Mag-log inPria paruh baya menyeka air matanya. Dia kembali ke sisi istrinya sambil menangis tersedu-sedu.Semua orang kaget. Mereka berseru sembari memelotot."Apa yang terjadi?""Kenapa orang itu tiba-tiba menghilang?"Vino yang tidak percaya mencubit dirinya sendiri untuk memastikan dia tidak bermimpi. Dia bergumam, "Mana mungkin .... Apa tubuh pengawal itu meledak setelah ditinju?"Wanita yang berada di samping Vino tidak berani bicara lagi. Dia sangat ketakutan sampai kedua kakinya gemetaran.Ekspresi Zharif berubah drastis. Dia segera memerintah pengawal yang tersisa, "Kenapa kalian diam saja? Semuanya maju. Pakai semua jurus kalian, nggak usah ragu!"Pada saat yang sama, Zharif juga mengamati Tirta dengan saksama. Sepertinya dia ingin melihat teknik yang digunakan Tirta.Reivan juga kepikiran sesuatu. Dia bertanya dengan ekspresi terkejut, "Zharif, jangan-jangan pemuda ini pemurni energi yang kamu bilang tadi?"Ekspresi Zharif menjadi sangat masam. Dia menjawab, "Aku nggak yakin. Kita akan
Kemudian, para pengawal itu mengikuti Zharif. Mereka semua bertubuh kekar dan tampak garang saat berjalan. Sudah jelas mereka tidak mudah dihadapi.Vino tahu jelas kehebatan para pengawal ini. Dia mendengus dan bergumam, "Begitu banyak orang yang turun. Pemuda itu pasti akan dihajar habis-habisan!"Vino sudah membayangkan momen Tirta dihajar sampai meminta ampun.Reivan mengikuti di paling belakang. Ekspresinya tampak datar. Dia hanya memedulikan para wanita cantik itu. Sebenarnya Reivan juga ikut menyiksa mahasiswi itu beberapa hari yang lalu.Setelah beberapa saat, Zharif dan lainnya keluar dari Artemis Tower dengan garang. Di perjalanan, banyak tamu sudah mendengar kabar Vino dipukul dan Tirta yang sok pahlawan. Mereka ikut keluar karena ingin menyaksikan pertunjukan menarik.Sementara itu, Tirta sudah kehilangan kesabaran karena menunggu terlalu lama. Melihat segerombolan orang datang, dia bertanya dengan suara keras, "Mana Zharif?"Banyak tamu mentertawakan Tirta."Hahaha, nyali p
Banyak tamu di Artemis Tower juga mengenali Vino. Semua orang terkejut saat melihat jejak tamparan yang jelas di wajah Vino, bahkan wajahnya berlumuran darah. Mereka berkomentar."Pak Vino juga termasuk tokoh hebat di Kota Yugala. Dia masih muda dan berbakat. Sebenarnya siapa yang begitu berani memukul Pak Vino?""Apa orang itu bosan hidup?"Vino merasa wajahnya makin perih. Dia mendengus dan mengomel, "Cuma orang nggak jelas dari luar kota. Dia sok jadi pahlawan demi masalah beberapa hari yang lalu. Aku mentertawakannya nggak tahu diri, tapi dia langsung memukulku. Aku nggak akan membiarkan dia keluar dari Artemis Tower hidup-hidup!"Vino bertanya, "Apa kalian melihat Pak Zharif?"Mendengar pertanyaan Vino, seorang tamu yang merasa lucu berkomentar, "Pak Vino benar-benar sial. Bisa-bisanya kamu bertemu bocah ingusan seperti itu! Tapi, dia pasti mati setelah menamparmu. Pak Vino harus memberinya pelajaran."Tamu lain menunjukkan jalan kepada Vino, "Aku lihat Pak Zharif. Dia lagi bermai
Devika tidak menelepon pejabat Kota Yugala, melainkan langsung menelepon seorang pejabat tinggi yang mengurus Kota Yugala di pemerintahan pusat ibu kota.Pejabat itu baru pulang ke rumah dan hendak bercinta dengan istrinya. Dia terkejut begitu mendengar nada bicara Devika yang marah.Pejabat itu bergumam, "Didengar dari nada bicara Bu Devika ... jangan-jangan ada yang menyinggung Bu Devika di Kota Yugala? Jadi, dia menyuruhku memanggil semua pejabat Kota Yugala untuk menyelesaikan masalah? Um, seharusnya begitu."Pejabat itu tidak berani menunda waktu lagi. Dia segera mengabari semua pejabat Kota Yugala via telepon untuk pergi ke Artemis Tower.Devika tidak mengungkap identitasnya, jadi pejabat tinggi bernama Edgar itu tidak berani memberi tahu para pejabat Kota Yugala.Semua pejabat Kota Yugala termasuk wali kota dan kepala kepolisian sedang dalam perjalanan ke Artemis Tower.Salah satu pejabat yang kepikiran suatu kemungkinan berujar, "Pak Edgar suruh kita langsung pergi ke Artemis T
Di Kota Yugala, semua orang tahu Artemis Tower adalah properti Keluarga Sultan. Jangankan menyiksa seorang gadis sampai mati, kalaupun tamu Keluarga Sultan membunuh keluarga gadis itu, siapa yang berani mencari masalah dengan Keluarga Sultan?Melihat situasi ini, Tirta dan lainnya terdiam di tempat. Ekspresi mereka tampak marah.Tirta yang tidak bisa menahan diri lagi maju dan berteriak, "Kalau Tuhan nggak membantu kalian, biar aku yang bantu! Paman, Bibi, cepat berdiri. Apa kalian tahu siapa yang mencelakai putri kalian? Aku bantu kalian tegakkan keadilan!"Sepuluh wanita yang berdiri di depan pintu membatin, 'Apa ... orang ini berasal dari luar kota? Dia berani mengurus masalah Artemis Tower. Dia memang baik hati, tapi dia pasti celaka.'Bahkan mereka sangat menyayangkannya saat melihat wajah Tirta yang tampan.Pemuda kaya itu mentertawakan Tirta, "Eh? Pemuda ini benar-benar nggak tahu diri."Kemudian, pemuda itu mengamati Ayu dan lainnya sembari melanjutkan, "Tapi, semua wanita di s
Bahkan terdapat dua patung singa besar yang terbuat dari emas murni di depan pintu. Kedua patung itu ditempatkan di kedua sisi pintu.Di bawah pancaran cahaya lampu, dua patung singa besar itu tampak sepadan dengan pintu. Kedua patung singa emas yang mengilap terlihat sangat mewah. Pembuatan pintu dan patung ini pasti menghabiskan banyak uang.Selain itu, ada sepuluh wanita cantik berpakaian seksi berjaga di depan pintu. Belahan pada bagian bawah gaun mereka mencapai paha dan belahan dada mereka juga terlihat.Kemegahan Artemis Tower membuat orang merasa minder. Sepertinya orang yang tidak memiliki kekayaan di atas ratusan miliar tidak pantas masuk ke tempat ini.Namun, sekarang ada sepasang pria dan wanita paruh baya di depan pintu. Mereka tampak sedih dan marah. Keduanya mengangkat selembar foto hitam putih besar sambil berlutut di depan pintu dan memprotes."Kalian semua lihat! Tiga hari yang lalu, tamu di Artemis Tower membawa putriku pergi secara paksa dan menyiksanya! Akhirnya, p
Luvia kembali berkata, "Terima kasih banyak, Dik."Setelah memilih lokasi, Tirta juga menanyakan desain vila kepada Luvia. Akhirnya, Luvia memilih untuk membiarkan Tirta membuat keputusan sesudah mempertimbangkannya beberapa saat.Luvia berujar, "Aku ingin ikuti kebiasaan orang-orang di sini setelah
Melihat dua penjahat menunjukkan tatapan galak dan memegang pisau, Brianna sangat ketakutan. Dia menggenggam ranting pohon dengan erat sampai-sampai hampir patah. Brianna bertanya, "Lilian ... apa yang harus kita lakukan sekarang?"Wajah Lilian juga pucat pasi dan dahinya berkeringat. Dia menyahut,
Lilian menyahut, "Pak, setengah jam yang lalu Tir ... eh ... Jawara menanyakan tempat tinggal presiden Negara Yumai kepadaku, lalu buru-buru pergi. Dia bahkan nggak beri aku kesempatan untuk mentraktirnya makan. Apa kalian mau mencarinya?"Selesai bicara, Lilian memohon kepada Hasta, "Kalian bisa ba
Tampak lubang besar yang mengeluarkan darah di bagian dada para pengawal. Sekarang, Tirta yang sudah mencapai tingkat pembentukan fondasi tahap ketujuh tidak perlu ragu-ragu saat membunuh orang-orang ini.Bruk! Bruk! Bruk! Jasad para pengawal jatuh ke lantai secara beruntun. Senyum bangga di wajah A







