登入Sepuluh tahun lalu, Alpha Rowan Blackwood membantai seluruh pack milik Lyra Voss. Dia satu-satunya yg selamat. Sekarang dia kembali dengan wajah baru, nama baru, dan satu tujuan yaitu balas dendam. Caranya? Menjadi "mate terpilih" Alpha Rowan. Memasuki istananya, dan menjadi Luna nya untuk menghancurkan hidupnya dari dalam. Rencananya sempurna sampai Rowan memperlakukannya seperti ratu, sampai sentuhannya terasa nyata, dan sampai hati Lyra yang sedingin es mulai retak. Dia datang untuk berbohong, dan dia datang untuk membunuh. Tapi bagaimana jika monster yang dia buru adalah satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya? Dan bagaimana jika saat kebenaran terbongkar, orang yang paling tersakiti adalah dirinya sendiri?
查看更多Salju yang turun malam itu begitu putih dan lembut, menyerupai kapas yang berjatuhan dari langit. Namun, keindahan itu hanyalah kebohongan.
Di bawah lapisan putihnya, darah mengalir deras dan meresap ke tanah, perlahan mengubah hamparan salju menjadi merah. Saat itu, aku baru berusia sebelas tahun. Tanganku masih kecil. Tangan yang biasanya menggenggam tangan Mama ketika kami berjalan ke pasar, atau diam-diam menyelinap ke dapur untuk mengambil kue kesukaanku. Namun malam itu, tangan kecilku hanya mampu mencengkeram gaun Mama yang telah basah kuyup. Bukan oleh salju. Melainkan oleh darah yang terus mengalir dari tubuhnya, menghangatkan jemariku yang sejak tadi membeku. "Lyra, lari... jangan melihat ke belakang." Itulah bisikan terakhir Mama. Suaranya gemetar, terputus-putus di antara napas yang semakin berat. Dadanya naik turun seperti seseorang yang sedang berusaha bertahan dari tenggelam. Matanya menatapku dengan tatapan yang tak akan pernah bisa kulupakan. Seolah-olah dia sedang meminta maaf padaku. Maaf karena tidak bisa melindungiku lagi. Maaf karena telah membawaku ke dunia serigala yang kejam ini. Tak lama kemudian, pintu kayu rumah kami didobrak dari luar. BRAK! Engselnya terlepas, sementara kayunya pecah menjadi serpihan yang berhamburan ke lantai. Mereka masuk. Serigala-serigala hitam dengan mata merah menyala seperti bara api memenuhi ruangan. Bulu mereka basah oleh salju, tetapi cairan yang menetes dari dagu mereka bukanlah air. Darah. Bahkan sebelum mereka mulai membunuh, bau darah sudah memenuhi udara. Bau besi bercampur aroma kematian yang menusuk hidung. Bau itu masih kuingat hingga sekarang. Setiap kali aku bermimpi. Setiap kali malam terlalu sunyi. Aku bersembunyi di balik lemari kayu tua di sudut kamar. Tubuhku kucoba kecilkan sebisa mungkin. Seluruh tubuhku gemetar, tetapi bukan hanya tubuhku. Hatiku pun bergetar hebat. Ketakutan memenuhi dadaku sampai rasanya aku bisa muntah kapan saja. Dari celah sempit lemari, aku masih bisa melihat semuanya. Aku mendengar Papa berteriak. Suaranya parau, penuh kemarahan sekaligus keputusasaan. "Rowan, kita bersahabat! Kenapa kau melakukan ini?! Kita tumbuh bersama! Kita berburu bersama! Anak-anak kita juga bermain bersama!" Sesaat kemudian, terdengar tawa rendah. Tawa yang kejam. Berat dan datar, seperti berasal dari seseorang yang sudah tidak memiliki sedikit pun rasa iba di dalam dirinya. Suara itu masih menghantuiku sampai sekarang. Bahkan ketika aku menutup mata atau mendengar angin malam berembus melewati jendela, suara itu seolah kembali berbisik di telingaku. "Karena Alpha yang lemah tidak pantas hidup, Voss." Setelah kalimat itu terucap, semuanya terjadi begitu cepat. Cakar mencabik udara. Suara daging yang disobek memenuhi ruangan. Lalu jeritan kesakitan menggema. Papa. Pria yang dulu selalu menggendongku di pundaknya dan meninabobokan aku setiap malam. Kini hanya bisa berteriak sebelum tubuhnya direnggut oleh kematian. Dari rumah sebelah, terdengar pula tangisan anak-anak yang kemudian berubah menjadi jeritan. Mereka semua dibantai malam itu. Aku menutup mulut dengan kedua tangan hingga bibirku terasa kebas dan membiru. Aku takut mengeluarkan suara. Takut napasku terdengar. Bahkan takut detak jantungku sendiri akan mengkhianatiku. Namun, di tengah kekacauan itu, di antara kobaran api obor dan jeritan yang bersahutan, aku melihat seseorang. Dia. Tubuhnya tinggi dan tegap, jauh lebih tinggi daripada siapa pun di pack kami. Jas hitam yang dikenakannya telah basah kuyup oleh salju. Rambut hitamnya yang panjang juga basah, beberapa helainya menempel di wajah. Air salju bercampur darah menetes perlahan dari ujung rambutnya. Namun, yang paling membuatku takut adalah matanya. Emas. Indah, tetapi kosong. Tidak ada kehangatan di sana. Tidak ada belas kasihan. Tatapannya seperti danau beku yang tak mampu memantulkan apa pun. Dialah Alpha Rowan Blackwood. Anak dari sahabat terbaik Papa. Dia berjalan perlahan melewati mayat-mayat di lantai, seolah-olah sedang berjalan santai di taman pada musim gugur. Langkahnya bahkan tidak berubah ketika melewati genangan darah. Ketika melihat tubuh yang masih bergerak, dia hanya mengangkat kakinya dan menendangnya tanpa ekspresi. Kemudian langkahnya berhenti. Tepat di depan lemari tempatku bersembunyi. Jarak kami hanya satu jengkal. Aku bisa melihat ujung sepatu botnya yang penuh lumpur dan darah. Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku menahan napas begitu dalam sampai paru-paruku terasa sakit. Dia pasti bisa menciumku. Serigala mampu mencium aroma ketakutan, dan malam itu, tubuhku pasti dipenuhi bau ketakutan yang begitu kuat. Rowan menundukkan kepala. Hanya sedetik. Kepalanya miring sedikit, seakan sedang mempertimbangkan sesuatu. Kemudian, mata emasnya menatap tepat ke arah pintu lemari. Aku membeku. Namun, dia tidak membuka pintunya. Dia hanya berdiri beberapa detik sebelum akhirnya kembali melangkah pergi. Mungkin dia mengira aku sudah mati di dalam sana. Atau mungkin... Dia memang tidak peduli. Mungkin, bagi seseorang seperti Rowan, membunuh seorang anak kecil bukanlah sesuatu yang layak dipikirkan. "Mundur." Suaranya terdengar datar tanpa emosi. "Bakar semuanya." Tak lama kemudian, api mulai berkobar. Lidah-lidah api menjilat dinding rumah kami, merambat ke ruang tamu dan melahap foto keluarga yang selama ini menjadi kenangan paling berharga bagiku. Selimut yang Mama jahit dengan tangannya sendiri ikut terbakar. Rumah kami terbakar. Pack-ku terbakar. Dan bersama semuanya, masa kecilku ikut menjadi abu dalam satu malam. Panas api mulai menyengat tubuhku, tetapi aku tetap diam. Aku menunggu. Menunggu sampai suara langkah mereka menghilang. Menunggu sampai teriakan berhenti. Dan menunggu sampai yang tersisa hanyalah suara kayu yang terbakar dan lolongan serigala yang semakin menjauh. Barulah aku keluar. Aku melarikan diri melalui jendela belakang ketika semua orang sudah pergi. Kakiku telanjang menginjak salju. Dingin menusuk hingga ke tulang, tetapi aku tidak lagi mampu merasakannya. Karena ada sesuatu yang jauh lebih sakit daripada dingin. Hatiku. Aku berlari tanpa tahu ke mana harus pergi. Di pipiku masih terdapat darah. Namun, itu bukan darahku. Itu darah Mama yang menempel ketika dia memelukku untuk terakhir kalinya. Aku terus berlari melewati hutan, menyeberangi sungai yang telah membeku, dan memaksa tubuh kecilku bergerak meskipun seluruh tenaga telah terkuras. Hingga akhirnya, aku jatuh di bawah pohon pinus. Tubuhku menggigil hebat. Bibirku berubah ungu. Penglihatanku mulai kabur. Kesadaranku perlahan terputus. Aku pikir malam itu aku akan mati. Namun, sebelum semuanya menjadi gelap, aku merasakan sepasang tangan tua mengangkat tubuhku. Tangannya kasar tetapi hangat. "Nak, bertahanlah." Suara serak itu terdengar samar di telingaku. "Nenek Selma ada di sini. Jangan tidur dulu, ya." Tiga hari tiga malam, Nenek Selma membawaku melewati salju setinggi lutut. Kami bersembunyi di gua-gua sempit yang pengap dan bertahan hidup dengan memakan akar-akar pahit agar tidak mati kelaparan. Ketika tubuhku terluka, dia merobek kain dari bajunya sendiri untuk membalut lukaku. Ketika aku terlalu lemah untuk minum, dia memberiku salju sedikit demi sedikit agar tubuhku tetap mendapatkan cairan. Dia adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa. Adik Mama. Perempuan tua yang kehilangan rumah, keluarga, dan seluruh kehidupannya pada malam yang sama denganku. Namun, dia tidak membiarkan aku kehilangan hidupku. Dialah yang memberiku nama baru. Di tengah malam, sambil menangis, dia menghapus namaku dari dunia. "Mulai sekarang, kamu adalah Elara Black." Tangannya mengusap rambutku yang dipenuhi jelaga. "Nak, lupakan Lyra Voss. Dia sudah mati malam ini bersama orang tuamu." Air mata mengalir di pipinya. "Kalau kamu masih memakai nama itu, kamu juga akan mati." Sejak malam itu, Lyra Voss benar-benar mati. Yang tersisa hanyalah Elara Black. Lima tahun berlalu. Nenek Selma akhirnya meninggal. Tubuhnya semakin lemah setelah bertahun-tahun hidup dalam pengungsian. Sebelum menutup mata untuk terakhir kalinya, dia menggenggam tanganku erat. Tatapannya masih sama seperti dulu. Hangat dan penuh kasih. "Balas dendam boleh..." Napasnya terdengar berat. "Tetapi jangan sampai kamu menjadi seperti mereka, ya." Jemarinya perlahan melemah dalam genggamanku. "Jangan sampai darah di tanganmu membuatmu lupa bagaimana caranya menjadi manusia." Itulah pesan terakhirnya. Aku menguburkan Nenek Selma di bawah pohon yang sama tempat dia menemukanku lima tahun sebelumnya. Setelah itu, aku benar-benar sendirian. Untuk bertahan hidup, aku bekerja sebagai pelayan di kota. Ketika penghasilanku tidak cukup, aku bertarung di arena bawah tanah demi mendapatkan uang. Aku belajar menggunakan pisau. Belajar membaca kelemahan manusia. Belajar memanipulasi mereka sebelum mereka sempat memanfaatkanku. Aku mengumpulkan uang receh demi receh. Namun, bukan hanya uang yang kukumpulkan. Aku juga mengumpulkan kebencian. Sedikit demi sedikit, tahun demi tahun, kebencian itu tumbuh di dalam dadaku hingga memenuhi ruang yang dahulu ditempati rasa takut. Sepuluh tahun telah berlalu sejak malam itu. Dan malam ini, salju kembali turun. Putih dan lembut. Sama seperti malam ketika semuanya direnggut dariku. Namun, kali ini aku tidak lagi bersembunyi di balik lemari. Aku bukan lagi anak kecil yang menggenggam gaun ibunya sambil gemetar ketakutan. Sekarang namaku Elara Black. Wajahku telah berubah. Suaraku telah berubah. Dan hati yang dahulu begitu mudah terluka telah mengeras menjadi batu. Tetapi ada satu hal yang tidak pernah berubah. Ingatan tentang malam itu. Ingatan tentang darah di salju. Ingatan tentang kedua orang tuaku. Dan sepasang mata emas yang pernah berhenti tepat di depan tempat persembunyianku. Alpha Rowan Blackwood. Sepuluh tahun telah berlalu. Dan akhirnya, aku akan bertemu denganmu lagi. Namun kali ini... Aku tidak akan menjadi mangsamu. Kali ini, akulah yang akan memburumu.Jam lima pagi.Tanganku sudah lecet akibat terlalu lama terendam air es. Kulitnya memerah dan terasa perih setiap kali terkena sabun.Aku mengupas kentang sambil terus menunduk. Bukan karena lelah, melainkan karena takut bertemu tatapan siapa pun. Takut jika ada yang mampu membaca rasa bersalah yang bersembunyi di balik mataku.Hangat sup semalam masih terasa di lidahku. Begitu pula tatapan mata emasnya—tajam, dingin, dan terus menghantuiku hingga membuatku tidak bisa tidur.“Alpha yang makan sendiri,” gumamku pelan.Aku segera menggeleng.“Tidak... tidak. Jangan memikirkannya.”“Baru, ya?”Suara perempuan yang parau membuatku terkejut. Pisau di tanganku hampir terlepas.Di sebelahku berdiri seorang pelayan tua. Rambutnya diikat ketat menggunakan kain lusuh. Tangannya bergerak gesit memotong daging dengan satu tangan. Meskipun punggungnya telah membungkuk dimakan usia, sorot matanya masih sangat tajam.Namanya Martha. Katanya, dia sudah lima belas tahun bekerja di istana ini—sejak tem
Jam tiga pagi.Aku tidak bisa tidur. Sudah tiga malam sejak aku masuk ke istana ini, tetapi mataku masih terbuka lebar setiap kali cahaya obor di koridor padam.Sangkar emas ini terasa begitu pengap. Dindingnya terlalu tinggi, langit-langitnya terlalu jauh, dan keheningannya terlalu keras sampai aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.Jadi, aku menyelinap keluar.Memang dilarang. Namun, kalau ketahuan, paling-paling aku hanya akan dimarahi atau dipecat. Dan dipecat rasanya jauh lebih baik daripada mati bosan di kamar itu.Aku berjalan menyusuri koridor yang gelap dengan kaki telanjang agar tidak menimbulkan suara. Aku sudah menghafal jalan menuju dapur karena semalam mendengar para pelayan melewatinya.Aku hanya ingin mencari air. Tenggorokanku kering setelah seharian berpura-pura menjadi gadis ketakutan. Namun, ketika sampai di depan pintu dapur yang terbuka setengah, langkahku terhenti.Dia ada di sana. Alpha Rowan Blackwood.Dia duduk sendirian di ujung meja panjang yang biasan
Kereta berhenti dengan bunyi roda yang menggerus salju.Pintu kereta dibuka dengan kasar. Hawa dingin langsung menerobos masuk, menusuk hingga ke tulang dan paru-paruku sampai setiap tarikan napas terasa menyakitkan.Di hadapanku berdiri Istana Blackwood.Bangunannya sangat besar, tetapi gelap dan suram. Seluruh dindingnya terbuat dari batu hitam yang telah diguyur hujan dan darah selama puluhan tahun. Jendela-jendelanya tinggi menjulang, tetapi hampir tidak ada cahaya yang terpancar dari baliknya. Menara-menara runcingnya menusuk langit malam, menyerupai taring raksasa yang siap mencabik siapa pun yang berani mendekat.Istana ini lebih mirip sebuah kuburan raksasa daripada sebuah rumah.Sepuluh tahun lalu, tempat ini juga menjadi saksi kehancuran pack-ku.Aku masih mengingat asap yang membubung dari bukit ini, membakar langit malam hingga berubah merah.Tanganku gemetar hebat di balik lengan baju yang kebesaran. Bukan karena dingin. Melainkan karena aku sedang menahan amarah.Amarah
Sepuluh tahun.Selama sepuluh tahun aku menunggu malam ini. Menghitung hari, menghitung salju yang turun, bahkan menghitung berapa kali aku muntah hanya karena membayangkan wajahnya kembali muncul di hadapanku.Dan malam ini, akhirnya tiba.Tempat ini kotor, berisik, dan pengap. Bau alkohol murah bercampur dengan aroma serigala-serigala yang putus asa, keringat tubuh yang sudah berhari-hari tidak dibersihkan, serta sesuatu yang lebih menjijikkan daripada semuanya.Keputusasaan. Ini adalah pelelangan mate. Tempat para Alpha miskin membeli pasangan dengan harga murah, sekaligus tempat para wanita menjual diri demi sesuap roti dan atap yang tidak bocor.Lantainya lengket. Lampunya redup. Di atas panggung, tali tambang mengikat pergelangan tangan para wanita yang berdiri dengan kepala tertunduk.Mata mereka kosong.Seolah-olah sebagian dari diri mereka sudah mati jauh sebelum malam ini. Dan di antara mereka, berdirilah aku.Elara Black.Bukan siapa-siapa. Wajahku sengaja ku coreng dengan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.