FAZER LOGIN"Terjebak dalam tubuh karakter sampingan di dunia persilatan yang kejam adalah hukuman mati. Di sini, keberadaanmu ditentukan oleh seberapa tajam pedangmu. Namun, bagi seseorang yang mengetahui akhir dari cerita ini, pengetahuan adalah senjata yang lebih mematikan daripada Qi. Aku tidak butuh belas kasihan. Aku hanya butuh kesempatan untuk merebut setiap keberuntungan yang seharusnya menjadi milik sang pahlawan. Siapakah penguasa Murim yang sebenarnya? Biarkan aku menunjukkan cara menulis ulang takdir."
Ver mais"Ugh... sakit sekali...!"
Rasa panas yang menyengat menghantam pipiku, memaksa kesadaranku yang buram tersentak bangun. Rasa nyeri itu bukan sekadar mimpi; itu nyata dan membakar kulit.
"Berdiri kau! Dasar tidak berguna!"
Aku meringis. Denyut hebat terasa di kedua pipiku. Saat kelopak mataku terbuka perlahan, pemandangan pertama yang menyambutku adalah sebuah tangan besar dan kasar yang melayang di udara, siap mendaratkan tamparan berikutnya.
"Hah...?" Aku tertegun. Otakku berputar hebat. Di mana ini?
Tempat ini terasa asing. Sangat jauh berbeda dari kamarku yang nyaman, tempat biasanya aku menghabiskan waktu menyesap kopi sambil membaca novel persilatan—novel yang alurnya sering membuatku memaki karena logika yang berantakan.
Di hadapanku, seorang pria kekar berjongkok dengan napas memburu. Rambut, janggut, hingga jambangnya berwarna merah menyala, tampak kontras dengan pakaian tradisional dunia persilatan yang ia kenakan. Di belakangnya, barisan orang dengan pakaian serupa menatapku dengan tatapan dingin dan merendahkan. Di kejauhan, sebuah bangunan kuno menyerupai pagoda berdiri angkuh di kaki gunung yang menjulang tinggi.
"Tempat apa ini?! Kenapa semua orang berpakaian seperti itu?!" teriakku dalam hati. Kepalaku pening luar biasa. "Apa... apa yang terjadi...?" gumamku meracau, masih berusaha mencerna kegilaan ini.
PLAK!
Satu tamparan keras kembali mendarat, membuat kepalaku tertoleh paksa. Rasa amis darah mulai merembes di ujung lidahku. Aku benar-benar tidak mengerti apa salahku sampai diperlakukan sekejam ini.
"Apa yang kau lakukan?!" teriakku sambil memegangi wajahku yang membara. "Berhenti! Siapa kau? Kenapa kau terus memukuliku?!"
Alih-alih berhenti, pria itu justru menatapku dengan binar mata yang aneh—ada kilat kesedihan yang dipaksakan di balik amarah yang meledak-ledak.
"Kenapa kau..."
PLAK!
"Jangsam sialan! Bisa-bisanya kau berpura-pura tidak mengenalku?!" gertaknya dengan suara menggelegar.
Tiba-tiba, suasana di sekitar menjadi riuh. Ratusan pasang mata tertuju padaku—pada tubuh sosok bernama Jangsam yang baru saja "terbangun" dari dunia modern.
"Dia bahkan tidak mengenalinya?" bisik salah satu orang di kerumunan dengan nada mengejek. "Benar-benar mengecewakan. Dasar sampah," timpal yang lain.
"Mati saja kau, pelayan tidak berguna!" teriak suara dari kerumunan, seolah mereka sedang menonton pertunjukan eksekusi yang menyenangkan.
"Berhenti! Kau bisa membunuhku!" teriakku putus asa.
Namun, setiap kali aku berusaha membela diri, pukulan demi pukulan justru mendarat lebih telak. Pipiku mulai membengkak, dan pandanganku memanas oleh air mata yang tak terbendung. "Aku bukan Jangsam...!" rintihku di tengah siksaan itu.
Akan tetapi, begitu nama itu keluar dari mulutku sendiri, jantungku seolah berhenti berdetak.
Tunggu... JANGSAM?
Pikiranku berputar cepat, memutar kembali baris-baris kalimat dalam novel yang baru saja kutamatkan. Jangsam... bukankah dia adalah karakter utama yang berakhir mengenaskan? Murid utama dari sosok legendaris yang dikhianati dan mati secara tragis karena plot yang hancur?
"Apa aku benar-benar masuk ke dalam novel sialan ini?"
[SINKRONISASI JIWA: JANGSAM – MURID UTAMA CHEONMA / LEE JAEWON]
Sebuah kilasan ingatan menghantam otakku layaknya gada besi. Bayangan tentang teknik pedang yang mematikan, rasa sakit latihan selama bertahun-tahun, hingga perihnya pengkhianatan muncul bertubi-tubi dalam benakku.
"Apa kau sudah mendapatkan ingatanmu kembali, Jangsam?" tanya pria itu. Suaranya berat, menggetarkan rongga dadaku.
"Ini adalah... ingatan Jangsam?" gumamku lirih. Rasa nyeri di sekujur tubuh kini bercampur dengan aliran energi asing yang mulai mengalir panas di pembuluh darahku.
[KONFIGURASI INGATAN SELESAI.]
"Sepertinya kau sudah sadar sepenuhnya." Pria itu berdiri tegak. Dia adalah Master Pedang Zhu Kang. Aura dominasinya begitu pekat, membuat udara di sekitarku terasa berat dan menyesakkan. Ia melempar senyum miring yang mengintimidasi, seolah sedang menatap mangsa yang baru saja bangun dari pingsan.
Aku berusaha bangkit meski kakiku masih gemetar. Di depanku, berdiri bangunan megah dengan papan nama besar bertuliskan karakter yang kuat: "SEKOLAH BELA DIRI ULAR HITAM."
Anehnya, aku bisa memahami setiap goresan tinta itu dengan sempurna. Insting tubuh ini terasa tajam, liar, dan penuh gairah yang terpendam. Aku mengepalkan tangan, merasakan kekuatan yang perlahan terkumpul di telapak tanganku.
Kenapa tubuh ini? Kenapa harus si pecundang Jangsam? Sialan... tapi jika aku memang harus menjadi dia, aku tidak akan membiarkan plot bodoh ini menghancurkanku lagi.
"Menyedihkan."
Suara itu lembut, namun setiap suku katanya membawa tekanan ejekan yang tajam, merayap masuk ke telingaku seperti bisikan yang menggoda sekaligus berbahaya.
"Hah?" Aku refleks menoleh.
Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat. Di depanku, berdiri sesosok wanita yang kecantikannya benar-benar menguji akal sehat. Tubuhnya tampak begitu proporsional dan atletis, dibalut pakaian tempur yang melekat ketat, menonjolkan setiap lekuk tubuhnya dengan tegas. Pakaian itu dirancang dengan berani, menunjukkan otoritas sekaligus pesona yang tak terbantahkan.
Ia berdiri anggun, bertumpu pada sebuah tongkat besi hitam. Rambutnya yang hitam legam terikat rapi, berkilau di bawah cahaya matahari. Kulitnya yang berwarna sawo matang tampak eksotis, memberikan kesan tangguh namun halus di saat yang bersamaan.
"Sampai kapan..." ia melanjutkan, matanya yang tajam menatapku dari atas ke bawah dengan penuh penghinaan yang justru terasa memprovokasi harga diriku sebagai pria. ".... Kau mau diam saja di situ?"
Tiba-tiba, angin pegunungan bertiup kencang, menyingkap jubah bagian bawahnya yang terbelah tinggi.
"Sialan..." Aku menelan ludah dengan susah payah.
Di balik kain yang tersingkap tertiup angin itu, terlihat sekilas kulit paha yang kencang dan garis pakaian yang sangat berani. Ia sama sekali tidak tampak risih, justru menatapku seolah sedang menantangku untuk terus memandang.
Apakah dunia Murim memang seberani ini? Pikiranku mulai kacau, bukan lagi karena pukulan Zhu Kang, melainkan karena kehadiran wanita di depanku ini.
"Iye Seol! Iye Seol!"
Sorakan itu pecah seketika. Orang-orang di sekitar berteriak histeris, memuja namanya layaknya melihat seorang dewi yang baru saja turun dari langit. Suasana yang tadinya mencekam penuh kekerasan, kini berubah menjadi pemujaan gila yang membekap udara.
Iye Seol. Nama itu langsung terpatri di otakku. Dia bukan sekadar figuran. Dia adalah karakter utama perempuan dari novel ini—putri tertua dari penguasa besar Cheonmu Mang. Sosok yang seharusnya menjadi milik sang protagonis, kini berdiri hanya beberapa langkah dariku dengan aura yang begitu menjerat indra.
"Ada apa? Dia benar-benar karakter yang menyedihkan," ucap Iye Seol. Suaranya dingin, namun memiliki getaran yang menusuk hingga ke tulang.
Ia melangkah mendekat. Setiap gerakannya memancarkan dominasi yang luar biasa. "Apa kau pikir kau pantas berada di sini? Dengan keterampilan rendah seperti itu, kau hanya mengotori lantai sekolah ini!"
Entah karena dia terlalu meremehkanku atau memang sengaja ingin menyiksaku secara mental, ia memutar tongkat besinya dengan gerakan anggun. Namun, gerakan itu membuat jubahnya yang terbelah tinggi tersingkap lebar.
Mataku terbelalak. Dari posisiku yang rendah, aku dipaksa menyaksikan pemandangan yang begitu fantastis sekaligus terlarang. Lekuk kakinya yang jenjang dan rahasia di balik kain tipis itu tersingkap sekilas—sebuah pemandangan liar yang benar-benar mengacaukan fokusku di tengah situasi hidup dan mati ini.
"Apa...? Tidak..." sahutku terbata. Aku gagal fokus. Pikiranku terbelah antara rasa sakit dan pemandangan di depanku.
"Beraninya kau menjawabku!" bentaknya seketika. Suaranya menggelegar, membuat murid-murid lain menciut ketakutan. "Sudah kalah dengan memalukan, masih punya muka untuk membantah?!"
Wajahnya yang cantik kini dipenuhi amarah yang membara. "Jika kau masih punya sedikit saja harga diri, kenapa kau tidak angkat kaki saja? Kau hanya aib bagi kami!"
Srak!
Ujung tongkat besinya yang dingin kini menempel tepat di daguku, memaksaku menatap matanya yang berkilat kejam. "Dan kau... jangan pernah sekali-kali berani menyebut nama agung Cheonmu Mang dengan mulut kotormu itu."
Dengan wajah lebam dan napas tersengal, aku mencoba mengumpulkan sisa keberanianku. "Dengarkan aku dulu...!"
Aku ingin menjelaskan bahwa aku bukan Jangsam yang lama, tapi Iye Seol tidak memberi celah sedikit pun. Tanpa peringatan, ia menarik kakinya ke belakang dan...
BAM!
Sebuah tendangan kilat mendarat telak, menghantam telak titik terlemahku. Rasanya seolah ada ledakan hebat yang melumpuhkan seluruh syaraf tubuhku. Pandanganku langsung memutih seketika.
"Uugh..."
Aku ambruk, meringkuk di lantai menahan rasa nyeri yang tak terbayangkan. Keringat dingin mengucur deras. Rasa mual naik hingga ke kerongkongan. Wanita ini benar-benar gila... apakah dia berniat mematikan masa depanku?
Rasa sakit yang teramat sangat itu perlahan-lahan mulai merenggut kesadaranku. Sebelum mataku benar-benar terpejam, aku masih sempat melihat bayangan kaki jenjangnya yang berdiri angkuh di atas kepalaku.
Sialan... aku akan membalas ini. Aku akan membuatmu berlutut di bawah kakiku suatu saat nanti, Iye Seol.
"Apa...?" Ok Ryeong berdiri tegap di atas ranjang. Jantungnya berdegup kencang, suasananya yang semula dinaungi oleh gelombang cinta mendadak berubah menjadi kepulan amarah yang membara."Empat selir...?" repetnya meyakinkan pendengarannya."I-itu yang ingin aku katakan..." sahut Jang Seonwo menunduk patuh, memasrahkan diri siap menerima hukuman apa pun dari sang istri sah. "Untuk mendekati Lee Jaewon, aku terpaksa harus mendekati dan mengikat mereka...""Yah..." Ok Ryeong melenguh berat. Ia berkacak pinggang di atas ranjang, berdiri polos tanpa sehelai benang pun. Meski amarah menguasai dadanya, nalurinya sebagai wanita Murim tahu betul seluk-beluk taktik dan intrik politik. "Memang... harus begitu adanya..." lanjutnya pasrah, tidak punya daya dan kuasa untuk menolak kenyataan yang sudah telanjur terjadi."Maafkan aku, Ok Ryeong.... Jadi, nantinya mereka akan keluar dari Cheonmumaeng..." tambah Seonwo dengan nada
PLOK! JLEEB! CRAASH!Jang Seonwo mengayunkan pinggulnya dengan kekuatan penuh, mengeluar-masukkan pusaka monster besarnya ke dalam liang surgawi Ok Ryeong dalam posisi menungging (doggy style). Kedua tangan Ok Ryeong mencengkeram erat tepian kasur empuknya demi menahan gempuran liar dari arah belakang."Haaangh...!"Ok Ryeong mengerang hebat, jemarinya meremas seprai kasur sutera putihnya yang awalnya tertata sangat rapi dan licin, kini seketika berubah menjadi keriput dan koyak di beberapa sudut.PLOK! JLEEB! CRAASH!Seonwo memacu gerakannya dengan kecepatan penuh yang kian beringas. Ia sama sekali tidak memberikan jeda ataupun ampun sedikit pun pada Ok Ryeong, seakan sengaja ingin terus memberikan siksaan nikmat yang tak berujung padanya. Setiap dorongan maju dihantamkan hingga ke pangkal, membuat bukit kemaluan mereka beradu dengan dentum kulit yang pekat.PL
Napas Ok Ryeong kian memburu kencang, membelah keheningan gua seiring dengan hasrat berahi dan keinginan batinnya yang melonjak semakin raksasa. Didorong oleh rasa gemas yang amat sangat, jemari lentiknya yang gemetar perlahan bergerak turun, memandu tangannya sendiri untuk menyentuh langsung batang pusaka monster suaminya yang sejak tadi terus bergesekan panas dengan kulit selangkangan dan bibir liang surgawi miliknya.“Aku sungguh tak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika benda ini memenuhiku kembali...” gumam Ok Ryeong membatin, terus memuja dan memuji penampilan pusaka monster milik Jang Seonwo yang berurat pekat. Efek dari aliran energi batin Yin Yang yang bergejolak memang sanggup menambah ukuran panjang, besar, serta gemuknya benda pusaka tersebut hingga berkali-kali lipat dari ukuran normal.Sepasang mata Ok Ryeong kini berbinar liar, memancarkan kepasrahan dan keinginan yang teramat besar untuk
PLOK...! PLOK...! PLOK...! JRAASH...! CRIIIT...! JRAASH...!SRUUPUTTT...!"Ugh.... Tidak.... Sudah lama sekali.... Rasanya nikmat sekali...." ratap Ok Ryeong di tengah sisa-sisa kesadarannya yang kian terkikis oleh rasa syahwat.PLOK...! PLOK...! PLOK...! JRAASH...! CRIIIT...! JRAASH...!SRUUPUTTT...!"Haaangh.....!"PLOK...! PLOK...! PLOK...! JRAASH...! CRIIIT...! JRAASH...!SRUUPUTTT...!"Sepertinya kau menjadi jauh lebih sensitif saja ya, Ahjumma, sejak terakhir kali kita melakukan ini..." ujar Jang Seonwo dengan nada suara rendah yang serak, sengaja meledek kekasihnya yang sejak tadi sudah muncrat banjir basah. Cairan cinta dari liang surgawi Ok Ryeong memancar ke mana-mana, bahkan beberapa cipratannya sampai membasahi otot-otot perut kotak milik Seonwo yang menegang tegap."Haaangh...."Napa
"Zhu Kang?... Apa maksudmu berkata begitu?" tanya Peng Garyeon dengan suara yang bergetar hebat, terombang-ambing di antara amarah yang tersisa dan desahan yang tak tertahankan.Jlebb.....Aku tidak memberikan jawaban secara verbal. Dengan kasar, kutekan kepalanya yang sempat terangkat agar kembali
Tap... Tap... Tap...Langkah kakiku yang berat—sengaja meniru vibrasi aura Qi milik Zhu Kang—menggema rendah di atas lantai kayu paviliun yang dingin. Peng Garyeon tidak menoleh sama sekali; ia justru semakin menenggelamkan dirinya ke dalam gundukan bantal sutra, seolah menyerahkan seluruh martabat
Aku menahan napas sedalam mungkin, mematung di atas kayu penyangga atap yang dingin. Teknik Hidden Body bekerja sempurna; keberadaanku kini seolah melebur dengan kegelapan malam. Dari celah ubin kayu yang sempit, aku menunduk ke bawah, menatap lurus ke dalam ruangan yang menjadi jantung dari segala
Ruang InterogasiBRAAK!Tinjuku menghantam meja kayu di ruang interogasi yang dingin dan lembap. Napas perih keluar dari sela gigiku yang bergemeletuk menahan amarah.Tindakan asusila dan penghilangan nyawa. Dua tuduhan yang dirancang untuk menghancurkanku sepenuhnya. Di dunia Murim ini, mereka yan


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações