Share

Bab 302

Author: Hazel
Duyung ini bertubuh kokoh, tingginya mencapai dua meter lebih dan lengannya sebesar paha manusia dewasa. Di antara para duyung, dia terbilang berukuran raksasa! Siapa yang tahu seberapa kuat serangannya?

Satu-satunya jalan keluar dari lapangan adalah melalui sisi gua yang telah diledakkan. Duyung itu sudah mulai mencari-cari mereka. Jika mereka terus bersembunyi di sini, cepat atau lambat Tirta dan yang lainnya akan ditemukan!

"Gimana agar kita bisa kabur?" gumam Tirta yang mulai panik.

....

Sem
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
hans
***** bagus ceritanya lanjut
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 3166

    Akhirnya, setelah lebih dari sepuluh menit lagi, disertai suara "cup", Tirta mengakhiri ciuman panjang itu. Jelas terlihat bahwa bibir Febri memerah dan sedikit bengkak."Haa ... haa ...." Pada saat yang sama, Febri merasa seperti orang yang hampir tenggelam. Dia seolah sudah lama menahan napas di dalam air dan akhirnya bisa muncul ke permukaan untuk bernapas.Tentu saja, bedanya adalah saat dicium tadi, Febri merasa sangat nyaman. Sampai-sampai sekarang pikirannya masih melayang dan belum sepenuhnya sadar."Bajingan!""Manusia sampah!""Kami sudah menahan diri dari tadi!"Tepat pada saat itu, kesempatan yang sudah lama ditunggu Devika dan Irena akhirnya tiba. Mereka tidak bisa menahan diri lagi dan langsung bergerak bersamaan.Devika memanfaatkan momen yang tepat untuk menjewer telinga Tirta, sedangkan Irena tanpa ampun melayangkan satu telapak tangan ke punggung Tirta.Tentu saja, dia tidak berani menggunakan kekuatan penuh, hanya memakai sekitar 10%."Buset! Kalian berdua mau beront

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 3165

    Tirta menyeringai lebar, lalu berdiri dan duduk di samping Febri."Aku ... aku ...." Jantung Febri berdebar kencang. Sebelum sempat mengatakan apa pun, Tirta sudah lebih dahulu menciumnya."Mm ...." Febri memejamkan mata. Dia merasakan campuran gugup dan panik, sekaligus sensasi hangat yang membuat dadanya berdebar."Bajingan!""Manusia sampah!"Dua suara penuh amarah terdengar bersamaan. Ternyata Devika dan Irena sama-sama melontarkan makian.Devika tertegun sesaat, lalu menghampiri Irena dan bertanya, "Menurutmu dia juga keterlaluan, 'kan?""Iya! Kalau ini nggak keterlaluan, apa lagi yang bisa disebut keterlaluan?" sahut Irena cepat. Dia diam-diam mengagumi sikap Devika yang terus terang."Kalau begitu, setelah dia selesai, kita hajar dia sama-sama!" kata Devika sambil mengayunkan tinju kecilnya."Aku ... aku nggak berani. Bocah itu punya sesuatu yang bisa dipakai buat menekanku. Kalau aku berani melawan, dia pasti akan menghukumku."Awalnya Irena sangat bersemangat, bahkan hampir sa

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 3164

    "Aku nggak punya masalah sama kalian," sahut Tirta sambil merentangkan kedua tangannya."Kalau begitu, kenapa nggak kamu kasih?" tanya Devika sambil membelalakkan mata indahnya."Karena nadi naga itu paling dekat dengan rumahmu. Dua obat spiritual itu nantinya paling banyak diserap oleh ayahmu. Kalau aku kasih lagi, bukannya itu malah jadi pemborosan?""Kalau nggak percaya, aku bisa kasih satu obat spiritual lagi sekarang. Dengan tubuh fana ayahmu, dia pasti nggak akan tahan dan malah akan muncul masalah.""Prinsipnya sama kayak orang sakit yang tubuhnya terlalu lemah untuk menerima obat keras," jelas Tirta dengan sangat serius."Begitu ya? Oke, berarti aku yang salah paham." Devika akhirnya berhenti mempermasalahkannya.Marila dan Shinta juga sebenarnya sempat menduga Tirta sengaja melakukannya. Namun, setelah mendengar penjelasan itu, mereka memahami maksud Tirta."Aku mau bawa Devika dan yang lainnya jalan-jalan sebentar," ucap Tirta kepada Saba dan Yahsva.Karena sudah berada di ib

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 3163

    "Masalah itu sudah aku selesaikan. Dalam waktu dekat, seharusnya nggak akan ada lagi yang datang ke Negara Darsia.""Kalaupun ada yang datang, mereka nggak akan berani menyakiti manusia biasa di Negara Darsia. Ada sosok kuat yang melindungi negara ini."Tirta tidak menceritakan betapa berbahayanya situasi ketika sepuluh sekte super besar bersekutu untuk memburunya. Dia tidak ingin membuat semua orang khawatir."Tirta, jadi selain kamu, masih ada kultivator yang sangat kuat di Negara Darsia?" tanya Devika segera."Dibilang begitu juga nggak salah," jawab Tirta. Tentu saja yang dia maksud adalah pemimpin Istana Batara."Kalau begitu, kita harus mengunjungi orang itu. Dia begitu kuat, tapi diam-diam melindungi keselamatan rakyat Negara Darsia. Beliau benar-benar orang suci yang agung!" kata Saba dan Yahsva."Nggak perlu. Keberadaan senior itu nggak menentu. Orang biasa nggak mungkin menemukannya. Sekalipun berhasil menemukannya, beliau juga belum tentu bersedia menemui kita." Tirta menola

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 3162

    Febri menangis cukup lama. Matanya kini merah, sementara wajahnya yang sudah kurus tampak makin menyedihkan dan memilukan."Febri, apa pun yang terjadi, ceritakan saja padaku. Nggak perlu sungkan. Semua yang ada di sini orang sendiri kok," ucap Tirta sambil menyeka air matanya."Pak Tirta, kamu nggak perlu menyembunyikannya lagi. Aku sudah tahu semuanya." Tubuh Febri bergetar. Dia menunduk dan perlahan melepaskan diri dari pelukan Tirta."Kamu sudah tahu apa?" Firasat buruk langsung muncul di hati Tirta."Ayahku ... ayahku mungkin sudah nggak ada lagi di dunia ini." Febri tidak mampu menahan diri lagi dan kembali menangis."Apa maksudmu? Siapa yang bilang begitu? Belum lama ini aku pergi ke dunia misterius dan bertemu ayahmu.""Dia dan teman-teman seperguruannya hidup baik." Tirta mengernyit, lalu tersenyum untuk menenangkannya.Pada saat yang sama, dia juga berpikir bagaimana Febri bisa tahu soal ini. Jangan-jangan gadis itu diam-diam pergi ke dunia tersembunyi?Febri berkata, "Waktu

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 3161

    "Hehe, kita sama-sama anggota sekte, pasti akan sering bertemu. Tetua bersedia melupakan perselisihan, itu menunjukkan Tetua memang orang yang berlapang dada," puji Shindy, jelas tidak tulus."Kamu terlalu memuji," jawab Suryana."Karena kesalahpahaman sudah terselesaikan, aku nggak akan mengganggu lagi. Aku pamit dulu." Selesai berkata demikian, Shindy bersiap untuk berbalik dan pergi."Tunggu." Tiba-tiba, Suryana memanggilnya."Apa ada urusan lain?" tanya Shindy yang seketika merasakan firasat buruk."Kita sudah jadi anggota sekte selama bertahun-tahun. Bahkan tanpa hadiah pun, aku nggak akan mengatakan apa-apa.""Tapi, temperamen kedua muridku itu terkenal aneh. Menurut pendapatku, sebaiknya kamu juga menyiapkan hadiah lagi untuk minta maaf kepada mereka berdua.""Kalau mereka mengadu kepada pemimpin dan melaporkan kesalahanmu, aku juga nggak bisa menghentikannya. Aku pun nggak ingin melihat hal seperti itu terjadi."Mendengar kata-kata itu, Shindy langsung paham bahwa Suryana sedan

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 92

    Plak! Terdengar tamparan yang nyaring. Hanya saja, bukan Utari yang menampar Tirta, melainkan Tirta yang menampar Utari. Wanita itu sampai mundur beberapa langkah dan terduduk di lantai."Be ... beraninya kamu menamparku!" Utari menatap Tirta sambil memegang pipinya dengan tidak percaya.Plak! Tirta m

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 86

    Jika wanita lain yang berada di posisi ini dan mengetahui harga kalung ini, mereka sudah pasti akan buru-buru menyimpannya. Namun, Melati malah bersikeras menolaknya."Kak, kamu ini bodoh sekali. Kamu ini wanitaku, kenapa kamu malah nggak mau terima hadiah dariku? Kalau kamu nggak mau terima, akan ku

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 93

    "Dia bukan anak kandungmu, dasar bodoh! Kamu membesarkan anak orang lain selama belasan tahun dan membiarkan jalang ini menyiksa ayahmu! Kamu memang pantas dihajar!" pekik Tirta."Istriku, apa yang dia katakan benar?" tanya Fajar dengan suara bergetar dan sempoyongan. Semua orang menatap Tirta dengan

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 89

    "Jangan mimpi. Sekarang ini masih siang, nanti kelihatan orang lain. Bukannya kamu mau mempromosikan klinik? Aku ikut denganmu. Malam nanti baru aku pergi mencarimu," bisik Nabila setelah memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka.Setelah berkata demikian, wajahnya menjadi tersipu malu."Hehe,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status