ログインGelombang kejut dahsyat yang dihasilkan oleh benturan itu mengguncang segalanya. Bahkan para roh ganas dari era surgawi pun kesulitan menstabilkan tubuh mereka.Namun, cahaya dari kertas emas yang menyelimuti Selvi dan Priya yang sedang tak sadarkan diri tiba-tiba bergetar hebat, meniadakan seluruh kekuatan itu. Mereka berdua sama sekali tak terpengaruh."Hehehe .... Memang barang bagus ...."Para makhluk dari era surgawi yang mengelilingi Selvi dan Priya menunjukkan tatapan yang dipenuhi keserakahan luar biasa.Namun, tak lama kemudian mereka seolah teringat sesuatu. Tatapan serakah itu kembali ditekan. Mereka menoleh ke arah Sodam, masing-masing dengan seringai dingin di sudut bibir."Ugh! Gimana mungkin ...."Pada saat yang sama, Sodam mengeluarkan jeritan memilukan. Dia terkejut sekaligus murka saat mendapati telapak tangannya ternyata telah tertebas. Keempat jarinya terputus. Darah hitam menyembur dengan deras."Nggak ada yang mustahil. Hari ini, aku pasti akan membunuhmu!" Tirta
Krek! Sodam menggertakkan gigi. Amarahnya membubung tinggi. Seluruh tubuhnya sampai bergetar."Bocah, berani sekali kamu mempermainkanku! Kalau aku nggak bisa hidup, jangan harap kalian semua bisa keluar dari sini dalam keadaan selamat!"Duar! Energi iblis di sekujur tubuh Sodam bergolak hebat. Kabut hitam yang menyelimuti tubuhnya bagaikan gunung berapi seluas ribuan kilometer yang terus memuntahkan asap hitam.Dari seluruh tubuhnya, kekuatan tingkat pencapaian agung tahap menengah yang meledak memiliki daya tekan yang tak tertandingi. Puncak utama Paviliun Ufuk langsung runtuh terkena dampaknya. Pemandangannya seperti sebuah bom nuklir baru saja meledak di tempat.Puff! Puff! Puff! Di bawah sana, sebagian tetua dan murid yang memiliki tingkat kultivasi rendah, terguncang oleh kekuatan dahsyat yang bergelora itu hingga tubuh mereka hancur seperti mengalami pelapukan."Aah ... tolong!""Ugh!""Aku nggak ingin mati ...."Para tetua dan murid itu mengeluarkan jeritan memilukan. Tubuh mer
Semua ini tidak diketahui oleh Sodam. Melihat kertas emas yang berkilauan seperti matahari kecil itu, wajah Sodam tanpa sadar menunjukkan kegembiraan."Huh. Gimana kalau ternyata setelah aku melepaskan dia, kamu malah nggak memberitahukan rahasianya?"Jelas terlihat bahwa dia mulai goyah. Namun, dia masih belum melepaskan Priya dan bertanya dengan seringai dingin."Tuan Tirta ... nggak usah melakukan ini demi aku .... Maaf, aku kehilangan peta harta itu. Jangan berikan barang itu padanya ....""Biarkan saja dia membunuhku. Biarkan roh ganas itu mengambil alih tubuhku sepenuhnya. Jangan biarkan dia mendapatkan apa yang dia inginkan!"Wajah Priya memerah. Dengan susah payah, dia mengucapkan beberapa kalimat itu. Tatapannya kepada Tirta sudah dikaburkan oleh air mata. Wajahnya dipenuhi rasa haru, tetapi rasa bersalah jauh lebih mendominasi."Diam kamu!" Sodam murka. Dia sudah berniat membunuh. Dia mengangkat tangan satunya dan hendak menghantamkannya ke kepala Priya."Sodam! Kalau kamu be
"Kamu? Akhirnya kamu datang juga. Kamu bahkan mencariku sampai ke sini? Hehe, hehehe, hahahaha! Benar-benar cari mati!""Serahkan peta itu dan jelaskan padaku cara menggunakannya beserta segala keistimewaannya, termasuk kertas emas yang ada padamu. Kalau nggak, kamu nggak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Priya tercintamu!"Sodam sempat tertegun. Sesaat kemudian, dia mencengkeram dengan tangan kanannya. Priya yang sama sekali tidak mampu melawan langsung tersedot ke telapak tangannya, lalu lehernya yang jenjang dicekik erat-erat.Dia tertawa garang."Bajingan, cepat lepaskan Priya!" Hati Tirta mendadak terasa tercabik-cabik. Dia tak kuasa menahan amarah dan berteriak keras.Bum! Teknik Rahasia Delapan Gerbang dan Ilmu 18 Transformasi Jangkrik Emas langsung dikerahkan dengan kekuatan penuh secara bersamaan.Kekuatan Tirta seketika melonjak hingga mencapai tingkat kekuatan tempur tertinggi yang mampu dia keluarkan. Niat membunuh dan energi darahnya yang bergelora bahkan menghantam lan
"Bangun ... cepat bangun." Priya tampak kebingungan. Hatinya tersiksa oleh pergulatan batin."Kak, kalau kamu mengatakannya, bukankah kita akan tahu apakah dia benar-benar menipu kita atau nggak?""Hanya satu atau dua kalimat saja. Itu juga nggak akan merugikanmu. Apa kamu benar-benar sekejam itu sampai tega melihat semua orang mati di depanmu?"Para murid yang berlutut kembali berbicara. Jelas, mereka tidak akan menyerah sebelum melihat sendiri hasil akhirnya.Priya sudah begitu terdesak hingga memejamkan mata. Napasnya memburu, seluruh tubuhnya gemetar. Jelas, dia sedang mengalami pergulatan batin yang sangat hebat.Justru pemandangan seperti inilah yang sangat diinginkan Sodam. Inilah yang sejak awal ingin dilihatnya."Priya, sepertinya kamu masih nggak mau mengatakannya. Begini saja, akan kutambahkan sedikit taruhan. Mungkin dengan begitu kamu akan mengatakannya dengan sukarela."Sodam kembali terkekeh dingin. Tatapannya tertuju pada Zuhair yang berada di tengah kerumunan. Dia meng
Harus diakui, perhitungan Sodam kali ini benar-benar cerdik. Alasan dia tidak langsung membunuh semua orang sekaligus, melainkan membunuh mereka satu per satu, adalah untuk memberikan tekanan mental kepada Priya.Hanya dengan cara ini, ada peluang besar untuk memaksanya mengungkap rahasia peta bintang."Aku ... aku nggak akan memberitahumu. Lebih baik bunuh saja aku." Wajah Priya menunjukkan pergulatan batin. Sesaat kemudian, dia berkata dengan nada tegas sambil menggertakkan giginya."Oh ya? Priya, kamu benar-benar tega melihat semua orang mati tepat di depan matamu? Kalau aku nggak salah ingat, dulu kamu bukan orang sekejam ini." Sodam malah tertawa menggodanya.Sret! Dia menunjuk dengan santai. Seketika, belasan orang lainnya jatuh tersungkur. Kali ini, dia memang sengaja melakukannya. Dia tidak membiarkan mereka langsung mati.Kabut hitam yang bagaikan racun paling ganas itu menyelimuti belasan murid. Mereka seolah sedang mengalami siksaan paling menyakitkan."Aah ... sakit sekali!
"Gila .... Wanita ini kelihatannya cantik, tapi kejam banget!""Aku bahkan bisa mendengar suara sesuatu pecah tadi. Untung tadi aku nggak coba mendekatinya!""Cuma kejam nggak cukup. Yang dia pukul itu Doddy.""Ayahnya punya saham di semua toko emas lantai ini. Dia kaya dan punya pengaruh besar!""A
Arum menggigit bibirnya dan mengerlingkan matanya dengan agak kesal."Cih! Aku rasa Bu Yanti punya maksud lain denganmu! Kamu cantik, putih. Kalau dia nggak menyukaimu, mana mungkin setiap hari mencarimu!""Makin kamu melindunginya, makin aku merasa kalian punya hubungan istimewa! Lihat saja kakimu
"Orang ini adalah wakil di kantor kepolisian, Bu Susanti. Sepertinya kamu harus ikut ke kantor polisi sama dia.""Benar, Bu Clara. Melakukan tindakan ilegal itu nggak bisa dibiarkan. Dengan adanya kesaksian dari kami berdua, kamu nggak bisa mengelak lagi. Ayo ikut Bu Susanti ke kantor polisi!" timpal
Begitu Tirta melangkah masuk, Mauri, Saad, dan Susanti pun mengikuti. Situasi mendadak ini membuat para penari di ruang privat buru-buru memakai pakaian mereka, lalu berdiri di samping tanpa berani bergerak. Sekalipun Saad dan lainnya tidak bersuara, mereka bisa menebak identitas pendatang ini."Kali







