradu di sekitarnya mendadak lenyap begitu saja dari pendengarannya. Segala hal yang ada di dalam bidang pandangannya memudar drastis, menyisakan bayangan Maya yang terkulai lemas di atas tanah dingin dengan punggung yang bersimbah darah.Manik mata perak Lucien yang semula memancarkan ketenangan mendadak berkilat merah menyala—sebuah pertanda mengerikan bahwa naluri pemusnah terliar sang Penguasa Bayangan telah bangkit sepenuhnya dari kedalaman jiwanya. Aura membunuh (killing intent) yang teramat pekat, dingin, dan murni meledak seketika dari tubuh tegap Lucien, menghentak udara malam dengan gelombang kejut magis yang tak kasat mata. Fondasi bangunan batu di seluruh Kota Bawah bergetar hebat, sementara obor-ob












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews