LOGINApa orang itu gila?Pada saat yang sama, di bagian terdalam alam semesta. Istana Batara yang megah dan memancarkan cahaya terang dibangun di atas lubang hitam super besar. Tempat ini disebut sebagai zona terlarang.Cahaya terang itu menyelubungi galaksi sejauh puluhan ribu kilometer. Kekuatannya menekan semua klan yang berada di dekatnya. Semua makhluk hidup yang melihatnya pasti merasa kagum.Samar-samar terlihat sesuatu yang mengerikan hendak keluar dari lubang hitam yang dalam itu berulang kali. Ada sosok manusia, monster, dan lainnya. Benar-benar sulit dibedakan. Mereka adalah asal-usul zona terlarang.Dahulu kala, mereka adalah sosok mengerikan yang menyebabkan banyak makhluk hidup mati. Namun, mereka dikalahkan oleh pemilik Istana Batara di masa lampau. Saat hendak kabur, mereka mundur karena cahaya yang dipancarkan Istana Batara.Di aula utama, terdapat 12 pilar yang terlihat seperti pohon raksasa penopang langit. Semua pilar itu dikelilingi oleh 81 ekor naga kuno yang terlihat
"Ehem, aku lupa. Kalau kamu mau, aku petik sekuntum bunga untukmu sekarang," ujar Tirta sambil tersenyum seperti sebelumnya. Sikap Tirta sama sekali tidak berbeda.Lavanya juga tidak menemukan ada yang aneh dengan Tirta. Dia membalas, "Nggak usah. Untuk apa kamu cari aku?"Tirta menanggapi dengan ramah, "Aku mau ajak kamu jalan-jalan bersama anjing. Kalau kamu nggak suka anjing, kita bisa bawa kucing. Aku rasa seharusnya kamu bosan datang ke tempat yang asing sendirian. Jadi, aku mau temani kamu cari hiburan."Ini adalah cara Tirta. Dia ingin memanfaatkan anjing hitam dan kucing putih untuk memancing Lavanya keluar. Jika hari ini Tirta langsung mengatakan dia sudah menemukan jejak wanita berwajah biasa itu, Lavanya pasti curiga.Lavanya merenung sejenak, lalu mengangguk dan berujar, "Boleh juga, tapi anjing ini terlihat mesum. Kita bawa kucing saja."Anjing hitam yang geram menggonggong untuk memprotes. Dia hampir memaki Lavanya.Sebaliknya, kucing putih mengeong dengan ekspresi bangga
Sebenarnya cara Lavanya tidak salah. Dia hanya tidak menyangka Tirta menyamar menjadi wanita itu. Kalau tidak, Tirta pasti dibohongi Lavanya. Membalas kebaikan hanya alasan, sesungguhnya Lavanya ingin membalas dendam!Melihat Lavanya yang perlahan menjauh pergi, Tirta meredam ketertarikannya pada kecantikan Lavanya. Dia berpikir, 'Kemungkinan kemampuannya juga sudah mencapai tingkat pemurnian dewa, sama seperti tetua Sekte Zeru itu. Kalau nggak, Genta pasti tahu identitasnya.''Orang yang berbahaya seperti ini ternyata diam-diam bersembunyi di Desa Persik. Nggak bisa, aku harus cari cara untuk mengusirnya atau membunuhnya. Tapi, aku nggak boleh bertindak di Desa Persik. Takutnya bisa menimbulkan kerugian besar,' lanjut Tirta.Sebenarnya tingkat pembentukan dewa, tingkat pemurnian dewa, dan tingkat penebas dewa adalah proses memutuskan belenggu dan memahami aturan langit.Setelah memasuki tingkat pemurnian dewa, kultivator sudah menentang takdir dan memutuskan setengah belenggu. Mereka
Tirta mencium bunga di tangannya. Dia merasa hal ini mungkin terjadi karena dirinya memang memesona.Lavanya tidak menjawab pertanyaan Tirta. Dia berkata, "Kamu ikut aku pergi ke tempat yang sepi."Lavanya malas memberikan penjelasan atas ucapan para wanita Negara Raigorou. Wanita berusia 3 ribu tahun lebih sepertinya tentu tidak peduli dengan hal seperti ini."Ha? Tempat yang sepi? Wah, apa wanita cantik ini ingin bercinta denganku? Hehehe .... Kalau begitu, aku harus pergi!" ujar Tirta.Tirta memandangi lekukan tubuh Lavanya yang sempurna. Tubuh Lavanya juga sangat wangi. Tirta menelan ludah, lalu mengikuti Lavanya dengan perasaan senang.Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, mereka sampai di ujung kebun buah. Tidak ada orang lain di tempat ini.Tirta berbicara dengan sombong, "Lavanya cantik, kamu mau mengungkapkan isi hatimu kepadaku dengan cara apa? Sebenarnya nggak usah begitu berlebihan. Kamu cukup bicara dengan singkat saja, aku pasti langsung terima.""Bagi wanita cantik sep
Akhirnya, Delmar hanya berucap dengan perasaan tidak berdaya, "Berarti ini karena Kota Soren berkembang terlalu baik. Jadi, aku nggak beruntung bisa membuat Pak Tirta tinggal di sini lebih lama."Tirta menanggapi, "Bukan begitu, Pak Delmar jangan bercanda. Sekarang kita sudah saling kenal, jadi ke depannya kita punya banyak kesempatan untuk bertemu atau Pak Delmar bisa sebut namaku kalau menghadapi masalah. Aku rasa orang Negara Darsia akan menghormatimu."Tirta tidak membual. Sekarang dia memang memiliki kemampuan yang hebat. Ucapan Tirta seperti janji dan jaminan. Kelak siapa pun yang ingin mencari masalah dengan Keluarga Gailan harus mempertimbangkan kemampuan sendiri terlebih dahulu.Delmar dan semua keturunan Keluarga Gailan tentu memahami maksud Tirta. Mereka menyahut secara bersamaan, "Terima kasih, Pak Tirta!""Perjalananku masih panjang. Kalian nggak usah antar aku lagi. Sampai jumpa," pamit Tirta. Dia melanjutkan perjalanan bersama Ayu dan lainnya.....Setengah bulan kemudia
Setelah Tirta pergi, Ovais masih merasa dirinya seperti bermimpi. Jika bukan karena dua lembar kertas di tangannya sangat nyata, dia sangat sulit memercayai semua yang terjadi tadi."Tentu saja ... nggak sia-sia kamu mempertahankan prinsipmu begitu lama," kata Thalita. Dia tertawa, lalu melanjutkan dengan perasaan getir, "Tapi Ovais, ini juga karena kamu bertemu dengan orang baik seperti Pak Tirta. Kalau terus begini, kamu benar-benar akan kehilanganku ...."Ovais menanggapi, "Benar, tapi aku juga nggak akan menyesal. Thalita, kamu harus tahu keserakahan itu seperti setan dan obat yang penuh dengan godaan. Asalkan kamu mencobanya sekali, kamu nggak akan bisa berhenti lagi. Pokoknya aku nggak akan pernah menyerah!"Ovais memang tidak muda lagi, tetapi dia masih keras kepala seperti anak muda. Begitu yakin terhadap sesuatu, hatinya tidak akan goyah.Thalita mengeluh, "Dasar pria kaku! Aku akui aku takluk padamu. Cepat lihat bagaimana caranya berlatih teknik kultivasi ini. Jadi, kita bisa
Dipo dan teman-temannya merasa percaya diri karena berpikir ada Budi yang mendukung mereka. Dengan sikap seenaknya, Dipo bahkan berjalan mendekati Tirta dan hendak menepuk wajahnya dengan angkuh.Namun Dipo tidak sadar bahwa setelah perkataannya itu, wajah Budi, Joshua, Toby, dan Hendrik menjadi puca
"Aku nggak bisa tidur. Kenapa kamu keluar?" tanya Tirta berpura-pura tidak tahu."Aku ... teringat dengan sindiran Susanti tadi siang, jadi hatiku agak kesal. Aku mau cari kamu untuk menemaniku. Ayo, kita duduk di dalam mobil saja .... Sudah lama kita nggak ketemu, aku sudah rindu," pinta Agatha samb
Tirta sendiri juga tidak menyangka akan terjadi situasi yang mendadak ini. Namun, yang membuatnya semakin kaget adalah jurus mengunci titik akupunkturnya itu tidak berguna sama sekali terhadap Karta.Wajar saja Panji sampai begitu percaya diri menyuruhnya berduel dengan Bima. Ternyata mereka memang s
"Bibi, bukan aku yang ingin menggodanya. Aku juga nggak berdaya ...," keluh Tirta. Kemudian, dia menceritakan tentang semua kejadian di antara Bella dengannya. Mendengar bahwa Tirta yang telah menyelamatkan Bella berulang kali dari bahaya, hati Ayu terasa sakit.Dia sangat mengkhawatirkan keselamatan






