Share

Bab 3220

Penulis: Hazel
"Kamu memang bukan laki-laki! Aku benar-benar nyesal tidur sama kamu. Kalau dulu aku tahu, aku nggak akan percaya omong kosongmu!"

Hati Tirta langsung kacau. Dia bahkan tidak sempat membedakan apakah ini kenyataan atau bukan. Dengan cepat, dia berlari menghampiri suara itu.

"Nabila, jangan marah dulu. Aku datang! Cepat buka kakimu, biar aku bantu!"

....

"Irena, sebenarnya kamu pergi ke mana? Selama kamu hilang, Ketua Muda Sekte Bulan Berdarah sudah datang berkali-kali ke Dinasti Pembunuh untuk m
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 3238

    Sebelumnya, Priya sudah menjelaskan dengan detail bahwa segala bentuk konflik antara kultivator dilarang keras di dalam Kota Suci. Bahkan ayahnya Priya yang merupakan ketua Paviliun Ufuk pun harus sangat berhati-hati saat datang ke tempat ini secara langsung.Oleh karena itu, Tirta tidak terlalu khawatir saat Lavanya pergi membeli bahan-bahan sendirian. Apalagi dia juga sudah memberikan artefak rahasia pada Lavanya, bisa dibilang keselamatan Lavanya benar-benar terjamin.Setelah memperhatikan Lavanya memasuki gerbang kota yang megah itu hingga sosoknya menghilang di tengah kerumunan, Tirta baru berkata pada Priya, "Nona Priya, ayo kita berangkat juga.""Baik. Tuan Tirta dan kedua nona, silakan ikut denganku."Setelah itu, Priya berjalan di depan untuk memimpin jalan dan menjelaskan, "Tempat yang akan kita tuju dipenuhi kabut beracun yang alami dan sangat tebal. Selain itu, racunnya sangat mematikan sampai para kultivator pun sulit menahannya. Berbagai serangga beracun dan monster yang

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 3237

    "Jadi, tempat ini adalah reruntuhan kuno yang dibilang Nona Priya?" tanya Tirta."Bukan. Reruntuhan itu masih ada sekitar dua puluh ribu mil dari Kota Suci ini. Tapi, kalau mau ke sana, kita harus masuk ke Kota Suci lebih dulu untuk lakukan beberapa persiapan. Di sana ada banyak monster beracun yang punya racun mematikan di tubuh mereka, kita harus siapkan cukup banyak obat spiritual penawar racun. Kalau nggak, kita nggak pernah bisa kembali lagi," jelas Priya.Setelah diam sejenak, Priya melanjutkan, "Selain itu, Tuan Tirta, aku rasa aku perlu jelaskan sedikit soal Kota Suci ini. Kota ini adalah kota terbesar yang jadi pusat berkumpulnya para kultivator di dekat wilayah terlarang Laut Utara. Baik kultivator jalan lurus ataupun iblis, semuanya berkumpul di sini.""Tapi, begitu masuk kota ini, nggak peduli seberapa besar dendam seseorang ataupun ada konflik apa pun, orang itu nggak boleh bertarung di dalam kota. Kalau melanggar, akibatnya pasti mati.""Oh? Kenapa bisa begitu?" tanya Tir

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 3236

    Namun, saat memikirkan keselamatan Tirta tidak dapat dijamin, entah mengapa hati Suryana juga mulai merasa gelisah dan tidak pasti."Begini saja. Situasi saat ini memang nggak begitu baik. Mulai sekarang, kalian dua kultivasi bersamaku di aula utama sampai krisis ini benar-benar berakhir," kata Afifah pada kedua wanita itu setelah berpikir sejenak.....Sementara itu, kembali ke pihak Tirta.Tirta tidak mengetahui situasi cemas yang sedang melanda Istana Samara. Meskipun sekarang dia mengetahuinya, itu juga tentu saja tidak ada gunanya. Dia hanya bisa menunggu Priya membawanya ke reruntuhan kuno itu. Jika beruntung dan berhasil menemukan formasi teleportasi yang ditinggalkan leluhur generasi pertama Istana Samara, dia berkesempatan segera kembali ke Istana Samara.Sejak meninggalkan wilayah terlarang Laut Utara, Tirta dan rombongannya sudah terbang tanpa henti selama dua hari dua malam di bawah pimpinan Priya. Mereka bergerak dari bagian paling utara dunia awani hingga wilayah pinggira

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 3235

    Setelah meraung dua kali dan tidak peduli apakah keluarga pria paruh baya itu memahami maksud mereka atau tidak, pada binatang jurang raksasa itu membalikkan tubuh besar mereka. Setelah itu, mereka kembali ke dalam laut hitam yang gelap itu.....Sementara itu, di Istana Samara, di aula tempat Afifah berada.Shindy berdiri dengan patuh di samping dan mendengarkan percakapan antara Afifah, Suryana, Arshala, dan Nova dengan penuh hormat. Sejak terakhir kali dia meninggalkan kediaman Suryana dalam keadaan marah hingga memuntahkan darah, sudah hampir sepuluh hari berlalu.Meskipun sangat enggan, di hari kedua setelah muntah darah Shindy Nenek Shindy tetap membawa sejumlah besar kompensasi. Tanpa peduli dengan tatapan terkejut para murid, dia pergi menemui Arshala serta Nova dan meminta maaf secara langsung. Tindakan itu membuatnya kehilangan muka di sekte dan menghancurkan wibawanya.Namun, sejak saat itu, Shindy menyadari Afifah tidak pernah mencari kesalahannya lagi. Dia merasa keadaan s

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 3234

    "Huh huh. Manusia fana yang kecil juga berani sombong di hadapan para kultivator. Aku mau lihat apa tulangmu benar-benar sekeras itu," kata tetua tingkat pemurnian dewa tahap awal, lalu memberikan isyarat mata.Dalam sekejap, seorang tetua langsung keluar dari kerumunan. Dia mengangkat pedang panjangnya dan bersiap menebas kepala salah satu anak itu."Nggak ... jangan!" teriak wanita paruh baya itu dengan pilu sambil berdiri di depan anaknya.Pria paruh baya itu tidak sanggup melihat pemandangan itu, sehingga dia memejamkan kedua matanya dengan hati yang sangat menderita.Namun, tepat pada saat itu, beberapa binatang jurang raksasa di dalam laut hitam meraung dengan dahsyat dan suaranya bergema hingga ribuan mil. Gelombang suara tak kasat mata itu hampir berubah menjadi bentuk nyata dan mengguncangkan langit hingga awan hitam pekat di atas sana langsung lenyap.Puluhan kultivator yang berada di tempat itu sama sekali tidak mampu menahan gelombang suara mengerikan itu. Mereka menjerit k

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 3233

    "Huh. Kamu hanya seekor semut, aku tentu saja tahu kamu nggak mungkin mampu membunuh ketiga muridku. Kamu tunjuk jalan di depan, cepat jalan," kata tetua itu sambil mendengus.Kesadaran spiritual tetua itu sebenarnya sudah lama menyadari golok dapur yang disembunyikan pria paruh baya itu di dalam pakaian. Namun, dia sama sekali tidak menganggap hal itu sebagai ancaman, malah merasa sangat menggelikan."Baik baik," balas pria paruh baya itu, lalu berjalan di depan. Hatinya dipenuhi kecemasan karena merasa kemungkinan besar dia tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari kejadian ini. Namun, selama dia bisa memastikan Tirta dan rombongannya telah meninggalkan tempat itu, maka kematiannya terasa sepadan.Dengan pikiran seperti itu, pria paruh baya itu tanpa sadar sudah memaksa dirinya melangkah hingga tiba di tepi laut. Saat melihat tidak ada jejak Tirta dan rombongannya lagi di sana, dia diam-diam menghela napas lega.Setelah itu, pria paruh baya itu berbalik dan berkata, "Lapor Tuan, aku te

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 976

    Tirta menggendong Agatha dan membawanya kembali ke klinik. Saat ini, Arum sudah kembali dari rumah Yanti dan sedang menyiapkan sarapan."Tirta, Agatha, kalian pulang tepat waktu. Cepat cuci tangan, kita makan bersama." Arum membawa sarapan dari dapur dan tersenyum kepada mereka berdua."Agatha nggak

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 958

    Kebetulan Agatha baru selesai mandi. Dia yang memakai jubah mandi bertanya, "Tirta, kamu dikejar anjing gila, ya? Kenapa kamu lari begitu cepat?"Tirta tidak menjawab pertanyaan Agatha. Dia malah bertanya balik dengan ekspresi panik, "Kak Agatha, mana celanamu?""Celanaku ... ada di tempat tidur. Un

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 914

    Plak! Plak! Plak! Setelah dipukul berkali-kali, semua gigi Samudra copot. Setelah dia pingsan, Tirta baru melepaskannya.Kemudian, pandangannya tertuju pada Ammar yang merangkak ke sudut dinding. Ammar langsung menjerit sekencang-kencangnya. "Ah! Ah! Kami nggak mau uang itu lagi! Cepat bawa pergi! K

  • Dokter Ajaib Primadona Desa   Bab 848

    "Omong-omong, Kak Arum, kenapa Bu Yanti mencarimu lagi? Sepertinya dia mencarimu setiap hari?" tanya Tirta dengan penasaran sambil mengemudikan mobilnya."Bukan sesuatu yang penting. Dia baru pindah kemari, jadi nggak punya teman. Dia cuma ajak aku makan bersama kok." Saat menyahut, Arum diam-diam me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status